FreeDom

FreeDom
Pemantik



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...P e m a n t i k...


...___________________...


...__________...


...____...


..._...


Hanya perlu berjalan sekitar 50 meter dari ruang makan mansion besar ini, kau pasti sudah bisa menjumpai dapur luas yang langsung terhubung dengan pintu keluar bagian belakang. Panjang kira-kira mansion dengan gerbang utama adalah 450 meter; dihitung lebih. Banyak semak-semak berbunga yang sengaja hidup disana, ada juga pepohonan besar tumbuh sebagai lindungan.


Dirawat dan dijaga.


Jumlah karyawan mulai dari pelayan laki-laki, maid, hingga tukang kebun berkisar antara 100 sampai 150 orang bahkan lebih. Ini perkiraan kasar dari rata-rata yang dapat Maki simpulkan, tinggal melakukan pencocokan waktu atau timing saja Maki sudah bisa langsung merangkap kelangkah selanjutnya.


Tapi mengingat jumlah serta pergantian pelayan yang intens Maki jadi sedikit ragu, hanya satu waktu saja yang bisa dikatakan bebas dari para pelayan tersebut. Yups! Tengah malam. Ketika semuanya memilih untuk tidur, dari yang Maki ingat mereka berhenti bekerja 2 jam setelah menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Artinya ketika tuan dan nyonya serta anak dari majikan mereka terlelap tepat diatas ranjang dengan keadaan yang damai. Biasa pukul sembilan, dua jam setelahnya—


Barulah mereka bisa mencicipi yang namanya istirahat.


"Waktunya kembali nona..." pinta maid itu tiba-tiba; membuyarkan konsentrasi milik Maki. Wanita dengan manik kecoklatan tersebut tersentak, dia spontan menoleh. Pukul berapa ini? Tanya dewi batinnya penasaran, seperti baru saja menghirup udara bebas kenapa disuruh secepat itu untuk kembali kedalam kandang? Benar-benar menyebalkan walau tak apa. Maki setidaknya sudah mencatat beberapa poin penting didalam otak termasuk denah kasar dari tiap tata letak serta posisi yang ada di mansion mewah ini.


Ternyata Maki hebat juga dalam urusan mapping, dia punya ingatan yang bagus.


Bersama dengan maid tersebut Maki digiring masuk, kembali kedalam mansion mewah itu. Sebentar ia menilik, langit ternyata sudah menguning. Maki harap ketika dia menjejakkan kaki kedalam bangunan tersebut—dia tak akan bertemu dengan sosok lelaki menyebalkan bernama Yolan, beserta orang tua gilanya.


Semoga~


Dia lelah berpura-pura lebih lama lagi serta menjadi manusia yang munafik.


...***...


"Dimana Yolan?" Akhirnya pertanyaan itu tersampaikan, lolos dari tenggorokan serta celah bibir milik wanita bermanik kecoklatan ini; Maki. Dia gemas, ingin bertanya tapi malas. Bagaimana itu? Ya, seperti itulah. Jam makan malam kali ini Maki hanya melakukan kegiatan itu seorang diri dengan beberapa maid yang menonton.


Maki bisa dibilang penasaran, karena menghilangnya ketiga makhluk random tersebut memunculkan tanda tanya besar. Kemana perginya mereka? Para manusia yang selalu mencoba berbohong serta ingin mempengaruhi otak Maki. Andai saja mereka tahu kalau usaha konyol yang mereka lakukan itu sia-sia, kadang Maki ingin sekali tertawa keras. Betapa bodohnya mereka.


Percaya dengan satu diagnosa tanpa berpikir panjang setalah Maki siuman. Yang benar saja. Tapi tak apa, wanita ini jadi mendapat keuntungan. Ha-ha |


Maid yang bertugas membereskan meja makan menghentikan gerakan tangannya, dia menunduk. Setelah Maki selesai makan. Maid itu memberi isyarat untuk teman-temannya agar membawa Maki pergi dari sini setelah makan malam selesai.


Tch!


Tak ada yang ingin menjawab.


Maki mendecih, setidaknya secuil saja informasi. Dan tolong jangan menyeret Maki pergi dari sana. Dia perlu sesuatu—yang bisa dijadikan pertimbangan. Apapun itu!


"Tuan muda sedang dalam perjalanan keluar nona, besok pagi beliau akan kembali..." ucap salah seorang yang mungkin saja sedikit merasa iba terhadap sosok Maki.


