FreeDom

FreeDom
Yolan



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...Y o l a n...


...___________________...


..._________...


...____...


..._...


Semua kacau!


SEMUANYA KACAU!


"Sial..."


"Diana?"


Deg!


Yolan menoleh, lelaki dengan tampilan wanita itu menjumpai sosok Maki—rona wajahnya sedikit panik. Maki berdiri tak jauh dari posisinya berada, terlihat napas terengah dicelah bibir wanita itu.


"Apa yang kau lakuka—!" Maki ingin bertanya, kenapa bisa wanita itu berdiri diluar gedung rumah sakit tapi sayang ucapannya terputus ketika tiba-tiba saja temannya itu memeluk.


Pluk!


Maki mematung, ada apa? Dia kaget dengan tindakan Diana. Pernyataan gugup terdengar. Maki melirik—


"Kudengar Langa terluka, apa dia baik-baik saja?!"


Ah~


Rupanya begitu, sudut bibir Maki terangkat. Dibalasnya pelukan hangat yang Yolan berikan tanpa tahu apapun. Wanita itu bersandar, dia berucap.


"Sekarang Langa baik-baik saja..." pada Yolan sambil ceritanya menenangkan sosok teman yang sedang khawatir. Lirikan janggal muncul, wajah cantik Yolan benar-benar mengerikan. Seandainya Maki melihat, ketika pelukan dari lelaki gadungan itu dibalas Yolan merapatkan tubuhnya pada milik Maki.


Erghh~


Ini menyenangkan, Yolan harap Maki tidak merasakan gundukan aneh diarea pangkal paha. Rupanya kemarin malam Maki tidak dapat melihat dengan jelas, Yolan benar-benar gugup saat itu. Dia takut ketahuan, berpikir kalau Maki tahu siapa dia sebenarnya tapi dengan memperhatikan sedikit saja reaksi dari Maki. Yolan rasa, aktingnya cukup sempurna.


Rencana selanjutnya, Yolan harus apa?


Ha-ha |


Dia gemas, benar-benar gemas dengan sosok Maki.


Lelaki itu ingin memilikinya.


MEMILIKI-NYA.


Seorang diri.


"Mau menjenguk ke-kamar Langa?"


DEGH!


Yolan menjauh, sial. Dia tidak mendengar apa yang wanita itu celotehkan dari tadi. Hanya bermodalkan anggukan, pelukan diantara keduanya merenggang. Maki menggandeng tangan Yolan, membawa sosok tersebut masuk menuju area dalam rumah sakit.


Mata wanita gadungan itu kebawah, dia menantap lekat jemari tangan yang saling bertautan dengan milik Maki. Ah~


Yolan pikir tidak akan pernah tertarik lagi pada wanita, ternyata dia salah. Maki berhasil membuatnya tergila-gila. Dari awal pertemuan singkat menyedihkan tersebut.


Yolan rasa, itu sudah cukup jadi alasan untuk mendapatkan wanita ini.


Heh! Tak masuk akal! |


"Kita sampai..." gumam Maki, Yolan menaikan pandangan. Sebuah kamar terlihat, ada diujung lorong rupanya. Mereka masuk, sosok Langa yang tengah terbaring diatas ranjang rumah sakit menyambut penglihatan milik keduanya. Maki melepaskan tautan, mendekat kearah sang anak.


Raut sedih terpampang jelas disana. Maki bertanya-tanya kapan sang anak membuka-kan mata emerald miliknya, hal itu menggelitik sedikit relung jiwa Yolan. Tanpa sadar dia terkekeh, jika saja Maki tidak datang lebih cepat dari perkiraan lelaki ini. Bocah nakal itu pasti sudah mati, Yolan tidak perlu repot-repot mendatangi rumah sakit dia hanya perlu menemani sosok Maki dipemakaman nanti. Jahat memang. Jadi satu-satunya penghibur wanita itu, hah~ menyenangkan. Sangat-sangat menyenangkan bila benar-benar terjadi.


"Diana?" Maki memanggil, dia menantap penasaran kearah sosok Yolan yang berdiri mematung tepat didepan pintu sana. Ada apa dengan wanita itu? Pikirnya, Yolan tersenyum. Sangat tipis sambil berjalan, mendekati sosok Maki yang berada tepat disamping ranjang sang anak; Langa.


Hal itu membuat Maki gugup, Diana tampak tidak seperti biasanya. Atmosfer lain mengganggu pikiran Maki, ketika sosok itu mendekati Langa. Pikirannya melayang, bertanya-tanya pada diri sendiri; mungkin ada sesuatu seperti kepingan kecil yang terlewatkan.


