FreeDom

FreeDom
Kupu-kupu



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...K u p u - k u p u...


...__________________...


...__________...


...____...


..._...


"William?"


Kenapa? Kenapa lelaki bajingan itu bisa berada disini? Tidak! Kenapa dia tahu aku ada disini?! Apa yang ingin dia lakukan! Apa?!


Langa?


Dia ingin mengambil Langa dari ku?


DEG!


DEG!


DEG!


Dia ingin merebut anak ku.


Tidak, TIDAK AKAN KU BIARKAN.


William mengerutkan keningnya bingung, respon Maki sedikit berlebihan dari apa yang lelaki itu duga. Dia terlalu banyak mengambil napas bahkan menggunakan mulutnya untuk meraup oksigen disekitar area supaya bisa masuk kedalam paru-paru secara paksa. Itu terlalu berbahaya, William mendekat berjongkok tepat dihadapan muka wanita itu; Maki. Diperhatikannya lekat-lekat manik mata dari wanita tersebut yang perlahan menjadi tidak tenang, apa yang terjadi? Respon tubuh Maki seperti?


Orang yang tengah—ketakutan.


Hiperventilasi, William membungkam mulut Maki dengan telapak tangan besarnya. Lelaki itu membawa tubuh Maki dalam pelukan sambil membisikkan kata-kata.


"Tenanglah sayang, tenang!" Maki menggeleng, dia ketakutan dengan tindakan impulsif William yang tiba-tiba membungkam mulutnya dengan tangan, bahkan membawa tubuh Maki kedalam sebuah pelukan janggal. Ini menakutkan, TAKUT, Maki merasa ngeri. Apa yang William lakukan padanya?!


Lepas!


LEPASKAN!


"Hmmp! Himmp!" Hiks... hiks... Seperti tikus yang tercebur kedalam parit, bukannya tambah tenang dimata William Maki justru semakin memberontak. Lelaki itu bahkan merasakan air liur membasahi telapak tangan miliknya, Maki menangis sambil menahan batuk yang luar biasa. Wanita itu sebentar lagi akan merasakan perasaan sesak, tenggorokannya pasti tersedak. Maki harus tenang, tidak ada apapun yang harus sosok itu takutkan. Kemana wanita berani dengan segudang ide gila miliknya? Kenapa wanita ini, tidak seperti sosok yang William kenal.


Dia terasa asing.


"Tenanglah." tanpa sadar William memberi sedikit tekanan pada rahang wanita itu, membuat Maki menjerit sakit. Terdengar cukup nyaring. Berhasil membangunkan anak mereka.


"Argh!"


"MAMAH!" jerit Langa panik, turun dari ranjang lalu bergegas menuju tubuh Maki yang berada di bibir pintu bersama sang ayah. Apa yang kedua orang itu lakukan? Kenapa? KENAPA PAPAH MEMBUAT MAMAH MENANGIS!


Pluk!


Langa memeluk Maki sambil memberikan tatapan tajam kearah sang ayah. William tidak bisa apa-apa atau dia akan dibenci oleh anak satu-satunya, tapi lelaki ini tidak bisa melepaskan dekaman dimulut Maki atau wanita itu akan mengalami kejang setelahnya. Meski diluar dugaan setelah Langa memeluk tubuh wanita itu, sosok Maki perlahan-lahan berubah menjadi tenang.


Hosh~


William perlahan melepaskan dekapan tangan yang berada tepat dimulut Maki, terlihat beberapa tetes air liur berjatuhan dari telapak tangan William. Jika saja situasinya berbeda, lelaki itu pasti menjilat rakus saliva tersebut.


Terdengar suara tangisan tertahan dari arah sang istri, napasnya berangsur normal. Syukurlah.


"Hiks... hiks..."


"Mamah kenapa?" tanya Langa kemudian, dia tidak ingin menuduh macam-macam kepada sang ayah. Percaya sekali kau nak pada lelaki bernama William tersebut. Tentu saja, mereka ayah dan anak |


Maki menggeleng, dia mencoba memberitahukan kepada sang anak kalau dirinya baik-baik saja dengan cara menarik sedikit sudut bibir keatas agar bisa memperlihatkan lengkungan manis. Meski air mata serta saliva masih membanjiri wajah cantik dari wanita tersebut.


