Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Pembasmian Loreley



Esok harinya saat matahari sudah mulai tinggi kami memecah tim dan akan segera berangkat. Tim pertama adalah kapten, Noel, dan Dean. Lalu team kedua adalah aku berdua dengan Profesor. Kami berpisah di desa karena jalan yang kami ambil memang berlawanan. Sebelum pergi Noel juga memberiku beberapa peledak untuk berjaga-jaga. Semoga kami baik-baik saja dan semua berjalan dengan lancar.


Kini aku dan Profesor sudah sampai di pintu masuk sarang loreley. Kembali masuk ke sini membuatku teringat saat menemukan tumpukan bangkai di dalamnya. Mengingatnya saja sudah membuatku mual. Setidaknya kami tahu harus ke arah mana setelah masuk tempat ini.


Aku dan Profesor masuk secara bergiliran dan siap menjelajahi sarang ini hingga ke sudut terkecil pun.


“Ini sisa peninggalan manusia, kan?”


“Aku juga berpikir begitu, Bu. Sepertinya tempat ini ditinggalkan begitu saja sebelum digunakan.”


“Apa kemarin kau tak menemukan barang apapun, Livy?”


“Sama sekali tidak. Hanya tumpukan bangkai.”


Profesor melihat-lihat sejenak ruangan tempat kami turun dari pintu masuk.


“Kenapa besi itu berwarna biru, Bu? Sepertinya bukan cat.”


“Kau betul, Livy. Ini warna alami dan bukan cat. Harus di teliti lebih jauh agar kita tahu. Mungkin lain kali... Yang lebih penting sekarang adalah menghabisi mereka lebih dulu.”


Ibu berkata seperti itu sambil mencabut pedang dari punggungnya. 2 loreley datang mendekat dari lorong yang mengarah ke ruangan penuh bangkai sisa makanan mereka. Profesor langsung melesat ke arah salah satu loreley dan menghunus pedang ke arah kepalanya dari arah sedikit ke bawah. Pedangnya langsung menembus dari mulut hingga ke atas kepala loreley itu. Ia langsung menarik lagi pedangnya dengan cepat, berputar dan menebas kepala loreley lain hingga putus dengan tangan kanannya.


Pertarungan berakhir sebelum aku mulai bergerak. Bahkan aku sama sekali belum mencabut pedang dari punggungku. Gerakan profesor terlalu cepat hingga membuatku bingung dan tak bisa bereaksi. Padahal ia tak menggunakan shadow step.


“Sebaiknya kita langsung bergerak, Livy.”


“Baik, Bu.”


Kami langsung bergerak memasuki lorong yang berseberangan dari arah datangnya loreley tadi. Lorong ini juga terbuat dari material seperti besi berwarna kebiruan sama seperti ruangan sebelumnya. Aku dan profesor berjalan dengan pedang di tangan kami masing-masing dan terus waspada. Jalan yang kami lalui sedikit menurun dan berbelok ke arah kiri. Kami mempercepat langkah dan sampai di ujung lorong. Di tempat ini jalan terbagi menjadi 2 arah ke kanan dan kiri.


“Baiklah. Yang mana pun tak jadi masalah karena tempat ini sama sekali belum dijelajahi.”


Apa yang Ibu katakan memang benar. Jalan mana pun yang kami ambil tak akan ada perbedaan, karena semua area tempat ini akan kami telusuri nantinya. Kami melanjutkan penelusuran kami dengan cepat. Tak lama kemudian terlihat cahaya berwarna hijau di ujung lorong. Aku dan Profesor yang penasaran tanpa sadar mempercepat langkah kami. Sebelum masuk ke ruangan bercahaya hijau kami lebih dulu memastikan kondisi di sana. Kami sedikit mengintip dari jalan masuk tempat kami berdiri saat ini.


Ternyata cahaya hijau itu berasal dari karang bercahaya yang biasa terlihat saat malam hari di permukaan hutan karang. Karang bercahaya itu berbentuk seperti jamur dengan ukuran kecil namun keras. Selain karang bercahaya, ada juga karang yang lebih besar, yang memiliki bagian atas yang rata setinggi pinggang. Terdapat beberapa batu karang seperti itu di sini, dan beberapa loreley yang tidur dengan tenang di atasnya. Karang bercahaya diletakan mengelilingi batu karang yang menjadi tempat mereka tidur.


