FreeDom

FreeDom
Part 1 Tulisanku masih kacau belum masuk kelas literasi, maafkan.



Setelah aku lulus di pendidikan Sekolah Dasar Mama menitipkan aku di rumah tante yang tepatnya di menteng atas.


Dengan alasan, aku harus bisa menjadi orang yang maju dan sukses seperti tante.


Suara Mama dipagi itu telah mendadak membangunkan tidurku yang tengah lelap.


"Chi ... Chi ... Ochi, bangun. Ini sudah jam berapa," teriaknya.


Dengan pakaian piama bermotif bunga, gaya rambut Mama yang dijepit dengan cepol, sembari memegang handuk berwarna pink muda.


Dengan muka sangarnya, Mama mulai melangkah menuju kamarku, suara ketukan pintu dan panggilan Mama terngiang-ngiang hingga sampai kekendang telinga.


Kali ini suaranya lebih lantang lagi.


" Ochi ... bangun!"


Aku mulai membuka netraku dan kulihat jam Doraemon yang terletak di nakas. Selain jam doraemon juga ada sisir dan ponsel yang terletak di meja rias.


Aku mulai melangkahkan kaki dan membuka pintu kamar sambil mengucek-ngucek mata sayu yang masih ngantuk.


"Kenapa sih Ma?"Jawabku.


Mama tiba-tiba memeluk erat-erat dan menangis. Aku bingung, kenapa Mama tiba-tiba menangis.


Mama mulai memgarahkanku ke sofa biru yang terletak disudut kamar.


" Mama mau membicarakan hal penting sama kamu Nak. Jangan tolak keinginan Mama ya Nak.


Sambil membelai rambut lurusku, Mama sesekali mengusap air matanya


Sementara aku masih bingung apa yang mau Mama sampaikan.


Aku menatap wajah rona Mama dan menjawab.


"Memang Mama mau ngomong hal penting apa?"


"Mama ingin mengantarkanmu ke rumah tante yang di menteng, kamu harus melanjutkaan Sekolah disana."


Aku menunduk dan tercengang mendengar pembicaraan Mama. Sebernya pada waktu itu aku ingin menolaknya. Karena, teman-teman SD sudah mengajak melanjutkan ke SMP yang sama.


Aku lesu dan sangat kecewa. Sementara Mama mulai mengemasi baju-bajuku dan memasukan kedalam koper. Sambil terus ngoceh.


"Nanti kamu disana harus nurut sama Tante, karena Mama ingin kamu tuh mengikuti jejak Tante yang bisa kuliah di Jepang dan menjadi orang sukses seperti sekarang."


Mama terus saja mengoceh bak burung beo yang berkicau dipagi hari.


Mama tanpa memikirkan perasaanku bagaimana sedihnya, harus berpisah dengan teman-teman SD dan harus hidup jauh dari kedua orang tua.


Sedangkan Papa, tak pernah tahu menau semua terserah Mama. Yang Papa tahu hanyalah kerja, dan bentuk kasih sayang Papa hanyalah berupa materi.


Hari itu juga Mama dan Papa mengantarkanku ke rumah tante di Jakarta, aku mulai menaiki mobil yang di kendarai Papa.


Sesekali aku mengusap air mata dengan berat hati meninggalkan kota Lampung dimana aku di lahirkan.


Telpon genggam kini sudah diganti dengan yang baru, dengan alasan biar gampang berkomunikasi, karena ponsel yang aku pakai sudah tak lagi jelas suaranya.


Selain itu, Mama juga telah mengganti kartu ponsel supaya aku tak lagi bisa berkomunikasi dengan teman SD.


Karena, menurut Mama hanya akan membuatku tidah betah. Ya sudahlah mulai ku pejamkan mata ini dan hanya bisa menjerit dalam hati.


***


Tiba di Jakarta, tampak seorang wanita bertubuh langsing dengan rambut ikal sebahu. Mata yang kecoklatan berdiri di depan pagar rumah yang bernuansa minimalis.


Aku sudah bisa menerka kalau itu Tante yang kelamaan tinggal di Jepang hingga melihat gayanya pun aku sudah tak heran.


Tante menghampiri mobil yang aku kendarai menyambut dengan ramah tamah.


"Hai..Ochi sayang, sekarang kamu sudah besar ya, dulu padahal masih kecil banget waktu tante mau ke Jepang."


Aku hanya tersenyum kecut dan kebencian yang terserat dihati.


