
Kami menjalankan rencana yang di ajukan Noel. Berlari sekuat tenaga menyeberangi ladang rumput tinggi ini sambil melempar peledak di sana-sini. Trik ini terlihat bekerja dengan baik. Monster aneh itu tak berani mendekat karena peledak yang terus menerus kami lemparkan di sekitar.
Setelah terus berlari akhirnya kami sampai di pintu masuk kota. Ini bagian akhir dari padang rumput yang luas dan tinggi itu. Beberapa monster masih mengikuti dari belakang dan langsung dibereskan oleh kapten dan Noel. Kota ini terlihat sungguh unik dari dekat. Bangunan di sini kebanyakan adalah bangunan tinggi yang bertingkat. Jalanan kota di buat dari campuran beton yang sangat keras. Berbeda dengan Eden yang menggunakan blok batu yang ditata rapi untuk jalannya, kota ini memiliki jalan halus dan merata tanpa celah.
Kota ini sudah di tumbuhi pepohonan dan semak yang keluar dari balik beton. Namun keindahannya masih begitu terjaga. Kota ini juga banyak menggunakan kaca untuk jendela dan pintu-pintu mereka. Kami akan menjelajahi kota ini hingga keseluruhan, dan mengamankan area kota. Kami berharap kota ini masih bisa digunakan sebagai tempat tinggal atau setidaknya sebagai tempat penelitian.
Di kota ini juga terdapat generator listrik yang terus menyala. Beberapa lampu dalam gedung terlihat tetap menyala menandakan tempat ini ditinggalkan dengan tergesa-gesa. Di bagian tengah kota terdapat tempat seperti aula besar berbentung setengah lingkaran yang terlihat dari kejauhan. Kota yang sungguh tertata dengan baik mengingat ini peninggalan dari peradaban yang telah hilang.
“Ibu, apa pernah ada catatan tentang tempat seperti ini?”
“Tentu saja tak pernah ada. Sepertinya tempat ini benar-benar dirahasiakan dari dunia luar. Kita akan menjelajahi area terdekat kota ini. Setelah itu beristirahat untuk memulihkan stamina. Ingat... Jangan ada yang berpencar!”
“Siap...!”
Setelah kulihat dari dekat ternyata tak seindah yang terlihat dari kejauhan. Kota yang didominasi dengan warna abu-abu ini terlihat suram karena sudah beratus tahun tak ditinggali. Rasanya enggan untuk berlama-lama di kota terbengkalai ini.
Berbeda denganku, Profesor terlihat sangat bersemangat kali ini. Bahkan sepertinya aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat seperti saat ini.
“Tunggu... Sepertinya ada sesuatu yang mendekat!”
Kami langsung waspada ketika Noel berkata seperti itu. Karena di sebelah kiri kami terdapat gendung yang tinggi, kami hanya perlu fokus di bagian kanan kami. Semakin lama suara langkah besar semakin terdengar bahkan di telingaku. Kami tetap berjalan dengan pedang di masing-masing tangan kami dan tetap terus waspada. Derapan suara sesuatu yang besar berlari semakin terdengar jelas. Hingga saat kami sampai di ujung gedung yang melindungi kami di kiri, kapten yang ada di depanku tiba-tiba terlempar jauh ke arah kanan, disusul monster yang lagi-lagi tak pernah kami lihat.
“Apa lagi ini...?”
Kata itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutku. Monster yang satu ini lebih membuatku terkejut daripada reptil di ladang rumput tadi. Monster kali ini sungguh besar. Memiliki tinggi sekitar 5 meter, dengan 4 kaki besar yang bisa berlari cepat. Tubuh monster ini di penuhi bulu berwarna kecoklatan. Memiliki hidung yang amat panjang dan 4 taring melengkung ke arah depan dengan panjang lebih dari 2 meter, dan memiliki ekor yang pendek. Kapten yang terpental karena tubrukan monster ini langsung terbangun. Sepertinya ia sempat menangkisnya dengan ancient sword.
