FreeDom

FreeDom
Part 2



Masih di tempat yang sama, sesekali aku menegakkan badan untuk mengurangi lelah yang tak kunjung usai mengisi berkas-berkas.


Sementara Bang Ray membolak-balikan formulir yang sudah aku isi dan menelitinya.


"Ini Non susunya."


Sang asisten rumah tangga menyodorkan segelas susu untukku. Bang Ray sembari megigit-gigit pulpen dan melirikkan mata pertanda memberi isyarat untuk segera meminum susu.


Akhirnya, selesai juga semua berkas sudah terisi. Bang Ray mulai meninggalkan kamarku dan bersiap-siap untuk mengantarkan aku mengajukan formulir pendaftaran.


Aku pun bergegas menyiapkan diri dan pergi bersama bang Ray.


Sementara itu Tante telah mendapati telepon dari Om Alan. Kalau Om sedang masuk rumah sakit.


Karena, Om Alan memang warga negara asli Jepang hingga menetap di sana dan bekerja di Negaranya.


Sepertinya Om dan Tante bertemu ketika Tante kuliah di Jepang, hingga mereka menikah.


Namun, Tante ketika mengandung Bang Ray memilih ke Indonesia. Dengan alasan, jika nanti melahirkan dekat dengan orang tua.


Setelah melahirkan Bang Ray, Tante kembali lagi ke Jepang turut tinggal bersama suaminya. Sedangkan, Bang Ray di tinggal di Indonesia dan dititipkan ke Nenek di Jakarta.


Tante hanya pulang ke Indonesia, jika ada keperluan penting saja. Mungkin, kemarin karena Tante ingin mengurusku hingga harus pulang ke Indonesia.


••••••••••••••••••••••••••••


Bang Ray akhirnya sudah menyiapkan diri dengan wewangian yang bercirikhas baunya.


Aku pun sudah memakai seragam batik SD dari sekolah asalku, semua formulir berkas sudah berada di tas yang aku tenteng.


"Dek...ayo Dek, cepetan nanti juga Abang ada jam kuliah siang."


Aku dengar suara Bang Ray menggema hingga ke kamar.


sembari membenarkan ikat sepatuku yang tak bisa-bisa mengikatnya. Aku menjawabnya.


"Iya Bang...., Bentar...ini susah Bang, Ochi enggak bisa-bisa."


Mendengar rengekku yang manja Bang Ray menghampiri dan mengikatkan tali sepatuku.


"Sini Dek, Abang iketin."


Dengan sabarnya Bang Ray mengikatkan tali sepatu. Aku sambil mengunyah permen kletak-kletuk suara dimulutku.


Sampai terbatuk-batuk hingga tak sengaja mengeluarkan gas alami.


("Brooot.")


"Ma..af Bang, ucapku lirih."


Bang Ray mendongakkan kepalanya dan menatapku sambil menggernyitkan dahinya. Aku pikir Bang Ray akan marah. Ternyata tidak, justru menertawaiku. Hingga aku pun turut tertawa lepas. Hingga Tante keluar dari kamarnya mendengar tawa kami yang membahana.


"Ada apa kalian kok tertawa sekencang itu?"


Aku tertunduk malu, sementara Bang Ray masih tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.


"Eh, kalian ini ditanya kok malah ketawa lagi?"


Aku menjawab dengan nada lirih dirundung rasa malu.


"Ochi..kentut Tante."


Tante pun turut menertawaiku. Namun tawa itu terhenti seketika, ketika Tante berpamitan mau berangkat ke Jepang. Bang Ray tampak bermuka sedih dan aku pun demikian.


Tante berpesan pada Bang Ray untuk selalu menjaga dan mengurus semua keperluanku.


Aku merasa sedih, takut jika nanti Bang Ray terbebani olehku.


Namun, justru sebaliknya. Bang Ray dengan senang hati menerima amanat Tante, untuk menjagaku dan akan menyayangi seperti adiknya sendiri.


Pagi itu juga, Tante memesan taxi online menuju bandara. Sedangkan aku dan Bang Ray mengendari mobil merah milik Bang Ray.


Sepanjang jalan aku hanya terdiam dan rasa ketakutan selalu muncul, jika nanti harus bertemu dengan teman-teman baru di sekolah, bahkan tak satu pun orang yang aku kenal.


Tak lama, kami sampai di SMP unggulan.


Rasanya detak jantung semakin kuat. Bang Ray berusaha menenangkanku.


"Dek turun yuk, ini sudah sampai. Kamu enggak boleh takut apalagi grogi, lagi pula kamu anak pintar pasti bisa kok, Abang yakin."


Dengan memegang tanganku dan sesekali membenarkan poni rambutku yang sedikit berantakan.


"Iya Bang"


Aku mulai melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil. Aku mulai melangkah menuju ruang pendaftaran. Bang Ray terus menggandeng tanganku.


"Bang..Aku takut Bang, Sepertinya aku enggak bisa mengalahkan mereka yang keliatannya lebih pinter-pinter dari pada aku?"


Aku merasa minder saat itu melihat anak-anak yang lain berpenampilan keren-keren.


Bang Ray tersenyum dan terus meyakinkan aku pasti bisa.


Jam 8:00 tepat tes penerimaan murid baru di mulai. Aku mulai membuka lembaran soal dan aku teliti terlebih dahulu sebelum menjawab.


