
“Kakek tua, kita harus bicara!”
“Hoho. Baiklah.”
Ibu dan tua bangka itu masuk ke dalam gedung restauran yang tadi aku masuki. Sedangkan kami menunggu di luar.
“Kau harus lebih menahan emosimu, Livy!”
“Ia... Kau harus lebih sabar, Liv.”
“Aku sungguh kesal dengan tua bangka itu. Apa kalian lihat gerakan anehnya tadi?”
“Kakek itu terlalu cepat. Kami tak bisa mengikutinya.”
“Begitu pun aku. Seperti saat melawan Ibu. Gerakannya tak biasa dan seperti menghilang.”
“Wajar saja ia bisa hidup sendiri di tempat ini. Kau baik-baik saja, Liv?”
“Ya, Noel. Sudah lebih baik. Serangannya sangat keras seperti tertumbuk batu. Kalau tak memakai battle suit mungkin tulang rusukku sudah patah.”
“Kira-kira apa yang profesor bicarakan ya dengan kakek itu? Apa kapten pernah bertemu dengannya di Eden?”
“Tidak, Noel. Aku belum pernah melihatnya.”
Ibu cukup lama berbicara dengan tua bangka itu di dalam. Kami bertiga hanya mengawasi area sekitar dengan hati-hati. Setelah lama berbicara di dalam akhirnya Ibu keluar bersama kakek tua itu.
“Livy, kau akan berlatih di sini dengan kakek ini. Ingat... Hormati dia sebagai gurumu!”
“Hah... Ibu bercanda? Apa-apaan ini? Ibu mau meninggalkanku dengan kakek bau tanah ini?”
“Sudah ibu bilang jaga kata-katamu, Livy!”
“Aku bisa berlatih dari Ibu. Untuk apa meminta bantuan orang bau tanah itu? Yang benar saja, Bu!”
Aku sangat kesal hingga kepalaku serasa mau meledak.
“Kalau Ibumu tak memintaku, aku juga tak akan melatihmu, anak kecil!”
“Sudah, hentikan kalian! Afhkar, Noel, ayo kita ke pusat kota! Aku baru saja menemukan petunjuk.”
“Aku ikut, Bu!”
“Kau tetap di sini, Livy! Berlatihlah sampai kami kembali!”
“Tapi...”
Mereka pergi meninggalkanku berdua dengan kakek tua ini. Kini aku hanya terduduk menahan kesal. Aku masih tak mengerti kenapa Ibu tiba-tiba meninggalkanku di sini. Aku sadar kakek tua ini memang seorang ahli bela diri seperti ibu. Namun sejak awal saja Ibu pasti tahu kalau aku tak suka dengan kakek ini.
“Jadi... Apa yang akan kau ajarkan padaku kakek busuk?
“Bocah ini... Masih saja tak tahu sopan santun. Berdirilah!”
Aku pun berdiri menuruti perkataannya. Karena Ibu yang menyuruhku, aku tak bisa membantah. Kakek itu melihatku dengan teliti dari kepala sampai kaki.
“Apa-apaan kau kakek mesum, melihatku seperti itu!”
“Dasar anak ini... Aku menyelidiki struktur ototmu, bodoh!”
Aku sungguh tak tahan dengan kakek ini. Kalau bukan perintah Ibu, aku sudah menyerangnya sejak tadi karena kesal.
“Apa saja yang sudah kau pelajari, anak kecil?”
“Cara membunuh orang sepertimu.”
“Kau menghina Ibuku, tua bangka!”
“Baiklah... Aku minta maaf karena menghina Ibumu. Aku hanya kesal oleh pendahulunya. Sudahlah. Sekarang coba kau serang aku dengan pedangmu itu! Aku ingin lihat sejauh mana kemampuanmu.”
“Dengan senang hati!”
Aku langsung melesat maju ke arahnya. Begitu mendekatinya aku langsung melompat dan berputar, sambil menebasnya dengan kedua ancient sword di tanganku. Lagi-lagi kakek itu menghilang, dan muncul tepat di belakangku. Aku menendangnya dengan kaki kiri ke arah belakang. Namun ia menghilang lagi dan muncul di sampingku. Setelah kuperhatikan saat ia menghilang, kakek itu meninggalkan asap putih tipis sebagai jejak saat menghilang.
Gerakannya persis seperti Profesor. Saat Profesor menghilang dari pandangan pun ia meninggalkan asap. Yang berbeda, asap yang di tinggalkan Ibuku berwarna hitam. Pertanyaan muncul dalam pikiranku kali ini. Sebenarnya gerakan aneh apa itu? Apa itu sihir?
