FreeDom

FreeDom
Part 5



Aku pun beranjak bangun dari nakas, sepertinya hanya menunda-nunda saja. Aku segera menyiapkan buku-buku untuk besok, beberapa buku tulis masih terbungkus plastik bersegel, aku mulai membukanya dan membukus satu-persatu dengan sampul berwarna pink bergambar Frozen. Sepertinya Tante sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat detail. Aku pun mulai menempel mebel tempat nama dan mata pelajaran ke buku satu-persatu.


Tampak kotak pensil terletak di sudut meja komputerku. Aku mulai memeriksanya ternyata didalam kotak pensil sudah lengkap beserta isinya. Ada penghapus, pulpen warna pink yang bergambar hello kitty, stabilo dan beberapa ATK sudah tersusun sempurna.


Akhirnya selesai juga aku menyiapkan buku-buku. Namun, aku tak berhenti begitu saja. Mulailah ku oprasikan CPU dan komputer.


Ternyata di dalam CPU sudah tersedia CD Room untuk panduan gramer.


Eh, tiba-tiba saja netraku terbelalak ketika membuka laci keyboard ada kotak kado yang berpita pink. "Ini apa ya isinya?"


Sepertinya rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Langsung ku buka isi kotak tersebut. Oh, betapa terkejutnya aku. Ternyata jam tangan bermerek, berwarna pink dari Jepang. Sontak aku meloncat-loncat kegirangan sampai terlupa dengan rasa sakit lututku.


Langsung aku pakai jam tangan itu. Ternyata di dalam kotak tersebut ada secarik kartu ucapan yang bergambar panda. Aku perlahan membacanya.


"Sayang, ini jam tangan untuk kamu. Biarkan nanti kamu bisa menghargai betapa pentingnya waktu. Jangan kau pernah membuang waktumu. Salam sayang dari Om Alan."


"Aku sepertinya harus memamerkan jam tangan ini kepada Bang Ray dan Bi Ijah"


Aku mulai berjalan keluar kamar, menuju tangga yang bermotif warna-warni. Keramik bergambar bunga latulip yang membuat rumah menjadi indah.


Sementara beberapa lukisan klasik tertempel di dinding dekat anak tangga. Aku berjalan dengan penuh kehati-hatian menuruni anak tangga satu-persatu, meskipun lutut kaki masih terasa nyeri. Rasanya sudah tak sabar menghampiri Bang Ray dan Bi Ijah.


Beberapa menit kemudian. Akhirnya aku sampai di lantai bawah.


"Bang.., Bang.., Bang Ray...!!"


Aku melirihkan suaraku dan tertunduk malu.


Ternyata di sofa selain ada Mak Lampir juga ada beberapa teman Bang Ray. Mungkin mereka yang mengerjakan tugas bersama.


Bang Ray, berjalan mendekatiku dan menggandeng tangan untuk memperkenalkan kepada teman-temannya.


"Sini yuk De, ini teman-teman abang, yang itu tadi pacar Abang namanya Helen, kalau yang putih matanya sipit itu Kak Valentino dan satu lagi yang itu Kak Rizqi.


Mereka bertiga menatapku dengan senyum manis, kecualai si Mak Lampir. Aku pun mencium punggung tangan mereka satu persatu. Aku mengurungkan niat pamerku ke Bang Ray. Karena, malu masih banyak teman-teman Bang Ray. Lalu aku netraku mengarah keseluruh penjuru ruangan untuk menemukan Bi Ijah. Namun, tak juga ku temukan.


" Oya De, tadi ada apa panggil-panggil Abang?"


Bang Ray berjongkok menatap dengan berbinar-binar.


"Ini Bang, tadi aku buka laci meja komputer ada kotak kado Bang, ini isinya"


Aku mengunjukan pergelangan tangan kiriku.


Bang Ray pun tertawa menatapku, spontan teman-teman Bang Ray turut menertawaiku.


Aku menundukan kepala dan memasang muka masam.


"Ini kebalik De, sini Abang benerin. Masak arah jarumnya ke sini terus kamu mau lihat jam bagaimana?"


Bang Ray, sambil membetulkan jam tangan yang aku kenakan. Si Mak Lampir tiba-tiba mendekatiku.


"Ya elah manja banget sih, gitu aja enggak bisa!"


Dengan ketusnya wanita mirip Mak Lampir itu melontarkan perkataannya. Aku hanya diam.