Ternyata tak sesusah yang aku bayangkan, aku bisa dengan mudah mengerjakan soal-soal tes dengan cepat. Sehingga, bisa mengumpulkan lembar jawaban lebih dulu dan langsung diperbolehkan pulang duluan.


Di depan pintu Bang Ray tampak tersenyum bangga. Meski pun belum tahu hasilnya. Karena Bang Ray yakin jika aku keluar ruang tes lebih awal di bandingkan yang lain pasti aku bisa dengan mudah mengerjakannya.


Bang Ray terus menyemangatiku.


"Dan selanjutnya kita menuju ke tempat les piano, setelah itu Abang mau antar kamu pulang."


Aku memasang raut muka bt. Jika nanti aku di rumah tidak ada kegiatan, itu akan membuatku jenuh dan di rumah pun cuma ada asisten rumah tangga.


Aku hendak menggelengkan kepala dengan rengekku.


"Aku enggak mau pulang Bang, aku habis dari tempat les piano mau ikut abang saja ke kampus. Janji deh enggak nakal."


Abang Ray menggaruk-garuk kepala dan mengerutkan dahinya.


"Emang kamu enggak capek? Abang sampai malam loh?"


Aku pun menunjukan jari kelingking untuk membuat kesepakatan. Hingga pada akhirnya Bang Ray mengijinkan aku ikut ke kampus.


🍁🍁🍁


Setiba di kampus, Bang Ray membawaku ke halaman depan kampus. Tampak beberapa tempat duduk yang kosong tak ada yang menempatinya.


Mungkin sebagian mahasiswa-siswi sudah masuk ke ruang kelas.


"Dek tunggu disini saja ya, jangan kemana-mana. Abang mau membeli minuman dan juga makanan buat kamu."


"Iya Bang."


Aku melepaskan tas punggung dan juga berkas-berkas di tas tentengku.


Langsung kuletakkan di meja.


Aku terasa lelah dan mengantuk hingga kusandarkan kepala ke atas meja sambil melihat di sekitar taman.


Beberapa pohon yang rindang dan teduh di lengkapi tempat duduk dan meja. Ada pun beberapa bunga-bunga yang indah di halaman kampus.


Tak lama kemudian Bang Ray datang.


"Ini Dek minumannya, setelah ini Abang masuk kelas dulu ya. Itu kelas Abang belok kanan lalau dari pinggir di ruangan no tiga."


"Iya Bang jangan lama-lama ya."


"Belum juga masuk Dek, bagaimana sih kamu? Tadi katanya enggak apa-apa nungguin Abang?"


"Iya..Iya... Deh Bang, aku nunggu disini sampai Bang Ray selesai."


Dan akhirnya Bang Ray mulai melangkahkan kaki dan meninggalkanku di halaman kampus.


Sementara, aku mulai membuka minuman dan beberapa makanan yang dibelikan Bang Ray.


Lama-lama aku merasa jenuh dan bete.


Sesekali aku berdiri dan duduk lagi sambil mengunyah makanan. Hingga, tak terasa seluruh makanan sudah aku habiskan.


Perutku terasa sakit kekenyangan, bingung tak karuan harus kemana aku mencari kamar kecil.


Perut ini terasa semakin mules dan bingung ingin buang air besar. Bang Ray tadi juga berpesan kepadaku, tidak boleh kemana-mana sebelum Bang Ray keluar kelas.


Aku semakin tak kuat menahannya. Ya sudahlah kuberanikan diri mengikuti arahan Bang Ray tadi kalau kelas Bang Ray ke arah sana.


Aku berlari kencang sambil memegang perut untuk menahan mulas.


Akhirnya sampai juga ke ruang kelas Bang Ray.


"Bang... Ray...Bang Ray....!!"


Seakan suaraku menggema kesegala penjuru, dan seisi kelas Bang Ray menuju ke arahku.


Bahkan dosen yang tengah berada di depan kelas sontak berhenti dan memandang ke arahku dengan tatapan yang tajam.


Sementara, aku masih memegang gagang pintu ruang itu.


Dosen tersebut menghampiri aku.


"He kamu siapa anak manis, kenapa bisa berada disini? Inikan kampus bukan tempat bermain anak kecil."


"Iya.. Tau Pak, tapi aku kebelet Pak."


Seisi kelas pun menertawakanku. Pak dosen itu langsung memanggil Bang Ray untuk mengantarkan aku ke kamar kecil.


Sambil berlarian Bang Ray mengantarkan aku.


"Heeem..akhirnya lega juga Bang."


Aku merasa tampak lega dan entah apa nanti ketika sampai rumah yang akan Bang Ray lakukan untukku.


Aku merasa takut melihat Bang Ray berdiri menyandarkan tubuhnya ketiang, dengan menyilangkan kakinya dan menopangkan kedua tangannya keperut.


Tatapannya tajam, tak seperti biasanya. Sepertinya Bang Ray marah besar kepadaku.


Aku perlahan mendekati Bang Ray.


"Bang maaf, sudah membuat Abang malu."


"Iya, sekarang Abang masuk kelas lagi, dan inget jangan seperti tadi lagi ya. Jangan kemana-mana sebelum Bang Ray keluar kelas."


Kali ini sepertinya Bang Ray marah banget, aku terus berjalan menuju tempat dimana tadi aku menunggu Bang Ray.