
Profesor kembali muncul di bagian lain ruangan ini. Sepertinya tubuh loreley tak sekeras dragonoid yang tak bisa ditembus oleh ancient sword. Terlihat jelas luka sayatan tak beraturan di tubuh loreley itu bekas tebasan Profesor. Darah pun mulai mengucur deras dari makhluk itu. Aku segera mengambil langkah dan mulai berlari ke arah loreley, lalu menggunakan shadow step dan muncul disampingnya.
“Seni beladiri naga... Tebasan taring naga”
Aku melesat dan mencoba memotong ekor monster aneh yang sangat besar itu dari samping. Kini perhitunganku salah. Tebasanku tak bisa menembusnya dan justru aku yang terpental karena tebasanku yang gagal. Sepertinya monster ini begitu kuat pada serangan fisik, namun serangan sihir seperti yang profesor gunakan masih bisa menembusnya. Aku yang terpental segera bangun dan sama sekali tak berniat untuk berhenti menyerang. Walau keras namun masih ada bagian tubuhnya yang tak tertutup sisik. Setidaknya aku harus melukainya selagi monster itu masih meronta akibat serangan profesor.
“Seni beladiri naga... Tebasan taring naga.”
Aku mengincar bola matanya yang hanya dilindungi selaput tipis. Dugaanku tepat. Darah langsung menyembur keluar dari matanya saat monster itu menggelepar di atas lantai. Tak butuh waktu lama untuk menghabisi monster besar ini karena profesor sudah menyiapkan serangan berskala besarnya.
“Seni beladiri naga... Dentuman ekor naga.”
Berapa kali pun kulihat jurus ini sungguj di luar akal sehat. Pedang yang semula berukuran kecil kini berubah menjadi ukuran yang begitu besar hingga ujung pedang hampir menyentuh atap ruangan ini. Profesor langsung menjatuhkan pedang yang diselubungi sihir itu tepat di leher ratu loreley. Sekeras apapun sisik monster itu tentu dentuman ekor naga akan mampu menebas dan menembusnya. Setelah pedang raksasa itu di jatuhkan leher loreley langsung terputus begitu juga lantai ruangan yang terbelah sepanjang pedang itu. Tak hanya memotong leher loreley tebasannya juga menimbulkan ledakan yang membuat kepala monster itu terpental dan kini berada persis di depanku.
Aku pun sama sekali tak membayangkan bagaimana bila aku menerima serangan yang maha dahsyat itu. Seisi ruangan pun bergetar hebat saat pedang mengerikan itu dijatuhkan. Rasanya begitu iri ketika melihat Ibuku mengeluarkan kekuatan mengerikan itu.
Pertarungan selesai dengan kematian ratu loreley. Rasanya seperti hanya pemanasan. Bahkan berkeringat pun tidak. Profesor membunuh makhluk itu terlalu cepat. Kami diam sejenak seusai pertarungan. Berpikir tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Getaran yang timbul akibat serangan Profesor pasti terasa hingga seluruh tempat ini. Mungkin kemungkinan terburuk yang kami sama, yaitu ledakan besar tadi akan memancing loreley yang tersebar diseluruh ruang bawah tanah ini.
Dari kejauhan aku mendengar suara langkah kaki berlari mendekat kearah kami. Aku pun menarik kembali pedang di punggungku untuk bersiap menerima tamu yang akan kami temui sebentar lagi. Suara langkah kaki yang pelan semakin jelas kami dengar dan semakin mendekat. Profesor pun berdiri dengan pedang yang masih berada di tangannya sejak tadi.
Ruangan ini menjadi sedikit pengap dan berbau amis darah yang masih saja keluar dari tubuh loreley sejak tadi.
“ Ibu... Apa tidak sebaiknya kita mundur dulu?”
“ Kalau bisa diselesaikan sekarang juga, kenapa kita harus menundanya, Liv?”
Aku tak bisa membantah perkataan itu, sebab aku juga paham betul ini adalah waktu yang paling tepat untuk menuntaskan misi. Para loreley yang tersebar diseluruh area ini pasti merasakan getaran akibat serangan, dan pastinya akan mulai berkumpul di sini.
