
Setelah teriakan keras itu berhenti loreley itu mendekati kami. Langkah pertama memang lambat. Namun langkah kedua dan seterusnya makhluk itu berlari cepat ke arah kami dan melompat. Saat itu aku sadar bahwa kuku dari makhluk ini begitu panjang dan runcing. Berwarna hitam dengan panjang kira-kira 20cm. Karena terkejut aku dan Noel masih belum bereaksi sampai dragonoid yang bersama kami melompat ke arah loreley. Lompatan dragonoid itu lebih tinggi. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas dengan posisi disatukan seperti saling menggenggam, dan memukul loreley dengan sangat keras ke arah bawah.
Loreley terjatuh dengan keras di atas batuan karang yang kami pijak. Sepertinya serangan dragonoid itu berdampak besar bagi loreley. Tak lama terjatuh menghantam karang, makhluk itu bangun dengan kedua tangannya dan berteriak sangat keras. Dari kepalanya mengeluarkan cairan berwarna biru yang kuyakin itu adalah darah.
Tak sampai di situ, dragonoid mengangkat loreley itu dengan menarik ekornya ke atas dan membantingnya ke tanah. Lagi-lagi loreley menghantam karang yang keras, namun kali ini punggungnya lebih dulu. Makhluk itu kini tak bergerak.
“Liv, apa dia mati?”
“Entahlah, Noel.”
Aku dan Noel mendekat secara perlahan dan tetap waspada. Kulihat loreley masih bernafas menandakan makhluk unik ini masih hidup. Saat kami sedang fokus memperhatikan loreley dari dekat tiba-tiba batu yang berukuran lumayan besar menghujam kepala loreley hingga hancur. Ternyata dragonoid itu sejak tadi mengambil batu besar dan membantingnya tepat di kepala loreley.
Aku dan Noel hanya diam terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Membela loreley itu juga percuma karena pasti ia sudah tewas. Lagipula makhluk itu lebih dulu yang menyerang kami. Kami kembali ke tempat beristirahat. Dengan api unggun yang masih menyala, kami mengusir angin dingin yang menerpa kami sejak tadi. Saat perjalanan kembali tadi aku dan Noel tak berbicara apa pun. Mungkin Noel juga bingung harus mulai bicara darimana sama sepertiku.
Kapten masih saja tertidur pulas sampai saat ini. Sepertinya teriakan loreley tak sampai membangunkannya. Untungnya saat ia sendirian tadi tak ada monster yang menyerangnya. Hingga saat ini sudah terdapat 2 makhluk aneh yang menyerupai wujud manusia. Bila makhluk-makhluk ini yang menguasai hutan karang, wajar saja banyak penjelajah yang tak kembali saat melakukan misi di tempat ini.
Namun misi kami masih belum selesai. Kami harus menemukan penyebab utama dari kekacauan ini. Aku yakin di luar sana pasti masih banyak terdapat makhluk-makhluk yang lebih kuat mengancam kami. Namun demi menyelamatkan sisa populasi manusia di alam buas ini, kami tak boleh menyerah. Dari 2 humanoid yang kami temui, dragonoidlah yang terkuat saat ini. Kami pun harus mengklasifikasikan dari yang terlemah hingga terkuat agar kedepannya tak ada lagi penjelajah yang menghilang secara misterius. Dengan mengetahui kekuatan lawan, tentunya penjelajah dapat memilah musuh yang bisa di hadapi dan yang tidak.
Fajar begitu cepat menyingsing di tempat ini. Matahari mulai mengintip dibalik daratan luas yang mulai terlihat ujungnya. Kami kembali bersiap untuk perjalanan selanjutnya yang mungkin akan menemukan lebih banyak bahaya.
“Kapten apa tidak terbangun semalam?”
“Maaf, Noel... Aku benar-benar kelelahan semalam.”
“Tak biasanya kapten lelah....”
“Aku kan juga manusia seperti kalian.”
