
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...S e l e s a i...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
"Memangnya kesalahan apa yang telah ku lakukan pada mu, hingga kau ingin menjeratku? William..."
Degh!
.
.
.
.
.
Maki cepat-cepat membuka kedua kelopak mata miliknya. Napas wanita itu tampak sedikit terengah-engah, entah apa yang sudah ia alami di alam mimpi hingga membuatnya berhasil mengeluarkan begitu banyak keringat melalui kulit pucatnya.
Maki tidak ingat.
"Hosh! Hosh!" Dada wanita itu naik turun, dia yang tengah berbaring telentang diatas kasur yang nyaman merasakan perasaan sakit kepala hebat. Ditambah bau dari lilin aroma memenuhi indra penciuman, langit-langit ruangan kamar dengan hiasan mewah tertangkap penglihatan wanita itu.
Pertanyaan aneh muncul begitu saja.
Dimana aku?
Terakhir Maki ingat dia ingin beristirahat disalah satu kamar milik Rico karena tiba-tiba perasaan kantuk mendera wanita ini, sedangkan orang yang mengaku sebagai suaminya sedang bermain dengan Langa setelah memberikan cup gelas berisi teh dengan aroma lavender yang khas.
Apa yang terjadi?
Putar kembali seluruh ingatan milikmu Maki. Berusaha mengganti posisi, percakapan terakhir yang dia lakukan bersama William kemarin malam adalah soal kembali ke-kediaman lelaki itu; rumah seharusnya Maki berada.
Dipikir-pikir tidak mungkin Maki diculik oleh seseorang lalu diletakan dalam sebuah kamar mewah seperti ini; kecuali si penculik adalah maniak gila—hanya saja jika memang benar ini adalah kediaman yang William maksud, kenapa dia berada disini secara tiba-tiba?
Apa lelaki bermanik emerald serupa dengan anaknya yang mengangkut Maki kemari; dalam keadaan tertidur?
Kemungkinannya 'iya' meski terlintas sedikit point janggal—Maki tidak mungkin tidak menyadari kalau tubuhnya diangkat serta dipindahkan dari satu tempat ketempat lainnya. Dia tidak pernah yang namanya tertidur seperti orang mati kecuali?
Ada seseorang yang membius sosok Maki.
"Tch!" dia berdecih, kepala wanita itu pusing—dia menyandarkan punggung ke-kepala ranjang sambil melijat kening miliknya. Persepsi negatif perlahan bermunculan—tudingan tentang teh yang William berikan membuat wanita tersebut curiga.
"Apa dia memberikan semacam obat tidur pada minuman itu?" gumam Maki serupa dengan cicitan. Kalau memang begitu, motif apa yang mendasari William melakukan hal gila itu?
Mencurigakan, ini aneh. Tingkat ketidaksukaan Maki terhadap lelaki bermanik serupa dengan milik sang anak semakin besar. Aku tidak menyukainya.
Tapi berbeda dengan Langa, putra satu-satunya itu benar-benar dekat dengan William. Bahkan mereka bisa dibilang terlalu akrab, mungkin juga ini karena faktor menghilangnya Maki selama 2 tahun. Pasti Langa merasakan perasaan kesepian, jadi jika dilakukan pencocokan semua itu akan terdengar masuk akal—hanya saja perawakan serta aura yang William tunjukan membuat Maki merinding.
"Seperti berhadapan dengan seorang penjahat?"
Atau psychopath gila yang terobsesi pada satu hal. |
DEGH!
Denyut jantung berdetak lebih keras dari pada biasanya saat Maki memfokuskan diri pada satu kalimat kunci tentang sosok William.
Bukan seperti orang yang tiba-tiba mendapatkan debaran indah karena mulai menyadari perasaan didalam hati tapi lebih kearah—degup jantung yang berdetak tak karuan rasa berkat firasat aneh yang tiba-tiba mendera.
Apa namanya?
"Sebuah ketakutan?" sensasi merinding membuat Maki memeluk tubuh kecilnya sendiri.
Bayangan aneh soal sosok Yolan tiba-tiba muncul, momen-momen ketika Maki tidak dapat mengingat siapapun atau apapun di dunia ini. Hidup tak hidup, mati tak mati—bergerak sebagai boneka yang dikendalikan oleh seseorang.
Ya!
Ketakutan.
Ini adalah sensasi kengerian yang pernah Maki rasakan sebelum memutuskan untuk kabur dari bajingan gila itu. Kenapa aku malah merasakan perasaan ini dengan suami ku?
Lucu.
"Benarkah dia suami ku?"
Tes~
Air mata titik begitu saja disalah satu mata milik Maki, wajahnya semakin pucat. Yolan juga, dia mengaku padaku kalau dia adalah suami ku; ucap dewi batin wanita itu.
Keraguan semakin kuat, Maki tidak suka!
Dia rasa—William adalah sosok yang berbahaya.
"Aku ingin pergi dari sini..." Maki bergumam, dia menunduk sambil membiarkan air mata menitik membasahi atas permukaan kasur.
Gangguan panik wanita tersebut kambuh, sesuatu kembali menyerang Maki secara mental. Wanita itu pikir dia sudah cukup baik dalam kontrol emosi, bahkan didepan Yolan dia berhasil melakukan hal tersebut. Menipu hingga berhasil lepas dari sosok banci gila itu, meski sebenarnya Maki hanya berusaha dengan cara berpura-pura.
Jangan berpikir kalau Maki itu baik-baik saja, hanya karena dia terlihat normal—bukan berarti dia benar-benar bisa dikatakan sebagai orang normal.
