
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...M a r a h...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
Gurat panik tergambarkan jelas diwajah Maki, dia berdiri mondar-mandir tepat didepan ruangan. Harap-harap cemas menunggu sang dokter keluar dari dalam ruangan sana dan memberitahukan dia perihal anaknya, Langa.
Dilain sisi, selain perasaan panik wanita itu juga merasakan perasaan marah luar biasa. Andai saja anaknya baik-baik saja, mungkin Maki sudah bisa membekuk lelaki misterius tersebut. Dia berhasil kabur, ketika Maki hanya mampu melemparkan nakas kecil di ruang tamu.
Tch!
Maki bersumpah, kalau anaknya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Wanita itu akan memburu lelaki misterius tersebut hingga keujung dunia jika diperlukan.
Kreet—!
Wanita dengan manik kecoklatan itu mendongak, daun pintu terbuka; lelaki berjas putih baru saja keluar dari sana. Terlihat raut lelah diwajah itu, dia sudah berusaha semampunya. Maafkan Maki yang mengganggu sosok tersebut malam-malam dengan membuat kekacauan di rumah sakit, bayangkan saja—Maki seperti orang kesetanan saat turun dari taksi dia langsung berlari masuk menerobos Lobby sambil memohon dokter apa saja yang lewat untuk merawat anaknya.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?!" tanya Maki cepat, dia menjagal langkah dari lelaki itu. Terdengar hela napas panjang, lelaki berpakaian serba putih itu meminta untuk Maki agar bisa tenang. Selain anaknya banyak pasien lain disini, jika Maki terlalu ribut pasien lain akan merasa terganggu.
"Tenang saja, kondisinya sudah stabil madam..." sahutnya menarik napas lega dari sosok Maki. Sang dokter bertanya-tanya, gerangan apa yang terjadi pada anak Maki. Kenapa bocah itu bisa basah kuyup seperti orang tenggelam lalu ada bekas cekikkan mengerikan dilehernya, seperti baru saja dianiaya.
Maki menceritakan apa yang bisa dia ceritakan menurut sudut pandang wanita. Sang dokter lumayan terkejut.
"Sepertinya madam harus membuat laporan ke pihak kepolisian, supaya bisa diproses lebih cepat serta pelakunya dapat ditangkap..." Maki mengangguk, setelah meyakinkan dirinya kalau sang anak baik-baik saja setalah ini wanita bermanik kecoklatan itu ingin langsung tancap gas membuat laporan. Dia menitipkan Langa pada pihak rumah sakit, sejujurnya Maki mengharapkan sosok William hadir.
Wanita itu sudah menghubungi dia berkali-kali tapi belum mendapat balasan. Entah kemana perginya lelaki itu, andai saja dia tahu kalau anaknya beberapa detik yang lalu nyaris sekarat. Meski begitu, mari kesampingkan itu dulu. Lebih baik Maki melakukannya sendiri.
Dia berlari kecil di lobby rumah sakit, halaman luar terlihat. Jam berapa ini? Entahlah, Maki tidak tahu. Dia harus mencari taksi dijalan besar nanti. Setelah sepenuhnya keluar dari area rumah sakit Maki menantap kesana-kemari, mencari benda beroda empat dengan warna kuning mencolok.
"Kenapa tidak ada satupun yang lewat?!" geram wanita itu. Dia mengobrak-abrik isi dalam tas selempang yang ia bawa, mencari-cari benda kecil yang selalu digunakan untuk menghubungi seseorang. Ketika benda itu sudah berada ditangan Maki langsung menekan menu kontak lalu mencari nama seseorang.
Menghubungi William percuma, satu-satunya nama yang terpikirkan hanyalah—Lohan.
Bip!
Sambungan terhubung.
Nada serak terdengar diseberang sana, seperti baru saja bangun. Lohan menyahut.
"Ada apa Hanna?"
"JEMPUT AKU SEKARANG."
Bip!
Lohan bangun dari tempatnya, bergegas mengambil pakaian serta kunci mobil diatas nakas. Lelaki itu langsung tancap gas menuju alamat yang wanita itu berikan.
