
Di gugusan karang yang terdapat di sini memiliki lubang-lubang kecil seperti sesuatu bersarang di dalamnya. Aku sungguh ingin melihat ke dalam lubang itu karena penasaran. Namun harus ku urungkan karena harus mengikuti dragonoid yang sejak kemarin menuntun kami entah kemana. Semakin dalam menyusuri hutan karang, semakin sempit jalan yang kami lalui. Karang semakin banyak di sisi kanan dan kiri membentuk sebuah dinding alami.
Di beberapa bagian terdapat karang berbagai warna menghiasi dinding alami ini. Terkadang kulihat ada yang berwarna merah terang berbentuk setengah lingkarang, dan terkadang ada juga yang berwarna biru gelap berbentuk bulat. Yang jelas alam telah melukiskan indahnya di area ini. Tak ada monster yang kami temui semenjak masuk ke area hutan karang. Kemungkinan para monster berada di area yang berseberangan dengan kami, atau setidaknya di area yang sedikit ke tengah. Hari mulai sore saat kami sampai di tempat yang begitu unik menurutku.
Ada dua karang yang mencuat dari dalam pasir dari kanan dan kiri membentuk sebuah gerbang alami. Bagian ujung karang itu begitu runcing dan saling menyilang satu sama lain. Kami memutuskan untuk beristirahat di bawah karang ini. Semakin gelap, tempat ini semakin terlihat indah. Beberapa karang terlihat bercahaya wanra-warni seperti lampu tidur. Meski matahari hampir sepenuhnya tenggelam namun cahaya di tempat ini mampu menggantikannya walau sedikit remang.
Semakin malam area ini semakin menunjukan kebuasannya. Lolongan serigala terdengar dari kejauhan menandakan mereka menemukan target buruan. Serigala bertanduk memang menyukai tempat yang memiliki tebing-tebing tinggi seperti ini. Jadi aku sama sekali tak terkejut bila ada kawanan mereka di area ini. Walau begitu aku tak berharap bertemu mereka saat ini karena aku sudah kelelahan. Panas yang sejak siang tadi menerpaku mulai membuat kepalaku terasa pusing. Kini aku benar-benar merindukan area dingin di kota terbengkalai bukit duri.
“Kapten, aku akan tidur duluan... Kepalaku sangat sakit akibat panas seharian.”
“Baiklah... Kau juga lebih baik tidur dengan Livy, Noel... Agar saat pergantian jaga kalian bisa berdua.”
“Baik, kapten....”
Akhirnya aku dan Noel langsung terlelap karena terlalu lelah.setelah melewati tengah malam kami terbangun dan menggantikan kapten untuk berjaga. Malam ini begitu tenang dan hanya terdengar suara lolongan dari kejauhan. Angin malam pun hanya berhembus pelan dan tak meninggalkan suara. Remang cahaya malam ini begitu menenangkan hingga aku dihinggapi rasa kantuk lagi.
“Liv, kau masing mengantuk?”
“ah... Aku hanya terhanyut dalam suasana sepi ini, Noel.”
Tiba-tiba kami mendengar suara senandung lembut yang begitu menghanyutkan. Senandung penuh kesedihan itu terbawa angin pelan menuju ke arah kami. Senandung itu begitu menyedihkan dan serasa menyayat hati.
“Liv, kau dengar nyanyian itu?”
“Ya... Menyedihkan... Aku merasakannya.”
“suaranya terbawa angin... Kemungkinan dari arah kanan, Liv.”
Pendengaran Noel sungguh luar biasa. Aku pun tak tahu darimana asal senandung yang menyayat hati ini. Senandung itu masih juga belum berhenti walau sudah beberapa menit. Justru semakin terdengar menyedihkan hingga aku nyaris menangis mendengarnya.
Berkebalikan dengan kami, dragonoid itu seperti tidak mendengar apa pun dan tak bereaksi dengan nyanyian itu. Kapten pun masih tetap tertidur.
“Kau yakin tak apa-apa? Lalu kapten bagaimana?”
“Biarkan saja... Lagi pula ada kadal itu. Tak akan ada monster yang bisa lolos dari pengawasannya.”
“Baiklah... Ayo, Liv. Akan kucari asal suaranya....”
