
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...B i n a t a n g...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
Prak!
Yolan mendongak, baru saja gendang telinganya mendengar suara seperti pecahan kaca. Lagi-lagi lelaki tersebut menghela napas panjang lalu beranjak dari tepatnya duduk menuju arah sumber suara.
Tap!
Tap!
Tap!
Manik Yolan menangkap dari kejauhan, apa yang sebenarnya terjadi. Tak jauh dari ruang kerja atau lebih tepatnya kamar lelaki itu; terlihat semacam keributan disusul dengan suara teriakan.
"RRGH!"
Maki menggeram, maid yang merawat wanita tersebut dibuat ketakutan. Dia bahkan menunduk malu menahan tangis sambil cepat-cepat membereskan pecahan piring yang berserakan diatas lantai. Memastikan agar nyonya besarnya tidak terluka, kalau saja wanita ini bertindak impulsif lalu mencoba menginjak pecahan itu.
Yolan bersandar didaun pintu, menantap sejenak kekacauan yang dibuat oleh Maki. Kamar mereka persis seperti kapal pecah, banyak barang yang rusak—semuanya berantakan.
"Hah~"
Terdengar lagi hela napas panjang. Yolan menyeka helai rambut dengan jemari tangannya, lelaki tersebut memberi tatapan dingin kearah pemandangan yang berada tepat didepan mata sana.
Beberapa waktu terakhir, wanita yang sekarang merangkap sebagai istrinya selalu membuat keributan dimana-mana. Entah itu mengganggu maid ketika mereka bekerja—terlebih lagi jika berkaitan dengan mengurus semua kebutuhan milik Maki sendiri atau merusak barang-barang sekitar dengan membabi buta. Seperti anjing liar yang tidak patuh lagi dengan tuannya.
Maki kian hari kian sulit untuk dikontrol, bukan karena dia mendapatkan ingatan atau semacamnya. Tapi karena wanita itu hanya ingin melakukan hal tersebut, tidak lebih—terlihat dari mata kosong yang selalu ia tampilkan. Semakin dilihat sekilas semakin menyebalkan, untung Yolan mencintai wanita bermanik kecoklatan ini dengan segenap hatinya. Kalau tidak, mungkin Yolan akan melakukan satu hal buruk supaya dia bisa membungkam wanita itu.
"Hanna?" panggil Yolan kemudian, yang sayangnya tidak mendapat respon langsung dari Maki. Wanita tersebut tampak asik, sibuk sendiri dengan kegiatannya—menggerami sosok sang pelayan seolah tengah memarahinya.
Yolan merotasi mata jenuh, banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan setelah ini. Maki hanya menambah beban pikiran lelaki itu, Yolan lalu menegakkan tubuhnya sambil mempersiapkan sesuatu.
Celah bibir lelaki tersebut terbuka—terdengar untaian kata setelahnya.
"HANNA?!" teriak Yolan tegas. Maid bersama pemilik nama Hanna tersebut tersentak; kaget, mereka sama-sama menoleh kearah sang pemilik rumah. Yolan, yang tengah menatap berang kearah mereka.
Glek!
Saliva ditelan kasar.
Cepat-cepat maid tersebut bangkit dari lantai lalu berlari tunggang langgang sambil membawa pecahan kaca didalam celemek lebarnya; pergi dari sana meninggalkan Yolan bersama istrinya, Maki.
"Huh!" lagi-lagi terdengar hela-an napas, kali ini mengandung gurat marah. Yolan berjalan masuk menuju dalam kamar, menutup pelan pintu dibelakangnya seraya memberikan tatapan dingin tepat kearah sosok Maki. Lihat wanita itu sekarang! Dia tiba-tiba menunduk takut, yang benar saja?!
"Kau sedang bercanda dengan ku, Hanna?" gumam Yolan tanpa sadar, tersulut emosi karena merasa seperti tengah dipermainkan oleh sikap yang sedang wanita ini tunjukan padanya. Sambil melangkah sedekat mungkin, lelaki tersebut kemudian menarik kerah baju milik Maki.
"Ergh?!" (Tidak!)
Wanita yang mendapat perlakuan jenis ini terkejut. Matanya melotot, menantap horor kearah Yolan; berbarengan dengan tangan lelaki tersebut yang terangkat keudara.
