
Kami menyusuri area hutan karang yang sempit. Menajamkan indra pendengaran kami untuk mencari suara senandung loreley yang sedang berburu. Yang kutahu senandung makhluk itu bisa memikat monster untuk mendekatinya. Benar-benar seperti dalam legenda putri duyung yang kutahu.
Masih belum terdengar suara apa pun sejak kami menelusuri lorong sempit ini. Bahkan saat ini terlalu sunyi menurutku. Tak terdengar apa pun di tempat ini. Kini kami menemui jalan yang bercabang. Jalan di kiriku sedikit menanjak berbanding terbalik dengan jalan di kananku yang terlihat menurun. Sepertinya jalan di kiriku mengarah ke bagian atas dinding karang.
“Liv, kau ambil jalan kanan dan aku akan memilih jalan kiri agar lebih mudah menembak.”
“Baiklah. Tapi kau harus terus mengikutiku dari atas, Noel! Jangan berpencar karena kita belum tahu bahaya area ini.”
“Tentu saja, Liv.”
Seperti rencana kami berpisah mengambil jalur yang berbeda. Namun Noel terus mengikutiku dari atas dinding karang di kiriku. Setelah hampir satu jam berjalan kami sampai di area yang sedikit unik. Barisan dinding karang di kanan dan kiriku melebar dan membuat lingkarang berukuran sekitar 5 meter. Kini aku dihadapkan dengan jalan yang banyak bercabang di depanku. Pasir di tengah lingkaran ini juga sepertinya terlihat sedikit aneh. Seperti membentuk pusaran tepat di tengah jalur yang kami lalui.
“Noel, apa ujung dari jalur-jalur yang bercabang ini terlihat dari atas?”
“Jalan di kanan lebih banyak yang buntu dan tertutup karang, Liv. Lebih baik ambil jalan kiri nomor 3 dari paling ujung.”
“Baiklah.”
Aku mengikuti perkataan Noel dengan memilih jalan yang ada di kiriku. Berjalan dengan hati-hati melewati pinggiran jalan yang membentuk lingkaran ini. Aku masih merasa aneh dengan pasir yang ada di tengah jalan ini. Seperti ada sesuatu di sana. Namun karena harus fokus dengan pencarian sarang loreley, aku tak terlalu memperdulikannya. Mungkin bila misi ini sudah selesai aku akan kembali lagi dan memeriksa tempat ini.
“Liv....”
“Ia... Aku juga dengar. Tunjukan arahnya, Noel!”
“Ikuti saja jalurnya. Asal suara ada di ujung jalur!”
Aku segera menarik ancient weapon dari punggungku. Kami langsung bergerak cepat menuju asal suara yang diberi tahu oleh Noel. Tak salah lagi senandung ini adalah loreley.
“Liv, jangan menyerang! Kita hanya mengikutinya ke sarang....”
“Ia....”
Aku hampir saja lupa tujuan utama kami. Kami bukan ingin membunuh loreley. Namun hanya mencari bukti siapa pelaku yang menyebabkan hilangnya para hunter yang menjalani misi di area ini.
“Liv, naiklah ke atas! Monster itu ada di bawah.”
Aku memanfaatkan celah dinding karang yang sempit dan beberapa lubang untuk naik dan bergabung dengan Noel. Setelah melihat target kami bertiga hanya mengawasi dari atas dan tak bergerak. Loreley itu terus bersenandung dengan indahnya di tengah gelapnya malam sambil ditemani sinar bulan. Seperti sebuah konser musikal namun dibawakan oleh makhluk aneh. Kami menunggu pergerakan loreley dan akan mengikutinya. Sementara itu akan kunikmati dulu senandungnya yang terdengar sedih.
Tak lama setelah kami mengamati loreley itu tiba-tiba ada sesuatu bergerak mendekatinya. Aku dan Noel tak berbicara sedikit pun sejak mengamati makhluk aneh yang terus bersenandung itu. Sambil berbisik Noel berbicara padaku.
“itu... Anak serigala tanduk.”
“Ia... Aku yakin anak monster itu tidak hanya ingin menikmati konser musikal seperti kita sekarang.”
Ada yang sedikit aneh dari pergerakan anak serigala bertanduk itu. Ia hanya diam dan tetap berjalan ke arah loreley yang masih tetap bersenandung sejak tadi. Semakin dekat, dan dekat hingga serigala itu tepat berada di depan loreley.
