Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Ancient Sword



Setelah berunding cukup lama akhirnya kami sepakat untuk menjalankan rencanaku, namun ada syarat yang harus dilakukan. Bila dalam keadaan terdesak, kami harus segera lari keluar dari dalam gua. Tak boleh ada yang memaksakan diri karena kami tidak tahu sebanyak apa jumlah monster yang ada di dalam.


Noel kini sedang merakit 3 peledak berkekuatan besar dari gabungan banyak peledak kecil. Kami akan membawa masing-masing 1 peledak ini, dan akan kami gunakan untuk memberi tahu anggota tim yang lain saat terjadi bahaya. Kami semua bersiap untuk pertempuran akhir misi kali ini. Saat Noel sibuk membuat peledak, kapten tidur untuk memulihkan staminanya. Sepertinya bukan aku sendiri yang merasa tegang dan takut.


Kami akan menyerang saat hari mulai pagi. Aku sangat berharap tak ada kesulitan di penjelajahan gua kali ini. Semoga kami semua bisa keluar dalam keadaan baik-baik saja. Aku kembali mengingat penjelajahanku saat di bukit duri. Kuharap gua kali ini tak akan seberbahaya gua bukit duri yang pernah hampir merenggut nyawaku.


Tak terasa pagi hari pun datang. Karena terlalu tegang, aku sama sekali tak bisa terlelap. Noel yang baru saja menyelesaikan peledaknya langsung memberikan salah satunya padaku. Meski kami sama sekali tak tidur, namun tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut kami semalaman.


“Kau baik-baik saja, Noel?”


“Ah… Ya… Aku baik-baik saja, Liv.”


“Tenanglah, Noel. Misi ini pasti akan sukses.”


“Semoga benar seperti katamu, Liv.”


Hanya itu yang bisa kukatakan pada Noel. Meskipun tak membantu sama sekali, namun setidaknya sedikit memecah suasana suram di tempat ini. Kini kami bersiap untuk melanjutkan misi. Tak ada apapun yang kami bawa selain senjata, peledak yang baru saja dibuat Noel, dan botol berisi air di balik jubah kami. Semua perbekalan dan kuda besi kami tinggalkan agar pergerakan kami semakin leluasa di dalam gua.


“Liv, Noel, sekali lagi ku ingatkan. Jangan memaksakan diri! Terutama kau, Livy!


Aku tak mengerti mengapa kapten berpikir aku akan memaksakan diri. Kami berjalan masing-masing ke gua yang kami pilih. Perlahan namum pasti, kami mulai mendekat ke mulut gua. Setelah sampai persis di depan gua, aku melihat kapten dan Noel yang sudah berdiri tepat di depan gua pilihannya. Kami melihat satu sama lain dan menganggukan kepala seolah memberi isyarat kalau kami siap bertempur mempertaruhkan nyawa.


Kami masuk secara bersamaan dan menghilang dari pandangan masing-masing. Aku masuk dengan sangat hati-hati dan berusaha tak membuat suara sedikit pun. Setelah membiasakan mataku di keadaan gua yang gelap, aku mengeluarkan pedang dari punggung tangan kanan dan kiriku. Tak ada salahnya bila bersiap dari awal untuk antisipasi serangan kejutan.


Semakin dalam aku masuk ke gua, semakin luas ruang dalam gua ini. Masih belum ada tanda-tanda gua ini ditinggali oleh monster. Setelah sekitar 1 jam masuk ke dalam gua, aku dihadapkan dengan jalan yang bercabang. Kedua jalan ini terlihat berbeda. Jalan di kanan ku mengarah sedikit menanjak ke atas. Sebaliknya jalan di kiri ku terlihat turun dan semakin menjauh dari permukaan tanah.


Namun aku tetap memilih jalan menurun di kiri ku. Bila jalan yang kupilih salah, aku bisa kembali dan memilih jalan lain. Semakin masuk ke jalan yang aku pilih ini, semakin curam turun ke dalam tanah. Masih tak ada tanda kehidupan di dalam gua ini.berbeda seperti saat pertama kali masuk ke dalam gua, kali ini jalan terasa lebih menyempit. Suhu di gua ini juga semakin panas.


