
Saat aku pulang Ibu sudah menunggu di ruang tamu. Ia bertanya siapa yang tadi mengantar barang belanjaanku. Aku menjelaskan bahwa Noel pelakunya. Aku hanya diam saat itu. Kami pun makan malam bersama. Bila di pikir-pikir, hidup normal seperti ini menyenangkan juga.
“Bagaimana liburanmu? Menyenangkan?”
“Aku lumayan menikmatinya. Setelah apa yang terjadi, tentu saja menyenangkan.”
“Baguslah. Kau tidak mengajak Afhkar?”
“Kapten terlalu kaku untuk melakukan urusan anak muda, bu. Ibu sendiri sepertinya banyak waktu luang?”
“Yah... Tak ada salahnya sedikit bersantai. Aku pun terkadang bisa lelah juga kan.”
“Jadi kapan kita akan berangkat? Jangan bilang ibu lupa rencana kita?”
“2 hari lagi kita berangkat. Kau ingat lokasi guanya?”
“Sudah kutandai di peta.”
“Baguslah. Besok kita akan ke akademi untuk meminjam arena. Kau perlu meregangkan tubuhmu kan, setelah lama tak beraktifitas?”
“Ia... Rasanya sekujur tubuhku menjadi kaku. Staminaku juga sepertinya menurun setelah tidur panjang.”
“Besok kita suruh Afhkar untuk mengosongkan tempat. Kau mandi dan istirahat, Livy.”
“Ia, Bu.”
Aku mengikuti perkataan Ibu dan langsung bergegas mandi. Setelah mandi aku langsung masuk kamar dan merebahkan diri di singgasana malasku. Tanpa menunggu waktu lama aku langsung tertidur karena hari ini begitu melelahkan. Aku akan ajak Noel dan kapten besok untuk berlatih. Aku juga sangat penasaran mendengar gerakan aneh Profesor saat mengalahkan ancient lizard.
Paginya aku terbangun dan langsung bersiap mengenakan battle suit ku. Rasanya sudah sangat lama tak mengenakan pakaian ini. Lubang di bagian perut battle suit ini juga sudah ditutup dan seperti baru. Saat aku turun ternyata Profesor sudah lebih dulu pergi ke arena latihan. Ia hanya meninggalkan catatan kecil di meja makan.
Aku segera sarapan dan berlari ke akademi hunter. Ternyata aku dan Noel sepemikiran. Walaupun lupa mengajaknya ternyata kami bertemu di jalan menuju akademi. Ia juga memakai battle suit dan membawa busur yang baru dibelinya kemarin, lengkap dengan anak panah di punggungnya.
“Liburannya sudah berakhir, Liv”
“Ya... Hari ini kita mulai berlatih lagi. Ibuku sudah lebih dulu ke arena. Sepertinya ada kapten juga.”
“Benarkah? Akhirnya aku bisa melihat aksi profesor lagi. Kau pasti akan terkejut, Liv!”
Kami berjalan memasuki akademi hunter. Untuk ke arena latihan, aku dan Noel haru menyusuri lorong ke arah belakang akademi. Arena di akademi hunter adalah arena latihan terbesar yang ada di Eden. Biasanya para murid selalu berlatih disini. Saat kami berjalan di lorong ke arah arena, terdengar dentuman yang lumayan besar, dan lantai lorong sedikit bergetar.
“Kau mendengarnya,Liv?”
“Ia... Tanah juga sedikit bergetar. Apa ibu sedang memakai peledak ya?”
“Bukan... Ayo cepat!”
Setelah selesai menata target serangan kapten datang menghampiri kami dengan wajah lelah. Aku yakin ia dipaksa untuk menemani Ibuku berlatih sejak pagi buta.
“Ibumu sudah seperti monster, Livy.”
Aku masih belum paham maksud perkataan kapten sampai melihat Ibu memasang kuda-kuda persis seperti yang diceritakan Noel. Ia memposisikan kaki kirinya di depan dan kaki kanan di belakan membentuk diagonal antara kedua kakinya. Menurunkan sedikit posisi berdirinya dengan pedang di tangan kanan setinggi kuping mengadah ke depan. Tangan kiri lurus dengan telapak tangan yang juga mengarah ke depan.
