FreeDom

FreeDom
Siapa



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...S i a p a...


..._______________________...


..._____________...


..._____...


..._...


"Aku pulang~" berjalan dengan girangnya sambil membawa seseorang. Yolan mencengkeram kuat tubuh Maki didalam gendongan, dia terkekeh mendapati 2 sosok lama yang sepertinya tengah menanti kedatangannya.


Siapa lagi? Kalau bukan—


Kedua orang tuanya.


Dulu mata itu hanya memancarkan kekecewaan saat Yolan memutuskan untuk jadi wanita, mereka kesal putra satu-satunya yang selalu hidup dimanja meminta hal gila tersebut pada mereka.


Wanita? Menjadi wanita! Yang benar saja?!


Tanda tanya bermunculan, letak kesalahan mereka dalam merawat Yolan kecil dimana? Hingga menimbulkan sifat menyimpang. Apa hanya karena ingin coba-coba? Hati sang ayah tergores lebar, begitu juga ibunya. Sampai dititik puncak Yolan memaksa ingin jadi wanita sang ayah memukuli putra satu-satunya mereka. Dua kubu itu bersi tegang, perlahan-lahan menjadi retak. Yolanpun akhirnya membuat keputusan—pergi jauh-jauh dari mereka.


Tapi!


Siapa kira, momen kembalinya anak nakal itu akan terjadi.


Membawa seorang wanita pula yang dikenalkannya sebagai calon menantu. Sang ibu mendekat, dia ingin memeluk hangat putranya karena kembali dengan jati diri seorang pria; betapa senangnya mereka.


"Panggilkan dokter!" seru sang ibu kepada pelayan ketika mata wanita tua itu menangkap sosok Maki yang tengah tak sadarkan diri didalam gendongan.


Sang penyelamat.


Maki dipindah tangankan langsung, supaya bisa mendapat perawatan.


"Pastikan cek bagian kepala belakangnya!" imbuh Yolan, mendapat anggukan dari sang pelayan. Dia langsung membawa Maki pergi ketempat lain dengan dokter yang sudah menanti.


Sang ayah mendekat, menantap sosok sang istri yang tampaknya kegirangan. Pemandangan indah yang jarang terjadi.


"Bagaimana penerbangan mu nak?" tanya ayah. Setelah menghubungi lewat telepon umum dan meminta untuk kembali lelaki tua itu langsung mengirimkan pesawat jet pribadi untuk Yolan. Yolan hanya perlu ke-bandara terdekat tanpa melakukan pemeriksaan. Dia bersama Maki langsung tancap gas dari sana; singkatnya berpindah pulau menuju mansion sang ayah.


"Lumayan..." sahut Yolan seadanya. Jujur dia sedikit pegal dan lelah karena menggendong Maki dalam waktu yang lama, Yolan selama ini malas sekali yang namanya membangun massa otot. Dia terobsesi dengan fisik wanita; kecil dan cantik, siapa kira sekarang Yolan membutuhkan fisik aslinya dia berpikiran untuk mengembalikan tubuh itu. Akan berguna untuk mengontrol sosok Maki nanti, ketika wanita itu bangun dia pasti akan memberikan perlawanan.


Yolan harus siap.


Dibenci?


Tak masalah.


"Senang melihatmu kembali..." gumam sang ayah berhasil membuat Yolan terkekeh. Persetan, dia tidak peduli dengan kedua orang tuanya.


"Rawat baik-baik Hanna, cuma dia wanita satu-satunya yang dapat membuatku terbangun." ucap Yolan sarkas. Sang ayah mengangguk, dia amat bersyukur dengan wanita tersebut—terlepas dari apapun yang menimpa wanita itu sebelum dia pingsan dan dibawa kemari.


Sang ayah tidak peduli, selama hal tersebut dapat membuat putranya jadi lebih baik—kenapa tidak?


Mari bantu sang anak, mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Tentu saja... dia kan menantu ku..."


...***...


"Ada catatan keberangkatan di bandara, menggunakan pesawat jet pribadi. Dari hasil laporan serta bukti kamera pengawas yang terpasang disana itu positif lelaki bernama Yolan, dia bersama dengan nyonya besar yang tengah tak sadarkan diri..."


William melirik, berkas berisi latar belakang bocah tengik itu berada ditangannya. Dia terdiam ketika membaca siapa orang tua dari bocah kurang ajar tersebut sebelum akhirnya membuat keputusan.


"Cari tahu tujuan dari keberangkatan pesawat jet pribadi itu..." ucapnya. Salah satu anggota anak buahnya mengangguk.


