FreeDom

FreeDom
Part 6



Mak Lampir itu tak hentinya mengejeku hingga membuatku kesal. Sementara, Kak Valentino sama Kak Rizqi hanya saling tatap dan menggelengkan kepala.


"Oke, sekarang saatnya permainan dimulai."


Aku berkata dalam hati dan akan aku enyahkan Mak Lampir itu sebentar lagi. lihat saja tunggu jam tayangnya. Bang Ray mendongakan dahuku dan menempelkan jari telunjuknya, isyarat aku tak boleh melontarkan kata-kata apa pun.


Tak lama Bi Ijah pun datang, dari arah pintu depan. Pantasa saja dari tadi netraku tak menemukannya. Bang Raylah yang menyuruh Bi Ijah membeli snack ke swalayan yang tak jauh dari rumah.


Aku pun, langsung memeluk Bi Ijah dan mengikutinya ke arah dapur. Sedangkan Bang Ray bersama teman-temannya mulai mengerjakan tugas kelompoknya.


"Non, ada apa Non kok tiba-tiba meluk Bibi tadi?"


Seraya Bi Ijah sibuk sambil membuka beberapa snack untuk dimasukan kedalam toples berwarna pink. Aku sambil berpikir, apa yang harus kulakukan untuk membuat wanita mirip Mak Lampir itu enyah dari sini.


"Enggak kenapa-kenapa Bi, cuma kangen Mama saja. Oya, Bi boleh aku bantuin masukin snacknya ke toples?"


Dengan cekatan aku rebut gunting yang tengah dipegang Bi Ijah.


"Iya boleh Non kalau enggak capek, tapi, hati-hati non snack yang itu jangan sampai hancur ya, itu snack pesenannya pacar abang kamu."


Dengan perasaan senang hati ini bisa menemykan ide luar biasa. Sepertinya aku harus melakukannya. kini Bi Ijah yang tengah sibuk membuat minuman untuk mereka. Aku sambil mencuri-curibpandang ke Bi Ijah supaya tidak tahu apa yang akan aku lakukan.


Netraku pun mengarah kesana-kemari, entah apa yang harus aku temukan.


(Sreeet)..


"Ini dia" aku ambil dari lemari. Sebuah serbuk yang bertuliskan lada, sepertinya ini adalah serbuk ajaib yang aku temukan. Mulai aku buka dan ku campurkan kedalam toples yang berisi kripik singkong balado. Aku pikir ini akan menambah nikmat cita rasa kripik milik Mak Lampir.


"Sudah selesai Non snacknya?"


Sapa Bi Ijah sambil mengaduk-aduk minuman di gelasnya. Aku tampak gugup dan untung saja semua sudah berjalan lancar.


"Iya Bi.., ini sudah kok. Biar aku saja yang mengantarkan kedepan ya Bi?"


"Enggak usah Non, kan Non masih sakit tuh nanti malah jatuh toplesnya."


"Enggak kok Bi, aku bisa kok pelan-pelan deh."


paksaku.


Aku pun mulai melangkahkan kaki menuju ruang tamu dan membawa toples isi snack dengan langkah masih terseok-seok.


Tiba-tiba lututku masih terasa nyilu, aku pun terpleset pas di depan Mak Lampir duduk. Dia langsung melotot ke arahku dan menangkap toples yang berisi kripik balado kesukaannya.


"Kamu ini bagaimana sih, sudah tahu enggak bisa ngapa-ngapain pakai bawa toples segala kesini, untung toplesnya enggak jatuh. Coba kalau jatuh, siapa yang menggantinya?"


Lagi-lagi aku hanya menunduk tak berani menatap matanya yang tajam, bak burung elang yang mau menyantap mangsanya.


"Iya Kak maaf."


Bang Ray beserta kedua temannya yang lain hanya menggernyitkan dahinya dan saling pandang. Tak lama kemudian Bi Ijah datang membawa baki yang berisi minuman.


"Aduh Non. Kenapa lagi Non, tadi kan sudah Bibi bilang jangan, biar Bibi aja, ya sudah Non sana istirahat dulu."


"Iya Bi."


Aku pun meninggalkan ruang tamu dan duduk di anak tangga sambil ku pandangi jam tanganku. Sesekali netraku melirik ke arah Mak Lampir. sepertinya ia mulai mengunyah kripik yang toples ia pegang. Dengan menopangkan kaki bak selebriti kesiangan.


"Iyak.. Terus..Terus..ucapku lirih"


Tanpa sadar Bi Ijah mendengar ucapanku.


"Apanya yang terus Non?"


"Ini Bi, jam tangannya berputar-putar terus."


seketika aku mengalihkan pandanganku. Bi Ijah hanya bergidik dan tersenyum. Lalu pergi kembali ke arah dapur.


Sepertinya ia mulai menghabiskan kripiknya hingga masih tampak tinggal setengahnya saja. Sesekali wanita mirip Mak Lampir itu menengguk minumannya untuk menghilangkan rasa pedasnya. Mungkin ia pikir memang kripik rasa baladonya yang terasa pedas.


Tanpa ia sadari kalau, rasa pedas itu telah tercampuri oleh bubuk cinta durjana. Ia masih asyik mengunyah terus. Tanpa memikirkan kabar perutnya.


Sedangkan, teman-teman Bang Ray hanya sebentar-bentar saja menyeruput minumannya. Sepertinya mereka bertiga sibuk mengerjakan tugasnya.


Beberapa menit kemudian, wanita mirip Mak Lampir itu, mengeluarkan gas alam. Sehingga, sontak membuat teman-teman Bang Ray menertawakannya. Ia mulai salah tingkah dan menggerak-gerakan posisi duduknya.


Namun, justru suara gas alam itu semakin besar. (Duuuut).


Aku dan Bi Ijah pun turut tertawa. Sementara ia sambil memegangi perutnya yang tengah melilit. Dengan wajah merah merona karena teman-teman Bang Ray menertawakannya.


"Iyes..iyes.., Enyah kau dari sini Mak Lampir!"


Aku mengucap dalam hati. Mudah-mudahan saja tak ada satu orang pun yang mencurigaiku.


Dengan rasa malu, ia hendak berdiri meninggalkan tempat duduknya dan berpamitan pulang kerumahnya.