FreeDom

FreeDom
Jala*ng



Gerah!


Sekujur tubuhku panas.


Deg!


"Kenapa?"


...___________________...


...J a l a * n g...


...___________________...


...__________...


...____...


..._...


Plak!


"Aku tidak merasa pernah menyentuh tubuh mu!" lagi-lagi lelaki itu menggertak.


Dengusan terdengar, wanita yang mendapat tamparan melayangkan tatapan tajam. Maki hanya bisa jadi penonton dibalik kegelapan. Menunduk sambil menatap bayangan kedua orang tuanya yang saling berdebat.


Heh! Menyedihkan. Berkelahi didepan anak kecil yang bahkan belum genap berumur 7 tahun.


"Lalu?! Kau pikir—dia akan tercipta begitu saja?!" sarkas wanita itu, menunjuk sadis. Ah~ mereka sedang beradu pendapat soal asal usul mu, Maki.


Anak yang tak diinginkan. |


Tawa remeh terdengar, lelaki yang berdiri tepat didepan wanita itu menyilangkan kedua tangannya.


"Siapa tahu kau lupa menggunakan pengaman ketika bermain?! Dasar jala*ng!"


...***...


"Seharusnya aku tidak menikah dengan bajingan gila itu!" Pandangan Maki mendongak, dia berhenti makan; berkat sang ibu selera makan anak remaja tersebut menghilang. Terima kasih.


Kenapa tidak dari dulu saja kalian berpisah?


Pertanyaan itu selalu muncul, tiap kali Maki mendengar argumentasi sepihak yang ibunya katakan. Kalau kau menyesal, untuk apa kau masih mempertahankan hubungan pernikahan ini?


Bukankah itu tidak berguna?


Lantas untuk apa?


Plak?!


"Jangan melihat ku dengan tatapan menjijikan jala*ng!" Pipi Maki dipaksa menoleh, kedua mata dari remaja putri tersebut membola. Baru saja—dia mendapat sedikit tamparan kecil dari sang ibunda tercinta. Tch! Omong kosong.


Srett—!


Maki berdiri dari duduknya. Sarapan pagi ini terasa hambar, lebih baik berdiam diri di ruang kelas sekolah dari pada satu ruangan dengan wanita bernama ibu yang tidak lebih mirip seperti seorang iblis.


"Tunggu!" untuk apa lagi wanita itu mencegah Maki menjauh.


Bukannya kau tidak suka ditatap dengan mata menjijikan ini? Maki berbalik, pandangannya kosong. Cepatlah, sebelum Maki benar-benar merasa muak.


Wanita yang hanya tua beberapa tahun itu meneliti sosok Maki, dari ujung kepala hingga kaki. Terakhir dia ingat kalau dia membawa Maki ke-kediaman ini ketika bocah itu masih berusia 6 tahun. Tidak terasa sekarang Maki sudah remaja. Kalau tidak salah kelas 1 atau 2 sekolah menengah pertama? Hah! Persetan. Siapa yang peduli?!


Lihat tubuh anaknya itu.


Maki benar-benar mirip dengan dia. Selain mewarisi wajah yang cantik dia juga memilih proporsi tubuh ideal yang sangat ibunya impikan. Membuat iri saja.


"Pergilah sayang~ kau bisa terlambat sekolah nanti..." ucap wanita itu tiba-tiba. Maki tersentak, apa maksudnya? Untuk apa wanita yang bahkan tidak pernah berbicara lembut mengucapkan untaian kata penuh kemunafikan tersebut!?


Menakutkan. Maki pikir, wanita gila ini sedang merencanakan sesuatu. Yang pasti bukan hal baik tentunya~


...***...


"TIDAK!" Maki menggeleng! Dia meronta, ketika sang ibu menyeret tubuhnya secara membabi buta hingga pergelangan tangan remaja itu membiru.


"Ish!" terdengar desisan kesal.


"Menurut saja!" ucapnya, sambil mendorong tubuh Maki. Remaja tersebut oleng, dia terjeramba jatuh kedepan dengan dagu yang lebih dulu menghantam permukaan lantai.


Kekehan penuh canda tawa terdengar, Maki lantas mendongak. Banyak pasang mata yang menantap dirinya, tubuh Maki menggigil. Untuk apa mereka kemari?


"Kasar sekali Mei! Bukannya dia anak mu?"


Sang ibu merotasi mata jenuh. Wanita tersebut mengambil sebatang rokok yang berada ditangan temannya. Menghisap kuat benda itu lalu mengembuskan asap putih dari celah bibirnya.


"Dandani dia, aku yakin kita akan mendapat banyak pelanggan hari ini." ucapnya bangga.


Maki yang mendengar tersentak. Tunggu?