Sepertinya pendengaran loreley tak terlalu bagus. Walau sedang tertidur biasanya monster yang memiliki pendengaran baik akan langsung terbangun. Apa lagi sejak tadi kami tak menyembunyikan langkah kaki kami. Namun saat sampai di sini mereka masih saja tidur dengan tenangnya. Kami tak melewatkan kesempatan emas ini. Aku segera memenggal kepala 2 loreley yang ada di sebelah kiriku dengan cepat. Profesor pun membunuh 3 loreley yang ada di kanan tanpa menimbulkan suara apa pun.


Kami memang harus membunuh secara cepat agar mereka tak memanggil loreley lainnya. Walau harus membasmi semua loreley yang ada di tempat ini, namun kami tak mau keberadaan kami diketahui. Alasannya adalah karena aku pun tak tahu jumlah loreley yang ada di bawah tanah ini. Bila jumlah mereka terlalu banyak dan mengepung kami, itu sama saja dengan mengantarkan nyawa ke tempat aneh ini.


Aku juga merasa sangat beruntung karena bergerak di siang hari seperti ini. Kami bisa membunuh para loreley tanpa perlawanan seperti ini merupakan suatu keajaiban. Aku masih teringat saat pertama kali bertemu loreley di atas bukit karang. Berawal dari senandung sendu yang menggetarkan hati, hingga teriakan serta serangan yang mengerikan.


Kami melanjutkan penjelajahan setelah membunuh para loreley yang sedang terlelap itu. Sepertinya aku mulai mengerti struktur ruangan ini. Seperti retuntuhan kuil tempat Noel menemukan ancient weaponnya, area ini juga memiliki banyak kamar yang dihubungkan dengan lorong-lorong dengan panjang dan ukuran berbeda. Meski tak terlalu jelas terlihat, lorong yang kami lalui saat ini sedikit lebih besar dari lorong sebelumnya.


“Ibu, sepertinya tempat ini sangat luas.”


“Kau benar, Livy... Kurasa tempat ini juga terhubung dengan pintu masuk yang di lalui tim Afhkar.”


Aku juga sependapat dengan perkataan Profesor. Walau belum pernah melihat langsung jalan masuk yang ditemukan kapten, namun dari penjelasannya aku tahu bahwa jalan masuknya memiliki bentuk yang sama persis. Meski memecah tim seperti ini namun aku tak merasa khawatir dengan Noel. Aku yakin mereka akan baik-baik saja karena kami menyerang saat kondisi loreley sedang benar-benar lengah.


Aku dan Profesor lagi-lagi dihadapkan dengan jalan yang terbagi 2 ke arah kanan dan kiri. Kali ini aku memilih arah kanan, dan seperti tadi Profesor mengikuti pilihanku. Setelah berjalan beberapa lama kami sampai di ruangan lain. Ruangan kali ini tak ada apapun. Hanya seperti sebuah kamar kosong yang tak pernah digunakan pemiliknya. Bahkan tempat ini seperti tak pernah dilalui siapa pun. Aku dan Profesor memutuskan beristirahat sebentar di ruangan ini. Walau terasa cepat namun sesungguhnya kami sudah menyusuri sarang loreley ini selama beberapa jam.


Kami masih punya waktu sampai matahari tenggelam. Di saat itulah parah loreley terbangun dan akan mencari mangsa. Setidaknya kami harus membunuh mereka sebanyak mungkin sebelum matahari terbenam, agar saat malam hari jumlah mereka sudah banyak berkurang.


Bila sesuai rencana pembasmian loreley ini akan selesai hari ini. Namun karena luas area sarang ini, aku menjadi ragu akan selesai hari ini. Setidaknya kami butuh 2 sampai 3 hari untuk melakukan pembasmian di sarang yang masih belum diketahui di mana ujungnya ini. Kami yang sedang beristirahat langsung berdiri dan mengangkat pedang karena ada suara langkah kaki menuju ke arah kami.