Serangan fisik, penganiayaan serta pemerkosaan yang bisa dikatakan tidak masuk akal dari Yolan sebenarnya berhasil membuat Maki trauma. Hanya saja Maki tidak ingin kalah, ego seorang wanita yang ingin tetap berusaha duduk diatas tahta tanpa seorang raja.
The Queen.
Aku bahkan sudah melewati seluruh nasip buruk semenjak aku dilahirkan, ini hanya sebagian kecilnya. Tak apa, tak apa Maki! Kau bisa, laki-laki hanya alat; mereka itu tidak lebih dari seorang baji—!
Mulut wanita tersebut tiba-tiba terbuka dengan lebar, Maki merasakan perasaan sesak serta tidak bisa menghirup udara disekitarnya. Ditambah aroma lilin semakin menghanyutkan pikiran dari wanita ini.
Maki tertunduk, dia merosot kembali keatas ranjang.
"Se... sak!"
Dadanya sesak. Seperti ada yang mencekik leher wanita itu, walau sebenarnya tidak ada. Pandangan Maki berkabut digantikan oleh sesuatu yang bisa dikatakan sedikit MENGERIKAN.
Deg!
"ARGHHH!!"
Memori lama merambat masuk dengan cepat.
Maki menjerit dengan lantang, menyuarakan seisi ketakutan.
Dia ingat. Wanita ini ingat. Semuanya dalam waktu yang singkat.
William—lelaki itulah penyebab dari semua kemalangan yang ia dapatkan. Penghinaan, trauma, lalu nyaris merasakan kematian.
Manusia itu, tak jauh berbeda dengan bajingan bernama Yolan ternyata.
"Aku harus pergi dari sini, aku muak." Maki terkekeh, setelah berteriak sangat kencang tak perlu waktu lama dia sudah berhasil beradaptasi.
Mewajarkan segala kegilaan dari takdir yang ia dapatkan.
Pandangan mata Maki terlihat seperti orang yang sudah benar-benar putus asa. Dia muak terjebak dengan permainan laki-laki. Wanita itu dia ingin menghilang.
Lalu bagaimana dengan Langa?
"Aku akan membawanya, pergi dari sini..."
Maki berusaha menggerakkan tubuh miliknya, dia perlu mencari anak itu—membawanya pergi dari sini; menjauh sejauh mungkin dari semua permainan gila ini.
Apa ini yang disebut sebagai karma?
Padahal aku hanya berusaha untuk bertahan hidup.
"Apa itu salah?"
Seorang anak yang selalu jadi bulan-bulanan orang tuanya hingga mengalami penganiayaan sampai ingin dijual kepada pria hidung belang, kemudian mencoba kabur dan bertahan hidup diluar sana dengan berubah menjadi makhluk yang sangat dia benci; jala*ng karena mengingatkannya pada sosok sang ibu serta mengambil barang dari laki-laki yang tergoda dengan kecantikan wanita itu.
Semua hal yang selama ini Maki lakukan adalah untuk bertahan hidup.
"Apa itu salah?" Lagi-lagi dia bertanya.
Bahkan langkahnya terlalu lambat, bergerak menuju pintu yang Maki duga sebagai akses keluar masuk kamar tersebut. Meski sedikit keduluan oleh seseorang yang tiba-tiba saja masuk melalui pintu sana.
Krett—!
Maki mendongak, walau pandangan yang ia miliki sedikit redup tapi dia masih bisa melihat dengan jelas kalau seseorang yang baru saja masuk ke-ruangan tersebut adalah Langa.
Syukurlah~
Dia bergerak cepat lalu memeluk sosok sang anak yang sekarang sudah tumbuh lebih tinggi dari ingatan wanita itu.
"Mamah merindukan mu sayang..." bisiknya mengejutkan diri Langa. Wajah cerah anak ini hilang, bocah tersebut menatap penuh selidiki kearah sang mamah.
Melepas pelukan singkat, Maki lalu berucap.
"Mari pergi dari sini Langa!"
Dengan wajah datar anaknya menjawab.
"Mamah ingin meninggalkan papah dan Langa lagi?"
Maki menggeleng.
"Tidak! Hanya papah mu saja... mari pergi dari sini sayang... mamah muak..." dia membuat Maki ketakutan. Dia membuat Maki menyesal. Dia membuat Maki ingin pergi jauh-jauh dari sana, menghilang dari mata lelaki itu.
Maki lelah, dia ingin hidup dengan normal—tidak lagi menjadi sebuah permainan.
Wanita bermanik kecoklatan tersebut mengharapkan jawaban manis muncul dari mulut sang anak tapi harapan semu itu sirna saat Langa menyerukan kata-kata miliknya.
"Papah dengar itu?" Cukup lantang hingga membuat laki-laki yang berdiri dibalik luar pintu kamar terkekeh.
Deg!
"Yes boy..."
Apa yang terjadi?
Maki membulatkan kedua matanya ketakutan, menjauh dari sosok Langa sambil menampilkan ekspresi wajah tidak percaya.
Ini—sudah direncanakan.
Maki dijebak.
Ungkapan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya ternyata benar.
Anak dan ayah, sama saja.
Blam!
...***...
...End...
...Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca hingga akhir—mengikuti plot gila mereka. Enim menulis cerita FreeDom ini semata-mata untuk hiburan saja serta keinginan pribadi milik Enim, jika kalian benar-benar menikmati kisah gila ini Enim akan sangat bersyukur karena sudah menyajikan cerita yang sesuai dengan selera kalian....
...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka....
...Sekali lagi, terima kasih....
...Ketemu dilain kesempatan; pada cerita yang berbeda....
...Bye~ bye~...
...:3...