
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...L o h a n...
...__________________...
..._________...
...____...
..._...
"Ada apa dengan dia?" tanya seseorang kepada William; saudara tiri yang lain. Lelaki bermanik emerald itu melirik. Dia melihat Lohan yang tampak kegirangan menatapi layar telepon genggam miliknya dengan sesekali terkekeh senang, mereka sedang ada pertemuan tapi karena big three tidak dapat berhadir—pertemuan antar saudara itu dibatalkan. Mama juga sedang melakukan perjalanan ke-luar negeri, terjadi kekacauan di kantor cabang.
William angkat bahu, dia tidak peduli dengan si bungsu dari organisasi 12 bintang bernama Lohan tersebut. Benar-benar labil, bagaimana bisa Lohan bertahan dan masih mendapat gelar son padahal dia beberapa kali membantai habis anggota kelompoknya sampai berakhir menjadi solo player dan harus melakukan pekerjaan sendirian. Pasti merepotkan. Beberapa saudara diluar big three menatap penuh minat kearah si bungsu, hanya William yang tampak acuh. Dia muak diganggu oleh lelaki itu.
"Kau tampak senang Lohan..." ucap son ke-enam, dia menyilangkan tangan kedada sambil bertanya—apa yang membuat mu senang? Dengan gestur tubuhnya.
Lohan mengintip, beberapa minggu ini suasana hati lelaki itu memang stabil. Dia dengan bangga menunjukan deretan angka didalam telepon genggam miliknya; tertulis nama Hanna. Sons yang melihat berisik, mereka tampak semakin tertarik.
Lelaki yang selalu menganggap apa saja memuakkan memiliki kontak wanita diponselnya.
"Si bungsu tengah jatuh cinta?" goda son ke-lima. Mereka serentak melirik kearah William yang pernah mengalami kejadian serupa beberapa tahun yang lalu. Entah apa rasanya, tapi melihat William frustasi selama 6 tahun adalah tontonan yang menarik. Penghibur dikala penat karena William menjadi anak kesayangan banyak son yang tidak menyukai dirinya.
Lelaki bermanik emerald tersebut merotasi matanya jenuh. Lohan bercerita panjang lebar soal wanita yang berhasil menarik minatnya, persetan! Karena rasa bosan William memilih beranjak dari duduknya; tempat biasa mereka melakukan rapat tapi ketika si bungsu itu menunjukan sebuah gambar perhatian seluruh anggota alias para saudara tiri malah tertuju kearah William.
"Dia mirip dengan mu Will!" komentar salah seorang diantara mereka, rasa penasaran milik William berhasil ditarik keluar. Lelaki itu mendekat, tepat kearah si bungsu yang masih bicara tak jelas soal bocah tersebut. Dia menilik, gambar apa yang mereka maksud?
Sekilas William lihat, dia benar-benar mirip dengan sosoknya ketika muda. Kebetulankah?
"Dia adalah Langa, anak dari wanita bernama Hanna tadi..."
"Kau menggoda istri orang?"
Lohan menggeleng.
"Dia tidak memiliki suami."
Drt! Drt!
Getar handphone mengacaukan tengah-tengah cerita. William masih berdiri ditempat memperhatikan dengan jelas nama Hanna yang tertera dalam panggilan tersebut. Yang lain mulai gaduh, Lohan mengangkat panggilan itu tepat didepan mereka dengan audio nyaring.
"Hallo? Tumben sekali menghubungi ku lebih dulu Hanna. Ada apa?"
Muncul jeda sebelum suara seseorang yang berada tepat diseberang sana sampai ketelinga Lohan.
"Aku ingin meminta bantuan mu sir Lohan..."
DEGH!
William melotot, dia tidak salah dengar bukan? Nada suara familiar itu. Tidak mungkin.
Maki?
Itu Maki.
Istrinya.
Tanpa sadar William berjalan mendekat, mengikis jarak antara tubuhnya dengan sumber suara.
"Tentu..." sahut Lohan tidak tahu apa-apa. Beberapa son mulai curiga, ada apa dengan William. Kenapa rona wajah dari lelaki tersebut tampak menghitam? Kabar buruk, mereka merasakan alarm bahaya muncul. Akan terjadi keributan setelah ini.
"Bisa tolong gantikan aku untuk menjemput Langa—?!"
Bip!
BRUK!!!
Dan benar saja, mereka meringis sakit ketika melihat kening Lohan dihantamkan kuat menuju permukaan meja. William merampas cepat telepon genggam dari tangan Lohan, dia memutuskan panggilan sepihak lalu menghafal cepat rentetan angka dari panggilan tersebut.
