
Aku dan Noel beristirahat di bawah pohon besar yang ada di halaman akademi. Kami masih terkejut dengan pertarungan tadi. Sedangkan kapten, aku tak tahu ia ada dimana. Sepertinya kekalahan tadi tak berpengaruh padanya.
Aku dan Noel mengulas kembali pertarungan tadi. Seperti yang Ibu katakan, kami harus menutup kelemahan diri masing-masing lebih dulu. Kekurangan Noel adalah tak bisa melindungi dirinya sendiri saat diserang. Walaupun akurasi dan tingkat membaca situasi jauh lebih hebat dari ku, semua akan percuma bila pertahanan kami tertembus dan Noel mendapat serangan.
Noel seperti kebalikan dariku. Kami memutuskan untuk saling melatih besok. Aku akan mengajarkan Noel bela diri untuk melindungi dirinya saat diserang, dan Noel akan mengajarkanku membaca situasi dan kelemahan lawan agar aku bisa bertarung lebih baik. Kami sama-sama tertunduk dan menyesali pertarungan tadi. Hari yang panas pun membuat perasaanku semakin tidak baik dan kesal hari ini.
Rasanya percuma aku menggunakan ancient sword kalau kalah telak seperti ini.
“Liv, ayo ke kantin!”
“Baiklah.”
Aku dan Noel pergi ke kantin untuk kembali mengisi tenaga.
“Kita harus makan banyak, Noel! Untuk melampiaskan rasa kesal!
“Ia. Kita pesan semua yang ada di menu!”
Pada akhirnya kami makan seperti orang tak sadar, hingga tak sanggup lagi menelan makanan. Kami pun pulang kerumah masing-masing dan berencana mulai berlatih besok. Saat aku sampai di rumah, ternyata Ibu masih belum kembali. Aku langsung membersihkan diri dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
“Seperti yang ku duga, staminaku menurun setelah tidur panjang.”
Aku yang kelelahan tertidur tanpa sadar. Malamnya aku terbangun dan turun untuk minum. Ibu belum juga kembali sejak siang tadi. Aku yakin ia ke perpustakaan dan lupa waktu sampai belum kembali. Ketika sedang berada di Eden memang Profesor jarang ada di rumah. Saat sedang senggang ia pasti ke perpustakaan untuk membaca.
Aku yang malas melakukan apapun akhirnya kembali ke atas tempat tidurku, dan terlelap. Keesokan paginya Noel sudah mengetuk pintu kamar, dan memanggilku saat aku terbangun. Aku yang terkejut langsung membuka pintu kamar.
“Ini sudah jam berapa, Liv? Apa kau tak tidur semalam?”
“Maaf, Noel. Aku akan segera bersiap.”
Setelah bersiap dengan terburu-buku kau pun turun menuju ruang tamu. Kami langsung berangkat menuju akademi hunter untuk meminjam arena lagi. Ibu bilang akan membawakan makanan untukku siang nanti. Jadi aku tak perlu sarapan untuk mempersingkat waktu. Aku dan Noel ke akademi sambil berlari untuk pemanasan.
Tak butuh waktu lama untuk kami sampai di akademi hunter. Kami langsung menyusuri lorong menuju arena tempat berlatih. Di arena ternyata sudah ada kapten Afhkar yang sedang berlatih mengayunkan pedang. Ibu berkata kalau kelemahan kapten adalah kecepatannya. Selama ini ia hanya fokus melatih otot di tubuhnya. Jadi wajar saja kecepatannya menurun karena tak pernah dilatih.
“Sepertinya kapten sudah berlatih sejak tadi. Ayo, Liv! Ajarkan aku bertarung sepertimu!”
Tak seperti kemarin, hari ini ada beberapa murid akademi yang menonton latihan sejak pagi. Aku jadi teringat saat masih belajar di akademi ini. Aku sering memperhatikan para senior yang berlatih di sini untuk mencuri tekniknya. Aku mengajarkan seni menggunakan pedang pendek pada Noel. Karena perlengkapannya selalu banyak, aku membantunya memilih senjata lain yang tak terlalu berat dan mengganggu pergerakannya.
Seperti yang diharapkan dari salah satu lulusan terbaik, Noel sangat cepat belajar gerakan yang aku contohkan. Namun bukan berarti Noel bisa langsung menggunakannya saat bertarung. Karena pengalaman langsung saat pertempuran akan mematangkan teknik itu. Aku juga meminta kapten membantu melatih Noel. Karena kapten jauh lebih berpengalaman dariku, sepertinya Noel bisa lebih cepat menyempurnakan gerakannya.
