Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Semut Lava



Ternyata tumpukan benang berwarna kuning tadi adalah area sarang laba-laba ini. Terlihat beberapa telur laba-laba di bawah tumpukan benang itu. Aku harus menandai lokasi ini di map ku. Area ini harus cepat dibersihkan. Karena jika tidak cepat di tangani, akan ada banyak laba-laba seperti yang aku lawan tadi di area ini.


Cahaya matahari pagi mulai terlihat dan barisan kawah yang semula memenuhi area yang kulewati sudah mulai berkurang. Semakin jauh aku memacu kuda besiku semakin sedikit kawah yang menyemburkan air panas terlihat. Aku ingin segera bertemu kapten dan Noel agar bisa beristirahat.


Semakin lama perjalanan, semakin panas juga suhu udara yang kurasakan. Area tujuan tim kami adalah area dengan banyak gunung berapi aktif. Lava selalu mengalir di area ini seperti sungai. Kini aku sampai di area akhir penjelajahan yang di tugaskan untuk tim kami ini. Aku menembakan suar ke arah langit untuk memberi tahu lokasiku pada kapten dan Noel. Aku akan menunggu selama 1 hari di area perbatasan ini. Memperhatikan area yang seperti neraka ini sambil menunggu anggota tim lain. Area ini selalu diselimuti oleh awan hitam yang membuat cahaya matahari tak dapat menembus sampai ke permukaan tanah. Tak ada tanaman di sini. Hanya ada batuan, dan lava panas yang selalu mengalir.


Di sini ada 5 gunung berapi aktif yang selalu mengalirkan lava terus menerus dan ada sangat banyak anak gunung berapi yang selalu meletus secara bergantian. Karena fenomena alam inilah banyak tercipta gua-gua baru di area ini. Seringkali gua itu menjadi sarang monster-monster kuat yang menempati area ini. Baru sekitar 2 jam aku ada disini, namun sudah terjadi 2 kali letusan anak gunung berapi.


Lagi-lagi aku harus bermalam di tempat terbuka. Tak ada pepohonan untuk bersembunyi. Aku tak memerlukan api unggun karena di area ini sudah sangat panas menurutku.


“Setelah selesai misi ini, aku ingin menjalankan misi di area yang penuh dengan es.”


Tanpa sengaja aku tertidur di atas lempengan batu besar. Batu ini terasa dingin dan sangat nyaman hingga membuatku terlelap. Malam telah kulalui begitu saja dan terasa cepat seperti baru beberapa menit. Pagi itu dari kejauhan ku lihat kapten dan Noel sedang memacu kudanya ke arahku.


“Bagaimana keadaanmu Liv?”


“Sudah jauh lebih baik, Noel.”


“Untunglah kau datang lebih cepat. Sudah siap melanjutkan misi?”


“Siap kapten!”


“Jadi, bagaimana misinya kapten?”


“Misi kali ini akan penuh dengan pertarungan. Kita harus mengamankan salah satu area di sini. Aku dan Noel sudah mengecek situasi area titik misi kita. Ada beberapa monster yang sedikit merepotkan. Kau sudah benar-benar pulih, Livy?”


“Jangan khawatir kapten. Aku siap bertarung.”


“Baguslah kalau begitu. Ada 3 gua yang jadi sarang para monster. Kita harus bersihkan ketiganya. Noel akan membuat jebakan di sekitar pintu masuk gua, Livy pancing para monster itu keluar, dan aku akan menghabisi monster yang lolos dari jebakan. Jangan lupa langsung support bila monster yang lolos jebakan terlalu banyak!”


“Jadi kapan kita akan bergerak?”


Aku dan Noel segera menyiapkan makanan untuk mengisi ulang tenaga kami yang sudah mulai habis karena kelelahan dan panas yang tak ada hentinya ini. Setelah mengisi ulang tenaga, kami bersiap untuk pergi ke area yang di tentukan. Butuh waktu sekitar 6 jam sampai kesana bila tak ada masalah. Kami membentuk formasi seperti di bukit duri. Dengan Noel di posisi paling depan, Aku di tengah, dan kapten Afhkar di posisi paling belakang.


