
Kami bertemu dengan kapten di pintu masuk lorong saluran air bawah tanah. Sebelum masuk kapten mengusulkan untuk memecah tim menjadi 2. Kapten mencalonkan diri sebagai pengalih perhatian dengan cara masuk melewati pintu depan penjara bawah tanah. Kapten berpikir untuk mengamuk di depan pintu agar memudahkan kami mengeluarkan para bangsawan yang di penjara.
Aku dan Profesor menyetujui ide dari kapten. Dengan ketahanan dan tenaga yang kuat, aku rasa kapten memang sangat cocok sebagai pengalih perhatian. Sementara aku dan Ibu yang bisa bergerak cepat dengan shadow step akan memudahkan proses evakuasi.
Kapten segera pergi ke pintu depan penjara. Kami pun masuk melalui saluran air dengan cepat hingga menemukan pintu yang terhubung dengan penjara bawah tanah Eden. Kami membuka pintu besi itu secara perlahan. Mengamati situasi hingga merasa aman. Di balik pintu ternyata terdapat tangga untuk ke atas, dan tangga untuk ke bawah. Kami segera menuruni tangga dengan tetap waspada. Di bawah tangga terdapat lorong lurus yang di kanan dan kirinya terdapat beberapa ruangan penjara yang ditutup dengan pintu besi. Di pintu itu terdapat lubang berbentuk kotak agar para penjaga bisa memastikan keadaan tahanan.
“Livy, berjagalah di tangga! Aku akan buka pintu ini dengan sedikit paksa. Jadi mungkin akan berisik dan akan ada yang datang.”
“Baik, Bu.”
Aku yang berjaga di tangga sudah siap akan situasi terburuk. Meski terdengar suara keras dari pintu yang dibuka paksa oleh Profesor, aku tak melihat satu pun penjaga yang turun ke sini. Sepertinya kapten benar-benar sukses menjadi pengalih perhatian.
Setelah beberapa lama akhirnya Ibu selesai mengeluarkan para bangsawan. Ada 7 orang kepala keluarga bangsawan yang dikurung di penjara ini. Semua adalah bangsawan kelas atas, dan salah satunya adalah Ayah dari sahabatku Noel. Kami akan keluar melalui saluran bawah tanah lagi karena tak mungkin mengambil resiko dengan keluar dari pintu depan.
Para bangsawan itu mengikuti Ibu yang memimpin jalan. Sementara aku berada paling belakang mengawasi keadaan. Kami harus secepat mungkin keluar dari Eden agar mereka selamat. Sampai saat ini aku masih belum tahu apa rencana selanjutnya setelah membebaskan para bangsawan ini. Karena meski mereka berhasil bebas, bukan berarti Eden sudah diselamatkan.
Para penghianat itu harus di ringkus agar Eden bisa kembali aman. Bahkan harusnya kami bisa memanfaatkan situasi ini hingga bisa mencabut masalah sampai ke akarnya. Sebab bila dibiarkan suatu saat pasti hal ini akan terjadi lagi. Tindakan barbar seperti ini sungguh tak bisa diberi toleransi menurutku. Disaat kami manusia yang tersisa harusnya bersatu saling menolong di alam yang keras ini, segelintir orang justru mengambil kesempatan dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Rasanya sangat ingin kulempar mereka ke sarang basilisk agar menghilang dari bumi.
Kami keluar dari saluran bawah tanah tanpa hambatan. Menyusuri pinggir Eden untuk mencapai pintu terdekat yang bisa kami lewati. Tak ada halangan sedikit pun saat kami berjalan menyusuri dinding Eden. Namun ketika mencapai pintu gerbang ternyata terdapat banyak orang di sana yang ingin menghalangi jalan kami. Salah satu orang yang mungkin pemimpin mereka berkata.
“Kalian penjelajah seharusnya berpihak pada Eden. Bukan malah menjadi kriminal!”
“Kami penjelajah berpihak pada manusia. Bukan Eden. Amatir sepertimu lebih baik minggir sebelum menyesal!”
Aku yang sudah menahan diri sejak tadi tak lagi bisa tenang. Aku hanya ingin ini cepat selesai dan bisa beristirahat dengan nyaman di rumahku.
“Dasar anak sombong... Kau pikir kalian pahlawan, hah....?
“Tak kusangka orang yang besar mulut sepertimu menjadi pemimpin. Kalian ini kelompok komedi kah? Cepat maju saja karena aku tak tahan dengan bau mulut kalian yang terus bicara!”