Langa curiga, Maki tidak ingin bicara. Kebiasaan jelek sang mamah yang selalu menutupi berbagai masalah, satu-satunya cara supaya Langa bisa tahu kondisi sebenarnya dari sang ibunda adalah—


Melihat ketegangan yang terjadi antara kedua orang tuanya, membuat Langa memperkeras suara tangisannya.


"HIKSSS! HIKS... HUWAAA!"


"Hei boy, jangan menangis... papah tidak bermaksud menyakiti mamah!" ucap William spontan, berhasil membuat Maki tersentak. Dia mematung ditempat, melihat tidak ada lagi perlawanan dari wanita itu membuat William lebih leluasa mengambil tubuh sang anak lalu menggendongnya manja.


"HUAAA! HIKS! HIKS! LALU KENAPA MAMAH MENANGIS!" jerit Langa memekakkan telinga, gerakkan William yang mencoba menenangkan bayi besar tampak terlihat sedikit konyol. Maki membiarkan gambaran itu masuk kedalam penglihatan miliknya. Tanda tanya besar bermunculan didalam kepala wanita itu, sebenarnya apa yang terjadi?


Kenapa dia terlihat seperti orang bodoh?


Bersimpuh diatas lantai dengan tampilan wajah yang menyedihkan. Salahkan sang ayah, berkat lelaki itu Maki jadi mendapatkan trauma berat terhadap orang-orang yang pernah berada didalam masa lalunya. Termasuk William, lelaki itu adalah kunci awal dari seluruh kemalangan yang menimpa wanita bermanik kecoklatan tersebut.


Dia bersalah.


Seandainya Maki tidak bertemu dengan William, kehidupan indahnya dimasa lalu pasti akan terus berlanjut. Maki bisa bersenang-senang, tanpa berpikir harus lari kemana bahkan dia tidak perlu sampai merendahkan keningnya dihadapan lelaki gila bernama ayah tersebut. Tapi—


Jika Maki tidak bertemu dengan William, Langa tidak akan pernah lahir kedunia ini.


Harta karun milik Maki. Satu-satunya harta karun.


Dia tidak akan bisa bertemu dengan anaknya.


Bisakah Maki menganggap masa lalu antara dirinya dengan William menjadi sebuah lelucon saja? Terlalu tragis jika dianggap demikian, lantas Maki harus apa?


Lelaki itu penjahat, meski hanya sebatas persepsi Maki belaka. Dia ingat sekali salah satu percakapan terakhir yang pernah mereka lakukan, William berkata—apa kau pernah melihat ku membunuh seseorang? Jawabannya tidak, Maki hanya menganggap William sebagai lelaki ringan tangan yang berani menganiaya seorang wanita. Lalu, apakah dia juga pantas jika disebut sebagai orang yang baik?


Tidak, itu pemikiran yang salah.


Suatu tindakan hanya karena dianggap biasa bukan berarti dapat sebut wajar. Argh! Kepala Maki pusing.


Dia muak, benar-benar muak.


Bisakah wanita itu berhenti berpikir? Dia lelah. Sangat lelah hingga semuanya terasa—PERSETAN.


Langa semakin nyaring menangis, William gagal membujuk anak itu agar berhenti menitikan air mata. Pemandangan tersebut; sungguh lucu ketika dilihat. Maki menyapu pelan air mata serta salivanya, sudut simpul muncul diarea sana. Terdengar kemudian suara serak; wanita itu memanggil.


"Langa..." nama sang anak satu-satunya. William dan bocah nakal yang berada didalam gendongan menoleh, tampang berantakan sang anak serta wajah frustrasi dari ayah anaknya menyambut manik mata kecoklatan milik wanita itu. Maki memejamkan sebentar mata sambil tersenyum simpul kearah mereka, dia berkata.


"Mamah... baik-baik saja nak~"


Deg!


William maupun Langa tersentak, mereka tersentuh dengan senyuman tipis yang wanita itu berikan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wanita itu tiba-tiba saja berubah menjadi sangat tenang?


"Mamah hanya terkejut," ucapnya lagi, gantung.


William menelan saliva kasar, dia agak merasa gugup.


"—atas kepulangan papah."


DEG!


DEG!


Sudut bibir William berkedut, matanya melotot.


DEGH!


Sial, debar jantung lelaki itu sepertinya menggila. Ada ribuan kupu-kupu yang entah datang dari mana sedang menggelitiki area perut miliknya tanpa alasan, apa itu? William tak tahu.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...