Lingkar hitam semakin tebal dibawah kelopak mata, William melenguh.


"Hah~"


Bukan lawan yang mudah, batin lelaki itu. Orang tua Yolan adalah sosok yang paling berpengaruh di-dunia putih, citra mereka baik sekali dimata publik. Jika William salah bertindak, organisasi miliknya akan jatuh kedalam bahaya.


Pemerintah bisa mengendus ekor milik William, kemungkinan terburuknya dia bisa tertangkap. Meski itu terdengar mustahil karena ada sosok mamah yang berdiri tepat dibelakang William. Hanya saja kalau lelaki itu salah langkah, dia tidak akan bisa menjamin sebanyak apa kerugian yang dia dapatkan nanti.


Risikonya terlalu besar.


Bisnis, serta hak istimewa di organisasi akan dicabut. Seharusnya William merasa senang karena dengan cara itu dia mungkin akan lebih mudah menjadi bagian dari warga sipil, sesuai dengan permintaan sang istri. Tapi! Lihat saja kejadian yang menimpa William saat ini?! Karena kekurangan pengaruh dia kesulitan bergerak.


Tch!


Menuruti apa kata sang istri secara gamblang sepertinya tidak baik juga.


Kalau William kehilangan pengaruh di-dunia bawah kemungkinan besar Maki dan Langa akan dalam posisi terancam. Lelaki emerald ini bisa diserang balik oleh musuh-musuh lamanya. William ingin melindungi kedua harta berharganya, apapun yang terjadi. Termasuk menipu sang istri.


"Papah!" William menoleh, sosok Langa yang duduk didalam gendongan Lohan terlihat melangkah masuk.


Setelah jadi supir pribadi Lohan rasa dia sekarang pindah profesi menjadi pengasuh bayi. William berdiri, mendekati Lohan lalu mengambil alih anak satu-satunya.


"Kenapa kau kemari boy?" tanya lelaki itu pada sang anak. Seharusnya Langa masih dalam tahap pemulihan di-rumah sakit dan yang bertugas menjaga sang anak adalah Lohan. Si bungsu dari organisasi.


"Papah? Mamah sudah ketemu?" bukannya menjawab, Langa malah memaparkan pertanyaan lainnya. William menghela napas panjang, dia menantap lekat perban dileher bocah tersebut yang tidak lain adalah bekas cekikkan.


Dari melihat reaksi tidak mengenakan sang ayah Langa dapat menyimpulkan kalau sosok Maki masih belum ditemukan.


Ini semua gara-gara Diana. Manik Langa berkilat, meski masih tergolong kecil—ada bara api tepat didalam mata bocah itu, menyiratkan kemarahan yang luar biasa persis seperti sang ayah.


"Bunuh, bunuh saja tante Diana. Dia merenggut mamah dari papah dan Langa..." gumam bocah itu serius meski terdengar tidak disengaja. Lohan maupun William menatap, manik matanya dingin. Langa memang tidak mengetahui maksud sebenarnya dari kata yang dia keluarkan tapi kedua orang dewasa yang berada disana setuju.


Mereka sepakat akan membunuh Yolan, karena banci gila itu sudah berani main-main.


...***...


"Argh?" Maki menggeliat, tidurnya tidak nyaman. Ada perban dikepala.


"Sakit..." lenguh wanita itu sembari membuka kedua kelopak matanya. Pemandangan langit-langit ruangan yang asing memenuhi indra penglihatan wanita tersebut.


Dimana aku?


Tanya dewi batinnya. Mencoba merubah posisi tidur menjadi setengah berbaring dikepala ranjang. Mulutnya serak, dia perlu minum—berapa lama wanita itu tertidur?


Krett~


Pintu diujung sana terbuka, Maki melirik. Suara langkah kaki terdengar, wanita itu menunggu-nunggu siapa gerangan yang akan melenggang masuk.


Sosok Yolan berjalan santai, dia tidak menyadari kalau Maki telah siuman. Duduk memperhatikan dari kejauhan dengan ekspresi yang datar. Yolan tidak lagi menggunakan pakaian wanita, dia mulai membiasakan diri dengan celana. Meski agak kurus dari lelaki normal lainnya sosok tersebut tidak kalah saing.


Dia lalu mendongak, sedikit terkejut mendapati sosok Maki yang tengah menantapnya dingin. Lelaki itu kebingungan, harus bereaksi seperti apa sampai rasa lega muncul ketika Maki mengucapkan satu kalimat tanya pada dirinya.


"Siapa? Kau?"


Degh!


Yolan menyeringai, sepertinya berhasil.


Rencananya. |


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...