Aku mulai sedikit kesulitan bernafas di gua ini. Sepertinya aku masuk terlalu dalam. Namun aku harus terus melanjutkan penjelajahan karena belum menemukan ujung dari gua ini.setelah berjalan selama lebih dari 2 jam, aku melihat ada cahaya di ujung gua. Aku semakin bersemangat karena penasaran, namun juga sedikit takut kalau yang menantiku di ujung gua ini tidak sesuai dengan harapanku.


Setelah mencapai ujung gua aku menemukan ruangan sangat besar yang tak pernah ku bayangkan. Ruangan besar ini dipenuhi oleh lava cair dan jalan setapak terbuat dari batu di tengahnya. Pantas saja jalan menuju kesini begitu panas hingga aku sedikit sulit bernafas. Jalan setapak di tengah ruangan ini terbuat dari batu, dan ada beberapa ukiran di atasnya. Jelas tempat ini bekas suatu peradaban masa lalu.


Walaupun tak terlalu peduli, akan kuingat tempat ini dan ku ajak professor Cage ke sini suatu saat. Aku yakin dia akan senang. Di ujung jalan ini terlihat ada sebuah ruangan tertutup tanpa pintu yang juga terbuat dari batu dengan ukiran unik. Tempat ini seperti sebuah kuil menurutku. Karena terdapat ukiran-ukiran seperti manusia bersayap di tembok ruangan. Aku segera masuk keruangan itu karena panas yang begitu menyengat.


Berbeda dari tempat sebelumnya, ruangan ini terlalu sejuk. Sedikit aneh menurutku. Padahal ruangan ini tak memiliki pintu. Harusnya hawa panas dari lava juga masuk ke ruangan ini. Di dalam ruangan ini terdapat 4 patung di masing-masing sudutnya. Berbentuk seseorang yang memiliki 4 sayap di punggung. Di tengah ruangan terdapat patung monster seperti naga yang memiliki 4 kaki dan sepasang sayap. Patung naga ini memiliki 4 tanduk di kepalanya dan memiliki 3 pasang mata di bawah tanduknya. Patung unik ini memiliki ekor bercabang yang disetiap ujung ekornya terdapat benda aneh.


Aku terus memperhatikan benda itu. Aku berpikir benda itu seperti pegangan pedang yang terbalut dengan kain kulit yang sepertinya dari hewan reptil. Aku menyentuh benda itu dan sedikit menariknya keluar. Meski sedikit sulit namun akhirnya aku bisa menarik benda yang ternyata benar sebuah pedang. Pedang ini memiliki panjang sekitar 60 cm termasuk pegangannya. Sedikit melengkung ke arah luar, dan terdapat sudut di bagian sedikit ke atas di mata pedang itu.


Walaupun terlihat sangat lancip, aku yakin pedang ini lebih di tujukan untuk memberi sayatan fatal. Itu terlihat dari mata pedang yang memiliki sudut. Aku pun menarik pedang lain yang masih tertancap di ekor patung naga itu. Pedang yang persis sama ini menandakan kalau senjata ini sepasang.


Badan pedang ini memiliki warna merah dengan mata pisau berwarna hitam. Yang luar biasa dari pedang ini adalah beratnya yang begitu ringan seperti sedang memegang sebuah ranting. Aku mencoba memotong ekor dari patung naga dengan pedang ini. Ternyata selain unik, pedang ini begitu tajam hingga aku bisa memotong ekor patung naga dengan mudahnya.


Aku teringat dengan ancient sword yang di gunakan kapten Afhkar. Ancient sword miliknya juga sangat tajam dan ringan seperti pedang ini, walau bentuknya sama sekali berbeda. Kapten juga bercerita kalau ia menemukan pedang itu di reruntuhan yang telah hancur di dasar danau. Aku yang mendapatkan ancient sword melompat kegirangan tanpa sadar. Senjata ini sangat cocok denganku yang terbiasa menggunakan sepasang pedang di tangan. Ini akan sangat meningkatkan kekuatan tempurku.


“Akan ku pamerkan pedang ini ke kapten dan Noel setelah keluar dari gua.”


Aku yang menemui jalan buntu, keluar dari ruangan itu dan kembali ke jalan bercabang. Sebelum masuk ke jalan yang ada di kananku, aku memilih untuk beristirahat lebih dulu karena lelah akibat panas gua ini. Monster apa pun yang akan kutemui nanti, aku yakin bisa mengalahkannya dengan ancient sword yang baru kudapatkan ini.