Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Kawanan Anjing Pemburu



Kami bersiap dengan cepat dan langsung bergerak. Sesuai formasi aku di posisi paling depan, kapten persis di belakangku, Dean dan Noel di posisi paling belakang. Kami akan terus memacu kuda besi hingga sore hari menjelang. Area tanah terlupakan memang begitu luas jadi mustahil melewatinya dalam satu hari. Terlebih lagi kami harus beristirahat. Matahari terasa begitu terik hari ini. Tanpa adanya pepohonan di sekitar, kurasa kulitku akan berubah menjadi sedikit coklat saat pulang nanti.


“Kapten, kira-kira kapan kita keluar dari area ini?”


“mungkin besok malam bila dengan kecepatan seperti ini.”


“Aku tak tahan dengan udara panas.”


“Kau harus bersabar. Area yang akan kita lewati semua beriklim tropis, Livy.”


Mendengarnya saja sudah membuatku semakin malas bergerak. Aku rindu gunung salju di kota terbengkalai. Saat aku berangkat menjalankan misi, Ibu belum juga kembali dari kota itu. Semoga ia baik-baik saja di sana.


Matahari kini tepat berada di atas kepala kami. Panas di tempat ini membuatku merasa semakin kelelahan. Aku heran dengan kapten kami. Selama menjelajah bersamanya jarang sekali aku melihatnya kelelahan. Ia selalu saja dalam kondisi prima. Berbeda denganku dan Noel yang sering kelelahan baik itu karena pertarungan atau karena iklim di area yang kami lewati. Bila dilihat dari stamina mungkin kapten sebanding dengan Profesor.


Saat menjelang sore hari kami mendengar suara lolongan anjing pemburu dari kejauhan. Tak berapa lama kemudian terdengar suara derapan langkah gerombolan anjing pemburu yang mengejar kami.


“Dari arah kanan dan kiri!”


Mendengar kata-kata itu dari kapten kami langsung mengerti. Gerombolan anjing pemburu yang mengejar kami mulai mendekat dari arah kanan dan kiri kami. Seolah ingin mengepung dan mengarahkan kami ke area dengan batuan yang cukup besar. Kami masih terus memacu kuda besi dan berusaha meloloskan diri dari kepungan monster dalam jumlah besar itu sampai saat aku mendengar teriakan dari Noel.


“Dean!!!”


Ternyata Dean terjatuh dari kuda besinya karena terkaman anjing pemburu dari arah kiri yang langsung menjatuhkannya ke atas tanah. Dean yang berguling di tanah karena jatuh dengan kecepatan tinggi berhasil terlepas dari cengkraman monster itu. Kami langsung menghentikan kuda besi dan turun, lalu menarik senjata kami masing-masing. Kami langsung berlari ke arah Dean yang terjatuh tak jauh dari posisi kami. Mencoba mendahului gerombolan anjing pemburu yang siap mencabik anggota tim kami.


Noel langsung menembakan beberapa anak panah untuk menghentikan anjing pemburu yang sudah sangat dekat dari Dean yang kini tak sadarkan diri di atas tanah. Kapten langsung mengambil posisi di dekat Dean untuk melindunginya sambil memegang ancient sword besarnya di kedua tangan. Mustahil kami bisa meloloskan diri dengan Dean yang masih belum sadar. Cara satu-satunya adalah membereskan kawanan anjing pemburu ini.


Noel mengambil peledak di tas dan melemparkannya ke posisi yang sedikit jauh dari kapten dan Dean untuk menakuti anjing pemburu agar tidak mendekat. Peledak itu berkekuatan sangat besar hingga membuat telingaku sedikit berdengung dan tanah sedikit bergetar. Namun trik Noel seperti sudah terbaca oleh kawanan monster buas itu. Mereka sama sekali tak takut dan tetap mendekat sambil menggonggong ke arah kapten dan Dean.


Kapten terus mengibaskan pedangnya agar para monster itu tak mendekat. Karena situasi sudah sangat darurat aku memutuskan untuk bergerak.


“seni bela diri naga... Tarian dewa naga.


Aku mengincar anjing pemburu yang posisinya paling dekat dengan kapten dan Dean. Setelah menebas 5 anjing pemburu aku berhenti dan berkata pada kapten.


“cepat, kapten! Bawa pergi Dean!”


