FreeDom

FreeDom
Part 3



Aku terduduk diam sambil merenungi kesalahanku, dan sepertinya Bang Ray kali ini bener-bener marah.


Lantas, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan.


Aku mengotak-atik resleting tas, aku gerak-gerakan hingga bergoyang seperti lonceng tertiup angin. Tapi, masih saja terasa menjadi tak nyaman.


Sesekali aku menghembuskan napas dan meniup poni, untuk mengurangi rasa kekhawatiranku.


Beberapa jam kemudian, aku melihat Bang Ray melangkahkan kaki menuju ke arahku.


Aku sudah menduga-duga, pasti akan marah besar gara-gara kejadian tadi.


Aku langsung beranjak dari tempat dudukku, dan ku raih tangan Bang Ray. Aku merengek meminta maaf. Namun, Bang Ray hanya diam dan diam tak menjawab sepatah kata pun.


Aku semakin takut, belum lagi aku memikirkan hasil tes masuk SMP unggulan nanti akankah aku bisa lolos.


Semua kecemasan bergejolak dalam benakku.


"Ayo Dek, mau pulang enggak?"


"Lah..katanya Abang sampai malam jam kuliahnya?"


"Abang dapat tugas tim, jadi bisa di kerjakan di luar kampus."


Aku mengikuti langkah Bang Ray menuju parkiran mobil. Tiba-tiba badanku melemas, dan kaki tersandung ubin pembatas parkiran. hingga membuatku jatuh tersungkur.


Sementara Bang Ray sudah sampai mobil lebih dulu. Aku menangis karena, lutut terluka dan ada bercak darah. Sambil aku usap-usap luka pada lutut.


"Bang..Ray, Bang...Ray."


Apa mungkin saja bang Ray tidak mendengar suaraku. Sesekali baju batik yang aku kenakan aku pergunakan untuk mengelap ingus yang turut menetes bercampur air mata.


"Dek..dek.., kenapa kamu Dek?"


Bang Ray tampak panik melihat lututku berdarah dan menangis. Spontan Bang Ray membopongku dan membawa masuk ke mobil.


"Pantas, tadi Abang buka mobil kok kamunya gak ada. Abang kira kamu ada disamping mobil, ternyata gak ada."


Bang Ray sambil memakaikan sabuk pengaman, dan mengambil tisu yang berada di laci mobil. Membersihkan ingus dan darah pada luka lututku.


"Udah jangan nangis ya Dek, nanti mampir ke apotik bentar. Beli obat luka ya."


Aku masih sesenggukan dan ku tiup-tiup untuk mengurangi rasa sakit. Sementara Bang Ray mulai melajukan mobilnya.


Sambil menyalakan USB yang berisi musik.


Bang Ray sesekali turut mengikuti lantunan lagu yang terputar. Aku pun, turut menikmatinya meski tak tahu lagu apa itu tapi bagiku lagu yang sangat enak di dengar.


"Bang.. Emang siapa itu Bang yang nyanyi?"


"Kenapa, Adek suka ya. Ini lagunya Muse Dek."


"Oh..Gak tau aku, Bang."


"Ya sudah lagian kamu masih kecil, mana tau sih Dek musiknya orang gede."


Aku terdiam sambil melihat di luar jendela mobil, melihat hiruk-pikuknya kendaraan. Macet disana-sini membuatku jenuh.


Kini, kendaraan mulai melaju dengan lancar.


Bang Ray menghentikan mobilnya kesalah satu apotik ternama, untuk membeli obat luka.


Aku masih menunggu di dalam mobil, sementara itu Bang Ray menuju pintu masuk apotik.


Tiba-tiba terdengar dering ponsel Bang Ray yang terpapar di samping kotak permen.


Aku amati layar ponsel Bang Ray, dan sepertinya itu telepon dari Jepang.


Tak lama Bang Ray, keluar dari apotik sambil membaca bon pembelian obat, berjalan menuju mobil.


"Bang..Bang.." Triakku.


"Iya Dek, kenapa?"


"Tadi ponsel Abang berdering, Tante yang menelpon Bang."


"Ya sudah nanti saja sampai rumah biar Abang yang menelepon balik. Biar cepat sampai rumah dan luka kamu harus segera diobatin nanti."


"Iya Bang."


Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah, dan sebentar lagi sampai. Karena, apotik dan rumah jaraknya tidaklah jauh.


***


Sesampai di rumah, Bang Ray mengobati luka pada lutut kakiku.


"Makanya De kalau jalan hati-hati jangan asal jalan aja, jadi tersandung kan?"


"Iya Bang, cuma sedikit lelah saja."


Bang Ray memanggil Bi Ijah sang asisten rumah tangga untuk mengambilkan baju di kamar atas, aku masih terduduk di sofa lantai dasar. Sementara Bang Ray masih duduk disampingku dan meraih gawainya.


Bang Ray langsung menelepon Tante di Jepang.


("Tut..tut..tut..")


Tak lama telepon pun tersambung.


Aku ikut mendengarkan suara Tante di sebrang sana. Karena, Bang Ray sengaja mengeraskan volume suara. Agar, aku bisa menyapanya juga.


"Assalamualaikum."


Sapaku bersamaan dengan Bang Ray.


"Waalaikumsalam, bagaimana kabar kalian, baik-baik sajakan enggak ada masalah?"