Meski begitu makhluk kali ini terlihat sangat besar. Setelah menabrak kapten dan membuatnya tersungkur, monster itu membalik badannya dan mulai berbalik lari ke arah kami. Kami yang masih terkejut menjadi panik dan langsung menghindar sesaat sebelum terkena tubrukan monster itu.
Monster itu tetap berlari menabrak tembok dan menghancurkan tembok dari gedung besar di kiri kami hingga berlubang. Aku yang berhasil menghindar masih terheran dengan situasi saat ini. Monster itu seperti dengan mudahnya membuat lubang besar di tembok yang terbuat dari beton. Tubrukannya pasti sangat keras. Kapten yang tertabrak monster sekuat itu bisa-bisanya masih sadar dan langsung berdiri.
“Kapten baik-baik saja?”
“Ayo lari... Sebelum monster itu kembali lagi!”
“Apa tak sebaiknya kita bunuh, Liv?”
“Jangan!”
Akhirnya kami lari menuju tengah kota, dan masuk ke dalam salah satu gedung. Kami naik hingga atap gedung agar bisa melihat keadaan di luar dari atas. Sebenarnya aku ingin tertawa saat kapten tepental. Namun ku tahan sekuat tenaga. Kurasa yang lain pun merasakan hal yang sama sepertiku. Monster itu berbeda dari monster yang selama ini kutemui. Sulit menjelaskannya, namun aku merasa monster itu tidak berbahaya seperti monster lain. Monster itu memiliki aura yang mirip seperti cherna.
Menurutku monster itu juga terlihat lucu. Kurasa akan terasa hangat bila berbaring di atasnya. Entah kenapa aku sama sekali tak berniat untuk membunuh makhluk itu. Kami mengawasi area sekitar dari atas gedung. Ternyata monster berbulu coklat tadi bergerak dalam kelompok. Ada beberapa monster sejenis yang bergerak bersama ke arah gunung salju di pinggir kota.
Tempat yang sungguh unik. Aku penasaran apakah ada monster lain yang belum pernah kami lihat lagi di area ini. Padahal berada dalam gua, namun tempat ini seperti memiliki sejarah dan kehidupannya sendiri. Saat sedang memperhatikan sekitar, kami juga melihat monster mirip dengan cherna yang biasa ada di savana. Yang membedakan cherna di tempat ini memiliki 3 tanduk besar yang terlihat runcing di kepala lebarnya. Berapa kali pun melihat, tempat ini sungguh menakjubkan.
Penjelajahan kami tak akan berakhir sampai disini. Kami akan menjelajah hingga ke sudut terkecil dan menguak semua hal yang ada di kota terbengkalai ini. Sebelum itu, kami akan beristirahat dan tidur di atap gedung ini untuk mengisi lagi stamina. 1 orang akan tetap berjaga dan setiap 3 jam akan bergantian. Noel yang akan berjaga pertama. Kemampuannya untuk melihat jarak yang jauh dan pendengarannya yang tajam membuat kami dapat tertidur dengan tenang.
“Apa Ibu sudah tidur?”
“Belum. Ada apa, Livy?”
“Apa yang akan ibu lakukan dengan kota ini nantinya?”
“Aku belum memastikannya. Walaupun ini sebuah kota, namun tempat ini dipenuhi oleh monster. Membersihkannya pun tak akan mudah dan tidak seperti Eden, tempat ini tak memiliki perlindungan. Aku harus berbicara dengan para tetua dari Eden baru bisa memutuskan. Untukku pribadi, aku berharap tempat ini akan jadi Eden kedua yang mendukung umat manusia untuk tetap hidup.”
“Mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk membuat Eden di sini, Bu.”
“Aku tak akan menyangkal hal itu. Namun tak akan membutuhkan ratusan tahun seperti Eden yang kita tinggali sekarang. Lagipula teknologi matahari buatan itu pasti akan berguna suatu saat. Mungkin manusia memang harus pindah ke bawah tanah, karena permukaan bumi terlalu buas untuk ditinggali.”
“Yah... Apa pun keputusan Ibu, aku tak akan membantah dan akan terus mendukung walau hal buruk sekali pun.”