Apa?


DEGH!


.


.


.


.


.


"Ayah! Tolong selamat aku!" Maki menggigil ketakutan, pakaian yang ia kenakan begitu tipis. Bahkan mungkin itu tidak pantas disebut sebagai pakaian.


"Maafkan kami nona, tuan besar sedang tidak berada ditempat..."


Apa?


Bip—!


Tut...


Tut...


Tut...


Haha.


Ironis, berharap seseorang bernama ayah tersebut mau menolong.


Maki terduduk, lututnya lemas. Sambil mendongak, gadis belia tersebut memohon agar air dari kedua pelupuk mata tidak jatuh dan membasahi pipinya.


Meski tak bisa.


"Hosh~"


Aku benar-benar menyedihkan.


PLAK!


Lagi-lagi Maki dipaksa menoleh, sesuatu yang mendarat dipipi gadis tersebut meninggalkan sensasi panas.


"Kau pikir apa yang kau lakukan?! Berjalan dengan menggunakan pakaian seperti itu!" teriak sang ayah. Maki tidak menyalahkan ucapan sarkas yang ayahnya lempar, jika orang lain juga melihat penampilan Maki mungkin dia akan tertawa.


"Kau benar-benar?! MIRIP SEKALI DENGAN JALA*NG ITU!"


Pasti yang ayahnya maksud adalah sang ibu. Jika boleh jujur, wanita berstatus istri sah mu saat ini yang mendandani diriku seperti ini.


"Panggil jala*ng itu! Aku akan membunuhnya?!" murka sang ayah, meminta beberapa pelayan untuk menyeret ibunda tercinta ketempat ini.


Hah~


Mari menyaksikan drama picisan itu lagi Maki. |


Seperti opera mini, setelah lelaki tersebut melayangkan pukulan pada sang ibu hingga membuatnya sekarat dikemudian hari; wanita itu pasti akan membalasnya kepada Maki. Bagai lingkaran setan tanpa ujung, rute balas-membalas ini benar-benar membuat Maki muak.


"SIALAN KAU JALA*NG!"


BRUAKKKK!!!


Menyakitkan. Maki ingin keluar dari sini. Merasakan sesuatu yang orang-orang sebut sebagai sebuah KEBEBASAN.


...***...


"Maki?!" Gadis dengan seragam sekolah menengah atas itu menoleh, wajahnya terlihat manis.


"Ada apa?" beo Maki kepada kelompok orang yang sekarang bernotabe sebagai teman-temannya.


"Kau jadi ikutkan dengan kami ke club malam ini?" tanya dia. Maki tampak terdiam, memikirkan jawaban jenis apa yang ingin dia katakan. Perlu jeda waktu beberapa detik sebelum senyuman tumpul itu hadir, dibarengi sebuah jawaban.


"Yeah~ aku bosan sendirian di rumah."


"Tuh 'kan, kalian dengar... Omong-omong Maki, kapan-kapan kami boleh main ke tempat mu? Kau 'kan tinggal sendirian..."


Maki terkekeh.


"Tentu saja~"


.


.


.


.


.


"Kau terlalu muda, bagaimana bisa caramu masuk kesini?" tanya seseorang, Maki tertawa. Wajah gadis tersebut memerah, sial dia baru saja minum beberapa teguk cairan aneh yang orang dewasa selalu sebut sebagai alkohol.


"Aku dengan teman-teman ku," sahut Maki sembarang. Menjilat manja gelas kosong bekas cairan aneh yang ia minum barusan, menghiraukan sosok lelaki yang tengah duduk tepat disamping tubuh gadis itu.


Dia sedang digoda. Dan Maki tidak peduli, persetan baginya. Gadis itu kemudian menoleh, menumpu wajah dengan sebelah tangannya. Senyuman manis hadir, celah bibir Maki terbuka.


Untaian kata muncul dari situ.


"Berikan aku uang..." ucapnya polos berhasil mengudang ketertarikan para lelaki yang berada disana.


...***...


"DASAR JALA*NG SIALAN! KEMBALIKAN UANG KU!"


Maki terkekeh, remeh. Apa-apaan dengan lelaki yang baru saja menelepon dirinya pagi-pagi sekali?! Mengganggu saja.


"Dasar miskin!" gumam gadis itu sarkas, tak peduli dengan teriakkan serta cercaan yang ia dapatkan.


Ya, ya, YA!


Maki memang jala*ng.


"TERUS KENAPA?! KALAU AKU JALA*NG! DASAR BAJINGAN!" sarkas Maki, sebelum menutup telepon miliknya gadis tersebut sempat berkata—


"MATI SAJA SANA?!"


Bip!


Lalu sambungan diputus secara sepihak.


...***...


...T b c...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...