
“Kau pasti lapar, kan? Ayo kita makan, Liv!”
“Maaf, Noel... Aku lebih baik kelaparan saat ini dari pada harus memakan daging raptor. Rasanya sangat menjijikan.”
“Aku pun tak akan mau makan monster itu, Liv. Tenang saja. Profesor yang memasak hari ini. Jadi pasti enak.”
Aku bangun dan menuju keluar bersama Noel. Di luar Ibu sedang memanggang potongan daging di atas api.
“Kau sudah sehat, Livy?”
“Aku siap menjalankan misi, kapten.”
“Makanlah yang banyak. Hari ini afhkar mendapat buruan yang bagus.”
“Baik, Bu. Asal bukan daging raptor, pasti akan kumakan.”
Aku makan sangat banyak hingga sulit bernafas.
“Selanjutnya bagaimana, bu?”
“Kita akan berlatih setelah kau benar-benar pulih, Livy.”
Aku tak tahu sejak kapan Ibu bangun. Aku juga tak tahu kenapa tangannya sudah sembuh, padahal baru 3 hari setelah tangannya patah. Tapi syukurlah ia baik-baik saja. Aku tak menanyakan lagi apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Terlalu banyak kejutan sejak kami masuk ke dalam gua bukit duri. Setelah beristirahat seusai makan aku berlatih dengan Ibu. Hal yang Ibu ajarkan ternyata lebih sederhana dari yang kuduga.
Ibu hanya melatihku mempertahan kekuatan tebasan saat menggunakan shadow step. Latihan berjalan dengan lancar, dan aku sudah menguasainya dalam beberapa jam. Setelah pertarungan dengan basilisk kemarin rasanya tubuhku jadi lebih ringan dan aku semakin terbiasa dengan ancient sword.
“Si kakek tua gila kemana, Bu? Aku tak melihatnya sejak tadi.”
“Sudah pergi... Kita akan bertemu lagi dengannya dalam waktu dekat.”
“Semoga tak bertemu lagi.”
Kami kembali ke tempat Noel dan kapten yang juga sedang berlatih. Sepertinya mereka memanfaatkan waktu dengan sangat baik karena kesal dengan kejadian basilisk kemarin. Kami berencana untuk menjelajah lubang besar di pusat kota ini sekali lagi. Namun kami tak akan terburu-buru dan berakhir seperti kemarin. Kami harus bersiap untuk kemungkinan muncul monster yang lebih kuat dari basilisk kemarin.
Latihanku juga masih belum bisa dilanjutkan karena kakek sial itu menghilang. Setidaknya aku harus puas dengan kemampuanku saat ini. Seperti biasa Noel sedang mempersiapkan berbagai perlengkapannya. Mulai dari ranjau darat, peledak, dan busurnya. Kapten masih tetap berlatih meningkatkan kecepatannya, dan seperti biasa Ibu selalu bersantai sebelum berangkat.
Kami akan melewati ruangan sarang basilisk kemarin di penjelajahan kali ini. Sebelum pergi dari tempat itu, kapten dan Noel sempat melihat ada lorong lain di sana. Namun mereka memutuskan mundur untuk sementara karena kondisiku dan Ibu tak memungkinkan kemarin. Kali ini kami jauh lebih siap. Meskipun perlahan, kami akan tetap menjelajahi tempat ini hingga titik paling ujung untuk mengungkap rahasia kota terbengkalai ini. Semoga tak ada monster yang lebih buruk dari basilisk kemarin.
“Hanya aku di tim ini yang belum memiliki ancient sword. Apa aku akan mendapatkannya ya?”
“Semoga ada busur ya... Lalu aku akan mendapatkannya.”
“Semoga, Noel.”
Esok harinya kami bersiap untuk masuk kembali ke lubang yang ada di tengah kota ini. Untuk kali ini aku tak akan membiarkan Profesor terluka lagi. Bila ada bahaya aku yang akan melindunginya. Meski Profesor pulih dari luka dengan begitu cepat, namun pasti ia juga merasakan sakit. Di kesempatan berikutnya aku akan binasakan semua ancaman lebih dulu sebelum mendekat ke Ibu. Formasi kami tetap sama. Aku ada di posisi paling depan. Akan ku bunuh sebanyak mungkin monster yang muncul menghalangi jalan kami.
