Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter

Dragon Era: Legend of the Dragon Hunter
Bertarung Dengan Profesor



Kami sengaja mengambil jarak awal jauh dari posisi Ibu. Kami harus menutupi kekurangan tim ini, agar setidaknya bisa melawan. Begitu terdengar suara peluit yang menandakan pertandingan dimulai, aku segera melesat ke arah Profesor di ikuti kapten Afhkar yang mengikuti persis di belakangku. Sedangkan Noel mengambil jarak ke arah kiri dan bersiap dengan busurnya.


Sebelum aku menjangkau profesor, Noel menembakan satu panah lebih dulu untuk melihat reaksi Profesor. Panah yang ditembakan oleh Noel melesat dengan cepat melewatiku dan persis menuju ke arah Profesor. Tiba-tiba Profesor bergeser arah kiri satu langkah, dan panah yang ditembakan Noel melewatinya begitu saja. Seakan ia sudah tahu arah panah yang di tembakan Noel.


“Livy, berhenti!”


Aku yang mendengar perintah itu dari kapten langsung menempatkan kaki kananku di depan untuk menghentikan lajuku.


“Menyebar!”


Aku langsung berlari ke arah kiriku, dan kapten ke arah kanan. Kini Profesor terkepung. Entah sejak kapan Noel berubah posisi membentuk garis lurus dari posisi Profesor.


“Jangan berteriak mengumumkan strategi ke musuhmu, bodoh!”


Aku yang mendengar kata-kata itu langsung menyadari bahwa trik kami akan berakhir dengan kegagalan. Di saat yang sama Noel kembali menembakan panah ke arah profesor. Kali ini 2 panah beruntun yang menargetkan ke arah kepala. Sadar akan serangan Noel, Profesor mengeluarkan pedang di punggung tangan kirinya dan menangkis kedua panah berurutan. Ia langsung melesat ke arah Noel. Tentu kapten segera menghalangi Profesor dan menghadangnya dari depan.


“Minggir!”


Profesor langsung menghunus pedang hitam di tangan kanannya dan menambah kecepatan, berniat menusuk bagian perut kapten. Kapten segera melindungi dirinya dengan ancient sword miliknya. Muncul ledakan saat pedang Profesor menyentuh ancient sword milik kapten hingga membuat kapten terpental kebelakang. Noel yang ada di belakangnya tak sempat menghindari kapten yang terpental ke arahnya. Pergerakan Profesor terhenti.


Aku yang menyadari kesempatan langsung melesat maju dan mencoba menusuk Profesor dari belakang. Profesor tiba-tiba membalikan badan sambil mengangkat kaki kanannya dan menendang pedangku dengan sangat kuat dari arah kanan. Pedang si tangan kananku terlempar jauh ke arah kiri. Namun aku masih belum menyerah. Sambil memanfaatkan momentum serangan Profesor aku melompat dan berputar dari arah kiri ke kanan sambil berniat menebas dengan pedang di tangan kiriku.


Profesor yang menyadarinya juga ikut melompat dan menendang perut bagian kiriku dengan kaki kanannya. Aku terpental dan jatuh tersungkur.


“Livy... Jangan terlalu sering menyerang di udara! Kau itu ceroboh. Saat di udara kau akan jadi sasaran empuk!”


Tiba-tiba Profesor muncul dan berlari dari arah kiri dengan cepat. Aku yang menyadarinya langsung melesat ke arah Noel. Kapten pun masih berada di dekat Noel dan melindunginya. Noel yang sadar kalau kali ini ia yang menjadi target, segera melepaskan anak panah berkali-kali. Tak ada satu pun anak panah yang berhasil mengenai Profesor. Pergerakannya begitu cepat sampai sulit sekali di ikuti.


Profesor mulai mendekat dan kini lurus ke arah kapten. Kapten mencoba menebas dengan pedangnya dari arah kanan ke kiri. Profesor yang jelas sudah menyadari serangannya melompat tinggi melewati atas kepala kapten begitu saja. Walau hanya sesaat, pergerakan Profesor sempat melambat. Aku memanfaatkan situasi itu dan langsung menghunus pedang dari arah samping.


