Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Monster Delapan Kaki



Aku masih terus menyusuri area kawah mendidih ini. Setelah pertarunganku melawan salamander, aku menjadi begitu waspada pada area sekitarku. Indra pengelihatan dan pendengaranku selalu meruncing mengawasi area ini. Bulan pun mulai muncul di area kawah mendidih. Menggantikan siang yang terik menjadi malam yang penuh kehangatan. Semburan air panas yang diterangi cahaya bulan memberikan harmoni tersendiri dalam perjalananku. Aku beristirahat di sebuah lubang kawah yang berdiameter sekitar 5 meter. Kawah ini sudah tidak aktif dan tidak terlalu dalam. Memiliki kedalaman hanya sekitar 1 meter, tempat ini sangat tepat untuk bersembunyi dan bisa mengawasi area sekitar.


Seandainya aku membawa telur, mungkin akan sangat menyenangkan bila merebus telur menggunakaan air panas di area ini. Tentunya aku tak bisa tidur di alam terbuka seperti ini sendirian. Aku harus tetap terjaga di alam yang buas ini. Hanya sekedar meluruskan kaki untuk menghilangkan rasa lelah.


Setelah beristirahat selama 2 jam aku melanjutkan perjalanan kembali. Cahaya bulan yang begitu terang menjadi teman bagiku untuk melewati kawah mendidih. Setelah memacu kuda besi selama beberapa jam, aku menemukkan area yang sangat unik. Area ini memiliki aroma belerang yang sangat menyengat. Banyak untaian-untaian benang berwarna kekuningan di area ini. Mereka saling bertumpuk serperti sebuah sarang laba-laba. Aku berpikir laba-laba apa yang membuat sarang sebesar ini?


Aku berhenti sebentar karena mendengar suara langkah seperti ada rombongan kuda besi yang sedang menuju ke arahku. Ada pergerakan dari arah kanan dan kiriku.


“Bukan. Ini bukan kuda besi.”


Sangat mengejutkan ketika aku melihat area sekitarku dengan lebih teliti. Ternyata banyak laba-laba berwarna hitam pekat dengan ukuran hampir sebesar manusia. Mereka hanya berjalan kesana kemari tanpa mempedulikan ku.


Aku harus bergegas! Sangat berbahaya kalau mereka menyadari keberadaanku. Aku memacu kendaraanku lebih cepat lagi. Namun dari belakang terdengar suara langkah yang besar dan banyak. Setelah menoleh kebelakang, ternyata ada laba-laba dengan ukuran sangat besar mengejarku.


“Astaga! Apa itu?”


Monster itu mengejar dengan 8 kaki yang bergerak dengan cepat. Masing-masing kakinya seperti pisau yang bisa menancap di tanah. Ukuran badannya memang tak terlalu besar, hanya sedikit lebih besar dari tubuh orang dewasa. Namun kakinya sangat panjang. Laba-laba itu berlari ke arahku dengan sangat cepat. Bahkan hampir menyusul kuda besi yang kupacu dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba monster itu memuntahkan cairan berwarna kuning seperti belerang ke arahku. Aku dengan sigap menghindar ke arah kiri.


Ku putuskan untuk langsung berbelok tajam ke arah kiri. Sambil menghindari semburan air panas yang ku lewati, aku masih harus terus waspada karena laba-laba itu terus mengejarku. Jarak antara aku dan monster itu sedikit melebar. Mungkin laba-laba itu tak bisa berbelok dengan tajam. Namun aku harus terus menghindari cairan aneh berwarna kuning yang terus menerus monster itu lontarkan ke arahku. Setelah kuperhatikan, sepertinya cairan itu mengeluarkan asap.


Kuputuskan untuk menghentikan pergerakan monster ini. Aku memutar arah dan maju langsung menerjang ke arahnya. Ku keluarkan pedang di punggung tangan kananku. Monster ini masih saja mengeluarkan cairan aneh untuk menyerang. Aku harus terus menghindar saat menerjang ke arahnya. Aku mengarahkan kuda besiku sedikit ke kiri saat posisiku sudah mulai dekat dengannya. Saat sudah mencapai jangkauan, kutebas salah satu kakinya dengan sekuat tenaga. Bukannya terpotong, justru aku mendengar suara seperti besi yang saling beradu. Tanganku pun tersentak ke belakang dan aku melewati laba-laba aneh itu.