Cepat-cepat wanita itu menoleh, memasang wajah sedih sambil bertanya—tepat kearah pelayan laki-laki yang terlihat tulus dalam membantunya; mendapat secuil informasi.


"Lalu dimana ayah dan ibu?" merujuk kepada orang tua milik Yolan. Sebenarnya Maki jijik memanggil mereka begitu, tapi demi menarik perasaan simpati lebih besar lagi mari lakukan.


Beberapa maid mencoba menahan pelayan baru tersebut untuk bicara, mereka ingat sekali jenis titah apa yang tuan muda mereka sampaikan.


"Tuan dan nyonya sedang menghadiri acara diluar nona..."


Dengan langkah ringan, Maki pergi dari sana. Dia bergumam—


"Let's play~" entah pada apa.


...***...


Ting!


Lonceng tengah malam terdengar berkumandang, Maki yang berpura-pura tertidur membuka kembali kedua kelopak mata.


Wanita itu mengubah posisi tempatnya tidur menjadi setengah bersendar—tepat dikepala ranjang. Maki mengedarkan pandangan kesekitar, keadaan raungan remang-remang. Begitu senyap, tidak ada lagi aktivitas asik yang dilakukan oleh para pelayan. Wanita itu menyibakkan selimut, posisi disamping wanita tersebut kosong. Benar apa yang telah pelayan laki-laki itu katakan, Yolan tidak akan datang sampai esok pagi. Itu artinya Maki punya waktu kurang dari 6 jam sebelum fajar datang. Dia harus bergerak dengan cepat. Pergi dari sana.


Sebelum berpisah dengan maid yang bertugas mengurus serta memastikan Maki tertidur pukul 9 tadi, wanita bermanik kecoklatan ini meminta hair grips kepada maid tersebut dengan alasan risih; anak rambutnya menbuat leher Maki gatal.


Mau tak mau maid tersebut menuruti keinginan dari calon nyonya besar masa depan mansion ini dengan menyerahkan 2 jepit rambut tipis itu. Maki mengucapkan banyak-banyak terima kasih, hal yang maid anggap remeh sebenarnya adalah kunci dari kesuksesan rencana milik Maki.


Wanita yang sudah terbiasa dengan keadaan remang ini tidak lagi mengalami kesulitan ketika melangkah. Maki berjalan mendekat, dia menilik kearah lubang kunci.


Perlu berapa menit kira-kira? Batin Maki penasaran, sudah lama dia tidak menunjuk skill-nya yang satu ini. Tanpa ba-bi-bu Maki membengkokan hair grips lalu memasukan ujung dari benda tersebut kedalam lubang kunci.


Terlihat Maki berkonsentrasi penuh, dia mendengarkan baik-baik tiap gerakan ujung hair grips yang menabrak bagian dalam lubang kunci. Bermodalkan intuisi, wanita bermanik kecoklatan tersebut berhasil mendapatkan nada yang ia cari.


Ceklek~


"Gotcha..."


Perlahan Maki memperlebar daun pintu itu, dia menoleh—kesana-kemari, lorong dengan pencahayaan kuning. Tidak ada siapapun disana. Dengan langkah seringan kapas Maki berjalan keluar, menuju area dapur. Keadaan benar-benar senyap, tempat yang biasanya terang kini kehilangan cahaya. Beberapa area sengaja lampunya dipadamkan.


"Benar-benar horor, jika seandainya kau tinggal sendirian." monolog Maki seorang diri. Ketika langkahnya sampai kearea dapur wanita itu bergegas menuju pintu belakang. Syukurlah kemungkinan akan bertemu dengan seseorang yang belum tertidur tidak terjadi.


Sama seperti apa yang Maki lakukan sebelumnya, wanita tersebut ketika sudah menjumpai daun pintu bagian belakang dia langsung mengotak-atik lubang kuncinya hingga benda tersebut terbuka—menampilkan pemandangan taman belakang yang sedikit mirip dengan hutan.


Tidak ingin pergi begitu saja, mata Maki jelalatan. Dia menantap sekitar; ada sesuatu yang tengah wanita itu cari.


"Ketemu..." bisiknya pelan. Bergegas Maki mengambil pemantik api kecil lalu angkat kaki dari sana.


Setelah kejadian itu—kalian bisa menebak sendiri sisanya.


Maki membakar mansion dengan bermodalkan pemantik api tersebut.


"Banyak daun kering disini..."


Ah~


Maki lupa—


"Selamat tinggal~"


Bye-bye


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...