FreeDom

FreeDom
Baiklah



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...B a i k - l a h...


...___________________...


...__________...


..._...


..._...


"Baiklah..."


Maki setuju, lagi pula dia sudah membuat keputusan diawal tadi. Menjadi istri boneka tidak lebih buruk dari apa yang orang-orang bayangkan, tak masalah lagi pula Maki juga perlu perlindungan. Ini demi anaknya; Langa.


Maki hanya ingin menjamin keselamatan anak satu-satunya yang ia miliki, bukan karena apa-apa. Sesekali wanita itu terpikirkan soal sang ayah yang bisa saja masih memburunya. Menginginkan kematian dari wanita tersebut.


William tersenyum, sedikit lebar dari pada biasanya. Langa menoleh, menatap wajah sang ayah bergantian dengan wajah sang ibu. Dia tertawa, sambil bertepuk tangan dengan raut yang girang.


"Apa kita akan tinggal bersama setelah ini?! Mamah! Papah!" seru si nakal itu bahagia. Memecahkan suasana, Maki menoleh berbarengan dengan William yang menunduk. Lelaki itu terkekeh, di tepuknya pelan pucuk kepala dari sang anak sambil berkata.


"Tentu saja boy, untuk langkah pertama mari kita pindah dari sini. Ya 'kan sayang?"


Ucap William berhasil membuat Maki melongo tak percaya, sebentar? Dia perlu proses untuk mencernanya.


Langa mengangguk, dia melayangkan tatapan berbinar kepada sang mamah. Tunggu! Tunggu! Beri waktu untuk Maki agar bisa berpikir. Jangan menambah beban sakit kepala miliknya.


ARGH!


Sudahlah.


Maki mengangguk, persetan kalian semua.


Putusnya pasrah.


...***...


"Kau yakin ingin bertobat?" tanya Lohan, berdiri tepat disamping lelaki itu. William menoleh, sebentar sebelum kembali memandangi tumpukan berkas diatas meja dikantornya. Hela napas panjang terdengar dari arah mulut sang lelaki bermanik emerald tersebut. Dia menjawab.


"Tentu saja, istri ku yang memintanya. Kenapa tidak?" sahutnya guyon, meski dengan tampang serius yang benar-benar terlihat tidak cocok untuk wajahnya.


Lohan terkekeh, sedikit gila. Dia menantap remeh kearah sang kakak; saudara tirinya dari organisasi 12 bintang.


"Kau yakin mamah akan menerima proposal itu begitu saja? Dari yang ku tahu, mamah sangat menyayangi mu~ big three juga, pasti tidak akan tinggal diam jika tahu kalau kau ingin keluar dari organisasi ini."


William setuju. Lelaki tua itu pasti tidak akan mengizinkan dirinya untuk angkat kaki dari organisasi 12 bintang. Ehm! Maksudnya mamah. Lelaki gila yang selalu ingin dipanggil ibu oleh anak-anaknya, dia 'lah mamah.


"Biar itu jadi urusanku..." sahut William tenang, memikirkan berbagai macam cabang rencana jika diperlukan. Ini sama saja dengan sikap melawan sosok mamah, lelaki itu pasti berpikiran kalau William ingin memberontak tapi karena istrinya sudah terlanjur meminta pada lelaki bermanik emerald itu untuk berhenti maka William akan melakukannya.


Demi masa depan serta anak mereka kelak. William tahu, pasti ada sedikit rasa malu jika seandainya Langa menyuarakan soal pekerjaan ayahnya didepan teman-teman bocah itu. Ayah ku seorang mafia, lucu sekali membayangkan ribuan tatapan takut dari teman-temannya kepada Langa. Benar kata Maki, jika kau ingin keluarga yang bahagia maka lakukan dengan sempurna.


"Omong-omong, dari pada kau mengganggu ku terus Lohan... aku punya pekerjaan untuk mu..." ucap William kemudian. Lohan melirik, menyangga tubuhnya diatas meja tepat William berada. Terlihat lelaki bermanik emerald tersebut mengeluarkan secarik kertas kepada Lohan, lebih tepatnya selembar foto. Terdapat gambar Maki bersama wanita lain disana, ada Langa juga disitu.


"Nama dia Diana, aku ingin kau mencari informasi lengkap tentang dirinya. Mulai dari yang umum hingga ke-hal yang sepele seperti kebiasaan tidurnya atau apapun itu."


Kenapa harus? Beo Lohan dalam hatinya, menampilkan raut penasaran sembari menantap dalam foto yang baru saja lelaki itu berikan.


