
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...S i t u a s i...
...___________________...
...___________...
..._____...
..._...
Bugh...
Maki menoleh, gendang telinganya baru saja mendengar sesuatu.
Seseorang berdiri tidak jauh dari tempat Maki berada, pandangan wanita tersebut teralihkan. Banyak bahan belanjaan milik lelaki itu yang berserakan diatas tanah. Sebelah alis Maki terangkat, penasaran.
Ada apa dengan lelaki ini? Kenapa dia menampilkan raut wajah seperti orang yang tak percaya.
Celah bibirnya lalu terbuka.
"Nyo-nyonya... MAKIA!" panggil lelaki itu tiba-tiba.
Maki terdiam, dia menantap dari atas hingga kebawah kemudian memilih untuk menyahuti orang didepannya.
"Apa aku mengenalmu, tuan?"
...***...
"Maaf nyonya, saya rasa anda perlu menggunakan celana..." ucapan tersebut membuat Maki terkekeh, tidak ada yang salah dengan penampilan miliknya.
Setelah bertaruh dengan kemungkinan, Maki akhirnya memilih mengikuti lelaki asing yang mungkin saja mengenal sosok Maki 10 tahun kebelakang. Namanya Rico, lelaki yang kelihatan seumuran dengan wanita bermanik kecoklatan kosong ini.
Maki yang hanya mengenakan kemeja panjang pinjaman tanpa bawahan itu mendekati sosoknya. Meraka saat ini duduk ruang makan, Maki baru saja selesai mandi—membenahi diri dari semua kotoran yang menempel pada tubuh wanita itu.
"Tak apa, aku senang memamerkan paha ku..." sahut Maki dengan maksud menggoda. Dia menyeret kursi lalu duduk tepat disamping Rico dengan menyilangkan kaki putih bersih miliknya.
Lelaki yang disuguhkan dengan pemandangan tersebut meneguk ludah, sial! Dia benar-benar gugup. Ini terlalu seksi, opini sepihak Rico; mencoba mengalihkan pandangan.
Pemandangan lucu tersebut membuat Maki melebarkan senyuman, dia jadi lebih bernafsu lagi untuk mempermainkan lelaki disampingnya tapi tunggu dulu. Ini bukan waktu yang tepat.
Maki menegakkan tubuh, menantap lurus kedepan sambil membuka celah bibirnya.
"Ceritakan, apa saja yang kau ketahui. Rico—"
Terdapat jeda sebelum Maki kembali bersuara.
"Tentang bagaimana aku mengenal mu serta kau yang mengenalku, apapun itu. Semuanya..."
.
.
.
.
.
Ekspresi wajah yang Maki tampilkan membuat orang lain yakin, kalau wanita tersebut sendiri tidak dapat mempercayainya. Beberapa kali wanita itu menghela napas gusar, dia menyisir surai rambut dengan sela jari tangan.
"Jadi maksud mu aku sudah menikah dan memiliki anak yang tidak lain adalah mantan tuan mu, kau pernah bekerja dengan seorang mafia tapi karena keributan yang terjadi selama 2 tahun kebelakang kau akhirnya memilih untuk keluar dari organisasi itu. Dan! Kabar terakhir yang kau dengar adalah suamiku sedang berusaha merebut kembali diriku dari tangan seorang lelaki gila yang dulunya berpenampilan sebagai wanita?"
Sungguh tak dapat dipercaya.
Rico sendiri adalah anak buah yang pernah bekerja dibawah William, dia sendiri merupakan orang pertama dari pihak lawan yang menolong Maki untuk kabur. Ingat kejadian longsor yang menimbun hampir seluruh tubuh Maki? Lelaki itulah yang menolong wanita bermanik kecoklatan ini agar bisa lolos dari sana. Seharusnya Maki mengucapkan terima kasih pada saat itu.
Rico mengangguk, penarikan kesimpulan yang wanita itu ambil memang benar; walau sedikit frontal. Tapi tak apa. Sebelum mendengar cerita dari pihak Rico sendiri, lelaki itu sudah mendapat ringkasan singkat tentang apa yang terjadi pada sang nyonya besar kesayangan bos-nya itu. Rico jadi bisa memaklumi, keingintahuan dari sosok Maki serta ketidakpercayaan dia terhadap kisah yang baru saja Rico sampaikan.
"Bagaimana bisa aku terlibat dengan seorang mafia?" terdengar wanita itu bergumam tak percaya.
