
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...G e r a m...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
"Bibi, jangan bicara begitu tentang papah." sanggah Langa cepat sambil melayangkan tatapan tajam kearah Diana. Kedua wanita yang berada disana merasa tersentak, sedikit kaget karena satu-satunya bocah disini bicara begitu. Bahkan mereka juga tidak yakin kalau Langa benar-benar paham maksud dari kata 'selingkuh' itu sendiri.
Maki tidak menyalahkan Diana, karena mempercayai sebuah kebohongan yang dia ucapkan—tidak juga dengan sang anak yang tiba-tiba merasa geram atas ucapan Diana.
Suasana menjadi canggung, Maki harus apa. Wanita bermanik kecoklatan itu bahkan dapat dengan jelas melihat Diana yang perlahan ikut kesal. Mereka berdua ini jarang sekali bisa akur, dari awal pertemuan hingga sekarang.
Padahal Maki sering bilang pada Langa, kalau sosok Diana 'lah yang banyak sekali membantu mereka. Pertemuan pertama antara Maki dan wanita itu adalah titik awal kehidupan baru ini, rasa kasihan Diana yang membuat Maki bertahan; diatas bumi yang kejam ini.
"Haha, lebih baik kita siapkan makan malam?" sela Maki canggung diselingi tawa hambar, dia menunjuk arah jam dinding, sudah lewat beberapa menit untuk waktu makan malam. Seusai kerja tadi Maki mengajak Diana untuk mampir sebentar ke-apartement-nya; ini dia lakukan setelah mereka berdamai dari pertengkaran kecil mereka soal William. Dan Diana menyetujui hal tersebut, siapa kira akan berakhir seperti ini lagi.
Suasana menegangkan, Maki muak. |
Tapi anaknya tidak salah, Diana kadang tidak bisa mengerem mulutnya saat bicara—lebih lagi dihadapan anak-anak.
"Huh~" terdengar hela napas panjang, Diana memilih untuk mengalah. Lagi pula Langa masih seorang bocah ingusan, jadi harap maklumi.
"Baiklah, mari buat makan malam Hanna. Dan kau Langa... biar bibi masakan sesuatu yang istimewa~" ucapnya, berhasil membuat bulu kuduk Langa berdiri. Dia berwajah seperti ingin muntah, Maki terbahak. Siapapun disini pasti tahu kalau Diana tidak bisa memasak.
Canda tawa yang terdengar serta suasana hangat yang tercipta, tidak ada yang mengira kalau itu akan menjadi detik-detik sebelum kejadian mengerikan tersebut.
"LANGA!"
...***...
"Erognm~" suara sendawa memenuhi gendang telinga Maki. Wanita itu mendelik, menatap tak suka kearah Diana.
"Jorok!" tegurnya pelan. Diana terkekeh, dia meminta maaf dengan isyarat tubuhnya. Maki berdiri dari duduk lalu mulai membereskan meja makan, sebentar manik kecoklatan Maki menilik—kearah sosok Langa yang terlihat terlelap sambil memegangi sendok makan. Haha! Pose apa itu?!
Sungguh imut.
Ini memang terbilang cukup larut untuk makan malam, alhasil sebelum makanan masuk kedalam perut Langa bocah itu sudah hanyut dalam tidurnya. Salah Diana juga sih, dia mengacaukan dapur dan membuat Maki bekerja ekstra keras untuk menyiapkan makan malam. Hah~ ingatkan Maki untuk menjauhkan wanita itu dari kompor, sebelum dia menghanguskan seisi apartemen nanti.
Setelah selesai membereskan meja makan bersama Diana. Maki menggendong sosok Langa menuju kamar tidur, membaringkan bocah tersebut dengan lembut diatas permukaan ranjang lalu beranjak keluar. Lampu kamar dimatikan berbarengan dengan pintu yang tertutup.
"Sudah ingin pulang?" tanya Maki tiba-tiba saat melihat sosok Diana yang tengah bersiap. Dia mengangguk.
"Aku tidak ingin ketinggalan bus terakhir," sahutnya. Kali ini bergantian dengan Maki, wanita itu mengangguk; paham. Dia mengiringi langkah Diana menuju pintu keluar.
"Sampai bertemu lagi di tempat kerja..." tutur Maki, melambaikan tangan kearah Diana. Sosok yang mendapat ucapan selama tinggal itu tertawa, dia menyahut.
"Sampai jumpa~ Hanna..."
Diana berbalik. Maki memperhatikan sosok tersebut yang perlahan menjauh lalu menghilang diantara tikungan jalan. Tangan Maki terangkat, menuju arah kenop pintu lalu menutupinya pelan hingga menimbulkan suara—
Blam!
