
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...A m a r a h...
...__________________...
...__________...
...____...
..._...
"TIDAK! JANGAN MENYENTUH KU SIALAN?!" Maki berteriak, rona manik mata miliknya benar-benar menyiratkan amarah. Dia meringkuk tepat diatas permukaan lantai sambil memeluk erat perut dengan kedua tangannya. Berharap satu orang saja yang berada tepat diluar ruangan mau membantu sosok Maki agar terbebas dari keinginan sang ayah untuk menggugurkan janin didalam perut itu.
Meski nihil, harapan semu yang berakhir sia-sia.
Hanya Maki disini; berjuang mati-matian agar tidak merasakan kehilangan. Dia melindungi sesuatu yang menurut sebagian orang tidak pantas untuk dilindungi.
Sebuah kehidupan dari ketidak sengajaan. |
Rasa sakit dan keram bekas tendangan dari lelaki berbadan besar tadi masih terasa, antara ingin menangis dan marah—Maki mencoba semampunya tapi sang ayah benar-benar tuli. Dia menginginkan janin didalam perut Maki itu agar cepat keluar, meminta sang bodyguard melakukan sedikit kekerasan lagi pada tubuh wanita itu. Sungguh tega.
Maki menggeleng, dia meronta sambil menangis. Seluruh amarah lenyap digantikan dengan perasaan sakit. Manik mata kecoklatan itu tampak memelas, dengan tertahan Maki memohon ampunan.
Tapi, tepat dititik itu Maki mendapat shock berat—luar biasa ketika dia menantap cairan merah menitik dari area pangkal pahanya menuju lantai.
Tes...
Perasaan takut memenuhi relung jiwa dari wanita itu, tanpa sadar tubuhnya oleng—jatuh kedepan dengan keadaan tak sadarkan diri. Maki pingsan, tepat dihadapan sang ayah dengan kaki yang berlumuran darah.
.
.
.
.
.
Maki membuka kedua kelopak matanya pelan, langit-langit ruangan yang tampak familiar memenuhi indra penglihatan. Berapa jam wanita itu pingsan? Maki tak tahu. Dia tak peduli.
Tanpa sadar tangan dari wanita itu terangkat menuju perut, dielusnya pelan bagian tersebut.
Sosok yang merupakan bodyguard ayahnya berada tak jauh dari posisi berbaringnya Maki. Tidak ada lagi lelaki tua bangka berbau tanah bernama sang ayah tersebut, entah kemana perginya. Haruskah Maki merasa senang?
Hah~
Entahlah.
Maki tak tahu.
"Tenang saja nona, janin diperut anda baik-baik saja." ucap bodyguard tersebut tiba-tiba. Mata Maki membola, dia melirik tajam kearah sosok tersebut seraya bangkit dari posisi tidurnya. Rona tak percaya hadir, dia perlu kejelasan 'apa maksud dari lelaki itu?' hingga berkata demikian.
Seharusnya sang ayah sudah menyingkirkan gumpalan daging didalam perut Maki ketika tidur, untuk apa bodyguard yang jelas-jelas bekerja pada ayahnya berucap begitu? Apa sekadar ingin membuat Maki tenang?
"Ap—apa maks... ud mu?" tanya Maki dengan suara bergetar. Sang bodyguard yang berdiri disudut ruangan itu menyilangkan tangan kedada, dengan wajah datar—terlihat dia tengah memikirkan sesuatu sebelum menyahuti pertanyaan dari Maki.
"Pengampunan."
Singkat, padat, dan jelas. Maki tidak perlu meminta penjelasan lebih lanjut, dia menunduk. Manik dari wanita tersebut perlahan berkaca-kaca; padahal dia bukanlah sosok penjahat—tapi ketika mendengar sang ayah mengampuni Maki membuat wanita itu merasa senang.
Tes~
Air mata jatuh tanpa sadar dari arah pelupuk mata, membasahi baju yang tengah Maki kenakan.
Dia berbisik—lewat batinnya.
Kau memiliki sedikit kesempatan untuk hidup.
Anak ku. |
...***...
Menginap seenak jidat di Apartement William.
