FreeDom

FreeDom
Remang



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...R e m a n g...


...__________________...


...__________...


...____...


..._...


Seandainya?


Seandainya aku dihari itu tidak bertemu dengan mu, apakah hidup normal ku dimasa lalu akan terus berlanjut?


...***...


"Kenapa mamah begitu terlambat?!" Langa panik, dia nyaris menangis. William yang baru saja menerima laporan mencoba menenangkan bocah lelaki tersebut.


"Tenanglah Langa, papah baru saja mendapat kabar kalau mamah sedang dalam perjalanan pulang... sebentar lagi dia sampai," ucap William, manik anak lelakinya berkaca-kaca. Dia kembali mendekap William. Sampai dimana tadi pembahasan mereka? Oh ya—?! Soal Diana, Langa bilang kalau sosok berperawakan mirip wanita tersebut adalah seorang pria.


"Bisa tolong jelaskan pada papah, kenapa Langa bilang dia laki-laki?" Sekilas dilihat saja, Diana sudah sama persis seperti wanita kebanyakan. Wajahnya cantik, tubuhpun ramping dengan warna kulit yang begitu pucat. Senyuman Diana juga sangat natural bisa membuat lelaki terpana jika terlalu lama memandanginya.


"Hooamm~" Langa menguap, dia bersandar diceruk leher William sambil mengalunkan tangan kesana. Terdengar gumaman halus dari arah mulut bocah lelaki itu.


"Langa pernah melihat, ketika dia menginap disini. Tubuh Diana tidak mirip dengan mamah dia juga memandangi mamah aneh sambil memainkan miliknya? Papah tahukan, itu—!" ucap Langa sedikit terputus, dia menunjuk area bawah dekat paha sang ayah. Menunjukan makna yang ingin dia sampaikan menggunakan bahasa sopan, William mengangguk. Dia kurang lebih paham, lelaki itu nepuk pelan punggung sang anak sampai bocah lelaki yang berada didalam gendongan ini perlahan terlelap.


William memastikan kalau Langa benar-benar terpejam sebelum membawanya masuk kedalam kamar, lelaki itu lalu meletakan tubuh sang anak diatas ranjang sambil menyelimuti tubuh itu dengan nyaman. Kecupan kening mendarat diarea sana.


Cup~


"Mimpi indah boy..." ucap William pelan, teramat pelan hingga serupa dengan bisikan.


William menjauh, dia berjalan menuju area luar kamar. Sebelum benar-benar keluar lelaki itu memastikan kalau dia sudah mematikan penerangan dikamar milik anaknya. Berpindah keluar lelaki itu juga mengubah penerangan rumah menjadi lebih remang.


Ah~


"Aku ingin merokok," gumam William jenuh. Dengan ekspresi jengkel, lelaki itu berjalan menuju area kamar lain—tempat satu-satunya yang memiliki balkon luar. Langa bilang kalau kamar ini milik sang ibunda tercinta; alias sang istri—Maki.


Tanpa menghidupi penerangan lelaki itu melangkah masuk, berjalan menuju area balkon. Pemandangan langit gelap diluar sana menyambut penglihatan William. Maki sepertinya menyukai tempat yang memiliki balkon, dia beberapa kali memanfaatkan itu untuk melakukan aksi kaburnya dengan cara melompat, dimasa lalu. Kalau rencana William berhasil dan dia bisa membuat Maki terikat lagi dengan dirinya—ingatkan lelaki itu untuk memasangi tralis di balkon dan jendala rumah atau tidak usah sekalian membuat area balkon dirumah baru mereka nanti. Ide bagus.


William meraba kantong celana miliknya, kalau tidak salah masih ada rokok yang tersisa. Gotcha! Lelaki itu menemukannya berserta sang pemantik bara api, tanpa basa-basi William mengambil 1 batang diantara isi dalam kotak rokok tersebut. Menyelipkannya disela jari telunjuk dan tengah sebelum menyulut sisi lain rokok dengan pemantik api.


Kepulan asap putih terlihat, William menyimpan kembali benda yang tidak dia perlukan. Lelaki itu mendekatkan ujung rokok lalu menghisapnya rakus.


"Hosh~" embusnya kemudian.


Diana?


Nama itu terngiang didalam benak lelaki bermanik emerald tersebut, matanya menyipit. Perasaan tidak suka muncul dihati William; dia mengingat kembali penuturan sang anak prihal lelaki berparas cantik tersebut. Mencurigakan, jelas sekali itu mencurigakan.


Abu rokok berguguran, dia bersandar diarea pembatas balkon.