“Hei... Kakek, sebenarnya bagaimana caramu menghindari seranganku sejak tadi? Gerakan itu sama seperti gerakan Ibuku.”
“Hahaha... Kau penasaran, kan? Biar kuberi tahu... Semua pemilik pedang... Hmm...Kalian menyebut pedang itu apa ya tadi?”
“Ancient sword, dasar kakek pikun!”
“Ah... Ia. Sebenarnya semua pemilik ancient sword bisa melakukan gerakan itu. Kau pernah melihat jurus dan gerakan aneh Ibumu kan?”
“Ia... Gerakannya tak masuk akal.”
“Tentu saja kalian menganggapnya tak masuk akal. Gerakan dan jurusnya adalah warisan dari pengguna pedang yang sebelumnya.”
“Bukankah pedang itu hanya sebuah penemuan, bukan warisan?”
“Haha... Anak bodoh. Setelah waktunya tiba kau akan mengerti.”
“Bicara yang jelas, kakek tua!”
“Yah... Yang pasti jurus yang digunakan pengguna ancient sword selalu di wariskan ke pengguna selanjutnya. Sekarang ayo kita lanjutkan latihannya! Sebelum Ibumu kembali, kau harus lebih kuat!”
“Tunggu... Sejak tadi aku tak melihat kau menggunakan ancient sword.”
“Tak perlu khawatir. Aku hanya malas menggunakannya. Ayo lanjutkan!”
Kakek itu menghilang lagi, dan muncul tepat di depanku. Ia mengangkat kaki kanannya dan menendang lurus ke arahku. Aku yang langsung menyadari serangannya langsung menahan dengan kedua ancient sword yang ku silangkan tepat di depanku.
Walau masih terpental karena dorongan kuatnya, namun kali ini aku tak terluka. Aku kembali maju dan melompat ke depannya. Mengangkat kedua pedangku dan mendarat sambil menebasnya. Kakek tua itu menepis pedangku dari samping dengan tangan kosong dan membelokkan tebasanku ke arah kirinya. Lalu kakek itu menangkap pergelangan tanganku dan langsung melemparku ke arah restauran di belakangnya. Aku yang terlempar membentur kaca hingga pecah dan kini berada di dalam ruangan restauran itu.
“Hanya segini saja, anak kecil? Kau bilang mau membunuhku?”
Aku yang semakin kesal karena di remehkan kembali melesat ke arahnya dan menghunus pedangku ke arah depan. Namun ia lagi-lagi menepis seranganku. Aku mendarat dengan tangan kanan dan langsung memutar tubuhku dan menyerangnya dengan kaki. Sebelum kakiku menyentuhnya kakek itu menendang bagian perutku dengan sangat keras hingga aku terlempar.
Meski membencinya ku akui kemampuannya sungguh hebat. Tak ada satu serangan pun yang mengenainya. Padahal ia terlihat memiliki banyak sekali celah. Namun semua serangan berakhir dengan kegagalan. Walau begitu, aku masih belum mau menyerah. Aku melemparkan peledak kecil ke arahnya. Sebelum mengenainya peledak itu sudah aktif lebih dulu dan menghasilkan asap tebal yang menghalangi pandangan. Aku melompat dan kembali menebas dengan kedua pedangku dari atas ke bawah.
Seranganku meleset. Kakek itu sudah hilang. Ia muncul di belakangku dengan posisi membelakangi. Mencengram daguku dengan kedua tangannya, dan membantingku ke arah depan. Serangan itu sungguh cepat, dan aku baru menyadarinya ketika sudah tersungkur di atas beton yang keras.
“Hoho... Apakah sakit, anak kecil?”
“Dasar sial!”
Aku mulai kelelahan karena terus-menerus mendapat serangan kuat dari tua bangka itu. Padalah pertarungan belum lama berjalan, tapi staminaku menurun jauh. Jangankan melukainya, kakek itu saja sama sekali tak terlihat kelelahan.
“Bagaimana? Kau mau belajar jurusku sekarang?”
Sebenarnya aku tak sudi belajar darinya. Namun bila terus begini aku hanya akan terus menerus menjadi sasaran pukulannya.
“Huh... Baiklah. Aku kalah kali ini. Ajarkan gerakan anehmu dengan cepat kek! Bila sudah menguasainya, aku akan menghabisimu.”
“ Dasar anak tidak sopan. Begitu caramu meminta dari gurumu?”
“Jangan banyak bicara! Ajarkan saja!”