"Kau tertarik dengan dia ka? Kenapa tidak kau berikan saja Hanna pada ku—!"


"ARGH!"


Lohan tersungkur, sial. Ada apa dengan William tiba-tiba? Kenapa dia menendang Lohan dengan kakinya? Begitu kencang tanpa perasaan pula. Lohan terbatuk, argh! Ini sakit, jerit dewi batin miliknya.


"Buang jauh-jauh pikiran soal ingin mengambil istri ku Lohan, aku menyuruh mu menyelidikinya karena wanita bernama Diana itu mencurigakan." ungkapnya. Membenarkan pakaian yang ia kenakan lalu kembali duduk ketempatnya semula. Menatapi rendah sosok Lohan yang masih tersungkur diatas lantai.


"Bajingan, ini sakit?!" dengus Lohan, memegangi perut yang masih terasa sedikit sakit. Dia menampilkan raut jenuh, mari dengarkan lagi lanjutan dari kalimat yang ingin saudaranya sampaikan.


Mencurigakan dari sisi mananya? Diana terlihat seperti wanita pada umumnya.


"Dia laki-laki..." Telinga Lohan gatal, matanya melotot dengan sempurna. Menantap tak percaya kearah William? Tangan putih dan kecil itu milik seorang laki-laki? Tidak mungkin? Lagi pula untuk apa dia berdandan jadi seorang perempuan?! Kecuali jika lelaki itu memiliki jenis penyimpangan tertentu, membuatnya terobsesi berpenampilan seperti wanita.


"Dari mana kau tahu?" ini hanya pertanyaan yanh terlontar begitu saja karena rasa penasaran.


Celah bibir William terbuka, ada jeda sebelum suara dari tenggorokan naik kepermukaan.


"Langa, anak ku yang bilang begitu."


O-okay, anak-anak tidak mungkin berbohong. Haruskah Lohan membantu sang kakak untuk mencari tahu, tampak sedikit menarik perhatian. Bagus juga, hitung-hitung mengisi waktu luang—benarkan Lohan?


"Baiklah, ku terima bayar dimuka kalau begitu..." sahut Lohan sambil memberikan senyum terbaik miliknya kepada sang kakak. Eyes smile William muncul, lelaki itu menampilkan senyum simpul andalannya.


"Tentu saja," ucapnya horor berhasil membuat Lohan meremang, sial. Lelaki itu tak ikhlas. Dia pasti membuat Lohan berkerja hingga sekarat nantinya, lihat saja.


...***...


"Hanna?" Diana memanggil, wanita yang berdiri dimeja kasir itu menoleh. Sambil bertanya 'ada apa' dengan isyarat wajahnya.


"Kenapa dengan matamu? Itu tampak bengkak? Apa kau habis menangis?" tanya dia kemudian, menempatkan kekhawatiran pada setiap kalimat yang ia ucapkan. Maki menggeleng, tidak. Dia tidak merasa kalau dirinya habis menangis kecuali—ah! Tadi malam.


Wanita bermanik kecoklatan itu jadi menceritakan berbagai insiden yang dia dapat sepulang kerja kemarin malam. Mulai dari nyaris tidak mendapatkan tranportasi untuk pulang karena waktu dia sampai ke halte bus bertepatan dengan bus terakhir yang ingin berangkat hingga peristiwa penguntitan.


"Lalu apa yang terjadi?!" tanya Diana penasaran, dia memotong percakapan tepat pada bagian cerita ketika Maki bilang kalau dirinya melawan penguntit dengan pisau mainan.


Beruntung cafe masih sepi, mereka baru saja buka.


"Aku berteriak, lalu dia diseret ke kantor polisi..."


Selesai.


Diana menghela napas lega, dia menegur Maki supaya jangan bertindak kelewatan gegabah. Meski wanita itu memilik otak yang cerdik, tapi jika salah langkah saja situasi Maki akan berbeda dari sekarang. Senang tidak terjadi sesuatu yang berarti. Maki kemudian mencarikan sisa perisitiwa yang ia miliki kepada Diana, sampai wanita bernotabe sahabatnya ini menyanggah. Tepat ditengah-tengah.


"Tunggu? Kau bilang apa?"


Alisnya terangkat, Maki ingat kalau dia pernah bercerita kalau ayah kandung dari Langa adalah lelaki gila yang kabur dengan selingkuhannya. Maki jadi perlu sedikit memberi bumbu pada cerita yang ia miliki. Wanita itu berucap.


"Suami ku pulang tadi malam dan dia ingin kami kembali bersama."


HAH!!!


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...