FreeDom

FreeDom
Shock



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...S h o c k...


...____________________...


...__________...


...______...


..._...


"Aku tidak ingat pernah mengajak mu untuk ikut..." tutur William sinis sambil memangku Langa yang tengah terlelap. Lohan menoleh, raut mukanya seolah tak bersalah. Lelaki itu menampilkan senyuman polos andalannya, seraya berkata kepada sosok William—


"Mamah yang memintaku untuk mengawasi mu..." ucap lelaki itu gantung.


William merotasi matanya jenuh, dasar lelaki tua bangka! Dia pasti tengah mengawasi pergerakan milik lelaki ini. Sebuah penghinaan besar karena meminta bocah nakal yang selalu membuat onar diorganisasi untuk mengawasi lelaki bermanik emerald tersebut.


Tch!


"Mamah tidak ingin kau terlibat pada sesuatu yang merepotkan, sebagai anak kandungnya... lebih baik dengar saran mamah. Meski aku tidak suka soal gagasan 'dia hanya wanita, biarkan saja dia mati' itu terdengar menyebalkan," ungkap Lohan terang. William setuju, ucapan yang lelaki tua itu katakan soal membiarkan Maki mati lalu carilah wanita lain memang terdengar menyebalkan. Sama halnya William, Lohan juga dibuat jatuh cinta—jika seandainya tidak dihadapkan dengan lawan seperti William mungkin saja Lohan akan merebut Maki dari tangan lelaki itu.


"Persetanlah!" dengus William. Lelaki tersebut membuang wajahnya kearah lain, dia menatap tajam pemandangan laut diluar kaca jendela pesawat komersial.


Sebentar lagi, batin lelaki itu.


Dari kejauhan terlihat pulau kecil yang penduduknya mungkin tidak lebih banyak dari tempat William tinggal. Pemberitahuan soal pesawat akan mendarat terdengar berkumandang, lelaki bermanik emerald ini membangunkan sosok Langa lalu meminta bocah tersebut duduk sendiri dibangku miliknya.


"Kencangkan sabuk pengamannya boy~" ucap lelaki itu. Langa mengangguk, meski sambil sedikit mengantuk.


Ha-ha! Betapa menggemaskannya.


"Sebentar lagi kita akan sampai—setelah itu mari menjemput mamah,"


...***...


"Fush~" uap panas baru saja keluar dari arah celah bibir. Maki mendongak, dia tak percaya—sebentar lagi akan turun hujan. Pukul berapa ini?


Sudah lewat berapa jam wanita itu melakukan pelarian?


Maki mulai merasakan dingin, hanya bermodalkan satu tudung kepala dan gaun tipis tanpa alas kaki. Bisa-bisanya Maki nekat untuk lari. Tidak mungkin juga kan dia kembali?


Cari mati namanya.


Lagi pula Maki sudah terlampau jijik, dia kecewa—sosok yang sangat berarti ternyata mengkhianati. Bayangan ingatan ketika momen banci itu menyentuh tubuhnya secara acak membuat Maki kesal, bagaimana dia bisa menutupi dengan baik identitasnya selama ini. Tanpa Maki ketahui. Sial, dia benar-benar merasa ditipu.


Andai saja lelaki itu tidak menyeretnya; dalam artian menculik sosok tersebut lalu membawanya pergi ketempat antah berantah ini—Maki pasti sudah angkat kaki dari sini seorang diri. Tanpa mengharapkan bantuan, termasuk William atau siapapun. Hanya saja, situasi bagai buronan yang dicari oleh seluruh negeri sedikit menyulitkan langkah Maki.


Dia perlu seseorang, entah yang bisa dia jadikan umpan atau sejenisnya. Perlukah Maki kembali menggoda?


"MAMAH!"


Teriakan seseorang mengejutkan sosok Maki, bola matanya membulat. Dengan wajah horor wanita itu menoleh, dia tidak salah dengar bukan?! TIDAK 'KAN?!


Berjarak 15 meter dari tempat berdirinya Maki dilorong sempit dari sebuah gang kecil. Manik mata emerald tersebut tidak bisa menipunya, sial. Apakah itu benar-benar Langa?!


Haruskah Maki mendekat lalu memeluk sosok tersebut sambil melepaskan kerinduan?


Tubuh Maki ragu-ragu, dia masih bisa dikatakan shock karena menjumpai sosok Langa; sang anak yang berdiri seorang diri tanpa pengawasan.