Kami berjalan dengan santai ke arah pusat kota. Tak ada perubahan besar setelah pertarungan kemarin. Aku masih tak mengerti kenapa kota ini ditinggalkan. Selama di sini sangat jarang ada monster yang masuk dalam kota. Monster hanya berada di sisi luar, dan tak terlalu membahayakan menurutku.
Kami sampai di pusat kota dan langsung memasuki bangunan megah ini menuju lubang besar untuk melanjutkan penjelajahan. Kami melewati lorong suram menuju ke arah lubang yang mengarah semakin ke inti bumi. Setelah sampai di lubang besar aku bertanya pada Profesor.
“Saat turun ke bawah, bagaimana Ibu membawa Noel dan kapten?”
“Menggunakan teleport, Livy. Kau belum bisa menggunakannya ya?”
“Belum. Kudengar dari kakek tua... Teknik itu memakai sihir. Aku belum bisa menggunakannya.”
“Betul... Nanti Ibu ajarkan setelah kembali ke Eden.”
“Baiklah... Aku akan menantikannya.”
“Kau bisa turun sendiri, Livy?”
“Ia... Aku menggunakan shadow step.”
Ibu membawa Noel dan kapten secara bergantian. Ia melakukan teleport berkali-kali untuk sampai ke dasar lubang. Aku pun segera menyusul mereka yang sudah lebih dulu berada di dasar. Kami langsung memasuki lorong menuju sarang basilisk. Mulai tercium bau bangkai di lorong ini karena sudah beberapa hari setelah basilisk di habisi. Semakin kami mendekati sarang itu, semakin menyengat aroma bangkai monster raksasa itu hingga membuat mual.
Kami sampai di ruangan besar sarang basilisk. Tak ada apa pun selain banyaknya potongan tubuh basilisk. Kami mempercepat langkah hingga berlari melewati hamparan bangkai monster dan masuk ke lorong selanjutnya. Lorong ini belum pernah kami masuki. Entah apa lagi yang menanti kami di ujung lorong ini. Suhu panas semakin terasa di lorong ini. Lorong ini sedikit berbeda dengan sebelumnya. Saat baru memasuki lorong ini jalannya sedikit menurun, namun dengan pondasi batuan yang di tempel di dinding sama seperti lorong sebelumnya.
Setelah beberapa lama menyusuri lorong ini, kami menemukan jalan bercabang yang sama-sama menurun. Kami berhenti sebentar untuk memilih jalan mana yang akan kami masuki lebih dulu, sekaligus beristirahat.
Setelah beberapa lama berdiskusi kami putuskan untuk menjelajahi lorong kanan lebih dulu. Setelah menelusuri lorong di arah kanan, kami menemukan pintu besi yang terlihat cukup tebal. Di sisi kanan pintu itu ada sebuah alat scan kartu. Kami mengetahui teknologi ini karena terdapat catatan di perpustakaan Eden. Sebelum masa kehancuran, manusia membuat kunci yang hanya bisa di buka dengan kartu khusus.
Tentu saja kami tak memiliki kartu yang dibutuhkan untuk masuk. Tak ada petunjuk di mana kartu itu disimpan. Kami juga tak ingin menghancurkan pintu itu karena tak tahu apa yang ada di balik pintu besi tebal itu. Dengan berbagai pertimbangan kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke percabangan lorong sebelumnya, dan akan memasuki lorong yang ada di kiri.
Lorong ini jauh lebih panjang dari lorong sebelumnya. Jalannya pun semakin menurun. Semakin dalam menyusuri lorong ini, suhu udara di sini juga semakin memanas. Kami masih belum tahu apa yang menanti kami di ujung lorong panas ini. Aku berharap tak ada hal yang terlalu berbahaya seperti sebelumnya.