“Sangat keras. Bahkan tak bisa dipotong.”


Ketika sudah mencapai jangkauan serangan, laba-laba itu langsung mengangkat kaki kiri depannya dan menyerang. Aku menangkis serangan itu dengan tangan kanan, dan terjadi gesekan antara kakinya dengan pedangku yang menimbulkan percikan bunga api. Setelah itu kakinya menancap di tanah dengan sangat keras. Karena terkejut, aku mundur beberapa langkah. Tak ku sangka kakinya benar-benar seperti besi. Laba-laba ini memiliki 3 sendi di setiap kakinya. Dari sendi terakhir hingga bagian paling bawah dari kaki itulah yang sepertinya paling keras.


Kini aku bersiap untuk menyerang lagi, dengan meningcar persendian dari laba-laba raksasa itu. Selagi kakinya masih menancap di tanah, aku maju dan berusaha memotong sendi paling bawah dengan tangan kiri. Serangan itu menimbulkan luka, namun tak terlalu parah. Pedangku masih belum bisa memotongnya. Aku pun melompat dan menaiki kakinya untuk menjangkau sendi yang ada di tengah. Sebelum pedangku mengenainya, lagi-lagi monster itu memuntahkan cairan kuning yang aneh. Aku segera menghindar dengan melompat ke kiri dan mendarat di kaki kanannya yang paling depan.


Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memotong sendi kakinya yang berada di tengah. Walaupun harus menebas dengan sekuat tenaga, namun akhirnya aku berhasil memotong kakinya. Darah berwarna kuning langsung keluar dengan deras dari kaki yang terpotong itu. Aku langsung melompat mundur dan memperhatikan situasi.


“Darahnya sangat mirip dengan cairan yang dimuntahkannya sejak tadi.”


Aku sungguh tak ingin sampai terkena darah itu, karena darahnya mengeluarkan asap. Aku rasa akan berbahaya bila sampai terkena. Kini aku sudah memahami kelemahannya. Tapi tetap saja aku tak boleh sembarangan bergerak. Darah dan cairan yang dimuntahkannya bisa saja seperti zat asam yang mungkin akan membuatku meleleh bila terkena.


Aku harus mendekatinya dengan cepat selagi dia meggelepar kesakitan. Aku langsung berlari ke arah kaki kanannya yang kedua. Namun lagi-lagi monster itu menyerang menggunakan kakinya yang setajam tombak. Aku mengambil langkah zig-zag untuk menghindari beberapa serangannya hingga sampai di bagian bawah tubuh monster ini. Segera kupotong kaki keduanya, lalu kulanjutkan memotong kaki kanannya yang ketiga. Aku langsung bergerak menjauh. Kini monster itu sudah tak bisa berdiri lagi. Ia hanya mengeluarkan cairan kuning dari bekas potongan di kakinya, juga memuntahkannya ke segala arah. Aku hanya diam menunggu laba-laba itu mati atau setidaknya menjadi tenang. Aku benar-benar tidak mau terkena cairan yang masih saja menyembur keluar itu.


Tentu saja aku harus memastikan sampai laba-laba raksasa itu benar-benar mati. Agar tidak ada lagi penjelajah tak beruntung yang bertemu dengan monster yang bisa memuntahkan cairan mirip asam ini. Setelah laba-laba itu terlihat sedikit tenang, dan darah berwarna kuning berhenti menyembur dari kakinya, aku mendekati laba-laba itu dan melompat ke atasnya.


“Wah! Matamu ada banyak ya.”


Aku menusuk kepalanya hingga tembus dan turun dari sana. Berjalan ke arah kuda besiku dengan tenang, dan berlalu pergi. Monster laba-laba itu bukanlah lawan yang sulit bila mampu menghindari cairan kuning yang dimuntahkannya. Yang paling penting adalah menganalisa kelemahan monster saat awal pertarungan.


“Aku harus bergegas. Terlalu banyak waktu yang terbuang.”