FreeDom

FreeDom
Pagi



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._________________...


...P a g i...


..._________________...


...__________...


...____...


..._...


"Hosh~" kepulan asap putih muncul dari sela bibir William.


Manik emerald-nya menantap dalam pemandangan matahari terbit tepat diluar jendela balkon kamar. Lelaki itu bertelanjang dada, sekilas ingatan tadi malam masih memenuhi isi dalam pikirannya. Sesekali sudut bibir dari lelaki ini terangkat; kekehan hangat muncul berbarengan dengan hal tersebut. Di-ingat-ingat ternyata lucu juga, setelah keributan rumah tangga yang mereka lakukan ada beberapa tetangga mendatangi apartement Maki untuk mencari tahu; sekaligus menegur mereka. Langisan Langa membuat para tetangga terjaga, alhasil William hanya mampu menunduk malu sambil mengucapkan kata maaf.


Setelah melakukan hal tersebut William malah disambut dengan pemandangan lucu lainnya, lebih kearah menggemaskan tepatnya. Kebisingan dari tangisan Langa memang sudah berakhir karena bocah nakal itu sudah berada ditangan yang tepat yaitu mamah-nya tapi apa yang William jumpai berhasil membuat lelaki itu terbahak. Baru ditinggalkan sekitar 2 menit tapi ibu dan anak tersebut sudah saling terlelap diatas lantai dengan posisi berpelukan.


Benar-benar lucu bukan?


YA! |


William bahkan sempat mengambil beberapa gambar untuk disimpan dengan ponsel miliknya. Lalu dia memindahkan anak beserta istri tercinta-nya kedalam kamar, kemudian tertidur bersama mereka diatas ranjang yang ukurannya bahkan tidak begitu besar; tapi benar-benar mampu menyajikan sebuah kehangatan dengan nilai yang tak terkira.


"Hosh~"


"Matikan rokok mu, ada anak kecil disini!" dengus seseorang, William menoleh. Dia mendapati wujud sang istri yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya.


"Hosh~" Embusan terakhir yang dilakukan William sebelum mematikan benda tersebut. Dia tersenyum, seraya mengucapkan kata-kata manis kearah sosok Maki—


"Selamat pagi sayang~" Dibalas cuek oleh wanita itu, dia merotasi matanya jenuh—memilih beranjak pergi dari ranjang menuju pintu keluar kamar tidur. Wanita itu perlu pergi ke dapur menyiapkan sarapan pagi untuk anaknya dan juga? Tamu tak diundang mungkin.


Tapi sebelum itu, Maki sempat berbalik menantap lekat lelaki bertelanjang dada tersebut. Otak wanita ini lebih bersih dari sebelumnya, dia juga sudah terlalu lelah mendramatisir sesuatu. Maki berkata;


"Sepertinya banyak hal yang perlu kita bicarakan nanti..."


William tersenyum remeh, dia memberi isyarat 'tentu saja' kepada Maki. Wanita itu kemudian berbalik berlenggang pergi dari sana, meninggalkan sang lelaki bermanik emerald bersama anaknya. Ups! Anak mereka.


...***...


"Tidak berpikir untuk memasukan Langa ke-sekolah?" tanya William seusai menyeruput kopi panas miliknya. Bagaimana suasana normal ini bisa tercipta? Padahal baru kemarin rasanya benar-benar gila, mungkin karena Maki sudah terlalu pasrah. Dia menerima ketidakwarasaan ini dengan lapang dada.


Ha-ha |


"Langa masih belum cukup umur untuk sekolah," sahut Maki, memberi sesendok suapan makanan kedalam mulut Langa. William melirik, dia kemudian menopang dagunya sambil berkata.


"Usia hanya soal angka, dia memiliki banyak potensi untuk belajar apapun yang dia senangi. Bagaimana boy? Mau ayah panggilkan beberapa guru privat atau langsung ke-sekolahannya saja?"


Maki melirik, dia merasa tercekik atas tawaran William. Wanita itu tahu kalau lelaki gila didepannya ini adalah seorang yang kaya raya hanya saja—? Berasal dari mana uang tersebut, Maki tidak tahu. Dimata Maki William adalah seorang kriminal, tidak lebih. Bahkan wanita itu tidak mengenal sama sekali sosok sebenarnya dari William. Terlalu abu-abu, dia hanya ayah dari putranya, Langa.


"Bolehkah pah?" beo Langa. William mengangguk, dia melirik sosok sang istri sebelum kembali menuju sang anak.