Tante mulai melepas pelukannya dan membawa kami masuk kedalam rumah itu.


Aku menatap setiap sudut rumah itu dan tampaknya sepi, cuma ada seorang asisten rumah tangga yang sibuk menyiapkan minuman untuk kami.


Tante mulai mengajakku ke lantai atas, yang terdiri ada tiga kamar.


Di dekat balkon aku amati ruangan itu tampak seperti studio musik. Karena ada beberapa alat musik.


Oke..aku mulai perlahan mengamati satu ruangan keruangan lainnya.


Tante mengunjukan kamar yang bernuansa warna pink dan biru, yang lengkap berisi meja belajar dan laptop.


Beberapa buku-buku tersusun rapi di lemari warna coklat.


"Ini kamar kamu Chi.., semoga kamu nyaman dan kalau yang tengah ini kamar mandi."


Tante membukakan kamar mandi dan ternyata sudah di persiapkan sedetail itu.


Aku mulai penasaran isi rumah ini apakah cuma Tante dan asisten rumah tangga saja.


Tak lama kemudian, aku mendengar mobil warna merah memasuki pagar rumah.


Dan rasa penasaranku semakin menjadi.


Tante melihat pandangan mataku ke arah yang aku tuju.


"Itu Kakak sepupu kamu Chi, baru pulang dari kampus. Panggil saja Bang Ray, nanti biar Abang kamu yang mengantar jemput sekolah kamu."


Aku hanya mengangguk dan tersenyum sinis.


"Oh berarti itu studio musiknya Abang Ray?."


Aku bergumam sendiri dalam hati.


Ternyata kamar Bang Ray yang berhadapan dengan kamarku.


Sementara itu Mama dan Papa masih dilantai bawah menikmati minuman yang disajikan asisten rumah tangga. Papa sepertinya sangat kelelahan, hingga tertidur di sofa.


###


Aku mulai melangkahkan kaki menghampiri anak tangga untuk menuju lantai bawah.


Mama menatap dengan matanya yang tajam.


"Bagaimana Chi, kamu suka kamarnya?"


Mama melontarkan pertanyaannya dengan nada lirih. Aku hanya mengangguk saja sudah.


Tak lama kemudian suara lelaki yang bernada serak mengucapkan salam. Lelaki bertubuh atletit, berambut cepak dan beraroma parfum yang bermerek tak lain adalah bang Ray.


Anak semata wayangnya tante. Bang Ray langsung menghampiri Mama dan mencium punggung tangannya, seketika Papa terbangun dan mengenakan kaca mata yang hendak di letakkan ke meja.


"Hai, Dedek...apa kabarnya?"


Ku ulurkan tangan dan mencium punggung tangan Bang Ray.


"Baik."


Aku hanya menjawab dengan ketus. Karena, nanti takut kalau Bang Ray menjailiku tak ada yang membelanya.


Tante pun menuruni anak tangga.


"Kalian ini ngobrol kok di tangga, sudah sana Ray mandi dulu. Nanti kau ajak ngobrol Adikmu."


Bang Ray akhirnya menaiki anak tangga dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara asisten rumah tangga sedang sibuk menyiapkan makan malam.


Aku masih terus mengelilingi halaman rumah, dan ku amati satu persatu tanaman yang terjejer di samping teras.


Aku takjub melihat kaktus yang terletak di paling pojok antara pot-pot bunga lain.


kaktus penuh duri. namun, bunganya tampak cantik nan elok.


Baru saja aku mau memegangnya, tiba-tiba suara dari arah belakang mengejutkan aku.


"Jangaaan...Dek!"


Ternyata suara Bang Ray.


"Emang kenapa si Bang, pegang aja kagak boleh?"


Aku sambil sewot dan hampir menangis, bukan karena jengkel atas larangan Bang Ray. Tapi, juga jengkel karena menahan kekesalan di dada atas sikap Mama dan Papa.


Bang Ray tampak kebingungan dan menyusulku yang tengah lari memasuki rumah.


"Maaf..Dek, itu kan bunga pemberian pacar Abang. Nanti bisa marah kalau rusak apa patah. Besok, kalau mau abang beliin deh."


Aku masih sewot dan mendengkus kesal.


"Lagian abang ini cowok, masak dibeliin bunga mau sih, emang cowok apaan Abang?"


Aku sambil melotot meluapkan kekesalan yang aku pendam. Sementara Bang Ray hanya menggaruk-garuk kepala. Mungkin saja Bang Ray bingung dengan kemarahanku.


