FreeDom

FreeDom
Diana



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...D i a n a...


...___________________...


..._________...


...____...


..._...


"Kau serius ingin kembali bersama bajingan itu?! Hanna! Dia pernah menyakiti dirimu dengan cara berselingkuh! Untuk apa kau kembali dengannya?!" ucap Diana lantang, menarik sedikit perhatian pegawai lain yang sedang membersihkan meja. Maki menepuk pelan wanita itu, memintanya untuk tidak terlalu heboh sambil berkata.


"Ini demi Langa,"


Diana merotasi matanya jenuh, yang benar saja. Dengan wajah dongkol wanita itu menyahuti perkataan milik Maki.


"Jika Langa memang memerlukan sosok ayah, kau bisa mencari lelaki lain yang bisa berperan sebagai ayah untuknya. Tidak harus dengan lelaki bajingan itu, MAKSUDKU KENAPA HARUS BAJINGAN ITU?!" ungkap wanita itu geram, bahkan sampai meninggikan suaranya diakhir kalimat tepat di samping telinga milik Maki. Wanita dengan manik kecoklatan khas orang asia itu meringis, dia meminta Diana untuk tidak menarik perhatian lebih jauh lagi dengan cara membawa wanita itu pergi kearea dalam cafe dekat pintu keluar bagian belakang cafe tersebut.


PLAS!


"HUH!" Diana mendengus, mengempaskan genggaman tangan Maki yang menyeretnya pergi. Wanita itu mendelik; tak suka, dia benar-benar marah terhadap sikap Maki serta keputusan sepihak yang wanita itu lakukan. Tidak harus dengannya. ARGH! Persetan! Diana menyilangkan tangan kedada sambil membuang pandangan jauh dari arah wajah Maki. Dia kesal. BENAR-BENAR KESAL.


Hah~


Maki menghela napas pasrah, mulai dari mana dia harus bercerita? Supaya sahabat yang berdiri tepat didepan matanya ini berhenti untuk merajuk. Tidak lucu kalau dibenci.


Ah! Maki tahu, meski sedikit sulit merangkai kata-katanya Maki akan coba. Wanita itu menarik sudut pakaian kerja milik sahabatnya.


"Apa?!" cerca Diana langsung. Dia tak suka, jangan menantapnya begitu; dengan manik mata memelas—menampilkan sorot pandang menyedihkan. Diana jadi tak tega.


Terlihat wanita yang bernotabe sahabat dari Maki itu menilik dari balik ekor matanya, sudut bibir Maki terangkat. Bersyukur Diana hanya kesal tidak marah besar. Maki memutuskan membuka celah bibir sambil berkata.


"Suami ku menyukai Langa, begitu juga sebaliknya. Mereka bisa dibilang sudah berhubungan lebih dahulu tanpa sepengetahuan ku—!"


"Jadi maksud mu? Dengan alasan itu kau malah membuat keputusan ingin kembali dengan dia?!" sambung Diana cepat sebelum Maki menyelesaikan kalimat miliknya.


Maki mengangguk. Lagi-lagi Diana merotasi matanya jenuh, yang benar saja—dengus kesal dewi batin wanita itu. Terlihat dia seperti menggerutu dihadapan Maki yang hanya mampu terdiam. Hah~ sampai sini saja usaha yang dapat Maki lakukan, terlalu banyak informasi juga tidak baik. Saat ini Maki sedang menipu, meyakinkan sahabatnya kalau cerita karangan wanita itu benar adanya. Jangan sampai terlihat secuilpun kebohongan.


Ya, lakukan sandiwara ini dengan sempurna. |


"Demi Tuhan, padahal banyak lelaki diluar sana!" gerutu Diana pelan, serupa dengan bisikan meski masih dapat terdengar dengan jelas. Sudahlah, wanita itu pasti akan membaik seiring waktu. Setidaknya itu yang Maki pikirkan sebelum mendengar satu kalimat janggal dari arah mulut wanita itu; Diana.


"Ish! Aku juga bisa, kalau jadi ayah Langa."


"Hah?" beo Maki tak percaya. Dia tidak salah dengar bukan?


Eh? Tunggu? Apa maksudnya? Meski itu hanya gerutuan tak berarti, tapi rasanya terdengar terlalu disengaja. Bahkan Diana terlihat tidak mencoba untuk meralat ucapannya.


Maki memandangi sosok sang sahabat dengan canggung, pikiran wanita bermanik kecoklatan tersebut melayang.