Lohan yang dikejutkan oleh tindakan William mengeluarkan belati, dia tersulut emosi. Siap menyerang balik sosok tersebut tapi sayang Lohan kalah telak ditangan William. Kasian sekali si bungsu dia tidak tahu kenapa William selalu menjadi anak kesayangan. Karena enggan melerai, beberapa mulai beranjak—pergi menjauh dari sana mengabaikan pertengkaran kedua saudara tiri mereka.
William mendesis, menginjak kepala Lohan yang sudah terkapar diatas lantai dengan kening berdarah.
"Dimana." Itu bahkan tidak terdengar seperti pertanyaan. Apa yang William coba katakan? Lohan terkekeh; dia tak tahu maksudnya.
Lelaki bermanik emerald tersebut semakin menggeram. Dia kesal, benar-benar marah. William menekan kuat kepala Lohan, menunggu momen ketika benda tersebut pecah lalu berceceran dimana saja persis seperti dalam film fantasi action yang pernah ia tonton. Beberapa ada yang menetap, masih sedikit penasaran.
"DIMANA ISTRI KU." Kalimat itu.
Mengejutkan semua orang yang berada disana termasuk Lohan.
Lelaki bermanik emerald ini? Apa dia gila?!
...***...
Lohan meringis, dia benar-benar dibuat babak belur oleh lelaki gila disampingnya. William yang senantiasa menunggu pengobatan Lohan selesai tampak terkekeh senang sambil menantap suatu gambar yang berada tepat didalam telepon genggam miliki Lohan.
Lelaki bermanik kelam itu merotasi matanya muak. Untung saudara.
Setelah usah mendapat penanganan, Lohan mencoba menggerakan bibirnya. Masih terasa sakit, tapi untunglah; tak apa.
Dia bersyukur William tidak mematahkan rahang satu-satunya, hanya merobek bibi lelaki itu dengan kedua tangannya langsung.
"Ceritakan," pinta William tiba-tiba. Dia tahu Lohan sudah bisa bicara, lelaki bermanik kelam itu berdecih. Masih kesal dengan William tapi setelah mencerna situasi lelaki itu akhirnya bisa memahami.
Sial, baru saja tertarik dengan seorang wanita eh ternyata malah istri dari saudaranya sendiri.
Benar-benar sial.
Lohan mulai menceritakan pertemuan pertama antara dirinya dengan wanita bernama Hanna tersebut, serta beberapa waktu terakhir yang mereka lakukan untuk pendekatan. Hal itu membuat William panas. Laporan dari anak buahnya juga baru saja masuk, semua informasi tersusun rapi dengan sendirinya.
Sudut bibir lelaki itu terangkat.
William terkekeh.
Lelaki ini terlalu cepat mengambil kesimpulan 6 tahun lalu. Dia percaya begitu saja berita yang ditayangkan oleh televisi, padahal William tahu ayah dari sosok wanita tersebut adalah lintah darat berkantong tebal.
Tak heran.
Kenapa William kesulitan mencari informasi, itu karena ayah mertuanya yang menutupi khasus tersebut dengan baik tanpa sepengetahuan William.
Entah bagaimana caranya, lelaki bermanik emerald ini tidak bisa menebak detailnya seperti apa.
Tapi—
Seluruh teka-teki terpecahkan, William juga menyadari kalau ada sosok pengkhianat diantara anggota kelompoknya.
Dia pasti yang membiarkan Maki kabur saat kejadian longsor, alhasil wanita itu bisa bertemu dengan sang ayah mertua lalu membuat skenario kematian palsu.
PERSETAN!
Mari abaikan itu dulu.
William tengah berada dalam suasana hati senang.
Istrinya masih hidup. MASIH HIDUP!
Ditambah lagi! Mereka sudah memiliki seorang anak.
DAN DIA LAKI-LAKI.
SIAL! SIAL! SIAL!
Degh! Degh! DEGH!!
Degup jantung William terdengar semakin cepat. Pipinya memerah, dia tak sabar. Berlari keluar dari sini menangkap punggung Maki dari arah belakang; menyeret tubuhnya keatas ranjang lalu—
Merantai kedua kaki dari wanita tersebut supaya tidak bisa bergerak kemanapun.
"Aku ingin—aku ingin melakukan... semuanya untuk mu Maki."
Argh~
Tunggu aku sayang... |
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...