
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...B e n c i...
...__________________...
..._________...
...____...
..._...
"Pergerakan organisasi ini mencurigakan, aku tak pernah mengira kalau dia adalah suami mu." bisik Yolan, bersandar diatas pangkuan. Lelaki tersebut menantap keatas, sosok Maki terlihat dengan jelas. Pandangan wanita itu masih saja kosong, wajahnya berpaling—menyoroti dalam pemandangan yang sama diluar kaca jendela kamar.
Yolan kembali mengangkat tangan berisi secarik kertas. Ada bio data singkat tentang William disana, setelah sekian lama—dia akhirnya paham; dengan siapa melakukan perlawanan.
Sesekali lelaki tersebut terkekeh, ada beberapa catatan masuk soal pergerakan yang dilakukan William.
"Ternyata kau terlambat satu langkah dari ku, bung~" ejeknya, mengingat sedikit banyak hal yang lucu ketika William mencoba melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sosok Maki. Dia tampak tercekik dikedua sisi.
Ha-ha |
Yolan merasa seperti bagian dari dunia per-mafia-an saja. Sampai dia harus melakukan penyelidikan berkala untuk mendapatkan informasi dari pergerakan mengancam. Ternyata ada seekor anjing liar kampung yang mencoba menggigit ekor milik ular; setidaknya itu yang ia pikirkan. Saat ini.
"Hanna?" gumam Yolan kemudian, dia memanggil tanpa sadar. Lelaki tersebut membuang kertas ditangannya lalu fokus memandangi wajah Maki dari bawah. Sosok itu benar-benar cantik, meski kepribadian miliknya sekarang jelas berbeda dari sebelumnya.
Maki kehilangan jati dirinya. Dia tidak mengetahui eksistensi kebenaran soal siapakah dia—sungguh menyedihkan.
Disatu sisi itu adalah hal yang sangat disayangkan, tapi disisi lainnya Yolan rasa kalau ini sangatlah menguntungkan. Tidak bisa mendapatkan hatinya, raganya pun jadi.
Konsep sederhana dari obsesi yang diterapkan oleh sosok itu. Yolan mencari telapak tangan milik Maki untuk digenggam; menyalurkan kehangatan satu sama lain. Ketika dapat lelaki tersebut lalu membawanya tapi dihitungan ke-3 Maki tiba-tiba menepisnya.
Plaks!
Yolan terkejut, sosok Maki berdiri. Dia menjauh dari tempat terbaringnya Yolan; menuju bibir ranjang. Wanita tersebut menunduk, pandangannya masih kosong. Meski begitu sepertinya ada percikan sesuatu dari manik mata tersebut, entah apa itu. Hanya Maki yang tahu.
...***...
Menjijikan.
Menjijikan!
Menjijikan?!
Siapa sebenarnya dia?!
Maki yang tidak bisa mengenali diri dibuat jijik oleh sikapnya, dia memang merawat dengan telaten hanya saja—ada sekilas aura janggal dari lelaki itu.
Yolan namanya.
Sungguh! Setiap kali dia menyentuh tubuh Maki rasanya membuat mual, wanita itu merinding. Jika saja tubuhnya mau menuruti—mungkin Maki akan memilih menerobos langsung keluar dari jendela kamar lalu beterbangan bebas seperti layaknya burung diluar sana. Dalam artian pergi dari sini, meninggalkan penjara mewah menyesakkan ini.
Tapi tak bisa, jangankan berlari; menggerakan mulut untuk bicara saja terasa sulit. Maki kehilangan kemampuan, semua yang ada dikepalanya kosong melompong.
Ringan dengan beban.
Mereka yang ada disini memanggil wanita itu dengan sebutan Hanna, meski batin Maki sendiri menjerit; menolak nama tersebut sambil bertanya siapa wanita itu? Lalu dilanjuti dengan pemikiran 'siapa aku?' kemudian.
Rasanya memuakkan.
Kepala Maki sakit. Dia pusing.
Maki lebih memilih menyerah memikirkan hal tersebut dengan keras, tapi satu yang pasti.
Yolan, lelaki itu. Entah kenapa Maki tidak menyukainya.
Bahkan lebih—
Mungkin dalam artian seperti ia membencinya?
Deg!
.
.
.
.
.
Ini mengganggu hati kecil milik Yolan, egonya serasa disentil oleh penolakan yang Maki lakukan. Sebenarnya apa yang terjadi? Sebelum ini Maki tidak begini.
Ada sesuatu yang salah, entah apapun itu.