Beberapa jam kami memacu kuda besi kami, sama sekali tak ada hambatan. Tak terlihat satu pun monster di area ini. Hanya panas yang semakin menggangguku, karena kami mulai mendekati salah satu gunung berapi besar yang ada di area ini. Tanah di area ini bahkan telah tertutup abu vulkanik dan lava yang mengering. Nyaris tak ada tumbuhan di area luas ini. Kami akan mengitari gunung berapi karena lokasi yang kami tuju ada dibaliknya. Jaraknya cukup jauh, namun karena medan ini mudah dilewati jadi perjalanan kami semakin cepat.


Noel tiba-tiba menghentikan perjalanan kami.


“Ada apa Noel?”


“Ada pergerakan di depan.”


“Semut lava!”


Semut bahkan sudah ada sejak zaman sebelum semua benua menjadi satu. Namun semut yang ada di area ini bukanlah binatang kecil yang hidup bergerombol dan selalu muncul setiap ada gula yang tumpah. Semut lava sama sekali berbeda dengan semut yang biasa kami lihat. Ukuran panjang semut ini lebih dari 50 cm. untuk struktur tubuh memang masih mirip dengan semut normal. Yang membedakan adalah ukurannya yang sangat besar. Semut ini juga mempunyai perut yang menggelembung seperti balon. Berwarna hampir transparan dan bercahaya karena di dalam perutnya tersimpan lava panas.


Semut ini juga mempunyai kulit luar keras yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali perutnya yang besar. Sulit untuk menembus kulit semut lava ini karena lebih mirip cangkang yang terbuat dari lava yang mengering. Bila menyerang perut dari semut ini, maka lava akan menyembur keluar. Tentunya hal itu sangat berbahaya untuk manusia. Cara termudah untuk membunuh semut lava adalah dengan serangan jarak jauh. Namun bila berhadapan dengan monster ini dalam jumlah banyak, tentu serangan yang menggunakan busur dan panah tidak akan efektif.


Untuk memecah kelompok semut ini juga sangatlah sulit. Kini jumlah semut lava yang ada dihadapan kami sangatlah banyak. Kemungkinan juga sarang mereka berada di area sekitar sini. Tanpa ragu Noel mengeluarkan busur serta panahnya. Ia menembak sebanyak mungkin untuk mengurangi jumlah semut lava yang mulai mendekat. Di kelompok kami hanya Noel yang memiliki kemampuan menyerang dari jarak jauh. Kami sedikit demi sedikit mundur Karena jumlah semut lava yang mendekat tak kunjung habis.


“ Noel, hentikan serangan dan kita berpencar! Livy naiklah ke tempat yang lebih tinggi di sebelah kanan! Noel tetap disini! Aku akan arah kiri.”


Sambil memberi perintah itu, kapten Afhkar memberikan kami beberapa peledak kecil.


“Kurangi jumlah mereka sebanyak mungkin lalu serang dari jarak dekat! Lempar peledak secara bergantian!”


Aku dan Noel mengerti perintah kapten. Ia ingin memecah kawanan semut lava. Walau sulit, bukan tidak mungkin untuk memecah kawanan dalam jumlah semut lava sebanyak ini. Noel menjadi yang pertama melempar peledak ke arah semut lava itu. Seperti yang kami harapkan dari penyerang jarak jauh kami. Noel melempar peledak dengan sangat baik dan membunuh banyak semut lava dalam sekali lempar.


Aku pun melempar satu peledak di tanganku dan membunuh beberapa semut Lava, serta memancing beberapa dari mereka untuk datang ke arah ku. Kapten pun langsung melempar juga peledaknya walaupun tidak mengenai satu pun semut lava. Kapten memang ahli bertarung jarak dekat. Namun tak kusangka akurasi lemparannya seburuk itu. Kami terus melempar beberapa peledak lain secara bergantian hingga kawanan itu terpecah menjadi tiga kelompok.


Aku segera mengeluarkan pedang dari kedua punggung tanganku dan bersiap melakukan pertarungan jarak dekat. Tak boleh ada kesalahan sekecil apa pun di pertarungan ini. Karena sekali terkena lava dari monster ini, tamat sudah riwayat kami.