
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...K e l u a r g a...
...___________________...
...__________...
..._____...
..._...
"Dia tidur?"
Deg!
Maki terkejut, seseorang baru saja berbisik tepat disamping daun telinganya. Embusan napas berat menggelitik kecil permukaan benda itu, Maki spontan berpaling. Sosok si empunya napas berdiri cukup dekat dengan tubuh Maki.
Hal ini membuat Maki terdorong kebelakang saking tidak biasanya. Bukan berarti wanita itu tak nyaman dengan laki-laki hanya saja ada aura tersendiri dari William yang membuat Maki; jujur—sedikit merasa tidak nyaman. Lagi pula dia masih curiga soal kebenaran hubungan antara mereka; Maki dan pria bernama William itu.
"Seperti yang kau lihat..." sahut Maki, canggung.
William mengalihkan pandangan kearah celah pintu dibelakang sosok wanita itu, terlihat wajah damai sang anak yang terlelap diatas ranjang rumah Rico. Maki baru saja memindahkan Langa kesana, karena anaknya itu tiba-tiba tertidur di-ruang tamu setelah makan siang. Mungkin dia terlalu lelah menempuh lamanya perjalanan; dengan agenda menjemput sosok mamah.
William mengangguk, sorot matanya lalu berpindah kearah wajah Maki. Wanita tersebut seperti berusaha membuang pandangan kearah lain; tak betah lama-lama menantapi sosok William—sambil berusaha menjaga jarak karena posisi saat ini sedikit tidak mengenakan.
Maki diapit dinding dekat pintu sedangkan lelaki bermanik emerald tersebut berada tepat dihadapan wanita itu.
Tiba-tiba tangan William terangkat; diletakkannya dengan gamblang jemari tangan diatas pinggang ramping milik Maki, hal ini berhasil membuat si empunya tubuh tersentak. Bola matanya melotot, menantap tajam kearah sosok William. Kau pikir? Apa yang sedang kau lakukan?! Tulisan itu tercetak jelas ketika Maki mengerutkan keningnya kesal.
Dia tidak masalah disentuh oleh laki-laki, hanya saja—lagi-lagi atmosfer yang William bawa itu terlalu aneh hingga membuat Maki sendiri merasa sedikit was-was.
Aku tidak menyukainya, ucap dewi batin wanita tersebut tapi masih membiarkan perilaku kurang sopan yang William tunjukan. Sembari menunggu lelaki tersebut menyatakan niat sebenarnya.
"Banyak hal yang harus kita bicarakan..." bisik lelaki itu.
Maki menahan, kalau ingin bicara—ya bicara saja tidak usah berusaha memperkikis jarak diantara kita!
William berusaha menarik tubuh Maki lebih dekat dengan dirinya tapi tertahan saat wanita tersebut meletakkan tangannya kedada lelaki itu. Bahkan Maki ingin mendorong tujuh agar bisa menjauh dari sosok William.
Menanggapi ucapan yang baru saja lelaki bermanik emerald ini katakan, Maki memilih angkat suara. Dia berkata—
"Tentu, pasti banyak hal yang harus kita bicarakan."
...***...
Tidak banyak informasi yang Maki dapatkan setelah cukup lama mereka saling berbicara. William nampak enggan menceritakan masa lalu milik wanita itu, dia hanya nekankan pada bagian kalau kita saling jatuh cinta pada pandangan pertama disebuah club lalu menghabiskan malam bersama. Tak jauh beda dari apa yang Maki pikiran sebelumnya.
Cerita mereka persis seperti drama picisan dalam sebuah novel. Tidak ada hal-hal menarik lainnya hingga Maki merasa cerita tersebut sedikit klise, meski tidak umum berjodoh dengan mafia—hanya saja beberapa cerita model seperti ini masih tergolong pasaran.
Sungguh.
Selain dari Maki yang bertanya tentang dirinya 10 tahun kebelakang, wanita tersebut juga mendapat beberapa proposal; dari lelaki yang tengah duduk didepannya.
Lagi-lagi mereka menggunakan ruang makan, alih-alih ruang tamu.
"Jadi bagaimana?" tanya William, memastikan. Pikiran Maki buyar, dia kembali memfokuskan diri kearah laki-laki itu.
