
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...____________________...
...S e m a k i n - G i l a...
...____________________...
...__________...
...____...
..._...
"Saran dari saya, jangan lakukan hal itu lagi pada nyonya kecuali nyonya sudah lebih dulu belajar tentang pendidikan sek*s," ucap sang dokter, frontal tepat didepan wajah lelaki bernama Yolan.
Yang mendapat teguran merotasi matanya jenuh, dia ingin membantah tapi tak bisa. Anggap saja ini murni kesalahan yang Yolan lakukan, padahal memang. Hela napas gusar menjadi sebuah penutup.
Hah~
Syukurlah sang tuan muda yang ia layani tidak protes terhadap saran itu. Dokter tersebut membuka celah bibirnya lagi;
"Ketika nyonya bangun, pastikan jangan memberi tekanan berlebihan secara mental terhadap nyonya. Supaya nyonya tidak berpikiran untuk kembali melakukan bunuh diri. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya nyonya itu ibarat kata; anak ayam yang baru saja menetas."
Yolan mengangguk; acuh, ya sudahlah—lelaki itu pasti tidak mendengarkannya dengan baik. Sang dokter berharap tidak mendapat panggilan mendadak dilain waktu sama seperti sekarang dimasa yang akan datang.
Menangani dua pasangan toxic ini benar-benar melelahkan.
Sungguh!
"Kalau begitu, saya pamit undur diri." putusnya, mendapat persetujuan acuh tak acuh dari Yolan.
...***...
Maki menantap hampa jendela berlapis tralis tebal didepan sana. Wanita itu meringkuk disudut ranjang dengan memeluk kedua kakinya, ada sesuatu yang janggal melingkar dileher wanita bermanik kecoklatan kosong tersebut.
Lempengan besi, semacam kalung dengan rantai yang panjang. Terikat langsung tepat dikaki ranjang. Maki termenung, mungkin beberapa ada yang bertanya-tanya; bagaimana bisa ia berakhir seperti itu? Terkekang disana dan diikat oleh sebuah rantai persis layaknya seekor anjing.
Kalian bisa sebut saja kalau Yolan itu gila, ide ini muncul semata-mata karena rasa kesalnya. Yolan.
Maki terus-terusan mencoba untuk membunuh dirinya. Tanpa bosan mulai dari menenggelamkan diri lagi sampai menggunakan pecahan kaca untuk menggores habis kulit tubuhnya, para maid yang bertugas bahkan sampai dibuat kebingungan—harus bertindak apa lagi dalam merawat nyonya mereka.
Mendapat laporan tersebut, Yolan yang awalnya masa bodoh berinisiatif melakukan sesuatu. Dia juga mulai geram; lama-lama persetan dengan kesehatan mental atau semacamnya. Yolan malah memberikan tindakan pembiasa-an.
Maksudnya?
Hanya ada dua cara membuat seekor anjing mau patuh terhadap tuannya, pertama merawat anjing tersebut dengan penuh perhatian serta kasih sayang tiada tara; atau yang kedua—menggunakan tindakan kekerasan. Absolut, Yolan ingin menundukkan raga Maki meski harus membabi buta menghancurkan mental wanita itu.
Jalan ini yang ia pilih. |
Yolan hanya butuh satu, cukup ada Maki disamping lelaki itu. Tidak lebih.
Sungguh.
Meski kelihatannya apa yang Yolan lakukan sedikit bisa dikatakan tidak wajar. Merantai seseorang bagai hewan lalu mengurungnya didalam ruangan dengan dalih tindak lanjutan pencegahan. Agar wanita itu berhenti menyakiti dan mencoba untuk bunuh diri. Lucu.
Kreet~
Suara engsel pintu terdengar, manik mata Maki menilik. Hanya ada dua orang yang berani memasuki ke-kamar gelap tersebut, kalau bukan Yolan ya pasti para maid yang bertugas untuk merawatnya.
Dan benar saja, tebakan dari wanita itu tepat. Sosok berseragam pelayan hitam-putih baru saja masuk, dia membantu Maki untuk melepaskan rantai yang mengekang leher lalu mengajak wanita tersebut ke-kamar mandi.
