
Noel melempar peledak kecil agar musuh keluar. Kami berpikir bahwa yang menyerangku adalah penghianat Eden yang kabur saat mereka di kalahkan saat itu. Namun kami semua dibuat terkejut saat sosok aneh muncul setelah ledakan dari peledak kecil yang Noel lempar. Sosok yang bahkan kami tak tahu mereka ada.
Sosok itu memiliki tinggi sekitar 2 meter dan hanya lebih sedikit. Dengan kulit berwarna pucat dan di tutup oleh sisik berwarna biru sedikit keunguan yang mengkilap di beberapa bagian tubuhnya, terutama tangan, kaki, dan kepala. Memiliki kepala seperti reptil mirip kadal tanduk gurun dengan beberapa tanduk mengarah ke belakang di sekeliling kepalanya.
Aku tak tahu harus menyebut makhluk aneh ini manusia atau monster. Karena tubuhnya seperti manusia kecuali struktur kaki yang lebih mirip kadal yang bisa melompat atau berlari cepat. Makhluk aneh ini juga memiliki ekor yang dipenuhi sisik dengan ujung ekor seperti basilisk. Bagian ujung ekor makhluk ini runcing dan pipih seperti pisau. Benar-benar mencirikan ekor basilisk.
“Kapten, itu apa? Manusia... Bukan. Monster...?”
“Makhluk ini ada dalam laporan dari hunter yang selamat setelah penjelajahan di hutan karang. Kau tidak baca laporannya, Livy?”
“Bukan begitu... Apa akan ada seseorang yang akan percaya kalau belum pernah melihatnya?”
“Mereka disebut dragonoid, Liv... Kukira laporan itu mengada-ngada. Ternyata benar!”
“Kita harus apa? Kalau dia manusia apa harus kita bunuh?ah... Perutku jadi sakit karena berpikir.”
“Kalian bebas menganggap makhluk ini apa pun. Yang jelas dia menyerang lebih dulu, kan!”
Makhluk aneh itu berbicara. Namun kami tak mengerti apa yang dia katakan. Penampilan dan senjatanya sungguh primitif. Tubuhnya dibalut kain seperti dari kulit monster dan terdapat kampak seperti yang tadi dia lempar ke arahku di tangan kanannya. Di pinggangnya terikat sebuah pemukul berbentuk bulat memanjang dengan bagian atas lebih besar dari gagangnya. Dia masih saja berbicara tak jelas. Bahkan mungkin bahasanya berbeda dengan kami.
Yang aku yakini makhluk itu memang bisa berkomunikasi walau bahasa yang ia gunakan benar-benar berbeda. Meski begitu kami tetap harus benar-benar waspada terhadannya. Tak seperti monster, makhluk ini berakal. Kami tak tahu apa yang dipikirkannya. Terutama kami tak tahu makhluk ini melihat kami sebagai makanan yang harus diburunya atau sesuatu yang sederajat dengannya.
Dalam laporan yang aku baca makhluk ini sangat ahli bertarung. Bahkan kemungkinan dragonoid inilah penyebab banyak penjelajah tak pernah kembali lagi ke Eden saat menjalankan misi menjelajah ke hutan karang. Dalam laporan juga disebutkan bahwa mereka selalu bergerak berkelompok. Jadi kami harus waspada juga akan datangnya serangan tiba-tiba dari arah lain. Sulit memperkirakan apa yang akan terjadi kedepannya.
Sejak tadi tak ada tanda-tanda dragonoid lain di sekitar. Namun itu belum pasti karena makhluk ini sangat pandai bersembunyi. Bahkan kemungkinan kemampuan sembunyi mereka lebih baik daripada hunter dari Eden Shelter. Dragonoid itu bergerak maju sambil terus berbicara. Kami yang tak mengerti perkataannya langsung bersiap untuk pertarungan. Lagi pula benar seperti perkataan kapten. Makhluk ini yang menyerang lebih dulu.
Aku bersiap untuk menyerangnya lebih dulu, karena kami tak tahu seperti apa kemampuan bertempurnya. Kupusatkan berat badanku di kaki kanan yang berada di depan dan bersiap untuk menerjangnya. Dragonoid itu mengangkat tangan kirinya yang tanpa senjata. Meski tak tahu apa maksudnya aku tetap harus menyerang lebih dulu. Saat posisi tangannya lurus ke arah kami, aku dengan cepat menerjang ke arahnya.