"Yups! Tentu, tanyakan saja pada mamah." Kening Maki berkerut, kenapa kau membawa-bawa nama ku! Jerit Maki dengan tampang horor. Ditatapnya nyalang lelaki bermanik mata emerald tersebut. Apa yang coba kau katakan bajingan?! batin Maki lagi bertanya-tanya. Dia tidak memilki banyak uang untuk menyekolahkan Langa lebih awal. Tapi wajah memelas sang putra membuat Maki menjadi tidak tega, wanita itu menggigit pipi bagian dalam. Dia tersenyum paksa sambil berkata kepada putranya.


"Tentu saja, Langa bisa. Uang papah mu sudah terkumpul banyak! Makanya dia berani pulang." desisnya pada William. Lelaki itu terkekeh, wajah marah Maki ternyata lucu juga. Tanpa basa-basi William kemudian merogoh handphone yang berada disaku celananya. Terlihat seperti menghubungi seseorang, lima detik selanjutnya terdengar derap langkah masuk dari arah luar.


Sosok Lohan muncul entah dari mana.


"Selamat pagi semuanya~ dan juga untuk mu Hanna, kau cantik hari ini..." Maki melotot, kenapa lelaki yang beberapa waktu terakhir ini menghilang secara tiba-tiba kembali muncul begitu saja.


"Ish!"


William menantap tajam kearah Lohan, si bungsu kembali berulah. Dengan tampang datar lelaki itu berdiri mendekati saudara tirinya lalu menarik telinga dari pria psychopath tersebut sambil berucap—tepat didekat gendang telinga milik Lohan.


"Nama istriku Maki dan berhanti merayunya Lohan sebelum aku berpikir untuk menggantung kepala mu di jembatan nanti."


Maki merinding, ucapan William memang terkesan guyon tapi dia tahu ada sedikit keseriusan didalam kalimat tersebut. Sama halnya Maki, Lohan-pun dibuat canggung. Dia membuang pandangan jauh sambil berpura-pura tidak tahu; kalau dirinya baru saja menggoda Maki beberapa detik yang lalu. William mendengus, menekan tarikan tangan di telinga si bungsu membuat si empunya telinga menjerit kesakitan.


"YA YAA... AKU TAHU, LEPAS!" Lohan meringis, telinga lelaki itu memerah. William melepaskan benda tersebut lalu kembali duduk ke bangku miliknya, melihat interaksi akrab antara dua orang tersebut membuat Maki curiga. Sepertinya mereka saling mengenal, Langa yang dibuat penasaranpun ikut bertanya.


"Apa yang paman lakukan disini?" tanya dia polos, Lohan mendekat—menampilkan senyum terbaiknya dengan deretan gigi.


"Paman dipanggil ayah mu untuk kemari,"


Langa memiringkan kapal, tak mengerti.


"Untuk menemani Langa bermain..." Manik mata bocah itu berbinar, belum menyelesaikan sarapan paginya bocah nakal ini sudah meminta Lohan untuk menggendong dirinya sambil berteriak.


"AYO KITA BERMAIN PAMAN~" Lohan tertawa, membawa pergi Langa menjauh dari kedua orang yang saat ini berstatus sebagai orang tua bocah tersebut. Langa.


Mulut Maki terbuka sedikit, tunggu? Dia tidak bisa mencerna situasi apa yang sedang terjadi. Wanita itu melirik keheranan, tepat ke wajah lelaki yang duduk diseberang bangkunya.


Bisa-bisanya William menyeruput kembali secangkir kopi dengan keadaan tenang. Sudut bibir Maki berkedut, kepalanya pusing. Sial, terlalu banyak hal aneh yang terjadi dari kemarin malam—kemampuan otak Maki tidak bisa mencerna semua itu dengan baik.


"Benar-benar banyak hal yang harus kau jelaskan," gumam wanita itu, William membalas tatapan tajam yang Maki berikan. Diletakkannya kembali cup gelas yang berada ditangannya keatas meja. Sudut bibir William terangkat, mungkin bukan senyuman tapi ini usaha terbaik yang bisa dia lakukan.


"Itu kenapa kita perlu ruang untuk saling bicara. Banyak hal yang ingin kau ketahui Maki, siapa aku sebenarnya—lalu kenapa aku melakukan hal gila dimasa lalu. Kau pasti penasaran,"


Glup—!


Maki menelan saliva kasar, William benar. Hanya itu satu-satunya kesempatan; setelah semua kegilaan yang terjadi dimasa lalu.


Titik ini akan menentukan perkembangan apa yang terjadi diantara Maki dengan lelaki bermanik emerald tersebut.


Akan berkembang seperti apa?


Nantikan saja. |


...***...


...T b c...


...Tinggalkan jejak, like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...