Sepertinya provokasiku berhasil. Mereka terlihat kesal dan beberapa langsung maju ke arahku sambil membawa pedang.
“Bu, apa boleh kubunuh?”
“Padahal mereka cuma serangga yang tak berguna.”
Aku maju dan langsung mengiris beberapa bagian tubuh mereka. Melawan manusia yang tak mengerti seni bela diri memang jauh lebih mudah daripada melawan monster yang tak berakal. Hanya dengan beberapa gerakan yang menimbulkan sedikit luka mereka langsung takut dan tak berani maju.
Tentu saja pimpinan mereka juga merasa takut saat melihat gerakanku. Meski tak menggunakan shadow step pun gerakanku sudah sangat cepat menurut manusia normal.
“Hanya segini? Kalian yang di belakang tak ada yang mau maju? Ternyata memang hanya kelompok komedi yang besar mulut ya? Menyedihkan. Sekarang cepat buka gerbang sebelum aku sendiri yang membukanya!”
Mungkin si pemimpin kelompok merasa malu karena diremehkan di depan anak buahnya. Ia langsung maju dan ingin menyerangku. Gerakan pria bertubuh kekar ini sangat lambat. Bahkan terlalu lambat menurutku. Aku menghindari gerakannya dengan mudah dan memotong tangan kanannya karena ingin menyentuhku.
“Tolong jangan sentuh aku dengan tangan kotormu yang menjijikan itu!”
Para bawahan yang sejak tadi memasang wajah seperti seorang penguasa, kini berubah dengan ekspresi penuh kengerian setelah melihat ketua mereka menggelepar di tanah kesakitan dengan tangan terputus.
“Sekali lagi kuperintahkan... Buka gerbang, atau ucapkan selamat tinggal pada salah satu tangan kalian!”
Mendengar ancaman itu mereka langsung menuruti perintahku. Kami keluar Eden dengan mudah. Setelah keluar, aku memanggil beberapa prajurit untuk menahan kelompok barusan dan menjaga gerbang di area ini. Aku pun menemui Noel dan mengajaknya untuk bergabung bersama Ibu.
Sejak tadi ada yang mengganjal di pikiranku. Seperti aku telah melupakan sesuatu, namun sangat sulit untuk di ingat. Aku sedikit mengabaikan perasaan aneh itu karena akhirnya tim kami bisa berkumpul kembali. Para bangsawan yang kami selamatkan juga dalam keadaan baik-baik saja dan hanya mengalami luka ringan yang sama sekali tidak berbahaya.
Komando para prajurit ini di ambil alih oleh Profesor. Mereka sekarang sedang bersiap untuk serangan balik melawan para bangsawan penghianat yang masih berada di dalam Eden Shelter. Semua prajurit dikumpulkan untuk diberi arahan agar rencana berjalan lancar. Total prajurit yang dikumpulkan berjumlah sekitar 90 prajurit. Lalu banyak juga penjelajah dari berbagai divisi yang berkumpul dan ikut membantu.
Profesor menekankan kembali kalau para penjelajah bukan berpihak pada Eden. Melainkan berpihak pada umat manusia. Bila manusia terbagi dalam dua kelompok seperti sekarang, tentu penjelajah harus berpihak pada kelompok yang lebih banyak. Atau setidaknya berpihak pada peluang yang lebih baik untuk manusia tetap bertahan agar tidak punah. Kami akan segera mengibarkan bendera perang pada Eden yang dikuasai oleh para bangsawan yang punya pemikiran terlalu sempit.
Profesor juga menekankan untuk meminimalisir pembunuhan. Namun bunuhlah bila memang itu diperlukan. Komandonya begitu tegas dan jelas. Hingga tak ada pertanyaan lagi setelah Profesor berbicara. 10 prajurit dan beberapa penjelajah ditempatkan di setiap pintu gerbang Eden untuk mencegah para penghianat lari. Sementara sisanya di bagi lagi menjadi beberapa kelompok yang ditugaskan menyisir Eden dari area luar hingga tengah dan pasukan akan bertemu di perpustakaan yang berada persis di tengah Eden.
Setelah selesai pengarahan aku baru ingat hal yang sejak tadi kulupakan.
“Ibu, kita melupakan kapten yang menjadi umpan saat penyelamatan tadi.”
“Astaga.”