Setelah menebas pergerakanku tertahan. Seperti ada suara besi yang saling beradu saat pedangku menyentuh tangannya yang sedang dalam posisi menangkis. Aku pun berhenti dan berdiri di depannya dengan pedang masih di tanganku dan mata pedang masih menyentuh tangannya. Saat itu aku tak bergerak dan kebingungan. Sempat berpikir kalau aku salah memegang pedang sehingga mata tajamnya terbalik. Namun saat kulihat tak ada kesalahan apa pun. Aku pun sudah menyerang dengan sekuat tenaga hingga tanganku bergetar karena efek dari pedangku yang tertahan oleh tangannya.
“Liv, mundur!!!”
Aku sedikit menoleh saat Noel berteriak seperti itu. Namun saat membalikan pandanganku ke arah dragonoid itu kepalan tangannya sudah sangat dekat dengan perutku dan aku tak mungkin bisa menghindar. Makhluk itu meninjuku di bagian perut. Benar-benar keras dan aku terpental ke belakang sambil memuntahkan darah, lalu menabrak kapten yang berada beberapa meter di belakangku.
Rasanya sungguh sakit dan aku kesulitan bernafas. Saat memegang perutku yang di tinjunya terdapat pecahan dari battle suit ku di tangan. Battle suit hancur berkeping-keping di bagian perut. Serangannya begitu sakit dan terasa sangat panas di perutku. Aku memuntahkan darah untuk kedua kalinya. Kapten langsung merebahkanku dan berdiri sambil bersiap bertarung dengan pedang di tanganya mengarah ke dragonoid. Noel pun sudah menarik busurnya dan siap menembak anak panah.
Situasi menjadi sangat gawat saat ini. Ancient weapon tak mempan terhadapnya. Meninggalkan goresan pun tidak. Belum lagi tenaganya yang luar biasa kuat hingga menjatuhkanku dalam sekali pukul. Bahkan aku sangat yakin serangannya jauh lebih kuat dari kapten dan Profesor. Lari darinya pun akan sangat sulit karena dragonoid itu bisa mengimbangi kecepatan kuda besi.
“Ah... Sial. Apa-apaan ini... Kapten, Noel, percuma saja melawannya... Tebasanku saja tak menggores tangannya sedikit pun. Belum lagi serangannya barusan... Perutku serasa ditembus.”
“Aku tau, Liv... Tapi mana mungkin kita akan mati tanpa melawan.”
Tak lama aku bangun kembali berdiri dengan sekuat tenaga. Walau masih sulit bernafas dan perutku masih terasa sangat sakit, namun tak mungkin aku membiarkan Noel dan kapten bertarung dan aku hanya melihat. Saat kembali bersiap tiba-tiba dragonoid itu meletakan kampaknya dengan perlahan di atas tanah. Lalu ia juga mengambil senjata di pinggangnya dan melakukan hal yang sama seperti kampaknya tadi.
Kini kami mengerti maksudnya. Sejak tadi sepertinya kadal itu tak berniat untuk bertarung. Namun karena bahasa yang tak kami mengerti semua jadi salah paham. Terlebih lagi dragonoid itu lebih dulu yang melempar senjata ke arahku.
Kini ia mecoret-coret tanah dengan kuku di jarinya yang begitu panjang. Kami masih kebingungan dan tak mengerti apa yang ingin ia beritahukan pada kami. Setelah mencoret-coret tanah beberapa lama ia memanggil kami dengan isyarat tangan, tanda ia ingin kami untuk mendekat ke arahnya.
Kami pun mendekat dan masih terus waspada dengan senjata di tangan yang kami arahkan padanya. Ia menggambar sosok seperti dirinya dan ada 3 sosok seperti manusia yang digambar menghadap ke arahnya, dan tanda silang.
Kami pun mengerti maksudnya. Bahwa ia benar-benar tak ingin bertarung dengan kami. Walau masih mencurigai manusia kadal itu, namun kini kami sedikit melonggarkan kewaspadaan. Bagaimana pun ia bisa mengalahkan kami bertiga dengan kekuatannya yang luar biasa itu.