Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
White Dragon



Kami mulai melihat cahaya di ujung lorong yang kami telusuri. Cahaya berwarna putih itu begitu terang hingga kami bisa melihatnya dari kejauhan. Tanpa sadar kami mempercepat langkah kami ke arah sumber cahaya. Semakin kami mendekat cahaya semakin terang. Kami hampir sampai di ujung lorong panjang ini.


Setelah menelusuri lorong panjang kami kembali di suguhkan dengan pemandangan unik yang membuat kami terdiam untuk sementara. Ruangan ini di penuhi dengan batu bercahaya. Di setiap sudut, di tengah, dan atap ruangan ini bercahaya terang. Dinding, dan atap ruangan ini juga di penuhi dengan ukiran gambar dan bahasa yang belum ku ketahui. Mirip seperti tempat dimana aku menemukan ancient sword.


“Kuil pemuja dewa naga.”


“Ibu tahu tempat ini?”


“aku hanya pernah datang ke tempat yang mirip seperti ini. Bila dilihat dari tulisan dan gambarnya, tempat ini di bangun di era yang sama seperti tempat yang pernah aku kunjungi.”


“Ibu mengerti bahasanya?”


“Tentu saja tidak.”


Di tengah ruangan ini pun terdapat patung naga di atas sebuah pilar. Kali ini patung naga yang ku lihat sedikit unik, dan tak terlalu besar. Patung naga itu memiliki 2 kaki dan sepadang sayap. Dibuat sangat detail dan rinci. Kepala patung naga ini mirip jenis unggas dengan paruh panjang. Namun ekornya seperti ekor reptil yang panjang. Patung naga ini juga memilik tanduk yang mengarah ke belakang di atas kepalanya. Bila tidak di buat dengan detail pasti orang akan mengira Patung ini  bukan Menggambarkan hewan suci. Namun unggas yang berbentuk aneh. Pembuat patung ini pasti sangat hebat di masanya.


Kami berpencar di ruangan ini sambil melihat-lihat ukiran di dinding dan batu bercahaya. Namun aku lebih tertarik dengan patung naga unik ini. Aku mengelilinginya, dan memperhatikan setiap detail patung ini. Saat aku berdiri persis berhadapan dengan parung itu, tiba-tiba lantai yang ku pijak menurun. Aku tak memperhatikan kalau ada blok batu kecil di lantai persis di depan patung ini. Ruangan seketika bergetar, dan aku langsung menjauh dari patung itu. Yang lainnya pun langsung waspada dan berkumpul ke arahku, kecuali Noel.


Noel menghilang tanpa jejak. Aku juga tak memperhatikannya sejak tadi.


“Kapten... Di mana Noel?”


“Aku tak memperhatikannya sejak tadi.”


Aku kembali maju ke dekat patung naga di tengah ruangan ini dan menginjak lagi blok batu yang tadi membuat ruangan bergetar. Kali ini tak terjadi apa pun. Blok batu yang tadi turun saat kupijak pun tak bereaksi seperti tadi. Ku injak batu itu berkali-kali hingga menghentakan kakiku dengan keras di sana. Namun tak ada apa pun yang terjadi.


“Kau sedang apa, Livy?”


“Sebelum ruangan bergetar tadi, aku menginjak blok batu ini, Bu.”


“Jebakan lantai... Hentikan, Livy... Jebakan itu tak akan aktif lagi.”


“Lalu bagaimana dengan Noel?”


“Kita hanya bisa berharap ia selamat, Livy.”


“Lebih baik kita bergerak sekarang, Ev.”


“Ayo kita pergi!”


Aku yang panik kini bejalan paling belakang. Sementara kapten berada di depan, dan kami memasuki lorong selanjutnya meninggalkan ruangan tempat Noel menghilang. Lorong ini pun di buat sama persis seperti lorong sebelumnya. Sejak memasuki lorong ini, kami tak menemukan keanehan sama sekali. Bahkan kami belum menemukan jalan yang bercabang. Aku hanya mengikuti langkah kaki Ibu yang ada di depanku. Pikiranku hanya di penuhi kekhawatiran pada Noel.