Sudah waktunya membersihkan tubuh. Rupanya kalau tidak salah menebak, kira-kira saat ini pukul 5 sore. Maki juga melihat langit diluar jendela perlahan menjingga, dibarengi para burung yang ingin kembali ke-sarang mereka.
"Permisi nyonya..." ucap maid tersebut. Meminta Maki untuk mengangkat tangan lalu menanggalkan satu persatu pakaian ditubuh wanita itu. Sampai-sampai ia benar-benar telanjang.
Sebelum masuk kedalam bak mandi, maid tersebut membasuh tubuh Maki menggunakan shower. Dirasa sudah, dia meminta Maki untuk menunggu sejenak. Sembari menyiapkan bak mandi dengan sabun beraroma terapi.
Bagaimana rasanya menenggelamkan kepala tersebut kedalam air? Membiarkan paru-parunya terisi.
Apakah akan merasakan perasaan sesak sama seperti yang Maki alami?
Dia ingin mencoba. Maki ingin MENCOBANYA.
Tanpa sadar, tangan wanita tersebut terangkat. Menggapai pelan punggung dari maid tersebut lalu—
Bugh~
"Eh?" Dia mendorongnya pelan sampai tubuh maid itu terjeremba, masuk kedalam bak mandi dengan posisi wajah lebih dulu mendarat; ditelan oleh air.
Belum sempat mencerna situasi, sepasang tangan menahan bagian belakang kepala agar tidak bisa menjauh dari air bak mandi yang sudah dipenuhi dengan busa.
Maid tersebut meronta panik, ada seteguk dua teguk air yang tidak sengaja ia telan. Rasanya pahit, ditambah kandungan sabun yang digunakan membuat mata maid tersebut memerah; perih bukan main.
Tidak seperti cacing kepanasan, Maki justru berpenampilan biasa saja malah cenderung datar. Dia hanya menantap proses perlawanan yang maid itu lakukan.
"Erhhh! Arghhh!"
Hingga maid tersebut kehabisan napas lalu pingsan, barulah Maki membebaskan kepalanya—menjauh dari air bak mandi dan meletakan maid tersebut diatas ubin lantai yang dingin.
Maki berjongkok, menantap kosong maid tersebut selama beberapa detik kemudian beranjak pergi dari sana; dengan keadaan yang telanjang.
Titikkan air masih sempat-sempatnya jatuh, dari ujung rambut; menjelajah ke kulit sebelum terjun bebas keatas permukaan datar bernama lantai tersebut.
Tes~
Pandangan Maki jelalatan, dia menatap sekitar. Tanpa basa-basi wanita itu melenggang menuju lemari, menarik kemeja polos milik Yolan lalu memakainya tanpa dalaman.
Bahkan wanita ini tidak mengeringkan tubuhnya lebih dulu dengan handuk, alhasil pakaian yang baru saja dia kenakan menjadi basa. Sedikit terawang dibeberapa bagian.
Kreet~
Tiba-tiba terdengar daun pintu yang terbuka, Maki menoleh. Menilik dari balik ekor matanya; siapa gerangan yang berdatang.
Meski belum sempat mengetahui siapa sosok tersebut Maki sudah bisa menebaknya dari siulan yang terdengar.
Fcyuu~
Yolan bersandar didaun pintu, menyilangkan tangan miliknya kedada sambil melayangkan tatapan lapar kearah tubuh Maki. Bagaimana tidak menggoda?
Semuanya tercetak jelas didalam kemeja tipis tersebut.
Sudah cukup lama menjadi pria dan beradaptasi dengan baik membuat Yolan tidak mengira kalau sosoknya akan menikmati peran tersebut. Entah kenapa, rasanya menyenangkan menggagahi tubuh Maki lalu membuat wanita tersebut menangis karena keenakan.
Sial.
Sepertinya Yolan terangsang.
Walau pemikiran nakal itu belum selesai terlintas didalam benak tiba-tiba saja ada sebuah benda melayang.
Mata Yolan membulat, dia mencoba menghindar—dibarengi oleh suara dentuman yang cukup keras.
"BRAKKKK!"
Wanita itu, Maki. Dia melempar meja nakas ringan kearah sosok Yolan. Yang benar saja, untung tidak kena. Haha.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...