FreeDom

FreeDom
Part 4



Masih di teras dekat halaman rumah, Bang Ray sontak mendekati. Mungkin, Bang Ray tahu bahwa akulah yang menyebabkan pacarnya sakit perut. Aku terdiam menundukkan kepala. seakan tak punya rasa salah.


"De, memang kamu kasih minuman apa ke Kakak itu?" Sepertinya Bang Ray mencurigaiku.


Aku menghilangkan rasa cemas, dan aku garuk-garuk kepala. Bi Ijah yang tiba-tiba nongol sambil membawa sapu dan pengki, langsung menjawab pertanyaan Bang Ray yang membuatku kebingungan.


"Anu..Den, Non Ochi enggak salah. Mungkin, itu anuuu Den minumannya yang terlalu masam, mungkin saja lambungnya enggak kuat."


Bang Ray, cuma mengangguk pertanda setuju dengan jawaban Bi Ijah. Aku menghembuskan napas lega. Sementara Bi Ijah sambil membersihkan pecahan pot bunga. Bi Ijah mengedipkan matanya, pertanda memberiku isyarat untuk masuk ke rumah.


Aku pun memasuki rumah itu, dan tak lama kemudian suara Adzan magrib berkumandang.


Bang Ray pun, menyusulku memasuki rumah bersama wanita mirip Mak Lampir.


Aku duduk di sofa ruang tamu, mau manaiki anak tangga menuju kamar atas sepertinya kaki masih terasa nyeri. Bang Ray, menatapku yang tengah resah. Sepertinya Bang Ray mengerti keinginanku.


Langsung saja tanpa banyak bicara Bang Ray, menyodorkan punggungnya untuk menggendongku. Aku pun tak bisa menolak. karena, nanti aku harus menyiapkan perlengkapan sekolah untuk besok.


Bang Ray menggendongku menuju kamar atas, sementara itu, wanita yang mirip dengan Mak Lampir masih suduk si sofa ruang tamu, sambil terus memegangi perutnya.


Tatapannya sinis ke arahku. Aku sengaja menjulurkan lidah pertanda kemenangan ada dipihakku.


Sepertinya wanita itu semakin kesal, tampak sekali dari raut mukanya dan cara memandangku.


Selangkah demi selangkah, Bang Ray sudah sampai menggendongku hingga menuju kamar.


"Trimakasih ya Bang."


"Iya. Ya sudah, ambil wudhu terus shalat ya. Sebentar lagi teman-teman Abang mau kesini habis magrib."


"Iya Bang."


Demikan juga denganku, bergegas menuju kamar mandi. Dengan langkah yang tertitah-titah. Aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Ketika aku membasuh bagian kaki, lutut terkena percikan air wudhu sangatlah perih. perlahan aku pun mulai beranjak menuju kamar kembalai.


Aku kenakan mukena bergambar Frozen warna pink yang tertaut di gantungan belakang pintu.


***


Beberapa menit kemudian, Bang Ray tampaknya sudah selesai melaksanakan shalat magribnya. Kini, kembali ke kamarku untuk mengeceknya.


Aku yang tengah bersandar di samping nakas dan masih mengenakan mukena.


mata Bang Ray terbelalak menatapku.


"De, kenapa kamu habis shalat bukannya di lepas mukenanya, eh mah duduk bersandar?"


Bang Ray sambil mendekatiku dan mencoba membantu melepaskan mukena yang masih aku kenakan. Aku tersenyum dan sambil membayangkan Mak Lampir yang berada di lantai bawah. Mungkin saja ia masih bolak-balik ke kamar kecil.


"Bang, kasian tuh pacar Abang di bawah pasti masih sakit perutnya." Sambil beranjak berdiri aku berpindah duduk ke atas nakas.


Bang Ray menggernyitkan dahinya dan tersenyum menatap nanar.


"Ya sudah, Bang Ray ke bawah dulu ya. Teman Abang sebentar lagi sampai."


Bang Ray sambil mengusap-usap rambutku yang tipis dan lurus.


Kini aku di kamar sendiri. Aku merebahkan tubuh ke kasur dan ku tenggelamkan muka ke atas bantal. Sepertinya, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagiku.