
DEGH!
Maki tersentak. Wanita itu cepat-cepat melepaskan sesuatu yang melilit erat bagian perut. Gerah! Hal ini membuat Yolan terkejut, dia ikut bangun—memperhatikan gerak-geriknya.
"Kenapa?" tanya Yolan kemudian yang tak dihiraukan oleh Maki.
Wanita dengan manik kecoklatan kosong tersebut bergegas menurunkan kaki dari ranjang tapi karena kecerobohan yang ia lakukan sendiri, Maki malah tersandung lilitan rantai dileher.
Bugh!
Wajah menghantam lebih dulu permukaan ubin lantai, berbarengan dengan hal itu—sesuatu yang berada di kerongkongan Maki tiba-tiba saja mendesak ingin keluar.
Bola mata Yolan melotot, kaget; dia melihat dari kejauhan kalau Maki baru saja memuntahkan isi dalam perutnya.
"HOEK!"
"Hanna!" panggil lelaki itu panik, seraya bangkit dari tempatnya lalu mendatangi sosok Maki.
Apa yang terjadi?!
...__________________...
...B u k a n !...
...__________________...
..._________...
...____...
..._...
"Hosh! Hosh!"
Tubuh Maki gemetar, matanya berkunang-kunang. Deru napas dari wanita itu terdengar tak karuan, lagi-lagi pertanyaan yang sama bermunculan.
Gerangan apa yang terjadi pada wanita tersebut?
Yolan mondar-mandir tepat dibelakang, mencoba menghubungi dokter pribadinya. Maki sekarang tidak ingin disentuh oleh siapapun; bahkan para maid hanya bisa menunggu dari balik pintu utama ruang bawah tanah, Maki masih membeku diposisi yang sama; bersimpuh diatas lantai sembari menantap shock kearah benda menjijikan yang baru saja keluar dari mulut wanita itu.
"Hosh... hosh..." tidak secepat yang tadi, Maki berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Dalam hati wanita tersebut bertanya-tanya—apa yang baru saja ia alami? Dalam mimpi.
Sosok bernama ayah dan sosok bernama ibu siapa mereka? Kekerasan hingga penganiayaan, lalu—tangan-tangan nakal dari parah lelaki hidung belang yang ingin menyentuh tubuhnya. Sampai dititik Maki harus berubah menjadi jala*ng demi melanjutkan kehidupan, ditambah? Dia pernah membunuh seseorang.
Deg!
Tidak!
Itu bukan aku!
"Aku... tidak pernah, membunuh se-seorang?!" tiba-tiba Maki meracau. Dia memeluk tubuhnya sendiri, gemericing rantai dileher saling beradu satu sama lain.
Maki tersentak, mimpi soal dia yang mendorong tubuh seseorang kedalam kobaran api lalu menyaksikan tubuh dari orang tersebut terbakar. Itu benar-benar terasa seperti nyata.
Kulit dan daging meleleh, menampilkan tulang-belulang yang tinggal menunggu waktu untuk menjadi hangus.
Mengerikan.
Benar-benar mengerikan.
Sejauh yang Maki ingat, dia adalah sosok pengecut yang selalu mengutamakan cara melarikan diri dari pada yang lain, tidak lebih. Maki yakin itu, dia—?
Ingat?
DEGH!
"HAAHH?!!" Maki menjerit, tangannya terangkat menjambak sadis surai-surai rambut hingga beberapa helai dari benda tersebut rontok. Berjatuhan diatas lantai. Kepala wanita itu sakit, dengungan nyaring seolah ingin menghancurkan gendang telinga miliknya.
"HENTIKAN!"
Yolan merinding, dia mencoba menangkap tubuh Maki—meminta wanita tersebut untuk tenang tapi tak bisa. Maki semakin gila, berteriak dengan suara lantang hingga memenuhi seisi ruangan.
Dia terus meracau, meski tidak terlalu fasih Yolan dapat mengerti. Tak seperti sebelumnya, Maki benar-benar tidak bisa bicara.
"BUKAN AKU! TIDAK! AKU TIDAK—BUKAN MEMBUNUH SESEORANG?!"
Siapa yang Maki bunuh? Apa maksudnya? Yolan tak mengerti. Dasar bajingan! Kesampingkan rasa penasaranmu dan pikirkan cara untuk menghentikan Maki, sebelum dia semakin brutal menyakiti tubuhnya. Menyebalkan.