Kulihat ibu sedikit bergumam lalu melesat dengan sangat cepat. Seketika satu demi satu mannequin meledak dan muncul asap berwarna hitam dari target serangan itu. Profesor sangat cepat hingga pergerakannya tak terlihat oleh mata kami. Ledakan itu cukup besar hingga membuat tanah sedikit bergetar dan menimbulkan suara keras.
Aku dan Noel hanya terdiam melihat mannequin yang hacur berantakan.
“Benar kan... Saat itu aku tak salah lihat. Profesor memang menghilang dari pandangan.”
“Apa-apaan gerakan itu? Bahkan itu jauh lebih cepat daripada gerakanku. Kau bisa melihatnya, Noel?”
“sama sekali tidak, Liv. Tapi itu sangat keren bukan?”
Kapten tiba-tiba berkata.
“Hanya ancient sword yang bisa menahan serangan itu tanpa hancur. Sedangkan pedang lain, bahkan perisai yang bagus pun hancur berantakan. Lihat itu!”
Kami melihat ke arah yang di tunjuk kapten. Ada tumpukan senjata dan perisai di sudut arena. Sepertinya Ibu sedang melakukan uji coba.
Profesor menghampiri kami setelah menghancur leburkan target serangannya.
“Kau melihatnya tadi, Livy?”
“Ia. Apa-apaan itu, Bu? Ibu seperti monster. Untuk apa juga serangan berbahaya seperti itu? Tak mungkin ada yang sanggup menahannya.”
“Itu baru satu gerakan. Yang lebih penting, kita akan berlatih tanding. Kalian satu tim melawanku.”
“Apa Ibu ingin melihat tubuh anakmu yang cantik ini hancur tercera-berai?”
“Tenang. Aku bukan seorang ibu psikopat. Livy, dan Afhkar, gunakan ancient sword kalian! Lawan aku sekuat tenaga! Noel serang tanpa ragu! Jangan sengaja meleset!”
Kami yang masih ragu-ragu mau tak mau harus menuruti perintah profesor. Mungkin ini bentuk kekhawatirannya karena kami terlalu lemah. Pelajar akademi yang sejak tadi membantu terlihat begitu semangat melihat kehebatan Profesor. Aku yakin mereka sangat mendambakan kemampuan menghancurkan seperti yang di tunjukan Profesor barusan.
Dengan ketajaman ancient sword miliknya, dan ledakan yang ditimbulkan seperti itu, akan menjadi suatu keajaiban bila anggota tubuh seseorang masih utuh setelah terkena serangannya. Dari cerita Noel, masih ada satu gerakan lagi yang Profesor perlihatkan saat memenggal kepala ancient lizard. Noel bilang pedang itu bisa berubah bentuk menjadi pedang raksasa. Sedikit aneh memang. Namun setelah melihat serangan barusan, aku bisa percaya perkataan Noel. Aku masih bertanya-tanya, sebenarnya apa yang Ibu lakukan sampai bisa membuat gerakan seperti itu?
Yang lebih membahayakan sekarang kami harus berhadapan dengan orang yang membuat ancient lizard tak berkutik ketika berhadapan dengannya. Aku berada di tengah. Kapten di kananku, dan Noel di kiri. Saat bersiap maju rasanya kakiku menjadi sangat berat. Seperti sesuatu menekanku dari atas. Aku sadar saat ini profesor jauh lebih berbahaya dari ancient lizard. Rasanya aku ingin lari dari sini. Tatapannya berubah sangat menakutkan seperti menghadapi monster yang begitu besar hingga membuatku merasa bila bergerak sedikit saja makan aku akan tewas.
Sepertinya bukan hanya aku yang merasa seperti itu. Kami belum bergerak selangkah pun. Namun kami bertiga sudah mengeluarkan keringat yang terus menetes. Kulihat wajah kapten dan Noel juga terlihat pucat. Padahal sebelum memiliki ancient sword Profesor tak pernah semenakutkan ini. Dulu kami juga sering berlatih tanding dengan Profesor. Walau tak pernah sekalipun menang, namun Profesor tak pernah menunjukan sura sepekat dan semengerikan ini.
Bila ada seseorang yang berkata bahwa Profesor adalah orang terkuat di Eden Shelter saat ini, aku akan percaya dan tak membantah sedikit pun.