'Iya Ma, kami baik-baik saja. Cuma, tadi si Ochi sempet jatuh katanya kelelahan."


"Enggak Ma, cuma luka dikit dilutut. Ni Bi Ijah lagi mengambil baju gantinya di kamarnya."


"Oh ya sudah, lain kali hati-hati Ochi ya."


"Iya Tante"


"Ray, mama mau tanya pengumuman tes Adikmu kapan itu?"


"Nanti malam Ma. kalau enggak sore ini, nanti dikirim via sms."


"Oh, ya sudah. Nanti Mama kabarin ya Ray."


Seketika tanpa mengucapkan salam, sambungan telepon terputus. Ternyata ponsel Bang Ray habis batrainya.


Tak lama Bi Ijah turun dan membawa baju gantiku, Bi Ijah membantuku berjalan menuju kamar tamu yang berada di lantai dasar dan


Membantu menggantikan baju.


Sementara Bang Ray, menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk memebersihkan diri. Karena, sebentar lagi teman-temannya akan datang untuk mengerjakan tugas kelompoknya.


Semenit.


Lima menit.


Dua puluh menit kemudan..


"Dek...Dek..Dek."


Bang Ray berteriak-riak sambil berlarian menuruni anak tangga, tanpa dia sadari kalau ia hanya mengenakan handuk. Karena, seusai Bang Ray keluar dari kamar mandi mendapat notif dari gawainya.


Kabar itu adalah kabar yang sangat menggembirakan, yaitu aku lolos tes masuk SMP unggulan. Sementara aku baru saja selesai berganti baju.


"Iya Bang, ada apa?"


Bang Ray mencium dan memeluk, mengucapkan selamat. Sementara Bi Ijah turut senang mendengarnya.


"Den..Den..anu.. Den." ucap Bi Ijah.


"Itu pakai handuk doang, pakai baju dulu sana."


Bi Ijah sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya. Aku tertawa lepas sampai membuat perut seakan menjadi kram.


Bang Ray serontak lari menaiki anak tangga dan menuju kamarnya dengan rasa malu.


Aku melangkahkan kaki dengan sedikit pincang. Sepertinya aku bosen di dalam kamar.


Aku berjalan menuju teras depan. Kupandangi bunga-bunga yang terpapar di teras samping rumah. Bunga kaktus itu tampaknya sudah mekar, hingga membuatku ingin mengambilnya.


Aku berusa mendekati kaktus itu meski pun kakiku sedikit masih sakit.


"Eem..akhirnya. Kamu cantik juga kaktus."


Aku bergumam sendiri sambil meraih pot yang berisi bunga kaktus. Ternyata lukaku tercantol tangkai bunga mawar, hingga aku terjerambat dan membuat pot yang terisi bunga kaktus itu pecah terjatuh. Bunganya pun patah.


"Lo, ini siapa? Berani-beraninya memecahkan pot kaktus Gue."


Aku serontak kaget, entah wanita itu siapa aku enggak tahu. Kenapa tiba-tiba bisa masuk pagar rumah tanpa permisi dan memarahiku.


Aku sambil memungut kaktus yang terjatuh. Sambil sesekali netraku mengamati wanita seperti Mak Lampir itu.


Dengan gayanya rambut mamakai cat putih, kuku panjang-panjang seperti harimau.


Tak lama sang asisten rumah tangga mendengarkan keributan di luar rumah.


Spontan langsung keluar menghampiri kami.


"Non.. Ini pacarnya Bang Ray."


"Oh jadi ini pacarnya Bang Ray?" gerutuku dalam hati. Kok Bang Ray bisa mau sih punya pacar jahat mirip Mak Lampir. Aku terus saja mengoceh dalam hati.


Wanita itu menatapku dengan tatapan sinis, sepertinya tidak menyukaiku.


Bi Ijah akhirnya memegang pundakku dan menyuruh masuk kedalam rumah.


"Sudah Non ayok masuk, nanti biar Bi Ijah saja membereskan pot bunganya."


Aku pun berjalan memasuki rumah, sementara wanita itu masih duduk di kursi teras dan sesekali mengibas-ibaskan rambutnya.


Tampaknya ia kehausan sekali. Mungkin malam ini akan turun hujan.


Sepertinya aku bisa menghilangkan kemarah wanita mirip Mak Lampir itu.


Aku raihlah sebotol minuman rasa jeruk dari kulkas dapur, dan sedikit aku tambahkan tetes "air wadidauw" lalu aku kocok supaya tercampur rata dengan minuman yang rasa jeruk.


"Maafin aku ya Kak, ini sebagai permintaan maaf. Aku bawain minuman segar buat Kakak."


Tanpa basa-basi wanita mirip Mak Lampir itu langsung menyambar botol minuman dari tanganku.


"Iya.! Makasih!"


Jawabnya dengan ketus dan masih sama tatapannya sinis. Ia mulai membuka tutup botol minuman tanpa memeperhatikan segelnya sudah terbuka. Langsung pula menghabiskannya.


Lima menit..


Sepuluh menit..


"Aduuuh...Perutku."


Triak si wanita itu sambil menahan sakit perutnya. Aku menahan tawa.


"Yes, sepertinya Mak Lampir itu mulai merasakan tetesan wadidauw.'


Sambil ku kepalkan kedua tangan bak wujud kesuksesan.


Eeh tiba-tiba Bang Ray muncul dari arah belakangku.