"Apa-apaan itu? Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan perasaan kehilangan. Coba lihat Will, lintah darat itu." bual Lohan lagi, tak gentar walau diabaikan. William merotasi matanya jenuh, dia mematikan ponsel ditangan lalu meletakan benda tersebut diatas nakas.
Mata emerald tersebut sama tertuju dengan manik mata Lohan, ke sebuah layar besar televisi terlihat figur lelaki tua yang tengah menangisi sebuah peti mati. Benar kata Lohan, dia tampak berpura-pura; sedihnya hanya kiasan.
Tapi dari pada menanggapi soal manusia yang munafik William lebih tertarik kepada—
"Kapan kau berpikir untuk angkat kaki dari sini?" desis lelaki tersebut.
Lohan terkekeh, dia meringis geli ketika mengingat penyebab kenapa dia memilih untuk kabur ketempat saudaranya.
Lagi-lagi William merotasi kedua bola matanya, pasti sosok tersebut tengah diburu oleh anak buah mama bekas kejadian bulan lalu. Dia membantai habis anak buahnya lagi gara-gara kesal dan hal itu terdengar sampai ketelinga mama—membuat Lohan tidak bisa lepas dari jeratan hukuman yang akan diberikan sosok tersebut.
"Tinggal hadapi mamah, masalah mu selesai!" saran William. Lohan angkat bahu acuh, dia lebih tertarik pada gambar yang baru saja ditayangkan dilayar televisi didepan matanya. Tanpa sadar sosok tersebut bergumam.
"Dia cantik ternyata."
William mendesis, ikut menatap gambar yang berhasil membuat perhatian Lohan teralihkan. Tapi tepat didetik ketiga lelaki bermanik emerald tersebut membeku seketika, bola matanya melotot.
Tak percaya, sosok tersebut bangkit dari duduknya lalu berjalan pelan menuju layar televisi. Gambar yang menampilkan sosok manis berwajah pucat dengan mata terpejam, membuat hati William mendidih tanpa alasan yang jelas. Itu, dia mengenali lekuk wajah hingga garis rahangnya—tidak salah lagi; sosok yang dikabarkan meninggal itu adalah istrinya.
MAKI.
BUGH!
Mata Lohan terbelalak lebar, ketika entah dari mana William mengambil meja nakas lalu membanting benda tersebut kearah televisi. Dia sudah merasa janggal dengan tingkah laku saudaranya yang berjalan kesana, memperhatikan lekat-lekat sosok wanita yang merupakan anak keturunan asia.
"Hai bung? Apa yang kau lakukan?!" tanya Lohan penasaran, dia melihat kalau sosok William seperti tengah dimakan oleh api kemarahan.
Tapi sayang Lohan sama sekali tidak mendapatkan jawaban selain gumaman tak jelas dari arah mulut lelaki tersebut.
William mondar-mandir tepat didepan televisi rusak.
Dia tampak marah juga gelisah.
Sudah lewat berapa bulan?
William tak ingat, manik matanya bergetar. Perasaan kesal menggerogoti relung jiwa—selama ini Maki hidup tanpa sepengetahuan William disuatu tempat. Kenapa anak buah dari lelaki tersebut tidak dapat menemukan sosok Maki, kenapa?
"KENAPA?!" teriak William lantang, urat lehernya muncul. Menandakan amarah besar yang siap membludak kapan saja. Dengan langkah berat, William pergi dari sana; meninggalkan sosok Lohan yang masih menatap keheranan.
Tap!
Tap!
Tap!
Lelaki itu berjalan cepat menuju arah kamarnya, dia menatap sejenak diambang pintu sebelum membuat keputusan untuk masuk; kearah tempat tidur. Bayangan tentang malam panas yang pernah ia habiskan bersama Maki muncul, memenuhi kotak memori lelaki tersebut.
Berbarengan dengan wajah pucat yang baru saja William lihat. Tanpa sadar, air mata luruh. William memilih mengempaskan tubuh tepat diatas permukaan ranjang, dia lalu terpejam.
Menenggelamkan wajah diatas permukaan bantal, sambil berteriak.
Ternyata MENYAKITKAN. |
Sial.
"Perasaan apa ini?!"
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...