Jika Maki memilih menghubungi Lohan itu artinya wanita bermanik kecoklatan tersebut tidak bisa menghubungi sosok William. Dari apa yang dia dengar, saat ini saudara tirinya itu sedang berhadapan langsung dengan big three, pasti tidak akan mudah. Meski mamah sudah memberikan izin kepada lelaki itu, para kakak-kakak bajingan mereka pasti tidak terima. Selain William, mereka semua juga ingin berhenti dari industri ini tapi tak bisa. Karena mereka tahu, mereka tidak akan bisa hidup kecuali dalam industri mafia ini. Tidak ada tempat untuk menjadi normal, termasuk untuk mu William.
Dari kejauhan sosok Maki terlihat tengah berdiri dipinggir jalan dengan menggunakan pakaian tipis, apa yang wanita itu lakukan disitu? Malam-malam begini, ditambah bukannya ini dekat dengan rumah sakit?
Citt—
Suara rem mobil terdengar, Lohan menurunkan kaca jendala sambil berucap.
"Hanna?!"
Maki menoleh, dia berjalan cepat memutari mobil lalu masuk tepat dikursi samping pengemudi.
"Pasang sabuk pengaman mu Hanna, lalu apa yang terjadi?" tanya Lohan penasaran. Lelaki itu menginjak pedal gas, seusai memasang sabuk pengaman Maki mengucapkan tujuan mereka.
"Antar aku ke kantor polisi dekat apartemen, akan ku ceritakan nanti..." sahutnya, cepat. Lohan mengangguk, dia rasa situasi yang terjadi benar-benar serius. Tanpa banyak tanya lelaki psychopath itu menjalankan mobil menuju tujuan.
...***...
Lohan dibuat menggeram, apa? Dia tidak salah dengar bukan? Sesuatu yang keluar dari mulut Maki membuat lelaki itu kepanasan. Lohan memang psychopath, dia ditugaskan sebagai pembunuh bayaran tapi tak pernah sekalipun terpikirkan untuk menganiaya seorang anak kecil dengan kejinya. Ini prinsip yang sudah ia bangun sebelum bergabung kedalam organisasi, lebih tepatnya sang mamah 'lah yang memungutnya.
Mendengar Maki menceritakan apa yang terjadi kepada polisi, membuat Lohan ingin langsung menyerang saja. Dia hanya perlu beberapa langkah untuk mencari bajingan gila mana yang ingin membunuh anak dari kakaknya. Tapi lelaki itu tidak bisa, saat ini Maki tidak mengetahui sosok sadis dari Lohan. Meski dia tahu kalau William sudah pasti bercerita kalau dirinya merupakan bagian dari organisasi mafia. Entah kenapa Lohan seperti berusaha menjaga citra miliknya didepan wanita yang selalu dia panggil dengan nama Hanna tersebut.
"Baik madam, kami akan langsung menindak lanjuti laporan anda... dan akan kesana untuk pengecekan kamera pengawas."
Maki mengangguk dia berdiri, ikut melangkah disusul dengan sosok Lohan yang berada tepat dibelakang wanita itu.
"Hah~" hela napas panjang terdengar. Lohan melirik, apa lagi yang wanita itu kesalkan? Kenapa raut wajah dari Maki terlihat tidak baik. Berhasil membuat merinding saja, lebih baik Lohan mengambil mobil di parkiran; walau begitu sepertinya langkah kaki dari lelaki itu ditahan oleh Maki.
"Lohan..." panggilannya. Lelaki bernotabe saudara tiri dari William itu berbalik, dia memberi isyarat 'ya?' sebagai sahutan.
Tangan dari Maki terangkat, wajahnya benar-benar datar dengan raut muka mengerikan. Wanita itu meletakan jarinya kebibir sambil berucap.
"Kau tahu dimana bajingan bernama William itu? Ku rasa dia perlu tahu kalau anaknya sekarat."
Lohan tersenyum.
"Bisa-bisanya dia menghilang disituasi seperti ini. Mengesalkan!"
Kau akan mati ka, istrimu sedang kesal pada mu. |
HAHA!
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...