Lalu—
Bugh~
Terdengar suara itu.
...***...
Maki mengurung diri dalam kamar mandi, merendam tubuh telanjangnya dengan air disebuah bak mandi. Berapa lama dia sudah berada disana? Jawabannya entahlah.
Ingin tahu kenapa sosok Maki bisa berakhir seperti ini? Sederhananya begini, Maki kira Yolan akan memarahi dia sama seperti biasa karena telah membuat keributan siapa kira—lelaki tersebut malah memeluk lembut tubuh Maki lalu mengempaskannya tepat keatas ranjang yang masih berantakan.
Yolan tersenyum, lebih kearah menyeringai. Tubuh Maki menggigil, mencoba menerka apa saja yang ingin lelaki itu lakukan padanya.
Gila.
Dasar tidak waras.
Maki mencoba meronta, ketika Yolan ingin menindih tubuhnya. Mengurung Maki didalam genggaman tangan milik lelaki itu, tapi sayang—perlawanan yang tak seberapa tersebut diabaikan oleh sosok Yolan yang sedikit terlihat? Janggal.
Kenapa raut muka lelaki ini seperti tengah terangsang? Memerah sana-sini. Firasat Maki buruk, dia mencoba kembali memberontak—bak cacing kepanasan sampai Yolan muak lalu menahan tubuhnya kuat.
Terlihat dia malah menjilat bibir bawahnya nakal sebelum meletakan tangan kearah baju Maki lalu merobeknya.
SRAKKK!
Kalian bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Binatang itu menggagahi tubuh Maki sampai-sampai membuat sosok wanita bermanik kecoklatan dengan tatapan kosong tersebut menangis ketakutan.
Bayangkan saja kalian berada diposisi wanita yang sama sekali tidak dapat mengingat jati diri serta eksistensinya dimasa lalu, kemudian malah mendapat perlakuan seperti itu.
Maki trauma.
Dia beberapa kali merasakan pingsan, ketika Yolan kelelahan barulah Maki bisa bernapas lega karena lelaki tersebut memilih untuk tertidur. Maki lalu kabur dari ranjang dan mengurung dirinya cukup lama didalam kamar mandi. Meringkuk lucu di bak mandi penuh dengan air sambil berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
Kenapa?
Kenapa dia memasukan itu pada ku?
Rasanya sakit!
SAKIT SEKALI!
Bak wanita polos, Maki menanyakan hal tersebut kepada dewi batinnya; sambil gemetaran. Tak ingin merasakan hal serupa, kembali terulang—tidak lagi.
"Aek... kutt..." (Takut)
Jijik.
Itu menjijikan.
Deg!
Maki mengangkat tangannya cepat, menuju kearah leher. Dia mencoba mencekik dirinya sendiri—perasaan sesak perlahan muncul.
Ditambah tubuh Maki merosot jatuh, tenggelam didalam air. Buih-buih oksigen perlahan keluar dari setiap celah bibir juga hidung. Maki menantap kosong langit-langit ruangan dengan pencahayaan terang sebelum perlahan terpejam.
Dibarengi oleh suara dobrakan pintu yang terdengar begitu keras.
BRAAAK!
Maki menilik, meski tahu dia tidak dapat melihat siapapun didalam air; wanita itu kemudian bergumam.
"W... ill?" Sebelum sepenuhnya ditelan oleh kegelapan.
...***...
"Nyonya mencoba melakukan bunuh diri,"
Yolan mendesis.
"Kau pikir aku tidak bisa melihatnya?" sarkas lelaki tersebut pada sang dokter yang sedang melakukan perawatan untuk Maki. Dokter itu menunduk malu, ups! Dia salah bicara. Mencoba menghilangkan kecanggungan yang ada, sang dokter lalu berdehem.
Lebih baik memulai sesuatu dengan nasihat.
"Anda seharusnya tidak bertindak gegabah, maksud saya—nyonya hampir kehilangan ingatan secara penuh. Dia tidak mengetahui yang namanya hubungan badan atau sejenisnya, ibarat kata kembali kemasa anak-anak. Nyonya pasti mengalami shock berat, apa lagi mendapat perlakuan kasar diatas ranjang. Saya bahkan tidak bisa membayangkan..."
Dasar binatang.
Opini sepihak sang dokter yang berhasil membuat Yolan menggeram. HAHA!
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...