Maki tidak ingin kecolongan, wanita itu mengulik kembali informasi yang dia dapatkan sebelumnya didalam otak. Sitausi kemarin, apa yang dia lihat hari ini, lalu—


Bagaimana bisa Diana disini?


DEGH!


Dengan tampang horor, Maki menjauhkan sedikit tubuhnya dari wanita itu. Dia menarik tas selempang yang ia bawa, sambil berdiri disudut ruangan memperhatikan Diana bersama Langa. Maki tidak ingin menaruh curiga, dia mengobrak-abrik isi dalam tas yang ia bawa.


Beberapa detik setelah melakukan hal tersebut, Maki dikejutkan dengan satu benda tipis yang bentuk dan rupanya tidak asing. Ini milik Diana, alasan Maki keluar meninggalkan Langa kemarin malam karena benda tersebut; dia ingin menyerahkan telepon genggam ini pada wanita itu.


Tapi bukan itu masalahnya, yang jadi titik pertanyaan janggal dalam benak Maki cuma satu. Bagaimana Diana bisa tahu kalau Langa sedang terluka? Padahal dari kemarin Maki hanya menghubungi 2 orang saja; itu Lohan dan William. Dia juga tidak memberitahukan kejadian ini pada tetangga, cukup melaporkan kepada pihak kepolisian. Lalu? Bagaimana Diana tahu?


PADAHAL JELAS-JELAS MAKI TIDAK PERNAH MEMBERITAHUKAN KABAR INI PADA WANITA ITU.


Mencurigakan.


Benar-benar mencurigakan. Seluruh kejadian yang menimpa anaknya jika dipikir-pikir tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan.


Diana?


Haruskah Maki mempercayai mu?


Glek!


Tanpa sadar Maki menelan saliva kasar, dia mengembalikan benda tersebut kedalam tas. Diana tampak asik memperhatikan sosok tak sadarkan diri Langa dengan pandangan aneh. Sial, ini membuat Maki takut.


Dia perlu menghubungi seseorang.


Siapa saja, asal dia dapat melindungi Maki dan anaknya.


Tapi sebelum itu, Maki rasa—lebih baik dia menjauhkan sosok Diana dari Langa. Semakin diperhatikan semakin jelas terlihat, hasrat janggal yang ingin Diana salurkan.


Persis seperti manik ayahnya; sebuah pengharapan soal kematian.


"D-diana? Mau keluar, mencari sesuatu untuk dimakan?" tanya Maki gugup. Sial, dia kesulitan mengontrol ekspresi wajah. Anggap saja ini hasil dari ketidak percayaan Maki dengan sosok yang sudah dia anggap sebagai keluarga.


Diana sang penyelamat, sirna begitu saja.


...***...


"Emmm! Rasanya enak..." seru Yolan senang dengan suara wanita. Maki menilik, dia menantap sebentar sosok yang berjalan tepat disampingnya. Cup es krim terlihat di kedua tangan wanita itu, Diana bilang ingin makan sesuatu yang manis. Maki-pun menyetujuinya meski rasanya sakit karena makan-makanan dingin dengan perut yang kosong; belum diisi dari pagi, asalkan Diana mau menjauh dari Langa itu sudah cukup untuk Maki.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah sakit, Maki tidak berselera memakan es krim ditangannya. Sesekali wanita itu curi-curi pandang, kenapa Diana terlihat berubah menjadi seperti biasanya? Beda sekali dengan aura yang ia pancarkan ketika bersama Langa. Dia seperti ingin membunuhnya.


Haruskah Maki bertanya?


Membiarkan pikiran melayang sendiri lalu membuat opsi jawaban yang tidak-tidak hanya akan meningkatkan perasaan paranoid terhadap Diana. Mari mulai, tanyakan sesuatu yang bersifat sederhana. Ayo Maki!


"Diana?" panggil sosok itu. Yolan menoleh, dia menjilat habis sendok kecil berisi es krim stroberi ditangan; sambil membeo—


"Ya?"


Maki lagi-lagi menelan saliva gugup, dia ragu-ragu. Tidak ingin mendapat jawaban yang mungkin saja sedikit mengejutkan. Tapi kalau dibiarkan hanya akan membuat penasaran. Celah bibir Maki terbuka, satu pertanyaan muncul dari mulut wanita itu.


"Dimana kau tahu kalau anak ku terluka?"


Langkah mereka melambat, Maki berbalik—menantap sosok Diana yang tiba-tiba menampilkan ekspresi datar.


Deg~


Lalu kemudian menyeringai.


"Di-diana?"


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...