FreeDom

FreeDom
Air Mata



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...A i r - M a t a...


...__________________...


...__________...


...____...


..._...


"Anda memukulnya terlalu keras," Yolan mengangkat bahunya acuh; dia tak peduli atas komentar pedas yang dilayangkan sang dokter kepada dirinya.


"Hah~" hela napas pasrah muncul disela bibir dokter pribadi tersebut. Dia menyimpan beberapa peralatan kembali pedalaman tasnya, setelah melakukan pemeriksaan serta pertolongan pertama pada sosok Maki—lelaki itu menyimpulkan bahwa Yolan bertindak terlalu kasar.


Celah bibir dokter itu kembali terbuka, dia ingin bicara pada tuan muda yang tengah bersandar disudut ruangan. Dengan gaya angkuhnya tentunya.


"Kemungkinan kecil nona Hanna akan mengalami geger otak ringan, tapi di beberapa khasus tertentu hal tersebut bisa menimbulkan masalah serius." ucapnya.


Sebelah alis Yolan terangkat, lanjutkan.


"Nona Hanna bisa saja mengalami amnesia sementara..."


Sudut bibir Yolan terangkat, ada rasa senang meledak-ledak dihatinya. Lelaki itu tidak salah dengar bukan? Amnesia? Maki? Mengalami amnesia?


"Bukannya itu jauh lebih bagus?"


Deg!


Dokter yang mendengar tersentak, apa yang Yolan bilang sebagai bagus? Seseorang mengalami kemalangan apa itu patut untuk disyukuri? Kau psychopath Yolan? Gila.


"Kalau Hanna kehilangan ingatan miliknya, akan jadi lebih mudah mengontrol wanita itu. Aku hanya perlu membuat ingatan baru untuknya, menindih semua memori lama serta memastikan mereka tidak kembali muncul lagi didalam otak wanita itu." ucap Yolan, sang dokter yang mendengar menggelengkan kepalanya tak percaya. Sepertinya dia harus berhenti bekerja sebagai dokter pribadi keluarga ini, dokter tersebut tidak ingin terlibat pada sesuatu yang? Salah. Menjadi kaki tangan seorang penjahat, dia belajar ilmu kedokteran tidak untuk disalah gunakan.


"Perbandingannya hanya 50 : 50 tuan muda, kemungkinan nona Hanna akan mengalami amnesia." ucap dokter itu lagi sebagai tambahan, dia lalu berdiri dari duduknya—menantap sejenak sosok Maki yang masih terbaring tak sadarkan diri diatas sebuah ranjang yang mewah.


Dokter itu mengasihani wanita tersebut.


"Semoga beruntung nona..." bisiknya sebelum beranjak pergi dari sana.


"Kalau begitu saya pamit undur diri tuan muda," Yolan mengangguk, membiarkan dokter tersebut pergi dari sana meninggalkan Yolan bersama sosok Maki. Sendirian didalam sebuah kamar yang indah.


"Senangnya~" gumam Yolan entah pada apa.


...***...


"Aaa~"


Maki membuka mulutnya ragu, dia merasa sedikit canggung atas perlakukan yang Yolan lakukan terhadap dirinya termasuk tatapan lekat dari kedua sosok berstatus orang tua dari lelaki tersebut.


"Makan yang banyak Hanna..." imbuh satu-satunya wanita paruh baya disana. Dia tampak senang saat melihat Yolan menyuapi sosok Maki dengan gerakan tangan yang telaten. Memperlakukan Maki seperti boneka didalam lemari kaca.


"Jangan sungkan Hanna..." tambah pria paruh baya yang duduk tepat disamping sang istri. Mereka tampak harmonis jika dilihat sekilas, Maki mengangguk kepalanya ragu. Dia membuka kembali mulutnya saat Yolan menyodorkan sesendok makanan penuh padanya.


Yolan terkekeh.


"Ayah, ibu... jangan menggoda Hanna, dia baru saja bangun. Kau pasti kebingungan... ya 'kan?"


Maki mengangguk, ragu. Terdengar kedua orang tua dari Yolan tertawa kencang lalu meminta maaf setelahnya.


"Kau benar nak, Hanna perlu istirahat lebih banyak untuk memulihkan kondisi miliknya... dia pasti kebingungan saat ini." tutur sang ayah yang mendapat persetujuan dari sang istri. Kedua orang tersebut berdiri dari duduknya dimeja makan, sepertinya mereka ingin berpamitan pergi.


"Kalau begitu, nikmati waktu berdua kalian..." ucap sang ibu kepada Yolan dan Maki sebelum benar-benar beranjak pergi dari sana. Beberapa pelayan muncul, membereskan dengan cepat meja makan supaya tidak mengganggu sang tuan muda bersama calon istrinya.


