FreeDom

FreeDom
Langa



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...L a n g a...


...___________________...


...__________...


...____...


..._...


William diam, memperhatikan objek didepan matanya. Tidak ada yang berani mengusik lelaki tersebut di kantornya, termasuk Lohan. Jelas sekali Lohan pasti jera setelah kejadian tempo lalu—lelaki itu terlihat bersantai ria diatas sofa sambil memainkan telepon genggam miliknya, tidak ada jop hari ini. Karena malas sendirian Lohan memilih mendatangi pria gila bernama William yang duduk tepat diseberang sofa tersebut.


"Anak ku benar-benar pintar." ucap William tiba-tiba, Lohan melirik. Objek yang sedang lelaki itu amati adalah rekaman CCTV, tampak familiar. Lohan mengerutkan keningnya bingung sambil bertanya—


"Kau memasang kamera pengawas di Apartement Hanna?"


William mendesis, dia mendelik tak suka kearah lelaki didepannya; Lohan. Biar si emerald ini pertegas pada saudara tirinya.


"Nama istri ku Maki, bukan Hanna! Dan jangan sembarangan kau memanggil namanya. Paham!" tutur William sarkas, Lohan merotasi kedua bola matanya. Terserah! Batin lelaki itu.


"Ini adalah ide anak ku." ucap William lagi. Dia tampak berminat menceritakan sesuatu kepada saudara tirinya, padahal Lohan tidak peduli. Dia hanya terpesona sesaat dengan ke-elokan wajah Hanna—ditambah sikap misteriusnya.


Tapi kalau dipikir-pikir Lohan sedikit menarik, mungkin. Sedari tadi lelaki itu berkicau soal Langa yang begitu pintar serta ide-ide gila lainnya yang ia katakan berasal dari mulut putra kecilnya. Lohan tahu kalau Langa itu kelewatan pintar untuk anak seusia dia, tapi! Apa itu wajar? Maksud Lohan langkah gila seperti penjahat yang William sebutkan diatas tadi apa iya itu semua berasal dari bocah culik tersebut.


Sudut bibir William terangkat; ketika memperhatikan sosok dari saudara tirinya yang tampak tertarik. Lelaki bermanik emerald itu meletakan laptop yang berada di pangkuan menuju nakas lalu mendekatkan sedikit tubuhnya agar Lohan dapat mendengar.


"Kemarin aku bertemu dengan Langa..."


Lohan mengangguk, cepat atau lambat kedua orang tersebut pasti akan bertemu bukan? Lalu dimana letak istimewanya?


"Tapi dia malah menodongkan pisau ke-leher ku." William merinding, sensasi dari kejadian kemarin membuat adrenalin lelaki itu terpacu. Manik mata Lohan terbelalak, benarkah? Ucap wajahnya menggambarkan isi hati lelaki itu. William mengangguk, dia membenarkan asumsi apa saja yang si bungsu itu buat dalam otak kecilnya.


Lohan menggeleng.


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mungkin itu gambaran yang sesuai, Langa mewarisi sifat gila dari ayahnya. Sungguh sangat disayangkan. Lalu?


"Aku mengakui kalau diriku adalah ayahnya..." ucap William menjawab pertanyaan yang belum sempat lelaki itu tanyakan. Biarkan saja si emerald ini bercerita.


"Dia menyebut ku pembohong."


William menyeringai, ada sesuatu setelah kejadian tersebut. Kiria‐kira apa yang terjadi? Antara Langa dan ayahnya; William.


.


.


.


.


.


"Mamah bilang ayah Labga sudah lama pergi, meninggalkan kami dengan keluarga barunya." ucap Langa datar. Dia menyimpan kembali pisau yang berada pada genggaman tangannya. Bocah itu meneliti baik-baik wajah William, jelas ada kemiripan diantara keduanya.


William terkekeh, ingin sekali dia mencubit pipi dari sang putra tapi salah-salah bertindak pisau ditangan putranya bisa saja melayang kemata lelaki itu. Mencongkelnya kuat hingga keluar. Tidak terima kasih.


"Ibu mu hanya membenci ayah. Makanya dia berbohong. Apa yang kau dengar tidaklah benar anak ku." sahut William. Ekspresi wajah anak itu melunak, sepertinya dia percaya. Toh! William tidak benar-benar berbohong.


"Jadi? Ayah tidak membuang Langa dengan mamah?" tanya lagi dengan nada bergetar. Ada apa dengan bocah nakal ini? Dia tampak berpura-pura sedih, tapi persetanlah. Mari ikuti permainan mu nak.