Apanya? Beo Maki dalam hari. Memikirkan kembali percakapan terakhir yang mereka lakukan.
Ah~
Soal kembali ke-rumah mereka seharusnya.
"Kenapa tidak... kembali ketempat seharusnya diriku berada—"ucap Maki, gantung. Wanita tersebut menampilkan eyes smile kepada William.
"Keluarga," sambungnya berhasil membuat lelaki didepan sosok Maki tersebut bergetar. Bulu kuduk William meremang, kata-kata yang mustahil akan muncul dari mulut wanita itu langsung.
Sial.
Betapa indahnya ketika didengar~
.
.
.
.
.
Perjalanan cukup jauh ditempuh oleh William bersama sang anak; Langa. Meski ada tambahan orang yaitu sang mamah—siapa lagi kalau bukan Maki.
"Papah yakin tidak menyuntikkan obat bius kepada mamah?" tanya Langa, penasaran. Pasalnya mereka sudah berkali-kali berpindah kenderaan; dari mobil, jet pribadi, sampai kembali lagi menaiki mobil—saat ini mereka sedang bergerak menuju mansion. Tempat yang William persembahkan untuk keluarga kecil miliknya.
Mendapat pertanyaan tersebut, sang papah menoleh. Sebelah alis lelaki itu terangkat, seakan mempertanyakan kembali pertanyaan yang sang anak ajukan.
"Tentu saja—" sahut William gantung. Sudut bibirnya terangkat.
"Iya."
Sudah Langa duga, mamahnya terlalu terlihat seperti seonggok mayat.
"Jika tidak begitu, mamah mu akan menghafal seluruh rute perjalanan ini. Dia memang setuju, tapi asal kau tahu boy... mamah mu ini hobi sekali yang namanya MELARIKAN DIRI." sambung William. Langa yang mendengarkan hal tersebut mengangguk paham, dia mengalihkan pandangan kedepan. Supir yang merupakan anak buah dari papahnya sendiri terlihat sibuk melihat jalanan diluar kaca depan mobil sana.
Meliuk-liuk menyusuri jalan menuju mansion megah milik sang tuan. Bos besar organisasi 12 bintang, dengan banyak para saudara yang masih mau bekerja dibawah William.
Kecuali Lohan yang memilih keluar dan menjalankan bisnis independen. Walau tidak terikat lagi, Lohan masih menganggap William sebagai saudara begitu juga sebaliknya.
Manik mata Langa berbinar, bangunan mansion sudah terlihat dari kejauhan. Akhirnya, mereka akan kembali tinggal bersama.
Langa, papah, dan mamah. |
Celah bibir bocah tersebut terbuka, pertanyaan muncul dari sana.
"Papah sudah memasang tralis disetiap jendela?"
William terkekeh. Dia menjawab.
"Tentu saja... kamar tanpa balkon, jendela berlapis tralis, setiap ruangan penuh dengan kamera pengawas serta rantai panjang untuk mengekang jika diperlukan." ucap William bangga. Langa melirik, manik emerald yang anak itu tampilkan terlihat sedikit dingin.
"Bagaimana dengan pelayan?" tanya dia lagi.
"Lima belas pelayan tetap, sisanya akan datang di jam tertentu saja. Ada lagi yang kau inginkan boy?" sahut lelaki itu diakhiri dengan kalimat tanya.
Langa nampak terdiam, pikiran bocah kecil tersebut melayang. Setelah cukup lama, ekspresi ceria kembali datang. Dia menoleh—kearah sang papah yang senantiasa menantikan jawaban.
"Langa rasa tidak ada, dengan ini mamah akan benar-benar aman didalam sana. Bersama kita, ya 'kan pah?"
William tersenyum, tangan miliknya mengelus pelan sosok Maki yang terlelap diatas pangkuan dengan Langa disisi lain. Cela bibir lelaki tersebut terbuka—terdengar untaian kata setelahnya.
"Tentu, mamah akan benar-benar aman bersama kita tepat didalam sana—"
Penjara abadi berbahan emas yang sengaja ayah dan anak ini ciptakan.
Untuk sang mamah.
"Selamanya~"
...***...
...T B C...
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...