"Tidak apa-apa Hanna, kau tidak perlu takut..." gumam Yolan kemudian. Manik kecoklatan itu terangkat, dia menantap dalam sosok yang duduk tepat disampingnya.


"Sebenarnya siapa kau? Lalu, siapa aku?" bisik Maki. Dia menunduk, menampilkan raut wajah penuh kesedihan. Yolan meletakan kembali piring serta sendok ditangannya.


"Hei?" panggil lelaki itu serya membingkai manis wajah milik wanitanya. Omong kosong!


"Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, nama mu adalah Hanna dan aku Yolan. Kita berdua pasangan kekasih tapi sesuatu yang buruk menimpa dirimu dan keluarga mu Hanna. Kalian mengalami kecelakaan lalu lintas, hanya kau satu-satunya yang selamat. Aku membawa mu kemari karena khawatir, paham sayang?" ucap Yolan lemah, dia mencoba meyakinkan sosok Maki kalau apa yang dia ucapkan benar adanya.


Maki termenung, wajahnya benar-benar sayu. Seakan tidak percaya serta putus asa, celah bibir dari wanita tersebut lalu terbuka. Sepatah kata terdengar dari sana.


Mendengar hal tersebut membuat hati Yolan kegirangan, sorak-soray serta letupan senang menguasai emosi miliknya. Bak penipu ulung, apa yang hatinya rasakan berbanding terbalik dengan wajah yang ia tampilkan.


Semoga kau tidak mengingat apapun—sayang~


.


.


.


.


.


JEDAR!


"HUWAAAAA! Hiks!! Hiks!!!"


William terbangun, suara gemuruh serta guntur diluar sana mengagetkan dirinya termasuk teriakan sang anak yang tidur dikamar sebelah.


"MAMAH!!!!"


Lelaki itu bangkit, bergegas berlari menuju kamar sang anak. Dia menghidupkan penerangan dari raungan milik sang anak.


"Ada apa boy?!" tanyanya mendapati Langa menangis heboh didalam selimut. William berjalan mendekat, memeluk sosok Langa didalam selimut tersebut.


Tangisan dari satu-satunya putra mereka semakin menjadi. William kelabakan, bagaimana caranya dia untuk menenangkan sosok Langa? Lelaki bermanik emerald itu tidak memiliki banyak pengalaman dalam mengurus anak, ditambah dia baru saja bertemu dengan anaknya itu.


"PAPAH! MAMAH MANA?! HIKS... HIKS... LANGA TAKUT!"


"Pstt! Pstt! Tenanglah Langa, papah sebentar lagi akan menemukan keberadaan mamah..." ucap William semampunya. Dia menggendong Langa yang masih berbalut dalam selimut layaknya seekor kepompong.


Bocah lelaki itu merengek, dia meminta agar mamah-nya dikembalikan.


Setelah kehebohan itu berlangsung tak lama kemudian sosok Langa kembali terlelap. Dia tertidur didalam gendongan sang ayah. Kemungkinan yang William dapatkan adalah bocah lelaki ini mengalami mimpi buruk, selain dirinya yang khawatir tentang keselamatan dari Maki putra satu-satunya mereka juga mengkhawatirkan wanita itu.


Sungguh kasihan. |


"Hah~" hela napas lelah terdengar dari arah mulut William. Dia kembali melangkah menuju ranjang tempat tidur milik Langa yang baru saja dia beli beberapa minggu yang lalu.


Lelaki itu meletakan sosok sang anak disana, bersama dirinya yang ikut berbaring tepat disamping Langa. William terpejam, kepala lelaki itu sakit.


Dia berusaha mencari keberadaan dari istrinya tapi banyak hal menghalangi pria itu. Bahkan sosok dari mamah. William tidak percaya, mamah secara langsung menegur lelaki itu untuk tidak bertindak lebih jauh.


Yang menjadi lawan mu bukan orang sembarangan nak, pastikan membuat keputusan yang bijaksana.


Ucap mamah, terngiang didalam benak lelaki itu. William berdecih, kekuasaan miliknya terlalu kecil dia tidak bisa bertindak gegabah. Baru kali ini—rasanya William seperti makhluk yang tidak bisa melakukan sesuatu.


Dia tidak berdaya. Pada otoritas mutlak.


Belum apa-apa—


"Aku sudah merindukan mu, Maki..."


Langa, anak kita menangis karena tidak bisa memelukmu. |


"Ku harap kau baik-baik saja sayang..."


Tes!


Gumam lelaki itu sambil meneteskan setitik air dari arah peluk matanya.


Aku mengutukmu Yolan.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...