
Maki mendongak, mentari pagi baru saja bersinar menutupi jejak hujan dimalam hari dengan genangan air disekitarnya.
"Hosh~" celah bibir wanita itu terbuka, uap panas muncul dari sana.
"Sekarang... apa yang harus ku lakukan?"
..._____________________...
...R a k i t...
..._____________________...
...__________...
..._____...
..._...
William mendesis, lagi-lagi mamah menghalangi langkahnya. Dia selalu berkata; hanya karena wanita kau kehilangan akal sehat mu? Yang benar saja?!
Berkat tamparan keras itu William jadi sadar, kalau sejatinya dia tidak memiliki apapun ditangannya. Kekayaan, kekuatan serta kekuasaan—semua itu mutlak milik sang ayah; yang tak lain adalah sosok mamah sendiri.
Dia menggeram, menahan diri dari amarah yang bergejolak. Merasa malu. Apa yang dikatakan mamah memang benar tapi seperti kemasukan setan paling tidak William ingin mengetahui lokasi keberadaan dari wanita pujaan hatinya. Maki. Tiap mengingat kembali jalanan aspal bersimbah darah membuat lelaki bermanik emerald tersebut ketakutan.
Dia tidak bisa membayangkan; lagi sosok tak bernyawa milik Maki. Tubuh pucat atau genangan darah, William muak—ini sudah ketiga kalinya dia merasa dipermainkan oleh takdir hingga nyaris membuatnya menjadi gila. Delusi cinta yang awalnya hanya ketertarikan, berhasil menjebak hati lelaki itu dalam lubang penuh kengerian yang dinamakan obsesi.
"Jika itu kenyataan, mari ubah sesuai keinginan." monolognya sebelum tragedi itu dimulai. Hanya William yang tahu, makna sebenarnya dari untaian kata yang baru saja dia ucapkan.
...***...
"Jadi ini adalah keputusan yang kau pilih nak?" mamah terkekeh. Bergeming diatas singgasana.
Banyak mayat berserakan di-kantornya, keadaan sekitar banjir dengan cairan merah. Big three beserta saudara tiri lain berdiri tepat dibelakang punggung mamah, dengan posisi siaga berlakon layaknya penonton—termasuk Lohan. Dia menyaksikan dari kejauhan satu-satunya saudara tiri terdekatnya; William yang melangkah masuk sambil menggendong sang anak, tak lain adalah Langa.
"Beri salam pada mereka boy~" William berucap, tangan lelaki itu terangkat—menunjuk orang-orang yang berada tak jauh dari sana.
"Itu kakek dan paman-pamanmu yang lain..."
Tubuh mereka ditutupi oleh banyak darah. Langa menoleh, manik matanya berkilat bocah yang seharusnya bermain diusianya saat ini malah ikut serta dalam rencana gila dari sang ayah. Menumpas nyaris seluruh pasukan elit yang bekerja untuk mamah.
"Hallo kakek~" Langa menyapa. Bocah tersebut tersenyum. Pandangannya lalu beralih kearah big three beserta saudara tiri lainnya, dari pihak ayah.
"Hallo paman, senang bertemu kalian semua—" ucap Langa gantung. Wajah ramah berangsur surut, meninggalkan ekspresi dingin dengan manik mata yang begitu tajam.
"Apa dengan cara membunuh kalian semua, mamah Langa akan kembali?" tanya dia polos, berhasil mengejutkan semua orang.
Deg.
...***...
Kenyataan William yang tidak memiliki apapun membuatnya lemah, tidak bisa berkutik seberapa pun congkaknya dia mencoba. William hanya semakin terjebak kedalam perasaan miliknya. Sampai-sampai lelaki itu putus asa dan memulai membuat suatu keputusan.
Konsep dasar dalam penyelesaian masalah cukup sederhana, tinggal lakukan apa yang kau inginkan.
Kekuasaan?
William hanya perlu duduk ditingkatkan paling tinggi diatas piramida, kalian bisa menebak apa saja yang terjadi selanjutnya.
Lelaki bermanik emerald tersebut memantik kekacauan, melakukan segala cara demi bisa melengserkan kekuasaan milik sang mamah. Dan bingo!
Semua itu terwujud kurang dari 1 setengah tahun kemudian. Banyak korban jiwa berjatuhan, kabar tentang keberadaan Maki bahkan menghilang sepenuhnya. Para saudara tiri maupun big three memilih tutup mata, bukan karena mereka tidak berhutang budi pada sosok mamah hanya saja ini adalah perintah langsung yang turun dari mulut beliau.