Loreley mulai bergerak. Sambil tetap bersenandung ia mendekatkan tangannya ke tubuh anak serigala bertantuk dengan pelan, lalu menusukan kuku di kedua tangannya ke arah yang berlawanan hingga kuku itu menembus tubuh anak serigala. Serigala itu pun mati seketika tanpa melawan sedikit pun.
“Kurasa bukan, Noel. Bila sihir pasti dragonoid juga terpengaruh.”
“Lalu itu apa?kita juga pernah mendekatinya seperti serigala itu saat pertama kali mendengar senandungnya kan....”
Aku mengerti maksud perkataan Noel. Sepertinya itu semacam hipnotis namun hanya pada target tertentu yang diincar oleh loreley. Walau belum tahu pasti aku akan menganggapnya seperti itu untuk sekarang ini. Sepertinya memang harus menangkap loreley untuk diteliti lebih lanjut di Eden agar kami bisa mengetahuinya.
Loreley itu langsung mencabik dan memakan anak serigala yang baru saja ia dapatkan. Kami harus tetap menunggu hingga makhluk itu bergerak dan menuntun kami ke sarangnya. Setelah bosan mengamati akhirnya makhluk itu selesai makan dan mulai bergerak. Loreley itu bergerak seperti tak punya tujuan. Terkadang ia naik ke atas dinding karang, terkadang turun kembali, dan hanya terduduk diam di atas karang. Perilakunya Seperti manusia yang berusaha menghabiskan waktu dengan hanya berkeliling.
“Benar-benar seperti manusia ya, Liv.”
“Kau juga menyadarinya, ya?”
“Ia... Aku pun pernah seperti itu. Menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan tanpa ada tujuan khusus karena tak ada yang bisa dilakukan.”
“Yah... Siapa pun pasti pernah seperti itu.”
Kami terus menerus mengikuti loreley itu dengan sabar. Walau rasanya jadi mengantuk karena terlalu bosan, kami harus tetap waspada dan tak boleh membiarkan makhluk itu lepas dari pandangan kami. Setelah beberapa jam mengikuti makhluk itu sepertinya hari sudah mulai pagi. Meski begitu masih belum ada tanda-tanda makhluk itu akan kembali ke sarangnya. Tepat setelah matahari terlihat dari kejauhan, loreley itu mulai bergerak. Ia pergi ke arah tempat kami datang tadi. Masuk ke celah antara dinding karang dan berjalan melalui lorong sempit tempat kami pertama kali bertemu dengannya. Kami mengikuti loreley itu dari jarak yang sedikit jauh karena tak ada tempat bersembunyi di posisi kami sekarang ini. Pengawasan kami terlepas sesaat karena jalan yang berbelok. Setelah melalui jalan itu kami tiba di tempat yang terdapat pusaran pasir aneh di tengahnya.
“Liv, semalam kita melewati tempat ini, kan?”
“Ia, Noel... Aku masih ingat pusaran pasir di bagian tengah itu.”
“Lalu kemana loreley itu?”
Kami kebingungan karena kehilangan jejaknya. Noel melihat jejak kaki loreley di atas pasir menghilang di tengah area yang membentuk lingkaran itu.
“Kita kehilangan jejaknya, Liv. Hilang di tengah pusaran pasir itu.”
“Sial... Kemungkinan dia sadar kalau sedang di ikuti. Atau...”
“Atau apa, Liv?”
“Loreley itu masuk ke dalam pasir?”
Kemungkinan bentuk pusaran ini adalah jalan menuju sarang mereka. Aku tak bisa menemukan kemungkinan lain karena loreley menghilang begitu saja.
“Lebih baik kita kembali dulu dan berdiskusi dengan kapten... Paling tidak kita tahu tempat terakhir loreley itu menghilang.”
“Kau tak langsung masuk ke dalam pasir itu?tak seperti kau saja, Liv. Biasanya kau akan langsung menerjang bila tahu lokasi musuh.”
“Kita mengikutinya bukan untuk membantai mereka, Noel... Lagi pula aku sedikit ragu untuk masuk ke dalam sana.”
“Baiklah... Keputusanmu sudah tepat, Liv.”