Kapten langsung merespon ucapanku dan mengangkat Dean untuk menjauh. Aku melesat ke arah depan dan menusuk kepala salah satu monster itu dengan tangan kanan, lalu menendangnya untuk mencabut pedangku.


Monster itu merubah target menjadi ke arahku.


Salah satu anjing pemburu yang ada di kiri melompat ke arahku sambil membuka mulut. Aku memutar tubuhku dan menusuk kepala monster itu dari bawah ke atas hingga tembus. Langsung kutarik pedangku dan menebas satu persatu anjing pemburu yang semakin mendekat. Semakin lama anjing pemburu terus berdatangan hingga aku kesulitan untuk menanganinya.


Untungnya Noel membantuku dari belakang. Ia menembakan anak panahnya dan melempar beberapa peledak untuk mengurangi jumlah anjing pemburu. Aku masih terus menebas monster itu satu persatu. Mayat anjing pemburu pun semakin banyak dan aku mundur sedikit demi sedikit karena serangan monster itu tak kunjung usai. Mereka berdatangan terus menerus hingga aku mulai kelelahan.


“Noel, lemparkan peledak terkuat yang kau punya ke arahku... Cepat!”


Aku mundur dengan shadow step saat peledak yang dilempar Noel nyaris mengenaiku. Peledak itu memang yang terkuat yang ia punya. Bahkan terlalu kuat sampai aku terlempar akibat gelombang kejut dari ledakannya.


Banyak kawanan anjing pemburu yang mati karena ledakan. Bahkan beberapa potongan daging yang hancur dan darah berjatuhan seperti hujan. Sisa dari para monster itu akhirnya mundur dan menjauh dari kami. Sementara itu telingaku berdengung hebat akibat ledakan.


“Noel... Kau mau membunuhku ya?”


“Bukan begitu, Liv... Kau kan bilang peledak terkuat.”


“Kau sudah gila.. hah... Untuk apa kau bawa peledak sebesar itu? Aku nyaris mati karena ledakannya.”


“Maaf, Liv... Aku juga terkejut dengan daya ledaknya.”


Setidaknya kami selamat kali ini. Walau telingaku masih saja berdengung. Dean akhirnya sadar saat kami sudah berkumpul di dekatnya. Tentu saja dia terkejut melihat pemandangan di depannya. Entah ada berapa mayat anjing pemburu yang tergeletak dan hancur berantakan. Aku sendiri malas menghitungnya.


“Kapten, apa-apaan ini?”


“Itu ulah para seniormu, Dean... Kalau kau melihat pertarungannya kau pasti tak percaya dan merasa sedang bermimpi.”


“Sekarang pun aku seperti sedang bermimpi, kapten. Bagaimana bisa 2 orang menghabisi anjing pemburu sebanyak ini? Kalau senior Livy dan senior Noel tinggal di area ini anjing pemburu akan punah.”


“Ini karena kau Noel... Kau yang menciptakan pemandangan mengerikan ini.”


“kau kan juga sama saja, Liv!”


“Sudahlah kalian... Berhenti berdebat dan kita pergi dari sini! Tempat ini akan memancing monster lain karena begitu banyak mayat anjing pemburu.”


Kami melanjutkan perjalanan sampai langit menjadi gelap. Menjauh dari tumpukan mayat anjing pemburu dan bersiap untuk beristirahat. Hari ini benar-benar melelahkan untukku. Menghadapi siang hari yang begitu panas, dan gerombolan monster buas yang akan memakan apa pun yang dilihatnya, kurasa hari ini terlalu berlebihan untukku.


Aku sudah merasa bosan di area ini karena terus menerus diburu oleh monster dalam jumlah banyak. Setelah bertemu Ibu aku akan minta di ajarkan serangan untuk menghadapi banyak musuh sekaligus. Aku memang memiliki tarian dewa naga. Namun gerakan itu terbatas dan tak bisa digunakan terus menerus tanpa berhenti.


Mungkin serangan seperti dentuman ekor naga milik Ibuku akan jauh lebih efektif melawan musuh banyak dibanding gerakanku. Meski begitu aku sadar bahwa sepasang pedang pendek ini hanya dikhususkan untuk musuh berjumlah sedikit. Hingga aku bisa menggunakan sihir, aku harus puas dengan apa yang kumiliki sekarang.