Dilihat dari manik mata kecoklatan Maki, bendanya masih tetap sama; menampilkan sorot pandang hampa dengan pemikiran yang kosong.
Lagi-lagi, pertanyaan yang sama muncul.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Hal bodoh seperti apa yang memicu sikap pemberontak didalam cangkang kosong tersebut?!
Ini menyebalkan, Yolan menggeram. Dia tidak suka kembali mendapatkan penolakan, lelaki itu merotasi matanya jenuh. Mengikuti arah pandang milik Maki yang senantiasa tertuju kearea luar jendala kamar.
"Hanna, apapun yang kau pikirkan kau tidak akan mungkin bisa keluar dari sini..." Penjara mewah yang Yolan sengaja ciptakan khusus untuk Maki seorang.
Maki tersentak, Yolan terkekeh melihatnya. Respon jenis apa itu? Seakan-akan dia paham apa yang Yolan katakan.
Sudut bibir Yolan terangkat, lebih mirip menyeringai. Lelaki itu lantas mengangkat kedua tangan miliknya lalu dengan gerakan cepat—sekali entakan; dia memaksa Maki berbalik tepat kehadapan dirinya.
Bola mata Maki membulat, dia mengalami keterkejutan yang luar biasa. Wanita tersebut berusaha menjaga jarak diantara tubuhnya dengan sosok Yolan yang begitu dekat namun naas cengkeraman pada kedua lengan atas milik Maki yang begitu kuat membuat wanita bermanik kecoklatan tersebut tidak dapat berkutik.
Mati kutu.
Yolan memberikan tatapan tajam, dari melotot berubah menjadi menyipit. Baru saja lelaki itu terpikirkan akan sesuatu, ini soal 'pemicu'—andai kata benar tidak heran kalau wanita tersebut melakukan pemberontakan. Sama seperti sebelumnya.
Yolan ingin memastikan, kalau dia masih satu langkah didepan William—lantas lelaki tersebut harus menjaganya. Jangan sampai Maki memberikannya lagi semacam kejutan kepada Yolan, jujur itu tak lucu; ia tidak menyukainya.
Benar-benar tidak suka.
"Argh!"
Kembali lagi kefokus utama, Yolan sedikit kaget menatap raut muka yang Maki tampilkan. Matanya bergetar, menunjukan sedikit ketakutan. Apa yang tengah kau lakukan?! Rutuk Yolan dalam hati seraya melepaskan cengkeraman tangan lalu menghamburkan tubuh Maki kedalam pelukan tangan besar miliknya.
Pluk~
Lelaki ini membenamkan wajah kedalam ceruk leher wanita tersebut. Maki menilik dari balik ekor matanya dengan tatapan yang horor. Bertanya-tanya apa yang sedang Yolan lakukan? Setelah semua tindakan kasar lelaki itu malah tiba-tiba memeluknya. Benar-benar impulsif.
Maki mengangkat tangan, ingin melepaskan pelukan janggal tapi tertahan oleh tekanan yang Yolan berikan.
Lelaki tersebut semakin kencang memeluk tubuh Maki setiap detiknya. Hal ini membuat wanita tersebut merinding, lagi-lagi perasaan mual itu muncul lagi.
Dia ingin keluar, lepas dari cengkeraman erat bak ular piton yang Yolan lakukan.
Menjauh.
Menjauh!
MENJAUH!!
Tapi tak bisa, tubuh Maki mulai bergetar. Jalan napasnya terdengar lebih cepat. Dia kesakitan, perasaan jijik serta lainnya bercampur aduk. Yolan, lelaki itu tidak menyadari—dia malah berfokus dengan gumaman miliknya; sesuatu yang jelas tidak berguna; seperti?
"Jangan menolakku, Hanna..."
"Aku mencintai mu,"
Dan bla bla bla lainnya yang membuat Maki pusing. Sungguh tidak berguna!
"Hosh! Hosh!" ketika suara napas wanita ini semakin terdengar kasar, Yolan akhirnya menyadari. Dia melonggarkan pelukan, tapi bukannya menolong—bajingan gila itu malah melihat dan tertawa.
Menikmati wajah tersiksa yang Maki tampilkan, sebelum dia memilih mendekatkan wajah lalu mencium sosok tersebut.
CUP!
Maki ingin muntah, saat mulutnya beradu dengan milik Yolan. Saling bertukar saliva serta semacamnya.
Menjijikan.
Sial!
Maki tak tahan, jangan salahkan dia kalau ada sesuatu yang lain keluar dari mulutnya.
"Hoek—!"
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...