Tanda tanya bermunculan didalam benaknya. Wanita itu melantur? Pasti melantur 'kan? Perlukah Maki bertanya? Atau—? Tidak usah saja. Mungkin Diana benar-benar tidak sengaja mengucapkannya karena dia merasa tidak terima atas sikap Maki yang ingin kembali bersama lelaki yang ia cap sebagai bajingan kelas kakap.


William kalau tidak salah. |


Ish!


Menyebutkan nama bajingan itu membuat Diana geli.


"Argh! Terserahlah!" Diana mendengus, dia berada dititik puncak rasa kesalnya. Wanita itu tiba-tiba berbalik, angkat kaki dari sana meninggalkan sosok Maki dengan segudang tanda tanya.


"Hah~ kebiasan..." hela napas panjang muncul di sela bibir Maki. Kepala wanita itu sakit.


Diana, Maki tak mengira ada sisi lain dari sosok tersebut yang sangatlah BERBAHAYA.


"Kau milik ku."


Gila. Simpelnya dia gila.


...***...


"Dia memiliki kebiasaan berdandan seperti wanita sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama. Orang tuanya bahkan sampai menyerah, lalu membiarkan dia bertindak semaunya. Setelah lulus dari sekolah menengah atas dia memutuskan pergi dari rumah dan memulai kehidupan yang baru dengan identitas barunya sebagai wanita. Hanya segelintir orang yang mengetahui kalau dirinya adalah seorang lelaki." ucap Lohan gantung.


William menantap datar berkas-berkas yang baru saja saudara tirinya ini berikan. Foto sosok lelaki dengan garis wajah feminin terpampang jelas disana, nama pemuda itu Yolan. Tidak ada catatan medis soal dia yang melakukan operasi pergantian jenis kelamin atau apapun itu, secara garis besar Yolan ini bisa dikatakan sebagai lelaki tulen yang senang menjadi banci.


Agak berbahaya jika dipikirkan. Langa pernah bercerita kalau Yolan dulu sering menginap dan tidur dengan sang mamah diatas ranjang yang sama. Lalu soal kejadian itu. Mastu*rbasi.


Dia memang banci, tapi William tidak bisa menjamin kalau dia juga tidak bernafsu. Mereka sesama lelaki jadi William tahu rasanya, ditambah sosok sang istri memang sangatlah menggoda.


"Ah! Satu catatan lagi..." ucap Lohan kemudian, berhasil menarik perhatian dari William hingga lelaki itu menantap penuh minat.


"Dia punya penyimpangan seksualitas,"


Kabar baik? Dia tidak tertarik dengan wanita rupanya.


"Tapi gelagat dia mencurigakan beberapa waktu terakhir ini. Lelaki itu mulai berhenti menggunakan pakaian wanita pada waktu-waktu tertentu."


DEGH!


Alarm bahaya untuk William. Lelaki itu tampak berpikir sejenak sebelum membuat keputusan kepada Lohan.


"Ikuti dia, pantau aktivitas banci itu lalu kirimkan laporannya padaku. Aku akan mengirim bayaran mu nanti..." Lohan mengangguk, baiklah. Pundi-pundi uang aku datang~ girang dewi batin lelaki itu.


"Siap laksanakan kaka..."


Dia akan membantu saudara tirinya dengan senang hati, sambil berpikir kalau William tengah cemburu dengan seorang banci.


Haha, ada-ada saja. |


Dan itu bukan urusan Lohan.


Yups! Bukan urusannya.


"Omong-omong, bagaimana proposal pengunduran diri dari organisasi mu kaka..." tanya Lohan penasaran. Dia kemudian mendapat tatapan tajam dari arah William, lelaki itu berkata.


"Berhenti memanggil ku kakak dengan nada menyebalkan. Sebelum aku benar-benar meletakan tangan ku kedalam tenggorokan dan mencabut pita suara milik mu wahai adik ku." balas lelaki bermanik emerald itu. Lohan tertohok, antara takut dan jijik mendengar ucapan dari William. Haha, lucu juga menggoda saudara tirinya dengan taruhan nyawa.


"Baiklah, jadi bagaimana?" ucap Lohan lagi.


William terdiam sejenak.


"Mamah akan membunuh ku..." singkat, padat, dan sangat jelas. Okay, Lohan tidak akan bertanya lagi.


"Semangat kalau begitu~"


Kau pasti bercanda. |


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...