Dari kejauhan.
.
.
.
.
.
"Eh? Kenapa ini ada disini?" monolog Maki. Dewi batinnya bertanya-tanya, kenapa telepon genggam milik Diana biasa berada di-sisi lain dari wastafel. Apa jangan-jangan wanita itu tidak sengaja meletakan benda tersebut disitu lalu melupakannya?! Ish! Kebiasaan buruk.
Maki menoleh, melirik kearah jam dinding. Baru lewat 15 menit setelah perpisahan mereka. Maki rasa kalau dia menyusuli sosok tersebut ke halte bus pasti akan sempat. Jam keberangkatan juga masih ada 10 menit lagi, Maki berbalik. Mengambil jaket tipis miliknya di-kamar lalu bergegas keluar.
Tap!
Tap!
Tap!
"Hosh... hosh..."
Napas Maki terengah, wanita itu mati-matian berlari menuruni tangga menuju lantai dasar. Beberapa meter lagi akan terlihat halte bus diluar bangunan, tapi apa yang Maki jumpai hanya keberangkatan bus tersebut.
Tidak mungkin dia berlari kesanakan?
"Sial! Hosh... hosh..."
Kenapa waktu berangkatnya lebih cepat dari biasanya?! dengus wanita itu dalam hati. Dia lelah, okay... Maki putuskan akan menyerahkan benda tersebut esok hari saja. Lebih baik kembali ke-apartemen lalu tidur, olah raga malam tanpa pemanasan membuat dada Maki sesak.
Dengan langkah gontai, wanita itu berjalan—menyusuri lorong hingga tangga-tangga menuju lantai atas terlihat. Tanpa menyadari kejadian yang mungkin saja saat ini tengah menimpa sang anak. Langa.
.
.
.
.
.
Krett~
Pintu terbuka, seseorang dengan pakaian tertutup masuk. Dia baru saja melihat sosok Maki berlari keluar dengan langkah kesetanan. Sudut bibir Diana terangkat, atau lebih tepatnya kita sebut sebagai Yolan?
Lelaki itu terkekeh,
Setelah berpisah dengan Maki nyatanya dia tidak pulang, lelaki itu hanya bersembunyi sambil mengganti pakaian yang ia kenakan. Yolan sedikit menyiapkan rencana kecil untuk Maki, makanya wanita itu terpancing keluar. Dengan langkah santai dia berjalan menyusuri ruangan yang sudah sangat dia hafal bentuk dan isinya; menuju kamar Langa, anak dari sang teman.
Yolan bersandar tepat didepan pintu sambil melayangkan tatapan datar kearah bocah cilik yang masih terlelap. Anak itu membuatnya geram barusan.
Gara-gara bocah itu juga, Maki harus kembali dengan bajingan yang membuangnya ketika hamil. Yolan 'lah yang memungut Maki kala itu. Demi Tuhan, lelaki sepertinya tidak pantas untuk mu Hanna.
"Anak ini, matanya membuat ku kesal." gumam lelaki itu menggunakan suara aslinya.
Alangkah indah kalau saja Maki tidak memiliki seorang anak.
Yolan mendekat, tangannya terangkat—menggapai sosok itu lalu membawa bocah tersebut kearah kamar mandi.
Bugh!
Langa terkejut saat bajingan gila itu mengempaskan tubuhnya kedalam bak mandi. Suara keran air terdengar kemudian, belum apa-apa; bocah dengan manik emerald itu mencerna situasi dia sudah mendapati sepasang tangan mencekik lehernya.
Wajah familiar namun terasa asing dalam satu waktu. Langa tahu dia adalah sosok lelaki dari bibi Diana yang pernah ia liat malam itu. Langa mencoba memberontak, air semakin naik. Yolan menekan kepala anak itu agar terendam didalam kubangan air.
"ARGHH!"
Terdengar suara-suara tak jelas yang Langa ciptakan. Dia panik, mulutnya mulai terisi oleh air secara paksa. Sial, apa Yolan akan membunuhnya?
Bertepatan dengan hal tersebut, teriakan Maki terdengar.
"LANGA?!"
Yolan berdiri, merapatkan penutup wajahnya lalu berlari keluar dengan langkah tergesah. Sosok itu berpapasan dangan Maki yang melemparkan tatapan nyalang kearahnya.
"SIAPA KAU! APA YANG COBA KAU LAKUKAN PADA ANAK KU?!" ucapnya marah. Benar-benar sangat marah.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...
Catatan kecil: coba mampir yuks ke karya Wenim yang baru, judulnya "Munafik" jangan lupa dukungannya kalau kalian suka ^^