Kami berjalan melewati karang yang menyilang seperti gerbang dan masuk kedalam celah yang lebih kecil di kanan kami untuk mengikuti suara senandung lirih itu. Semakin jauh jalan yang kami lalui semakin menanjak, hingga kami sampai di bagian atas dinding karang yang begitu lebar. Di tepi dinding ada seseorang berdiri membelakangi kami. Itulah asal suara senandung lirih yang sangat menyedihkan. Kami mencoba mendekat dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Begitu mulai mendekat, cahaya bulan mulai menyinari kami dan asal suara senandung yang masih belum menyadari kehadiran kami itu.
Setelah dekat dan terlihat jelas ternyata sosok itu bukanlah manusia. Struktur tubuhnya memang persis seperti manusia. Namun memiliki ekor tebal yang bersisik dan terdapat sesuatu seperti sirip di ujung ekornya. Di punggung makhluk itu juga terdapat sirip lebih lebar, yang di topang oleh tulang yang keluar dari punggungnya. Sisik dan sirip itu berwarna kebiruan dan memantulkan cahaya bulan. Meski terlihat sangat indah, ini bukanlah pemandangan normal yang pantas kami nikmati. Noel mendekatan bibirnya ke telingaku dan berbisik.
“Liv... Itu apa? Bukan manusia kan?”
“Dragonoid? Sepertinya berbeda.” Kataku dengan suara yang sama pelannya.
Walau begitu suara senandungnya seakan memaksa kami untuk lebih mendekatinya. Sangat sedih dan kami terus menerus menahan tangis, hingga saat itu aku benar-benar lupa kalau yang kami lihat bukanlah manusia. Aku dan Noel mendekat tanpa bersiap sama sekali. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak kami sambil berkata.
“Loreley... Loreley... Loreley...!” dragonoid berkata seperti itu sambil menunjuk ke arah makhluk yang masih bersenandung dan membelakangi kami itu.
Aku mengulangi ucapan dragonoid itu.
“Loreley?” sambil menunjuk ke arah makhluk itu.
Dragonoid itu pun menganggukan kepalanya. Kami paham maksud kadal aneh itu. Makhluk yang bersenandung lirih itu bernama loreley. Dalam suatu mitos loreley adalah makhluk yang sering memikat para pelayar dengan nyanyian sendu sebelum menenggelamkan kapalnya. Profesor juga pernah bercerita tentangnya kepadaku. Banyak yang menyebut bahwa Loreley ini adalah sang putri duyung dalam mitos, atau makhluk lain yang memang mirip.
Penampilannya memang seperti setengah manusia, dan setengah ikan. Ternyata makhluk mitos itu memang benar adanya. Aku pun masih tak percaya dengan apa yang kulihat di depanku. Dikatakan bahwa loreley sangat cantik hingga bisa memikat pelayar untuk mengikutinya. Namun sepertinya ada kesalahan di bagian itu. Makhluk itu tiba-tiba berhenti bersenandung saat kami semakin dekat. Ia memutar kepalanya ke arah kami tanpa menggerakan tubuhnya yang masih membelakangi kami.
Senandung lembut dan lirih yang sejak tadi kami dengar berubah menjadi teriakan keras yang memecah keheningan malam. Teriakan itu melengking tinggi hingga membuat telingaku sakit dan memaksa kami menutup telinga. Saat itu pun kami melihat jelas sosoknya yang diterangi cahaya bulan. Memiliki mata besar berwarna hitam pekat, ada sepasang tanduk kecil di keningnya. Sepertinya lebih mirip tentakel karena itu bisa bergerak dengan elastis. Memiliki gigi yang besar dan terlihat runcing, dan tak memiliki hidung. Hanya sepasang lubang di posisi hidungnya. Lidahnya panjang hingga keluar dan menjulur hampir sedada.
Di bagian rusuknya terdapat lubang-lubang memanjang yang tertata seperti insang. Walau teriakannya membuat kami ketakutan aku masih jelas melihat sosok aneh itu. Kakinya seperti manusia namun terlihat kurus dan panjang. Makhluk ini setinggi dragonoid. Sekiter 2 meter dan berambut panjang namun kusut dan berantakan. Lagi-lagi muncul makhluk aneh yang menyerupai manusia. Aku semakin yakin kalau sudah waktunya manusia lama digantikan dengan manusia baru seperti mereka.