Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Erupsi



Aku melihat kapten Afhkar menarik Ancient sword dari punggungnya. Uniknya kali ini ia tidak membelah musuhnya dengan mata pedang yang besar dan tajam itu. Ia hanya memakai bagian lebar dari bilah pedang besarnya itu untuk memukul semut lava hingga terpental dan tewas.


“ Menjadikan ancient sword sebagai senjata tumpul. Hebat juga idenya.”


Di sisi lain Noel memasang ranjau darat sambil terus mundur menjauh dari kawanan semut lava. Setiap orang memiliki cara bertarungnya sendiri. Namun bagiku semut lava adalah lawan yang sulit. Selama menjadi hunter baru kali ini aku harus bertarung tanpa memotong monster. Aku hanya punya pedang di punggung tanganku ini. Sedikit demi sedikit aku mundur sambil terus berpikir bagaimana cara mengalahkan monster kali ini.


“ Sudahlah. Masalah lava yang keluar pikirkan saja nanti”


Aku pun langsung menerjang kawanan semut lava yang datang ke arahku. Di antara bagian perut dan kepala semut lava ada bagian penghubung tubuh yang berukuran kecil. Aku mencoba mengincar bagian itu. Walau pun kemungkinan bagian itu juga tertutup oleh kulit yang keras, namun karena kecil mungkin bisa terpotong oleh pedangku.


Tiba-tiba salah satu semut itu memuntahkan lava dari perutnya saat posisiku sudah dekat. Aku langsung menghindar ke arah kanan dan mencoba menebas kepala semut itu. Seperti dugaan, bahkan kepalanya pun tak bisa di potong oleh pedang di punggung tangan kananku. Aku langsung mundur ke arah belakang di ikuti oleh semut lain yang sudah ada persis di depanku.


Aku melompat melewati semut itu dan saat persis berada di atasnya, aku berputar dan mencoba memotong bagian tubuh yang menjadi penghubung antara kepala dan perut semut itu. Cangkangnya memang sangat keras. Seranganku tak dapat menembus kulitnya. Semut itu hanya sedikit terpental dari posisi awalnya akibat serangan dariku. Mungkin karena aku menyerang saat di udara jadi kekuatan tebasanku berkurang. Aku yakin bisa membelah semut itu bila menyerang di darat.


Aku yang tak ingin membuang kesempatan langsung maju setelah mendarat. Menyatukan kedua tanganku dan kembali menyerang di bagian yang sama. Kali ini semut lava itu akhirnya terpotong. Meski setelahnya tanganku sedikit bergetar karena harus memotong kulit yang sangat keras itu. Lava panas keluar dari bekas potongan itu. Menimbulkan sedikit asap yang menandakan kalau lava itu benar-benar panas.


Tak ada waktu untukku merasa puas hanya dengan membelah satu ekor monster ini. Karena 4 ekor semut lava lainnya segera datang mendekat. Sambil menjaga jarak dari mereka, aku memastikan keadaan kapten dan Noel. Mereka pun masih bertarung dengan semut-semut itu. Kulihat Noel lah yang paling banyak membunuh monster itu. Aku bergerak maju ke semut yang mengejarku. Saat posisiku sudah dekat, aku langsung melompat ke samping, dan kembali menebas bagian tengah dari salah satu semut lava itu.


“Tersisa 3 lagi!”


Setelahnya aku kembali menjaga jarak dan lagi-lagi melakukan hal yang sama sampai semua semut yang mengejarku tewas.


“Untungnya semut-semut ini tidak terlalu cerdik. Seranganku tetap efektif walaupun berkali-kali menyerang dengan cara yang sama.”


Aku melihat kapten Afhkar yang mulai kesulitan melawan kawanan semut lava. Entah kenapa ada banyak yang datang mengejarnya. Aku segera bergerak ke arah kapten dengan menunggangi kuda besiku. Tak perlu mengkhawatirkan Noel karena ia sudah memengang kendali. Aku melempar peledak kecil yang masih tersisa ke kawanan semut lava yang menyerang kapten Afhkar. Aku berencana membagi kawanan semut itu menjadi dua untuk memudahkan kapten. Beberapa semut lava yang mengejar kapten kini berubah target dan berbalik ke arahku.


Tak memerlukan waktu lama untuk kami bisa mengendalikan situasi. Semut lava yang mengejar kapten sudah sepenuhnya dibasmi. Aku kembali melihat ke arah Noel. Ternyata ia pun sudah menyelesaikan pertarungannya. Tak ku sangka ternyata bertarung dengan semut lava cukup menguras stamina.


Asap dari gunung berapi itu begitu tebal dan seketika menutupi langit menjadi hitam pekat. Tak lama kemudian debu-debu berwarna hitam mulai berjatuhan ke atas tanah.


“Kita harus menjauh untuk sementara! Livy, Noel, cepat lari!”


Kami langsung mengikuti perintah kapten untuk segera melarikan diri dari area ini. Kami takut bila salah satu gunung berapi terbesar itu tiba-tiba meletus. Debu vulkanik saja sudah sangat berbahaya untuk manusia. Kalau sampai gunung ini meletus, tentunya nyawa kami tak akan selamat. Kami segera memacu kuda besi ke arah kawah mendidih. Dengan kecepatan penuh kami lari dari kepulan asap dan debu hitam yang makin banyak berjatuhan. Saat sedang memacu kuda besi kami, aku sempat melihat gunung berapi besar tempat terjadinya erupsi.


Di sela gelapnya asap hitam yang keluar dari kawah gunung berapi itu, aku melihat kilatan berwarna merah yang melesat ke atas searah dengan asap hitam yang terus keluar dari kawah gunung berapi itu.


“Apa cuma perasaanku saja ya?”


“Ada apa Liv?”


“Tadi aku melihat ada sesuatu yang keluar dari kawah gunung berapi itu. Mungkin aku salah lihat.”


Tak lama kemudian gunung berapi yang mengalami erupsi itu memuntahkan batuan besar yang terbungkus oleh api ke segala arah. Kampet yang melihat kejadian itu langsung memerintahkan kami untuk fokus melihat ke arah belakang atas.


“Perhatikan arah belakang atas kalian! Waspada batu api!”


Batu api itu berukuran sangat besar dan mulai menghujani kami. Kami harus mengambil langkah zig-zag untuk menghindari hujan batu api yang seperti meteorid itu. Keadaan genting ini bisa saja menghilangkan nyawa kami dalam sekejap, Karena kecepatan jatuh dari batuan itu sangatlah tinggi hingga menghancurkan tanah tempat batu itu mendarat. Kami terus fokus berlari sambil menghindari batuan yang terus menerus menghujani kami. Debu vulkanik yang sejak tadi turun ke atas tanah membuat nafasku menjadi kian sesak.


Kulihat pergerakan Noel menjadi melambat. Ia semakin jauh tertinggal di belakang.


“Kapten, ada yang tidak beres dengan Noel.”


Tanpa menjawab kapten langsung memutar balik dan membantu Noel yang ternyata sudah nyaris pingsan karena udara panas dan sesak yang diakibatkan debu vulkanik. Kapten langsung menarik Noel ke atas kuda besinya dan segera menyusulku. Kami akhirnya sampai di area kawah mendidih. Walaupun mengorbankan satu kuda besi, tapi kami lega karena bisa selamat dari serangan alam itu. Sungguh menyeramkan menurutku. Aku lebih memilih menghadapi seekor basilisk dewasa daripada harus berhadapan dengan gunung berapi yang mengalami erupsi.