
Saat aku dan Noel kembali kapten masih belum terlihat. Aku dan Noel memutuskan untuk beristirahat karena sedikit lelah setelah semalaman mengikuti loreley. Saat aku dan Noel terbangun siang harinya kapten sudah berada di desa dragonoid ini dan sedang makan. Entah daging monster apa lagi yang ia makan kali ini.
Aku dan Noel menghampiri kapten dan menjelaskan tentang situasi kami semalaman tadi dengan rinci. Ternyata tak hanya timku yang menemukan pusaran pasir aneh di area ini. Kapten pun menemukan area yang membentuk seperti pusaran yang berpusat di tengah seperti kami. Walau hanya dugaan, namun sepertinya tepat bila mengambil kesimpulan bahwa bentuk pusaran pasir itu adalah jalan masuk ke sarang loreley.
Kami menyusun rencana untuk malam ini. Penyelidikan harus diselesaikan dan tak boleh ada kegagalan. Misi kali ini begitu penting karena nyawa penjelajah yang mendatangi area ini adalah taruhannya. Karena lokasi pusaran pasir yang kapten temukan lebih jauh dari yang aku dan Noel temukan, kami memutuskan untuk pergi bersama ke tempat yang aku temukan semalam. Kami akan coba masuk ke dalamnya dan melihat apakah ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.
Hari ini terasa berlalu dengan sangat cepat. Seusai berdiskusi dan menyusun rencana untuk malam nanti, matahari telah berwarna kemerahan dan sebentar lagi akan bersembunyi, digantikan oleh sang bulan yang akan menerangi malam. Saat matahari sepenuhnya menghilang dari pandangan kami bersiap untuk berangkat ke tempat yang aku temukan kemarin malam.
Sebelum masuk ke pusat lingkaran pasir kami memeriksa area sekitar dengan radius yang lumayan luas lebih dulu, untuk memastikan tak ada bahaya yang mengintai kami dari belakang. Karena tempat yang akan kami tuju begitu misterius kali ini kami harus benar-benar waspada dan berhati-hati agar tak terjadi kesalahan sedikit pun. Setelah berpencar dan memeriksa area sekitar kami berkumpul lagi di dekat pusat lingkaran yang merupakan pintu masuk ini.
“Livy, Noel, apa ada hal mencurigakan di sekitar?”
“Area yang kuperiksa aman, kapten.”
“Areaku juga aman.”
“Baiklah... Sekarang bagaimana caranya kita masuk?”
Aku baru tersadar ketika kapten berkata seperti itu. Kami belum tahu bagaimana cara untuk masuk ke dalam. Loreley yang kemarin kami ikuti pun menghilang begitu saja tanpa memberi kami petunjuk.
“Ah... Aku dan Noel kemarin tak melihat cara loreley itu masuk.”
Kami terdiam sesaat sambil berpikir masing-masing. Karena aku tak suka hal yang terlalu rumit akhirnya kuputuskan untuk berjalan ke tengan lingkaran pasir itu. Lagi pula menurutku tak mungkin ada mekanisme yang rumit di sarang loreley. Para dragonoid saja terlihat lebih modern dan cerdas dibandingkan loreley itu. Jadi tak mungkin mereka bisa membuat atau menemukan sesuatu yang canggih.
“Kau mau apa, Liv?”
“Coba pikirkan lagi... Loreley saja lebih terbelakang daripada manusia kadal yang membantu kita. Mana mungkin mereka bisa menciptakan pintu masuk yang rumit, atau jebakan?”
“Kau ada benarnya, Livy... Sepertinya kau sedikit lebih pintar karena kepanasan ya?”
“Aku hanya ingin cepat pergi dari tempat ini dan memperbaiki bekas luka mengerikan yang ada di wajahku ini.”
Saat sampai persis di tengah lingkaran pasir tiba-tiba lantai pasir itu terbuka dan aku jatuh ke dalamnya. Ternyata ada sebuah lorong kecil yang otomatis terbuka saat berdiri di bagian tengah. Aku jatuh sekitar 4 meter ke bawah tanah. Di dalam sini terdapat ruangan seperti kamar kosong dengan dinding dan lantai terbuat dari bahan seperti besi namun berwarna biru. Di sudut-sudut ruangan terdapat batu bercahaya yang cukup untuk menerangi ruangan berbentuk kotak berukuran sekitar 10 meter ini. Terdapat masing-masing 1 lorong di dinding bagian depan dan belakangku. Tak lama kemudian Noel dan kapten menyusul turun ke tempat ini.
“Betul kan... Tak ada mekanisme sulit untuk masuk ke sini.”
“Hanya kebetulan, Liv... Kebetulan.”
“Sekarang ada 2 jalan di sini. Kita harus pilih yang mana, kapten?”
“Bagaimana kalau jalan di belakang kita dulu? Berpencar di tempat tertutup seperti ini adalah tindakan ceroboh. Jadi mau tak mau kita harus menyusuri tempat ini satu persatu.”
“Baiklah.”
Kami mulai memasuki lorong kecil yang ada di belakang. Lorong ini terbuat dari material yang sama seperti ruangan sebelumnya. Seperti besi tebal berwarna biru alami.
“Kemungkinan ruangan ini peninggalan dari masa lalu, ya?”
“Kurasa itu sudah pasti, Noel. Mustahil para loreley yang membuat tempat aneh seperti ini.”
“Kau benar juga, Liv... Sebaiknya kita lebih berhati-hati... ada kemungkinan tempat ini penuh dengan jebakan.”
Tak seperti kota yang ada di bawah tanah bukit duri, tempat ini seperti tak pernah di tinggali siapapun. Tak ada barang-barang atau peninggalan apapun di tempat ini. Hanya ruangan-ruangan kosong dengan lorong-lorong sebagai penghubung. Mungkin tempat ini ditinggalkan sebelum digunakan.
Lorong yang kami lalui ini ternyata cukup panjang. Sejak tadi belum juga kami melihat ujung dari lorong yang kami lalui ini. Suhu di tempat ini juga sangat berbanding terbalik dengan suhu di permukaan. Tempat ini cukup sejuk bahkan dingin tak seperti di permukaan yang memiliki suhu area tropis yang cukup untuk membuat kulitku menjadi kecoklatan.
Semakin dalam menyusuri lorong ini semakin tercium aroma yang membuatku merasa mual. Aroma busuk semakin menyengat hingga kamu harus menutup indra penciuman kami. Noel pun sepertinya hampir mencapai batas dan nyaris memuntahkan makan siangnya. Sampai saat ini kami masih belum tahu apa yang menanti kami di ujung lorong ini. Semoga bukan sesuatu yang berbahaya dan aroma busuk ini hanya sekedar bangkai monster.
Ujung lorong mulai terlihat dari kejauhan. Kami semakin bergegas untuk melihat apa yang menanti kami di garis akhir dari panjangnya lorong ini. Harapanku ternyata menjadi kenyataan. Bau busuk yang menyengat sejak tadi ternyata benar bangkai monster. Namun tak hanya satu bangkai monster yang ada di ruangan ini. Aku pun tak bisa memastikan berapa jumlahnya.
Bangkai monster tak terhitung saling bertumpuk dan berserakan di segala ruangan. Dari tumpukan itu aku pun melihat ada mayat manusia. Walau tak bisa memastikan dengan jelas namun kami semua yakin mayat itu adalah salah satu penjelajah yang datang ke area ini. Noel yang sejak tadi menahan rasa mual pun akhirnya memuntahkan semua makan siangnya di tempat itu. Dengan begini kami yakin bahwa loreley lah pelaku dari hilangnya para penjelajah. Ruangan ini mungkin menjadi tempat sampah mereka untuk membuang sisa makanan.
“Astaga... Kacau sekali tempat ini. Kau baik-baik saja, Noel?”
“Aku tak tahan, Liv...”
“Kita harus bagaimana, kapten? Tak mungkin mayat penjelajah itu kita bawa keluar... Keadaannya sudah membusuk.”
“Walau terdengar kejam, kita tinggalkan dulu di sini... Lalu... Tugas kita sudah cukup sampai di sini. Kalian juga tahu kan, kalau tugas kita hanya mencari tahu penyebab hunter yang hilang.”
“Aku mengerti. Lebih baik kita keluar dan menyusun ulang rencana lagi.”
Kami kembali ke ruangan sebelumnya. Untungnya sebelum melompat turun, kapten sudah memasang tali untuk keluar dari tempat ini. Dragonoid yang berjaga di luar juga akan menarik tali ke atas jika kami memberi tanda. Dari jumlah bangkai yang kami temukan tentu saja bisa kami simpulkan kalau jumlah loreley yang ada di sini tak sedikit. Setidaknya lebih dari 20 loreley yang hidup di tempat ini. Menurutku terlalu beresiko bila kamu menyerang sekarang.