Tante akhirnya datang dan menghampiri kami.


"Udah..yuk..kalian makan dulu, tuh Papa sama Mama kamu sudah nungguin Chi. Ngobrolnya dilanjutin nanti lagi."


Akhirnya kamipun makan bersama di ruangan yang tak jauh dari ruang tamu. Sesekali Papa menatapku dan mengusap-usap rambut yang lurus dan tipis.


Papa berpesan kepadaku, jika nanti Papa dan Mama pulang ke Lampung, untuk sering-sering menelpon dan jangan sungkan-sungkan jika nanti ada keperluan apa bilang ke Tante.


Aku semakin sedih mendengar ucapan papa hanyalah membuatku menangis. Ketika itu Bang Ray yang tengah menyendok makanannya berhenti seketika dan meletakkan sendoknya ke piring.


Sepertinya Bang Ray sangat menyayangi aku. Karena keinginannya memiliki seorang adik belum terwujud.


Bang Ray bergegas dari tempat duduknya dan mengambil pot bunga kaktus yang ingin aku pegang tadi.


Sesa'at kemudian, Bang Ray sudah kembali dan membawakan pot berisikan bunga kaktus tersebut.


"Ini Dek, buat kamu saja yang penting jangan nangis lagi dan jangan sedih lagi. Abang janji mau bikin kamu betah disini."


Aku mengusap air mata dan langsung turun dari kursi dan mengambil bunga kaktus dari tangan Bang Ray.


Suasana hatiku kini mulai meredam.


Hari kini kian menjadi malam, aku yang sedari siang belum mandi dan mulai gerah ingin membersihkan diri.


Begitu juga Papa dan Mama, bergegas menuju kamar tamu yang terletak di lantai dasar tak jauh dari ruang keluarga.


Papa dan mama mengajakku tidur bersama malam ini. Karena besok Papa dan Mama harus pulang ke Lampung lagi.


Semalam menginap di rumah tante sudah terlewati. Kini, saatnya Papa dan Mama kembali ke Lampung.


Aku seakan tak rela jika harus jauh dari orang tua. Tapi, tak ada gunanya lagi jika aku protes dan melawan kehendak Mama itu hanya sia-sia.


Aku menangis sambil mengintip kepergian Papa dan Mama di balik jendela ruang tamu.


Rasanya berat sekali saat itu.


Namun, aku berusaha menguatkan hatiku sendiri. Tampak Tante menunggu di pintu pagar rumah menatap mobil Papa hingga menjauh dan tak terlihat lagi.


Tanpa kusadari, Bang Ray sedari tadi memperhatikanku. Sepertinya Bang Ray ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan.


"Dek..Abang punya sesuatu ni buat kamu."


Aku menengok ke arah Bang Ray yang menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Hingga tertutupi apa yang akan Bang Ray berikan untukku.


"Sekarang, hapus dulu tuh air matanya, nanti baru Abang kasih hadiah buat kamu."


Aku mengikuti perintah Bang Ray meski masih ada suara sesenggukan.


"Nah ini buat kamu."


Bang Ray mengeluarkan hadiah yang di sembunyikan di balik badannya, ternyata boneka Doraemon.


Aku tersenyum dan aku raih boneka itu dari tangan Bang Ray.


"Trimakasih ya Bang, kok Abang tahu kalau aku suka Doraemon?"


Bang Ray membawaku ke kamar dan berduduk di depan meja belajar.


Hari itu juga aku mulai mengisi formulir-formulir yang sudah disiapkan oleh Tante.


Ada beberapa formulir diantaranya


Formulir pendaftaran les Bahasa Inggris


Formulir tes masuk SMP unggulan


Formulir les musik piano


Di tambah lagi hari sabtu dan minggu les baca Al-Qur'an di rumah. Di tambah lagi setiap hari harus mengisi laporan kegiatan sehari-hari yang sudah disiapkan Tante.


Aku melihat semua formulir-formulir tersebut sepertinya sudah jenuh duluan. Tapi ya sudahlah sepertinya memang Tante sudah terlalu lama tinggal di Jepang.


Sehingga, semuanya harus berjalan sesui jadwal dan tertib.


Aku sesekali menghembuskan napas dan mulai aku isi satu persatu formulir itu.


Sementara Bang Ray duduk di sebelahku, membatu memberi arahan untuk mengisinya.