"Tidak sama sekali, ibu mu yang melarikan diri dari ayah." Ini fakta, mengingat-ingat kembali segala macam peristiwa singkat antara William dengan Maki—pasti hanya di-isi-i oleh adegan kabur-kaburan. Ish! Menyebalkan.


"Sudah ku duga." gumam Langa yang tak sengaja tertangkap pendengaran William. Apa maksudnya?


"Lalu apa alasan ayah kemari?"


"Apa ayah ingin menjemput kami?!" Lagi-lagi dia bertanya. Langa terlalu antusias sendiri.


"Tapi ayah terlalu terlambat, mamah sudah banyak berubah." gumamnya. Sial, lama-lama berbicara dengan bocah tengil ini membuat William merasa dihadapkan dengan sosok yang terbiasa memanipulasi seseorang. Yakin dia baru saja berusia lima tahun? Tidak heran sih kalau ayahnya William. Ha-ha |


Langa terlihat bergumam tidak jelas, sifat paniknya mengingatkan William dengan masa kecilnya. Emerald ini juga begitu ketika muda.


"KENAPA BARU SEKARANG AYAH MAU MENJEMPUT KAMI!"


Sial, dia mengejutkan William. Untung saja anak meski tidak etis juga jika tiba-tiba berteriak didepan seseorang, William meletakkan tangan diatas kepala bocah nakal tersebut.


"Ayah baru menemukan ibu mu," singkat, padat, dan jelas. Sudah cukup menjawab semua pertanyaan bernada gelisah yang Langa lontarkan. William bukannya terlambat, dia hanya baru saja menemukan titik terangnya. Terdengar seperti berdalih, hm? Persetanlah!


"Tapi mamah terlanjur berubah!" jerit Langa lagi. Okay, ini sedikit menarik perhatian William. Apa yang membuat sosok Maki berubah? Sekilas terlihat wanita itu masih sama seperti sosoknya 6 tahun yang lalu.


"Papah tidak tahu."


DEGH!


William merinding, antara senang dan ngeri ketika mendengar anaknya mengganti nama panggilan.


"Kalau papah ingin menjemput mamah, berhati-hatilah. Mamah benar-benar berani mengorok leher seseorang jika dia merasa kesal."


Mendengar penuturan Langa, membuat lelaki itu mundur beberapa langkah dari rencana semula. Bukan berarti dia percaya begitu saja ucapan dari sang anak, tapi—! Bukannya anak kecil tidak pernah berbohong.


Hanya orang dewasa yang menganggap candaan mereka BERCANDA.


Baiklah jika Langa bilang begitu, William memutuskan mengubah rencana menjadi mengamati lebih dahulu sebelum bertindak. Siapa kira anaknya malah menyumbangkan sebuah ide menarik.


"Kenapa tidak papah pasang saja kamera pengawas?"


Well—


William melakukannya setalah itu.


"Papah akan sering kemari menemani Langa yang sendirian, tapi—jangan beritahukan soal ini pada mamah mu. Okay?"


Langa mengangguk. Manik mata kecilnya berbinar, tampak tak beres bocah cilik tersebut.


"Biarkan ini jadi rahasia, setelah itu mari kejutkan mamah soal kehadiran papah. Kita akan jadi keluarga lengkap—bahagia selamanya." ucap William. Langa tersenyum, menampilkan deretan gigi susunya.


"Tentu saja papah!"


Siapa yang mempengaruhi siapa sebenarnya? Mereka tampak mengerikan dengan perangai yang sama. Sungguh! Coba perhatikan saja baik-baik, manik emerald tersebut.


...***...


Maki melepaskan pakaian ditubuhnya, Langa baru saja tidur di kamar sebelah. Wanita itu perlu mandi karena merasa lengket ditubuhnya tapi gerakan tangan wanita terebut yang ingin melepaskan pakaian dalam tiba-tiba tertahan.


Perasaan saja atau bagaimana? Maki merasa—seperti tengah diawasi.


Manik mata kecoklatan itu menjelajah sekitar. Saat ini dia berada diarea luar kamar mandi, Apa Maki terlalu paranoid?


Beberapa waktu terakhir ini—dia sedikit mengalami mimpi buruk.


Yang berasal dari masa lalunya.


Benar-benar menyedihkan. Maki kesal tidak dapat melupakan itu semua.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...