Sepertinya aku perlu menyelidikinya, ucap dewi batin lelaki itu. William kembali menghisap batang rokok yang berada disela jari tangan, dia menunduk. Langit memang gelap, udara juga semakin—tapi, gemerlap lampu dari beberapa rumah masih tampak terlihat.


William jadi terpikirkan akan satu hal; lelaki itu melirik, menantap sejenak abu rokok yang berjatuhan.


Maki, dia selama 6 tahun tinggal disini sendirian bersama sang anak. Padahal jaraknya tidak begitu jauh dari daerah kekuasaan William, hanya karena tempat ini termasuk zona netral—dia jadi tidak bisa menemukan wanita itu.


"Aku akan bilang pada mamah, perlebaran area kekuasaan." ucap lelaki itu pelan sebelum memilih menjatuhkan sebilah rokok yang berada diantara sela jari tangannya.


William berbalik, haruskah dia pergi sekarang? Sebelum wanita itu kembali. Dia pasti akan panik jika melihat wajah pria yang tidak begitu asing, sosok dimasa lalu yang mungkin saja sedikit memberi kesan yang tidak begitu baik?


Ha-ha |


Pasti akan jadi sedikit lucu nanti, benarkan?


Ceklek!


Tap!


Tap!


Tap!


William menghentikan gerakan kakinya ketika gendang telinga milik lelaki itu baru saja menangkap suara serta derap langkah kasar dari arah kaki seseorang yang sudah pasti itu adalah milik istrinya.


Dia terdengar sangat panik, apa Maki berpikiran kalau anaknya menghilang? Haha! Lucu sekali. Istrinya sangat menggemaskan. Haruskah William mengubah sedikit rencana agar bisa menyapa sebentar wanita tersebut.


Patut untuk dicoba, lagi pula—William sudah cukup lama menahan rindu yang nyaris membuatnya gila.


"Langa?!"


Lagi-lagi terdengar suara wanita itu memanggil, napas tersengalnya bukan main-main. Apa dia berlari hingga sampai kesini? Ck, ck, ada-ada saja kau sayang~


William melangkah seringan kapas; tidak menimbulkan suara. Ketika manik matanya menangkap punggung bagian belakang dari tubuh sang istri, William lalu bersandar. Menyilangkan tangan kedada sambil membuka celah bibirnya, terdengar suara—


"Psttt!"


Maki tersentak.


"Siapa disana?!" ucapnya panik. William terkekeh tanpa suara. Dia memberi jeda waktu sebelum menjawab pertanyaan dari wanita tersebut.


"Pelankan suara mu..." sahut William, menikmati perubahan wajah disetiap detiknya dari sosok didepan sana yang tidak lain adalah Maki—istrinya. Wanita itu pasti kesulitan melihat diantara kegelapan, berbeda dengan William yang sudah terbiasa.


Haruskah William menggodanya lagi? Toh! Dia tidak akan mungkin pergi dari sini begitu saja, sudah terlanjur ketahuan sebagai seorang penyusup lebih baik tunjukan batang hidungnya langsung.


"Kau bisa membangunkan anak kita." William menekan sedikit kalimat belakang yang ia ucapkan. Maki tampak kebingungan.


Dia seolah bertanya-tanya; anak kita? Anak siapa yang William maksud?


HAHAHA! SIAL! MAKI BENAR-BENAR MENGGEMASKAN.


Terdengar kekehan kecil, William tak tahan. Dia menegakkan tubuhnya, berhenti bersandar dan mulai berjalan mendekat. Mari tunjukan wajah asli dari sang penyusup.


Jengjeng~


DEGH!


Tanpa sadar Maki tersentak, dia mundur beberapa langkah. Sudut bibir William terangkat. Senyum seringai hadir diantara ketegangan.


"Aku baru saja bisa menidurkannya setelah cukup lama menenangkan perasaan panik dari anak kita karena sang mamah tak kunjung pulang." ucap William ramah.


Bugh~


Disusul oleh suara benda jatuh. Manik mata emerald itu turun, memperhatikan sosok wanita yang tiba-tiba merosot dengan mata melotot. Kedua kaki Maki pasti berubah lemas dalam waktu hitungan detik, lucunya. Dia mendongak membalas nyalang tatapan milik William.


Tanpa sadar, celah bibir dari wanita tersebut perlahan terbuka. Terdengar suara gugup setelahnya.


"William?" panggil wanita itu tanpa dia sadar.


Senyum seringai William semakin lebar, Maki mengingatnya. Tanpa perlu waktu yang lama; cukup 3 detik saja wanita tersebut sudah mengenali siapa lelaki yang berada didepannya.


Sial.


"Yes my honey~ I'm here..."


William jadi sedikit—terangsang?


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...