"Biarkan kalian menyaksikan lahirnya pemimpin baru yang akan mempimpin kalian dimasa depan," itu menjadi kalimat terakhir milik mamah sebelum dia benar-benar meregang nyawa diatas tangan sang anak beserta—ehm! Sang cucu. Sedikit lucu bukan? Mati dihadapan semua orang dengan keadaan yang paling mengenaskan.
William tidak pernah menyesali keputusan yang ia lakukan, seperti membuang sampah pada tempatnya. Kekuasaan yang ia dambakan akhirnya jatuh tepat diatas telapak tangan lelaki itu, hal ini semata-mata dia lakukan demi Maki.
Wanita pujaannya. |
Kekuasaan sebesar ini, seharusnya tidak ada apapun didunia yang dapat menghentikan langkah William termasuk big three atau para saudara tiri lainnya.
Setengah tahun kemudian barulah dengan kekuasaan tersebut William mendapat secuil petunjuk tentang keberadaan sosok Maki. Meski lebih buruk dari perkiraan, kekuasaan itu nyatanya tidak bisa mengimbangi Yolan yang sudah berdiri satu langkah tepat didepannya.
Ini membuat lelaki bermanik emerald itu kesal. Dia melakukan segala cara hingga membuat segudang rencana, akan lebih mudah jika lawannya adalah sesama mafia. Tapi lagi-lagi bisa dikatakan Yolan sendiri sebagai lawan yang seimbang William tidak bisa berkutik dibuatnya. Andai saja—ada satu titik yang dapat dimanfaatkan William yakin dia bisa melakukan penyerbuan, pasti akan jauh lebih mudah.
Karena tak bisa bergerak gegabah, William dibuat menunggu. Lagi-lagi dia harus kembali bersabar. Jika tidak dia hanya akan menggemparkan dunia, lucu jika mendengar kabar satu-satunya anak tunggal dari keluarga tersohor tiba-tiba saja terbunuh. Pergerakan dunia bawah serta ekosistem akan kacau, pemerintah dunia akan mulai membuat gebrakan serta mempersempit ruang gerak para mafia. Selain itu, kelompok-kelompok mafia lain akan menyerang William ini memberi dampak negatif untuknya. Sama seperti seekor rubah yang terjebak didalam semak belukar penuh dengan duri yang begitu tajam.
Risiko-nya terlalu besar.
Pelan-pelan William memutar kembali semua rencana miliknya supaya bisa bertemu dengan Maki serta mendapatkan kembali sosok itu. Walau siapa kira, langkah yang lelaki ini lakukan lagi-lagi sedikit terlambat.
Sebenarnya letak kesalahan William ada dimana? Kenapa dia selalu gagal mendapatkan sosok Maki?
Apakah takdir tidak merestui?
Mengesalkan.
Kalau memang begitu, untuk apa mereka dipertemukan? Bahkan sampai memiliki buah hati.
"Papah? Papah sedang memikirkan apa?" Langa menegur, William terlihat sedari tadi melamun. Ingatan soal 2 tahun kebelakang muncul memenuhi kotak memorinya. Sang anak yang sekarang berusia 9 tahun tengah duduk disamping sosoknya sambil membaca sebuah buku.
William melirik, mereka bersama berada dibangku penumpang. Seseorang yang tidak lain adalah anak buah dari lelaki tersebut tengah membawa kedua orang itu menuju satu tujuan. Yaitu—
Menjemput mamah.
Setelah semua kegilaan serta kekacauan, akhirnya sekarang waktunya kembali bersama.
Membangun sebuah keluarga—yang bahagia bersama.
Selamanya.
"Kira-kira? Apakah mamah akan senang saat melihat mu tubuh dengan membaca semua buku mengerikan itu boy?" William bertanya sambil menunjuk jenis buku aneh yang lagi-lagi anaknya baca.
Tentang organ-organ dalam tubuh manusia, siapa yang menjual benda tersebut pada anak-anak?
Langa mendengus, remeh. Dia menutup benda itu lalu meletakkannya diatas pangkuan.
"Langa juga penasaran, reaksi jenis apa yang akan mamah tunjukan ketika tahu papah mengajarkan cara membunuh pada Langa. Mungkin mamah akan membenci papah,"
William yang mendengar dibuat jengkel. Rasanya baru kemarin bocah tengik itu masih berperilaku manja padanya, tapi kenapa sekarang dia malah banyak bertindak menyebalkan?
Hah~
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Benar-benar ungkapan yang sesuai, benar begitu bukan?
Haha. |
...***...
...T b c...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...