“Sudah kubilang jangan melompat!”


Profesor melompat dan berputar di udara. Ia menyerang kepalaku menggunakan kaki kanan dari arah atas ke bawa. Wajahku langsung menghujam tanah dan isi kepalaku sepertinya bergetar hebat. Sesaat aku sama sekali tak bisa bergerak. Noel yang sudah terpojok melepas busur dari tangannya, dan mengambil belati yang tersimpan di pinggang bagian belakangnya. Tentu saja Noel yang tak ahli bertarung jarak dekat tak akan mampu menandingi Profesor. Profesor langsung maju dan menendan perut Noel dari arah depan dengan keras, hingga Noel terpental jauh kebelakang.


“Livy...! Kau punya kebiasaan melompat saat menyerang. Itu memang bagus bila berhadapan dengan monster yang memiliki kecerdasan rendah. Karena kau ceroboh saat si udara, kurangi sedikit demi sedikit melompat setiap menyerang! Afhkar...! Jangan Cuma melatih ototmu! Latih juga kecepatanmu! Ancient sword itu ringan kan? Kenapa seranganmu begitu lambat? Dasar otak otot! Noel...! Belajar melindungi dirimu sendiri! Di saat genting dan pertahanan tertembus musuh, belum tentu Afhkar atau Livy bisa datang melindungimu. Jangan hanya berfokus pada serangan jarak jauh! Setidaknya belajar sedikit bela diri untuk bertahan bila ada serangan mendadak!


Kami yang sudah kalah telak tak bisa membalas kata-kata Ibuku. Jangankan menghentikan pergerakannya. Mengenainya sedikit pun tidak. Aku sangat kesal saat kali ini. Ibu sekaligus guruku begitu kuat sampai tak bisa kuraih. Padahal ada 2 orang di tim kami yang menggunakan pedang sekuat milik Ibu. Namun perbedaan kemampuan kami sangat jauh seperti langit dan bumi.


Meskipun melawan 3 orang secara langsung, Ibu juga memperhatikan setiap kelemahan kami yang harus diperbaiki. Ibu tidak menyinggung tentang kerja sama tim kami. Tapi justru hal yang paling dasar, yaitu kelemahan setiap individu.


“Kemari kalian bertiga!”


Kami hanya bisa menurut dan menundukan kepala di depan orang yang mengalahkan tim kami sendirian. Bahkan aku yakin Ibu belum serius bertarung tadi.


“Dengar ini...! Semakin kuat masing-masing individu dalam tim, maka akan semakin kuat juga tim itu. Jangan berharap anggota tim kalian akan menutupi kelemahan kalian. Tapi justru kalian masing-masing yang harus menutup kelemahan kalian! Ubah pemikiran kalian dari sekarang! Apa mungkin saat bertarung melawan monster ganas diluar sana, dan kalian tahu ada serangan dari belakang, kalian hanya diam dan berharap anggota tim yang lain akan menghentikan serangan itu? Bila sudah tahu, hentikan sendiri! Tutupi kelemahan kalian yang aku sebutkan tadi!


Ibu membalik badannya dan meninggalkan arena. Tiba-tiba suara tepuk tangan ramai terdengar. Kami tak sadar karen terlalu fokus bertarung sejak tadi. Ternyata di bangku penonton sudah banyak berkumpul para murid akademi yang melihat pertandingan tadi.


Mereka sama sekali tidak menganggap kami lemah. Mereka kemungkinan sadar, bila berada di posisi kami pasti hasilnya akan jauh lebih buruk. Hanya Profesor saja yang terlalu kuat. Para murid akademi bersorak menyemangati kami karena bisa bertahan sejauh itu. Meskipun malu, aku tetap berusaha tersenyum. Kami pun berlalu pergi meninggalkan arena karena kelelahan. Sebelum pertandingan tadi dimulai pun rasanya stamina kami habis karena tekanan dari Profesor.