Bagaimana bisa bocah itu bisa berada disini?!


DEGH!


"Ti... tidak!" Dia dalam bahaya, jika Yolan menemukan Langa—banci gila itu akan MEMBUNUHNYA. Persis seperti sebelumnya.


Jangan mendekat!


JANGAN MENDEKAT!


Maki ingin menjerit, beberapa orang asing datang tanpa diundang. Segelintir wajahnya terasa familiar, itu... itu pelayan yang bekerja di mansion besar milik Yolan.


"Mamah?!"


Dimana William! Apa yang bajingan gila itu pikirkan dengan membawa Langa kemari!


Sial. Sepertinya pelayan Yolan mulai menyadari keberadaan Maki, selain Langa yang mencoba mendekat pelayan itu juga ikut mendekat.


Plask!


Maafkan mamah!


Jerit dewi batin wanita tersebut ketika Langa ingin menggenggam tangan Maki. Wanita ini menepisnya, tanpa pikir panjang dan ingin mengutamakan keselamatan Langa wanita itu berbalik. Pergi dari sana meninggalkan sosok Langa yang menantapnya tak percaya.


"Ma... mah?" panggil bocah lelaki itu ragu. Tangan yang ditepis Maki bergetar. Pelayan laki-laki dibelakang sosok Langa mendahului bocah ini, dia menyadari keberadaan calon nyonya besar masa depan lalu ingin mengejarnya.


Berbanding terbalik dengan sosok Langa.


Bocah yang belum genap 7 tahun itu mematung, cukup lama sebelum suara panggilan William masuk kedalam gendang telinganya.


"Boy! Jangan seenaknya keluar dari mobil lalu berlari! Papah khawatir." lelaki bermanik emerald itu berniat ingin menegurnya tapi malah dikejutkan dengan keterdiaman sosok sang anak.


Deg!


Apa yang terjadi?


William menoleh, kearah mata yang anaknya tuju. Gang sempit dengan lorong panjang, apa yang Langa temukan disana? Kenapa anak ini mengintai dengan tatapan seperti seorang pembunuh?


"Boy—?!" panggil William terputus ketika sang anak lebih dulu bicara.


"Pah,"


William menunduk, suara Langa lebih pelan dari pada biasanya.


"Papah tidak berpikiran untuk merantai kaki mamah?" ucapnya, bernada tanya.


Lelaki tersebut tersentak. Secara garis besar seperti William dapat menyimpulkan, Langa—anaknya ini agaknya sudah bertemu dengan sosok Maki. Pantas dia berlari keluar, intuisi Langa benar-benar kuat. Bahkan setelah beberapa menit dia menjejakkan kaki di pulau ini.


William yakin Maki sebenarnya tidak bermaksud apapun, dia kenal wanita rapuh itu. Tapi melihat bagaimana wajah shock yang Langa tampilkan saat ini ternyata tidak buruk juga.


Ha-ha.


"Kenapa papah harus?" beo William canda, mencoba menahan tawa. Perut lelaki itu tergelitik. Sifat gila miliknya menurun pada sang anak, ck... ck.. ck... William suka.


Selain Maki, ternyata dia juga bisa manfaatkan sosok Langa demi mendapat keuntungan. Keluarga macam apa ini? Aneh. Semuanya gila.


GI-LA-!


Langa menoleh, wajahnya berkerut. Apa maksud dari perkataan sang ayah. Sambil menahan gerah bocah lelaki itu berkata—


"Karena jika tidak, mamah akan terus berkeliaran. Di-incar oleh orang-orang jahat lalu dipaksa berpisah dengan kita,"


Hm~


William setuju. Sudut bibirnya terangkat, lebih mirip menyeringai. Lelaki bermanik emerald tersebut mengangkat tangan miliknya lalu menepuk pelan pucuk kepala dari sosok sang anak.


"Kalau itu yang Langa inginkan, mau tak mau papah akan wujudkan. Setelah kita menemukan dan menjemput mamah, papah akan pastikan menyiapkan ruangan serta rantai khusus untuk mengurung mamah."


Langa menoleh, wajah kerasnya mulai melunak. William menunduk, dia membingkai wajah manis dari bocah lelaki yang tidak lain adalah anaknya itu.


"Jangan menangis, papah janji."


"Okay?"


Wiliam tersenyum, Langa mengangguk. Tunggu?


Deklarasi apa ini?


Rasanya terdengar janggal. Benarkan?


...***...


...T b c...


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...