Apa yang Rico ceritakan murni berasal dari sudut pandang lelaki itu saja. Meski tidak dapat dijadikan acuan pasti setidaknya itu bisa memberi sedikit gambaran pada sosok Maki.
"Tak dapat dipercaya..." dia lagi-lagi bergumam. Semakin dipikirkan semakin sulit untuk diterima, satu-satunya cara yang dapat Maki lakukan adalah,
"Lalu bagaimana dengan laki-laki yang kau katakan sebagai suami ku? Bukannya dia mafia, tapi kenapa dia tidak berpikiran untuk menyelamatkan ku lebih cepat? Kau tahu, apa yang ku alami disana—" Maki terdiam, bayangan pemerkosaan hingga penyiksaan layaknya seorang budak memenuhi kotak memorinya.
Nyaris membuatku ingin bunuh diri berkali-kali.
Tak ada tanggapan yang dapat Rico berikan, dia juga tak tahu.
Entah alasan apa yang menahan tuannya untuk mengambil keputusan, hanya satu hal yang bisa Rico pikirkan. Semua itu pasti bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Keterdiaman Rico membuat Maki menghela napas panjang, tidak bisa dipaksakan. Kalau memang Rico tak mengetahui jawabannya untuk apa berusaha memikirkan secara berlebihan.
Tangan Maki terangkat, jari telunjuknya mendarat diujung dagu lelaki itu. Membuat bola mata dari Rico bergetar, situasi apa ini?
Kenapa lelaki tersebut kembali merasakan perasaan gugup? Ini semua berkat gerakan menggoda dari seorang wanita. Tubuhnya panas dingin, sial.
Pandangan mereka saling bersinggungan, menantap dengan dalam. Cela bibir Maki terbuka, lalu—
DOR!
Terdengar letusan senjata api.
Tunggu? Senjata api?
"Eh?" Kedua bola mata Maki membulat, disusul teriakan sakit dari arah mulut Rico.
"ARGHHHH!"
Maki cepat-cepat berdiri, ketika Rico berangsur jatuh tepat diatas meja makan dengan lengan kiri yang mengeluarkan banyak darah.
Dia meringis kesakitan. Maki spontan berbalik, mencari sumber dari semua ketegangan yang tiba-tiba saja terjadi. Seseorang dengan pakaian santai berdiri tidak jauh dari sana, ada pistol ditangan kanan lelaki itu.
Dengan menampilkan wajah geram, lelaki tersebut berusaha menahan amarah. Keheningan melanda, kecuali ringisan dari arah mulut Rico yang mencoba mencerna situasi.
Maki menajamkan penglihatan, apa-apaan lelaki itu? Apa dia seorang penjahat yang hendak menjarah rumah Rico?
Tidak bisa dibiarkan.
Tiba-tiba saja Maki berlari, mendekat sedekat mungkin pada lelaki yang tidak lain adalah William itu sendiri. Sebelah kaki Maki terangkat, lalu—
Bugh!
Dia mencoba mengincar kepala William tapi sayang serangan tersebut langsung ditahan. Maki sedikit terkejut, bisa-bisanya dia bertindak seberani ini. Bahkan tubuh Maki sendiri cukup elastis. Dia bergerak seperti sudah lihai melakukan semacam bela diri.
Apa aku dulu pernah belajar beberapa trik? Batin Maki penasaran.
William mendesis, dia kaget mendapat serangan mendadak dari sang istri. Belum sempat memanggil nama Maki, wanita bermanik kecoklatan tersebut kembali melayangkan tendangan.
Bugh!
Lumayan sakit karena dia menggunakan tulang kering.
"Siapa kau?! Masuk rumah seseorang dan menembaknya dengan pistol?!" Maki berteriak, memberi gertakan.
William meringis, bisa-bisanya sang istri melakukan hal seperti ini. Terhadap dirinya, lelaki bermanik emerald itu tampak sedikit kecewa. Berbarengan dengan hal tersebut suara langkah kaki terdengar, Langa tiba-tiba saja muncul dengan wajah yang polos.
Melihat adanya anak kecil disini, spontanitas Maki meningkat. Dia bergerak, mendekati Langa lalu berusaha melindungi sosoknya dari laki-laki bersenjata.
"Menjauh nak, dia seseorang yang berbahaya?! PENJAHAT!"
Sial, ini membuat Langa tertawa. Papah, dikatakan sebagai penjahat?
Psftt!
HAHAHAHHAHA—!
Bukannya itu memang benar!
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...