Sebelum berangkat kami pun menjelaskan dengan rinci kejadian semalam kepada kapten. Loreley belum pernah teridentifikasi karena tak pernah ditemukan di area lain selain hutan karang. Lagi pula penjelajahan hutan karang tak pernah berjalan dengan baik. Jadi masih sangat sedikit yang diketahui manusia tentang area ini.
Kini kami menyusuri jalan yang lebih rumit dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui kini berbelok-belok seperti labirin raksasa yang dindingnya terbuat dari karang. Sore hari kami tiba di persimpangan besar yang membagi jalan ke banyak arah. Bagian tengah persimpangan ini berbentuk lingkaran dan terdapat banyak tenda-tenda yang dibangun di tempat ini.
Tenda itu dibangun dengan seadanya. Menggunakan kulit monster dan batuan karang yang bisa di angkat. Kebanyakan dibuat menempel dengan dinding karang, namun ada juga yang dibuat di bagian lebih ke tengah. Tempat ini seperti sebuah desa primitif yang lumayan luas. Saat kami sampai satu demi satu sosok dragonoid keluar dari tenda-tenda itu. Mereka berdiri dan melihat ke arah kami.
Mungkin ini adalah desa si petunjuk arah yang kami ikuti sejak dari hutan raksasa. Mereka saling bicara dengan bahasa yang tak kami mengerti sama seperti dragonoid yang ikut bersama kami. Tiba-tiba sosok yang sepertinya dituakan di tempat ini muncul menghampiri kami dari belakang kerumunan.
Sosok itu sedikit berbeda dari para dragonoid lain. Bila mata yang lainnya seperti mata monster reptil, mata tetua ini lebih mirip mata manusia. Lalu jari tangan tetua ini juga berbentuk seperti manusia walau masih bersisik. Dari banyaknya dragonoid di tempat ini memang ada beberapa yang memiliki ciri khas. Ada yang memiliki sisik dengan warna yang berbeda, atau salah satu anggota tubuh yang mirip bahkan sama dengan manusia.
Mereka segera mempersiapkan api dan memasak di area tengah desa primitif ini. Seakan menyambut kami yang baru datang, kami disuguhkan berbagai macam minuman dan diberi tempat duduk yang teduh di bawah naungan batu karang. Suasana begitu ramai kala itu. Para dragonoid berbincang dan tertawa bersama. Benar-benar mirip seperti manusia yang sedang berpesta. Malam pun tiba dengan cepat dan pesta masih tetap ramai. Kami memakan banyak daging monster yang dimasak para kadal ini.
Walau awalnya merasa kebingungan namun lambat laun kami pun menikmati pesta yang sepertinya ditujukan untuk menyambut kedatangan kami ke tempat ini. Beberapa dragonoid duduk di dekat kami termasuk tetua yang menyambut saat kami datang tadi. Mereka berbincang ringan dan menikmati makanan seperti kami.
Aku merasa senang dengan keramahan yang mereka tunjukan. Sekaligus takut karena mereka sungguh seperti manusia. Dugaanku sepanjang perjalanan terasa semakin nyata bahwa sudah saatnya manusia lama digantikan oleh mereka para manusia baru yang akan menguasai daratan bumi ini. Pesta itu berlangsung semalaman sampai pagi menjelang. Aku dan Noel yang tertidur dibangunkan oleh kapten yang tetap terjaga semalaman.
Sang tetua tetap menikmati pesta itu bersama beberapa dragonoid yang masih duduk di sekeliling kami. Aku mengeluarkan ancient sword yang sejak kemarin berada di punggungku tanpa berpindah tempat. Walau ringan rasanya pegal juga tertidur dengan pedang berada di punggung. Saat duduk dan mengeluarkannya, para dragonoid itu tiba-tiba bersujud di tempatnya masing-masing. Aku, kapten, dan Noel hanya saling memandang karena kebingungan.
“Hah... Apa lagi ini?”
“Mereka bersujud ke arahmu saat kau mengeluarkan pedangmu, Liv.”
“Ya... Aku tahu itu. Tapi apa maksudnya?”
Kami yang bingung hanya diam untuk beberapa saat.