Saat suara langkah kaki sudah sangat dekat dan hampir mencapai ujung lorong aku sudah sangat siap untuk langsung menerjang musuh. Rasanya sedikit kesal bila tak dapat bagian untuk bertarung dengan loreley. Terlambat sedikit saja pasti Profesor akan membantai mereka tanpa sisa. Tanpa peringatan, kugunakan shadow step untuk bergerak menuju pintu lorong asal suara langkah kaki.
Namun saat mengangkat pedang untuk menebas ternyata suara langkah kaki itu berasal dari orang-orang yang ku kenal. Kapten, Noel, dan Dean berhenti tetap di depan ku yang telah mengangkat pedang ke atas dan bermaksud untuk menebas. Untunglah kini aku sudah lebih bisa mengendalikan diri dan menghentikan tebasanku.
Sebelum mereka berbicara apa pun, tiba-tiba terdengar teriakan yang begitu nyaring dan saling sahut menyahut. Teriakan yang kami semua kenal. Para loreley sudah semakin mendekat ke arah kami.
“Kita harus lari dari sini! Jumlah mereka terlalu banyak!”
Mendengar perkataan kapten, aku segera menoleh ke arah profesor bermaksud melihat reaksi dan keputusan yang ia pilih. Karena dalam situasi genting seperti ini hanya profesorlah yang masih berkepala dingin dan mampu mengambil keputusan yang paling tepat.
Teriakan para loreley semakin nyaring dan dekat hingga membuat telingaku terasa sakit.
“ Noel, keluarkan semua jebakan yang kau miliki! Afhkar, bantu Noel memasang jebakan di pintu lorong lain! “
Mendengar perkataan Profesor aku baru menyadari kalau para loreley mendekat bukan hanya dari arah kapten dan yang lainnya datang. Namun juga dari lorong yang sebelumnya kami lewati untuk masuk keruangan ini.
“ Livy, Dean, Bersiap untuk bertarung! Setelah ledakan pertama kita akan memecah kembali tim dan menghadang para loreley itu sebisa mungkin! Afhkar, Noel, lebih cepat lagi!”
Kapten dan Noel memasang semua jebakan yang dimiliki. Dari yang mematikan, hingga yang tidak terlalu berbahaya. Aku mengerti mengapa mereka memasang semua jebakan yang mereka sentuh dengan tangan. Disituasi genting dan tak ada banyak waktu tersisa seperti ini, sudah tak ada kesempatan untuk memilih-milih jebakan mana yang paling efektif untuk loreley. Setelah selesai memasang jebakan, kapten dan Noel segera bergabung dengan kami di bagian tengah ruangan. Kami memasang kuda-kuda dengan senjata di masing-masing tangan kami. Kapten, Dean dan Noel menghadap ke arah lorong tempat mereka datang tadi. Sementara aku dan Profesor menghadap ke lorong lainnya dan siap untuk pertempuran akhir di tempat ini.
Tak lama kemudian ledakan terjadi. Ledakan itu berasal dari lorong tempat Noel dan yang lainnya datang. Aku dan Profesor sama sekali tidak menoleh ke arah mereka, karena aku percaya mereka mampu menghadapi para loreley yang datang. Tak berselang lama peledak dari arah yang aku dan Profesor awasi pun meledak.
“Livy, tahan mereka!”
Setelah mendengar ucapan Profesor aku langsung maju menerjang kawanan loreley yang lolos dari jebakan. Tiga loreley muncul dari kepulan asap hasil ledakan dan tanpa ragu kutebaskan pedangku ke leher loreley yang berada di posisi paling depan. Aku mendarat dan langsung melompat ke arah kanan untuk menyerang loreley yang terdekat dari jangkauanku. Kutusukan pedang di tangan kananku ke kepalanya sebelum makhluk itu menoleh ke arahku. Tanpa mendarat ke tanah, kupijakan kakiku ke tubuh loreley itu dan kugunakan sebagai tumpuan untuk melompat ke arah kiri.