Setelah menghapal gerakannya, Noel diperintahkan untuk mengulangjnya terus menerus hingga beberapa jam. Aku dan Noel sama-sama perlu membangun stamina juga agar tak cepat lelah. Selama Noel berlatih mengulang gerakan, aku hanya berlari mengitari arena berulang-ulang.
Karena fokus mengatur nafas, aku tak sadar kalau ada beberapa murid akademi wanita yang ikut lari di belakangku. Saat aku menengok ke arah belakang, mereka memberi salam padaku dan salah satu dari mereka mendekatiku.
“Ya... Aku sudah pulih sepenuhnya. Hanya perlu membentuk lagi staminaku.”
“Bagaimana caranya senior bisa bertahan dari ancient lizard? Semua murid akademi selalu membicarakan tentang tim senior Livy belakangan ini.”
“Ah... Kalau Profesor dan anggota timku tak datang aku juga tak akan sanggup bertahan.”
“Profesor Cage maksudnya?”
“Ia.”
“Kami juga melihat pertarungan senior dan Profesor kemarin. Gerakan senior dan Profesor sangat indah sampai-sampai kami tak percaya ada manusia yang bisa bergerak seindah dan secepat itu. Senior Noel juga sangat mahir dengan busurnya. Lalu senior Afhkar, bagaimana bisa dia menahan serangan Profesor dan masih baik-baik saja? Kalau kami pasti sudah pingsan tak bergerak.”
Anak ini benar-benar banyak bicara. Aku sampai bingung harus menjawab pertanyaan yang mana.
“Kau tahu tentang ancient sword?”
“Ah... Pedang legendaris yang bisa memotong apapun kan? Pedang digunakan senior Afhkar?”
Aku coba mengalihkan pembicaraan untuk menghindari pertanyaan yang banyak tadi. Ternyata justru memunculkan pertanyaan baru. Kulihat Noel juga sedang si kerumuni beberapa murid laki-laki yang terlihat bersemangat memperhatikan latihannya.
“Bukan hanya senior Afhkar yang menggunakan ancient sword. Tapi kemarin Profesor yang menyerang senior Afhkar juga menggunakannya.”
“Jadi ancient sword ada lebih dari 1?”
“Yang di punggungku ini adalah salah satunya.”
Wajah anak itu terlihat kagum dan gembira memandangi pedang si punggungku. Aku memutuskan untuk berhenti berlari dan mendatangi Noel. Lalu mengumpulkan anak-anak yang mulai berdatangan.
“Dengar semua! Aku yakin kalian menyaksikan pertarungan tim kami dengan Profesor kemarin. Memang sedikit memalukan. Di tim kami ada 2 pengguna ancient sword, sedangkan Profesor hanya sendirian. Nyatanya kami kalah telak. Itu berarti sebagus apapun senjata yang kita miliki, kalau kemampuan kita kurang itu semua tidak akan berguna. Senjata hanya perpanjangan dari tubuh kita. Jadi bagus tidaknya senjata juga bergantung pada penggunanya. Kalian bisa belajar dari senior afhkar atau dari para guru lain untuk menguasai seni menggunakan senjata!”
Mereka menjawab dengan kompak.
“Baik senior Livy!”
Setelah menjawab mereka mengerubungi kapten untuk minta diajarkan seni senjata. Sekarang aku bisa fokus berdiskusi dengan Noel tentang kekuranganku. Walau merasa bersalah pada kapten, aku harus tetap menjadi lebih kuat agar tak mengecewakan Ibuku.
“Liv, seperti yang profesor bilang kemarin, kelemahanmu adalah kau selalu menyerang di udara saat pertama kali berhadapan dengan musuh. Sebenarnya itu sama sekali tak jadi masalah kalau kau bisa membaca situasi dan tak ceroboh. Menurutku itu juga cukup efektif terhadap monster biasa. Tapi lain ceritanya kalau kau berhadapan dengan monster cerdas seperti basilisk, kera tanduk, atau ancient monster.”
“Ia... Kau benar Noel. Saat berhadapan dengan monster, aku berusaha menyelesaikan pertarungan secepat mungkin tanpa memperhatikan kelemahannya.”
Kini aku mengerti kelemahan terbesarku. Kalau saja sejak awal aku lebih memperhatikan situasi dan kelemahan monster, aku tak akan terluka parah seperti saat melawan basilisk dan ancient lizard. Saat itu aku hanya berpikir untuk menyelesaikan pertarungan secepat mungkin.