Lorong ini tidak lebih panjang dari lorong sebelumnya. Kami kembali melihat cahaya di ujung lorong. Saat sampai di ujung lorong tiba-tiba kapten terjatuh dengan posisi duduk karena terkejut.


“I-itu!”


“Ancient... Monster!”


Kapten langsung berdiri dan berjalan mengendap-endap agar tak menimbulkan suara. Meski masih di dalam lorong, kami melihat dengan jelas apa yang ada di luar. Ada sebuah pohon besar dengan daun yang bercahaya. Meski tak terlalu terang, cahaya itu mampun menyinari seluruh tempat hingga sedikit masuk ke dalam lorong. Pohon itu mungkin akan menjadi pemandangan yang sungguh indah bila tak ada monster besar yang membuat kami enggan mendekat ke pohon itu. Monster besar itu di tutupi bulu berwarna putih, dengan kepala seperti unggas yang memiliki paruh sedikit panjang. Memiliki tanduk di atas kepalanya, dan ekor panjang yang melingkari pohon besar bercahaya itu.


Setelah dipikir monster ini mirip dengan patung naga yang ada di ruangan sebelumnya. Aku sempat memperhatikan ruangan tempat monster itu tertidur. Banyak batuan seperti bekas reruntuhan di ruangan itu. Atap ruangan itu tak terlihat sama sekali. Hanya warna hitam pekat tanpa ada apa pun. Mungkin cahaya tak mampu menjangkau atap ruangan itu.


Naga itu masih tak bergerak dari tempatnya saat tiba-tiba Profesor berjalan maju dengan santainya ke arah pohon bercahaya itu. Bahkan Ibu tak mencabut ancient sword dari punggungnya. Ia berjalan begitu saja tanpa waspada sedikit pun.


Aku yang berjanji pada diriku sendiri untuk tak akan membiarkan Ibu terluka, langsung maju menggunakan shadow step ke arah monster yang sedang tertidur itu. Menurutku ini adalah kesempatan untuk membunuhnya. Kutarik ancient sword dari punggungku dan menebaskan keduanya ke arah kepala monster itu.


Bukannya meninggalkan luka pada naga itu, justru aku yang terpental jauh kebelakang. Bahkan ancient sword sampai terpental dari tanganku. Aku pun langsung berdiri dan mencoba mencari lokasi ancient swordku yang terpental. Tanganku masih gemetar hebat saat itu. Rasanya seperti memukul sesuat yang sangat keras dengan sekuat tenaga.


“Tenanglah, Livy! Naga ini tak berbahaya.”


“Mana ada monster yang tak berbahaya, Bu!”


Aku segera mengambil ancient sword dan berpindah ke depan Profesor untuk melindunginya.


“Tenanglah, Livy! Dia bukan monster... Kau ingat patung di ruangan sebelumnya?”


“Tentu saja.”


“Patung itu adalah gambaran dari makhluk ini.”


“Aku juga tahu, Bu. Namun bagaimana pun monster ini sangat berbahaya!”


“Sudah Ibu bilang dia bukan monster.”


“Ibu tahu dari mana bila monster ini tak berbahaya?”


Aku masih tetap tak percaya bila makhluk ini tak berbahaya. Di lihat dari wujudnya saja sudah jelas makhluk ini adalah monster. Belum lagi seranganku tadi sama sekali tak mempan terhadapnya.


“Lama tak berjumpa dengan wujudmu yang seperti ini... Dewa yang membangkang, Holly!”


“Hoho... Penerus sang pembawa kegelapan. Akhirnya kau sampai di sini... Lalu, penerus kaisar darah... Sepertinya kau sudah menguasai shadow step dengan sangat baik.”


Aku diam sebentar karena terkejut monster ini bisa bicara. Belum lagi aku seperti mengenal suaranya. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa kesal dengan monster ini. Seperti aku telah mengenal makhluk ini sebelumnya. Ibu tiba-tiba berkata.


“Salah satu dari kami terkena jebakan mainanmu. Apa ia baik-baik saja?”


“Tentu Ia baik-baik saja.”


Saat itu aku masih berpikir siapa sebenarnya monster yang bisa bicara ini, dan kenapa monster ini mengenal Ibu dan aku.