"Apa yang terjadi?!" sosok sang dokter yang Yolan tunggu-tunggu akhirnya muncul, menerobos masuk kedalam ruangan tersebut. Semuanya kacau, entah kenapa Yolan merasa senang ketika melihat wajah dari sang dokter.
Dia mendekati lelaki berpakaian formal tersebut, Ed namanya.
"Setelah itu tolong jelaskan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi?!" sahut Ed sarkas, kesal terhadap perilaku yang Yolan tunjukan. Kau berhutang budi pada ku dasar sialan?!
...***...
"Anda yakin mendengarkan dengan baik penjelasan dari saya?" tanya sang dokter pribadi yang beberapa waktu lalu sempat menjejakkan kaki di mansion megah ini. Sarkas, baru sebentar dia pergi—kenapa musti kembali lagi kemari.
Arghhh! Menyebalkan.
"Ya!"
Hah~
Datang dari mana jawaban tanpa keraguan itu? Dia bahkan merantai seseorang seperti hewan. Ed menggeleng tak percaya, ada sesuatu yang tidak beres dengan isi kepala tuan muda yang ia layani.
"Menjaga kestabilan psikis nyonya memang penting, tapi bukan berarti anda bisa menyakiti fisiknya... ini termasuk penganiayaan anda tahu?" Persetan soal pekerjaan, Ed tak peduli kalau dia akan kehilangan pekerjaannya esok hari hanya karena berbicara blak-blakan kepada lelaki yang berdiri tepat disamping tubuhnya.
Ed muak, dia harus berpikir untuk berhenti dari sini dan mencari pekerjaan lain.
Setelah menyuntikkan obat penenang, lelaki tersebut bersama Yolan membawa tubuh Maki kembali keatas ranjang. Ed mendesak Yolan agar melepaskan belenggu yang mencekik leher serta membatasi pergerakan dari sosok Maki.
Banyak luka lecet diarea sana, Ed meringis sakit. Dia tak tega. Sambil merawat luka-luka tersebut.
"Aku hanya ingin membatasi dia supaya tidak bertindak berlebihan, terakhir dia mencoba menyakiti pelayan serta ingin mengakhiri hidupnya lagi."
Ed mendengus.
Telinga lelaki itu gatal mendengarnya.
"Kestabilan mental, fisik, argh! Dengan anda melakukan semua hal tidak berguna ini—anda hanya menghancurkan nyonya lebih parah lagi!" Ingin sekali lelaki berstelan dokter tersebut membogem wajah Yolan dengan tas berisi peralatan medis sederhana miliknya.
Manusia bukan mainan.
"Saya sarankan anda untuk memanggil psikiater khusus untuk merawat nyonya, ini benar-benar diluar bidang saya. Itu pun kalau anda berharap nyonya sembuh, bukan hanya sekadar menginginkan dia sebagai boneka hidup!" ucap Ed cepat seusai menyelesaikan tugas miliknya. Dia ingin pergi dari sini, sebelum lelaki bertital dokter tersebut tiba-tiba berubah menjadi psychopath saking geramnya dengan sosok Yolan.
"Saya menyarankan dokter Neli, dia terkenal cukup baik dalam menangani masalah kejiwaan seseorang. Ini kartunya—permisi!" Ed benar-benar angkat kaki dari sana, tanpa menoleh sedikitpun kebelakang meninggalkan sosok Yolan bersama dengan Maki.
Persetan dengan kedua pasangan gila tersebut!
Ha-ha!
...***...
Tidak! Tidak!
Aku tidak pernah membunuh seseorang?!
Itu bukan aku!
"Bukan?!"
Kedua kelopak mata Maki terbuka, Yolan yang duduk disamping ranjang ikut terkejut. Akhirnya wanita itu siuman—setelah hampir 3 hari tidak sadarkan diri.
Dari yang lelaki itu lihat, Maki menegakkan tubuhnya lalu bersandar dikepala ranjang. Manik kosong tersebut berkaca-kaca, napasnya terengah; dia mencoba menstabilkan dirinya sendiri.
Kemudian didetik selanjutnya terdengar sesuatu yang tidak terduga. Semacam isak tangis—Yolan membatu, apa lagi yang wanita ini akan lakukan?
"Hiks... hiks..." kedua tangan Maki terangkat, menutup rapat wajahnya dengan telapak tangan.
Wanita tersebut menangis, tersedu-sedu. Gumaman yang sama kembali terdengar, entah apa yang tengah menghantui wanita tersebut Yolan tak tahu—yang pasti dia selalu berucap.
Kalau dia tidak pernah membunuh seseorang.
...***...
...T b c...
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...